Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Adam dan Naia


__ADS_3

Naia mencari sumber suara yang terdengar memanggil namanya, Naia menatap pada sebuah mobil yang terparkir di sebrang jalan, kaca jendelanya turun berlahan, menampakkan wajah putih seorang pria.


Naia melihat pria yang memberinya sendal melambai. Wajahnya sungguh manis, membuat Naia sedikit nervous.


"Siapa Nai? Ganteng banget!" Naia menunduk di tanya seperti itu oleh Tanti.


"Itu sopir yang sempat Nai antarin ke kampung Pandean, Mbak!" ucap Naia menimpali.


"Tuh, dia lambaikan tangan, temui sana. Eh, harusnya cowok dong yang samperin cewek, kebalik iki." protes Tanti, tapi dia tetap mendorong Naia untuk mendekat ke mobil Adam.


"Mba mau kemana?" tanya Naia agak berteriak.


"Temui temanmu dulu, aku jaga Bapak dan Ibu di rumah." timpal Tanti mengedipkan sebelah matanya.


Agak bimbang Naia melangkahkan kakinya mendekati mobil Adam.


"Nai, apa kabar?" Ada pijar rindu dalam sepasang mata sipit Adam yang tak disadari oleh Naia.


Naia memang tipe wanita yang pendiam, dia tidak banyak memiliki teman, jadi untuk bersikap sok akrab dia kurang bisa.


"Baik," jawabnya singkat.


Adam terseyum.


"Nai, bisa minta tolong?" tanya Adam. Naia melihat ke arah Adam."Aku ingin turun tetapi pintuku harus bisa dibuka maksimal."


"Nai bantu apa?" tanya Naia.


Kebetulan sore hari lalu lintas ramai sekali, banyak muda-mudi berjalan kaki mencari jajanan.


"Kita cari tempat yang agak sepi untuk memarkirkan mobil." melihat mata Naia yang melebar, Adam buru-buru membenahi perkataannya."Aku tidak bisa turun disini!" tambah Adam.


Beni yang baru akan kembali ke mobil, urung melangkah, seolah membiarkan kedua orang itu saling mengenal.


"Di sana bagaimana?" Adam menunjuk di bawah pohon samping alun-alun yang sedikit longgar dari parkiran kendaraan.


Naia mengangguk, dan berjalan terlebih dahulu. Adam tidak tersinggung membiarkan Naia berjalan kaki.


Saat sampai di tempat tujuan. Naia mendekat ke arah mobil Adam. Adam terlihat sibuk meraih sesuatu dari jok belakang. Tidak jelas apa yang diambil, karena jendela Adam hanya terbuka setengah.


"Kenapa, Mas?" tanya Naia.

__ADS_1


Adam menatap Naia sejenak seperti mersih sesuatu. "Aku harus menurunkan ini." ujar Adam. Adam mengeluarkan sebuah kerangka besi yang di bagian bawahnya terdapat sepasang roda kecil. Naia belum paham benda apa itu. Saat Adam mengeluarkan roda yang lebih besar dan memasangnya di sisi kerangka, Naia baru mengerti benda apa itu.


Kursi roda? Naia tampak terdiam.


Adam meletakkan bantalan berwarna hitam di atas dudukan lalu dengan sigap memindahkan tubuhnya ke kursi itu. Setelah merapikan kaki dan menutup pintu mobil, Adam memutar tubuhnya ke arah Naia.


Adam terseyum penuh ketegaran. Tangannya membuka samping tubuh. Kemudian mengelus paha.


"Inilah aku, Naia," ucap Adam dengan senyum lembut.


Naia malah tertegun tak bisa berkata-kata, untuk pertama kalinya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada orang tak bisa berjalan bisa mengemudi mobil. Tapi ternyata ada. Berkat kemajuan teknologi apapun bisa terjadi.


"Naia, kamu sibuk nggak? Yuk kita lanjutkan ngobrol di tempat yang lain."


"Maaf, aku..." Naia takut Adam tersinggung melihat reaksinya, akan tetapi pria itu malah tersenyum manis.


"Tidak apa-apa, kamu nggak usah sungkan, aku sudah biasa lihat orang kaget karena aku."


Naia ikut tersenyum, kemudian Adam menunjuk ke arah pedagang bakso.


"Kesana bagaimana?" tanyanya.


Naia mengangguk saja, tentu bagi penguna kursi roda tempat seperti ini kurang ramah.


Tetapi Naia malah menangkap hal lain. Adam sangat gesit, tidak seperti bayangan Naia tentang penyandang kelumpuhan.


"Naia,"


Langkah Naia berhenti karena pangilan seseorang.


Puput mendekati Naia, " Ngapain lihat orang naik kursi roda sampai segitunya?"


"Mba, dia temanku. Nai permisi!" tangan Naia dicekal oleh Puput.


"Siapa dia? Pacarmu?"


Naia melepaskan cekalan tangan Kaka iparnya."Bukan urusan Mba." timpal Naia.


Puput menghadang Naia, " Apa kata orang kalau aku punya adik ipar yang punya pacar ..." Puput membuat isyarat dengan kedua tangan bergerak di samping paha.


"Apa yang salah dengan orang pakai kursi roda?" Naia merasa sangat jengkel dengan iparnya, yang sok ikut campur, Padahal mereka tak sedekat itu? Paling-paling setelah ini Puput akan bergosip tentang dirinya di grup WA.

__ADS_1


"Masa kamu suka, dengan pria cacat?"


Ya Allah... Mengapa ada orang tak berperasaan seperti ini? Jerit Naia dalam hati, dia menatap Punggung Adam sungkan, Naia tau Adam masih bisa mendengar obrolan mereka dan hinaan Puput.


Tiba-tiba Puput merogoh kantong celana meraih benda pipih dan menghubungi seseorang.


"Masak Naia jalan sama pria cacat, pakai kursi roda." Puput mengadu pada Trianto.


Puput terseyum penuh kemenangan. Kemudian dia kembali berkata. "Nasehatin dong Mas, jangan bikin malu Kaka iparnya."


Puput sengaja mengaktifkan pengeras suara. "Naia, pacar itu harus dipilih benar-benar. Dipertimbangkan untung ruginya. Kalau masih bisa memilih yang lengkap fisiknya, mengapa harus yang cacat?" Suara Trianto terdengar bijak tapi juga menyinggung perasaan orang yang mendengarnya.


Naia tidak memperdulikan Puput, dia tetap melangkah pergi dan berjalan mendampingi Adam yang lebih dulu menjalankan kursi rodanya.


"Yang dikatakan Kaka mu benar, Nai. Jika berteman harus pilah-pilah." Terus terang, setelah Adam berkata demikian, Naia jadi merasa tidak enak dengan Adam, secara tidak langsung, keluarganya sudah merendahkan martabat Adam.


Naia hanya terus berjalan tidak berani menjawab ucapan Adam.


"Naia!" Suara bariton yang khas itu kembali terdengar.


Serta merta Naia menatap Adam yang juga tengah menatap kearahnya. Rasanya dunia langsung menghilang, hanya tersisa mereka berdua. Adam dengan gesit mengayuh lebih cepat ke arah gerobak bakso dengan sepasang lengan kokohnya, kemudian Adam juga mengulurkan tangannya untuk membantu Naia melewati undakan kecil.


"Aku takut kamu tersandung." ujarnya, terlihat matanya begitu jernih yang membuat Naia terpesona.


Untuk beberapa detik Naia tidak tau harus berbicara apa? Kelihatannya Adam juga begitu. Mungkin karena sebenarnya ini adalah perkenalan kedua setelah perkenalan singkat kemarin dulu saat Adam memberi sepasang sendal jepit untuk Naia.


"Naia!" akhirnya Adam yang berani memanggil terlebih dahulu.


"Iya," jawab Naia menunduk, tidak berani menatap lawan bicaranya.


"Boleh aku minta nomor telepon kamu?"


Naia mengigit bibir. "Tapi saya sedang tidak membawa ponsel." jujur Naia.


Adam sempat terdiam. Dia benar-benar merasa Naia begitu spesial, di jaman sekarang masih ada seorang wanita yang meninggalkan ponsel dan dompet itu luar biasa. Kenapa Adam bisa tau jika bahkan Naia tidak membawa dompet? Karena di genggaman tangan Naia terdapat beberapa lembar uang pecahan sepuluh ribu dan juga beberapa yang lainnya.


"Kamu hafal nomor mu?" Naia mengangguk. "Sebentar, aku missed call." timpal Adam.


Mereka kembali saling pandang. Adam semakin merasa Naia bukan orang asing lagi. Adam seperti telah mengenal Naia bertahun-tahun.


"Ah, aku ini ngapain sih? Panggil-panggil kamu tapi setelah ketemu malah bingung mau bicara apa." Adam terkekeh sambil menarik kursi untuk Naia duduk.

__ADS_1


"Bakso nya, Pak!"


__ADS_2