
Malam pun terlewati dengan Naia dan Adam yang saling melepas rindu. Bahkan sampai usai shalat subuh mereka kembali berbaring untuk saling berpelukan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Menahan perasaan itu sangat sulit, terutama bagi Ines saat ini. Tangannya nyeri akibat di cengkram orang tuanya, kedua orang tuanya terlalu sensitif hari ini. Padahal Ines hanya ingin bicara dengan Wahid, sebelum sidang perdana perceraian mereka di laksanakan.
"Diam, jangan jatuhkan harga dirimu untuk datang pasa laki-laki seperti itu!" bisik Ibu nya di telinga Ines.
Ines tidak bisa berkutik di tindas seperti itu. Pandangan Ines hanya terus tertuju pada Wahid. Melihat Wahid yang bisa hidup dengan baik setelah kepergiannya membuat hati ines bak tersayat sembilu . Lelaki itu tidak memandang kearahnya, melainkan tengah bercakap dengan seseorang. Lekuk wajah yang terlihat dari samping itu masih sanggup menggetarkan kisi-kisi hati Ines. Tangannya otomatis meraba perutnya yang kembali rata akibat ke cerobohnya. Masih nyata dalam kenangan, tangan kokoh Wahid mengelusnya, berbahagia atas darah daging yang tumbuh di rahimnya.
Ah, seandainya dia mau sedikit mengalah, tentu kejadiannya akan berbeda.
Ingatannya tertarik pada kebersamaannya bersama Wahid. Setiap kali mereka selesai menikmati kebersamaan di kamar mereka, lelaki itu kerap mengelus perutnya.
"Semoga kali ini jadi, ya, sayang."
Ines hanya tersenyum. Begitu seterusnya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin akan jadi karena Ines diam-diam memakai alat kontrasepsi. Alasan Ines, karena belum mau ribet dengan adanya anak. Namun, dia kecolongan, saat harus menangani pekerjaan di luar kota dia terlambat datang ke dokter, akibatnya dia kebobolan.
"Akhirnya, aku akan jadi Ayah!" Suara lembut Wahid masih terngiang jelas.
Ines hanya tersenyum pura-pura bahagia. Menyambut kegembiraan Wahid, tetapi justru setelah itu dia rutin mengkonsumsi obat diet, agar perutnya tak cepat membesar.
Ines segera menepis memori indah yang sekarang terasa getir. Di sebrang, Wahid terlihat tenang. Lelaki itu masih tersenyum manis. Sayang, senyum itu bukan lagi miliknya setelah ini.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas ...." Bibir Duwi bergetar saat memanggil suaminya yang keluar dari kamar dengan dua koper di tangan nya.
Imron berbalik, tetapi tetap tidak bersuara.
Kali ini Duwi benar-benar merasa hancur. Mereka terdiam, tengelam dalam pikiran masing-masing. Seringkali, tragedi menyimpan keindahan yang jauh lebih berarti.
Imron memang hanya memperhatikan Duwi tidak berbicara sama sekali, tetapi Duwi justru sangat takut. Duwi takut jika dirinya memang sudah tidak layak untuk bersama Imron lagi. Napas Duwi semakin terdesak. Imron memang tidak akan memukul nya, tetapi di diabaikan begitu saja rasanya sangat sakit untuk Duwi, dia berpikir lebih baik Imron memukulnya dari pada hanya diam dan dingin seperti sekarang.
"Beri aku kesempatan," isak nya.
Imron tidak bergeming, tetapi setelah beberapa saat lelaki itu kembali menyeret dua kopernya menjauh.
Tubuh Duwi ambruk kelantai. Tidak pernah terbayang olehnya, karena sebuah kesombongan membawa rumah tangganya di ambang kehancuran.
__ADS_1
Kini Duwi percaya, kata-kata yang kerap di dengarnya namun di ragukan. Jika, Ridha Allah terletak kepada ridha kedua orang tua, karena Allah memerintahkan untuk mentaati orang tua. Barangsiapa yang mentaati perintah Allah ini, maka Allah akan meridhainya dan barang siapa menolak taat kepada-Nya maka Ia pun murka.
Tapi semua sudah terjadi, bahkan Pak Subhan sudah tiada, Ibunya? Bahkan, Duwi tidak sedikitpun tahu kabarnya.
"Ibu, Bapak. Maafkan, Duwi ..... "
☘️☘️☘️☘️☘️
Puput sudah seperti gelandangan. Sudah dua minggu berlalu semenjak hartanya habis terbakar, kini dia terpaksa menjual seluruh perabot rumah untuk membayar pengobatan Trio.
Trianto terpaksa di bawa kerumah sakit jiwa karena keadaannya yang terkena gangguan mental setelah hartanya ludes tak tersisa.
Bahkan Bapak Puput juga di rawat di rumah sakit karena serangan jantung.
Tidak ada yang bisa membantu mereka. Hingga kini Puput juga masih direpotkan dengan berbagai urusan, sampai belum sempat menghubungi Wahid dan Duwi. Kehidupan mereka tengah di uji prahara masing-masing.
Puput sampai tidak punya waktu untuk tidur, semua membutuhkan uang. Tapi dia bahkan sudah tidak memiliki apa-apa.
☘️☘️☘️☘️☘️
Naia duduk berjongkok di depan kloset. Sudah tiga hari terakhir dia terus mual muntah. Badannya juga terasa lemas meskipun dia tidak melakukan pekerjaan yang berat.
"Nduk?" Bu Sari, buru-buru menghampiri anaknya.
Sejak Adam resmi mendaftarkan Bu Sari berangkat haji, beliau penuh semangat menghafal bacaan talbiyah, bagian dari syiar haji atau umrah, yang dilantunkan berulang kali ketika seseorang muslim berada di tanah suci.
Naia masih lemas akibat terus muntah, Ibu Sari memapahnya kembali ke tempat tidur.
"Kamu kenapa Nai?" tanya Bu Sari sambil mengusap kepala Naia dengan lembut.
"Mungkin masuk angin, Bu." Naia tidak tega membuat Ibunya khawatir.
"Kamu, telat makan?" tanya Bu Sari.
Mendengar kata telat pikiran Naia tidak bisa untuk tetap berbaring. Buru-buru Naia berdiri dan membuka laci untuk mengambil suatu benda dan kembali masuk ke kamar mandi. Membuat Bu Sari kaget.
Naia menanti dengan cemas, berkali-kali dia berdoa, sebelum mengumpulkan keberanian untuk melihat hasil dari alat tes kehamilan yang baru ia gunakan.
Napasnya langsung ter-sendal-sendal begitu melihat dua garis merah yang sangat jelas.
__ADS_1
"Oh, " Naia sampai bersandar ke dinding untuk menghalau rasa bahagianya. Rasanya ia ingin berteriak karena sangking senangnya.
*****
Adam sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia yang masih sibuk merapikan berkas, di kejutkan dengan kedatangan Denada.
Adam terseyum melihat kedatangan sahabatnya itu, baik Denada ataupun Fadil keduanya adalah sahabat Adam, sebenarnya ada satu lagi bernama Arman, tetapi yang terakhir lebih dulu dipanggil oleh yang maha kuasa.
Kalau dipikir-pikir, hidup itu adalah misteri. Denada dan Fadil dulunya seperti Tom and Jerry, setiap bersama akan ada pertengkaran, perdebatan dan kehebohan, tidak menyangka pada akhirnya mereka jodoh. Denada yang tomboi berubah menjadi feminim seperti sekarang.
"Kalau maksud kedatangan mu, menyuruhku membujuk Naia, maaf, De. Aku tidak mau." Adam terus melanjutkan kegiatannya.
"Yah, Dam. Ini kesempatan bagi Naia untuk berbisnis loh."
Adam menggeleng.
"Aku butuh istri yang selalu ada di sisi ku, De. Aku beda dengan Fadil yang mampu melakukan banyak hal, lihat diriku!" Adam memundurkan kursi rodanya dan menggerakkan telapak tangannya dari atas kebawah, minta Denada memperhatikan. " Aku ini setengah manusia setengah becak, aku senang Naia tidak setuju ikut dengan mu ke Australia."
Denada cemberut. Tetapi apa yang di katakan Adam, benar.
"Sayang?" dari pintu muncul Fadil.
Adam terseyum, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak mau di tinggal, mending terus terang, jangan karena nggak bisa nolak permintaan istri jadi ngenes sendiri."
"Kamu nyinggung aku?" ucap Fadil memicing.
Adam mengangkat bahunya acuh.
Denada menatap suaminya lekat-lekat.
"Memang mas keberatan aku pergi?" tanyanya.
"Jujur aja!" potong Adam.
Kini Denada menoleh pada Adam.
"Saran, De. Aku ini sahabat kamu, apapun yang kamu lakukan memang untuk menyongsong masa depan, tetapi mau sampai kapan akan terus berpetualang? Fadil terlalu cinta, sampai tidak tega melarang mu melakukan segala hal."
__ADS_1
#######
Lebih dari 10 komentar, besok author update sampai tamat.