
Dua bulan berlalu sejak Naia dan Adam menikah, Mereka semakin mesra dan bahagia, Adam juga rutin terapi dengan Dokter Fadil, di setiap ada kesempatan, Fadil juga mengunjungi Adam dan Naia.
Naia juga dekat dengan istri Fadil yang bernama Denada. Denada yang ceriwis dan centil, gemar mengajari Naia berhias, dan merubah penampilan Naia seratus delapan puluh derajat.
Denada yang seorang perancang busana muslim menjadikan Naia sebagai model percobaan yang saling menguntungkan. Denada yang lebih tua dua tahun dari Naia sangat betah berada di rumah Adam, yang kadang kala sampai membuat Fadil mengeluh ingin pindah rumah supaya istrinya tidak terus keluyuran. Tentu saja itu hanya sebagai gurauan. Ternyata Naia memiliki bakat tersembunyi yang membuat Denada merasa sangat cocok dekat dengannya.
Adam masih betah tinggal di hunian terpencil, meskipun berkali-kali Fadil membujuk agar Adam membangun rumah di perkotaan. Tetapi Adam enggan meninggalkan kediaman orang tuanya.
Hari ini Adam akan pergi ke Balikpapan, mengurus pekerjaannya yang tidak bisa diwakilkan.
Seperti biasa Naia akan mengantarkan Adam sampai pintu depan. Sebelum pria itu pergi, Adam sudah memberi tahu Denada untuk bersedia menginap jika ada waktu senggang, karena Adam akan berada di Balikpapan kurang lebih satu minggu.
Adam sendiri tidak menyangka jika kepergiannya kali ini tetap dibuntuti oleh Ineke. Entah mengapa wanita itu berubah jadi penguntit.
Baru saja memasuki gedung hotel yang berpusat di Semayang Balikpapan. Wanita yang pernah mengisi hati Adam itu sudah terlihat di sana juga dengan sebuah koper kecil di tangan.
Sepertinya Adam harus lebih tegas sekarang. Karena semakin hari Adam seperti di kejar hantu gentayangan. Ada rasa khawatir di hari Adam jika keberadaan Ineke membuat Naia tidak nyaman.
Ineke menghampiri cepat Adam yang beriringan dengan Pak Beni.
"Adam." Panggil wanita itu.
Adam mengangkat alisnya, merasa jengah dengan wanita masa lalunya ini. Adam tidak berkeinginan menjalin hubungan apapun dengan Ineke, termasuk sebuah pertemanan. Tidak!
"Adam, aku memang khilaf waktu itu. Tapi tahu nggak, justru karena kejadian itu, aku sadar cuma kamulah orang yang aku sayang. Aku mau menghabiskan hidup dan menua bersamamu. Aku nggak bisa ke orang lain, Ad."
Adam menggelengkan kepalanya.
"Lalu, sekarang kamu mau apa?" Tanyanya.
"Aku, ingin memperbaiki segalanya."
Adam terkekeh sinis. Berani-beraninya perempuan itu meminta kembali saat dia sudah dihancurkan berkali-kali.
"Terlambat, Ke. Aku sudah menutup masa lalu. Sekarang kamu hanya ada di bagian kenangan, bukan masa depan aku."
Ineke kembali ingin meraih tangan Adam, namun Adam segera mencegahnya.
"Adam, please forgive me!"
__ADS_1
Adam menggeleng. "Maaf, Ke, aku tak sebaik itu untuk memaafkan kesalahanmu yang bahkan hingga kini masih mengakibatkan trauma untuk ku " Adam segera menjalankan kursi rodanya.
Di tolak sedemikian rupa, Ineke tak terima. Dia membulatkan tekadnya untuk mengacau wanita yang menjadi istri Adam.
Dengan malu dan rasa kecewa, Ineke tidak jadi melanjutkan niatnya untuk membujuk Adam. Kini tujuannya berbalik arah. Yaitu menyerang istri Adam.
Di rumah Adam. Naia membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar uang.
Maaf ya, Pak. Jadi ngerepotin sampai tengah malam begini.
Tony, pria 40 tahun yang sudah mengabdi pada Adam delapan tahunan. Naia merasa tidak enak karena Tony harus mencari cumi asin yang sedang ingin Naia masak sambal. Naia akan selalu memperhatikan semua yang bekerja di rumah suaminya. Selalu seperti itu.
"Ndak papa mbak, Nai. Tadi karena hujan lebat makanya terlambat pulang." ujar Pak Tony ketika Naia menyodorkan beberapa lembar uang.
"Terima saja, Pak. Biar Nai lega, udah bikin Pak Tony terlambat pulang."
Tony mengelengkan kepalanya karena merasa tersanjung dengan istri atasannya, sungguh mereka sangat serasi, sama-sama dermawan.
******
Pergi gelap, pulang petang, sudah menjadi rutinitas Imron untuk menghindari istrinya. Entah mengapa ia begitu sulit memaafkan kesalahan Duwi yang menurutnya begitu tidak lumrah.
Imron melangkah pelan memasuki rumah. Saat melewati ruang tengah. Imron mendengar suara Isak tangis.
Imron tau, itu adalah Duwi. Jika dulu ia akan segera menghampiri wanita itu dan melakukan berbagai cara untuk menghentikan tangisan tak bermutu atau tangis palsu itu, kini sudah kesekian kalinya Imron abai. Entahlah perasaannya benar-benar terasa hambar saat ini. Haruskah Imron menyerah? Dia juga tak tertarik pada siapapun. Entahlah kejadian itu menjadikan Imron takut memiliki anak. Takut terkena karma sebab perbuatan istrinya.
☘️☘️☘️☘️
Naia sedang membawa Bu Sari jalan pagi seperti biasa, tiba-tiba Denada menghubungi. Istri dokter spesialis saraf itu ingin meminta Naia membuat satu desain baju lagi. Tentu tidak cuma-cuma, sebulan lalu Naia sudah membuat desain baju yang Denada gambar dan di sempurnakan oleh tangan Naia. Dan dalam hitungan minggu, rancangan itu sudah mendapat pesanan lumayan banyak. Denada akan membagi keuntungan dengan Naia jika produk itu benar-benar laku.
"Ya, Mba. Nanti ku lihat ya," jawab Naia menerima usulan Denada.
Karena matahari mulai terasa hangat. Naia menuntun Ibu Sari untuk kembali ke rumah.
Ineke tidak mengira jika Adam masih tinggal di rumah kuno ini. Terakhir kali dia melihat rumah ini. Kala itu bangunan ini sedang di hancurkan oleh alat berat. Ineke pikir rumah itu akan di ratakan dengan tanah dan tidak akan di bangun kembali, ternyata perkiraannya salah.
Naia baru saja masuk kedalam rumah saat tiba-tiba bel berbunyi.
"Biar saya saja, Bu." ucap Naia segera menghampiri pintu setelah membantu ibunya masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Naia seketika menatap Ineke dengan pandangan bertanya.
"Kamu, apa kamu istrinya Adam?" tanya Ineke.
Belum sempat Naia menjawab, Ineke seolah menegaskan sesuatu.
"Aku adalah kekasih Adam, wanita yang dicintainya bertahun-tahun bahkan aku yakin sampai detik ini."
Ineke melihat rona wajah Naia yang berubah. Dia merasa menang.
"Mbak masih berharap sama Mas Adam?" tanya Naia dengan kepalan tangan yang menguat di sisi tubuhnya.
Ineke terseyum. "Saat ini Adam hanya kecewa, aku yakin itu tidak akan bertahan lama. Adam itu orangnya pemaaf, jadi dia pasti akan memaafkan aku. Terlebih kita dari dulu partner kerja yang pas."
"Semoga berhasil, Mbak. Semoga perasaan Mas Adam memang masih sama seperti dulu." ucap Naia yang akhirnya memilih melenggang tanpa meminta si tamu masuk .
Ineke terlihat terkejut dengan ucapan dan Naia yang meninggalkannya begitu saja.
******
Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah empat hari Adam tidak pulang untuk bertemu istrinya. Komunikasi yang terjalin diantara mereka juga tidak menentu.
Naia sebisa mungkin tidak ingin mengganggu pekerjaan Adam yang sedang sangat sibuk. Dia juga tidak bisa bersikap seperti biasa saat kepalanya terus saja memutar pemikiran tentang akan ditinggalkan oleh Adam setelah Ineke kembali kehidupan pria itu.
"Nai, Adam ngambek itu. Kenapa telponnya tidak diangkat?" Denada yang baru datang langsung menghampiri Naia.
"HP nya di kamar, Nanti tak ambil, Mba." balas Naia santai.
"Kamu lagi marahan sama Adam?"
Naia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Bohong. Kalau kalian baik-baik saja, nggak mungkin kamu nggak perduli sama panggilan Adam. Dia tuh kangen tau sama kamu."
Perkataan Denada itu membuat Naia terseyum tipis. Dia juga rindu akan suaminya, namun rasa takutnya kini lebih mendominasi. Naia berpikir jika di suruh memilih. Adam akan memilik Ineke dari pada Naia. Karena wanita itu sudah lama dicintai olehnya.
Dengan helaan napas berat Denada mendial nomor Adam. "Halo, Dam?"
"Gimana, De? Naia baik-baik saja, kan?"
__ADS_1