Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Perasaan manis


__ADS_3

Naia ikut mengantarkan Adam ke bandara. Setelah mengeluarkan kursi roda Adam dari bagasi dan meletakkannya di samping pintu mobil. Adam mengeluarkan kakinya yang layu satu demi satu. Dengan gerakan cepat, Adam beringsut memindahkan tubuhnya dari mobil ke kursi roda. Di depan mereka berkerumun beberapa orang yang menyambut kehadiran Adam. Denada yang ikut mengantar sahabatnya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang terpaksa menunjukkan kelemahan di depan orang. Bila ia yang berada di posisi Adam, ia tidak akan pernah sanggup!


Setelah duduk mantap di kursi roda. Dengan tenang Adam mengayuh rodanya mendekat ke orang-orang yang menunggu lalu menyalami mereka dengan ramah. Seseorang hendak mendorong kursi rodanya. Adam menolak dengan santun.


Naia dapat melihat tatapan orang yang tertuju kepada suaminya. Hatinya kesal. Cuma melihat kursi roda saja, mengapa harus dilihat layaknya hantu?


Suamiku masih manusia biasa, tidak bisakah kalian melihatnya santai saja? rutuk hati Naia.


"Sebelah sini!" lamunan Naia buyar saat seorang petugas, mengarahkan Adam dan rombongannya.


Sekali lagi mereka bertatapan.Dam Adam segera mengayuh roda mendekati istrinya.


"Mas pergi dulu, jaga diri baik-baik." pesan Adam.


Bu Sari tampak memeluk Adam dengan berlinang. Adam membalas tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun matanya juga basah.


Lelaki itu menoleh pada Pak Beni.


"Pak, titip Naia dan Ibu saat saya tidak ada." pinta Adam sopan pada lelaki yang sudah seperti bapaknya itu.


"Siap Mas Adam, hati-hati."


Adam mengelus punggung tangan Naia, sebelum berputar untuk segera masuk kedalam ruangan. Adam sempat menghampiri Fadil dan Denada, tetapi Naia tidak tahu suaminya berbicara apa.


Belum apa-apa, Naia tidak bisa membendung air matanya, saat tubuh Adam menghilang dari pandangan. Naia hanya bisa berdoa, agar apa yang di upayakan suaminya membuahkan hasil.


***


Ines mendatangi tempat Tanti mengajar, dengan tidak tahu malunya, dia meluapkan kekesalannya dengan Wahid pada Tanti.


Hasilnya, kini Tanti jadi buah bibir para wali murid. Karena tepat ketika jam pulang sekolah, Ines melabrak Tanti dengan sebutan Pelakor.


Tanti tidak bisa mengelak, karena Ines mengatakan sejak menikah Wahid terus pulang kerumahnya, waktu Wahid dihabiskan untuk Pelakor, sementara ia yang tengah mengandung harus mengalami keguguran karena terlalu banyak beban pikiran.


Kini Tanti di panggil oleh kepala sekolah, masalah ini berujung panjang. Karena Tanti yang tidak bisa menunjukkan buku nikah mereka, sementara lampiran dari KUA di simpan oleh Wahid.


"Jadi, saya diberhentikan, Pak?"


Pak Rustam selaku kepala sekolah menghela napas dalam.

__ADS_1


"Hanya sampai rumor ini surut saja, Bu."


Berat harus memutuskan ini semua. Karena Tanti termasuk guru yang disiplin dan juga di sukai banyak murid karena kesabaran dan cara mengajarnya yang mudah di pahami.


"Kalau begitu, saya pamit Pak." dengan hati yang bersedih, Tanti akhirnya memilih pulang.


Wahid sudah mendengar perihal Ines yang mempermalukan Tanti. Lelaki itu juga langsung bertolak ke rumahnya yang di tinggali Tanti. Begitu sampai di rumah. Pemandangan pertama yang Wahid dapati adalah istrinya yang duduk di sofa sambil menerawang.


Tanti tersentak kala merasakan tepukan pelan di bahu. Memutar kepala, dia mendapati Wahid berdiri di samping sofa.


Wanita itu tersenyum, tapi tidak seperti biasanya yang memancarkan ketulusan. Senyum kali ini terlihat dipaksakan.


Wahid duduk di samping Tanti, tidak berbicara seolah memberi ruang bagi Tanti untuk berpikir.


Terus terang, Tanti salut dengan perubahan suaminya akhir-akhir ini. Bagaimana pria itu berusaha keras untuk menghargai perasaan orang lain. Seperti saat ini, ketika dia dalam mode diam Wahid tidak memaksanya untuk bercerita.


Satu hal yang mulai Tanti pahami tentang Wahid, pria itu akan selalu berbuat baik dan setia pada pasangannya. Mungkin hal itu juga yang membuat Ines besar kepala.


Setelah merasa hatinya sedikit tenang, Tanti memutuskan untuk bercerita. Sepanjang Tanti bercerita tak sedikitpun Wahid menyela, lelaki itu setia mendengarkan dan juga menyimak dengan khusyuk, baru setelah Tanti selesai dengan segala keluh kesahnya, Wahid langsung merengkuh tubuh istrinya dengan kasih sayang.


"Maaf, Maaf kan aku, ini sungguh tidak akan terjadi jika aku lebih tegas, tolong maafkan aku." ujar Wahid yang menenggelamkan kepala istrinya di atas dadanya yang hangat.


"Aku tidak bisa melarang mu untuk bekerja, tetapi jujur aku senang atas insiden ini, karena setidaknya kamu bisa tetap dirumah, istirahat yang cukup, dan menemaniku saat aku tidak bekerja."


Tanti mendongak.


"Mas Wahid tidak suka aku bekerja?"


"Bukan tidak suka, aku hanya ingin kamu lebih santai di rumah."


Melirik lagi pada istrinya, Wahid terseyum tipis ketika wanita itu menatapnya tanpa berkedip.


Sungguh menggemaskan sekali istrinya!


Alasan terbesar marahnya Ines adalah, sebab Wahid baru saja mengirimkan surat cerai hari ini. Sudah Wahid duga jika Ines akan sangat marah padanya, tetapi tidak Wahid duga jika sasarannya juga pada Tanti yang tidak tahu apa-apa. Miris! Sungguh Wahid terlambat menyadari kebodohannya selama ini yang sudah seperti SUSIS, alias suami takut istri.


☘️☘️☘️☘️☘️


Naia memeluk ponselnya yang baru saja mengelap.

__ADS_1


Kerinduan itu terasa menyatu dengan dirinya. Terasa jelas di setiap tarikan napas dan degup jantungnya. Membuatnya sampai berpikir untuk menyerah.


Namun dia bertahan. Ini seperti ujian untuk dirinya. Menguji seberapa dalam perasaan cintanya terhadap Adam dengan menjaga kesetiaan meski jarak membentang. Tetap menanti meski penghubung mereka kini hanya ponsel.


Dan ternyata Naia berhasil. Dia sanggup menjaga kesetiaan hanya untuk Adam. Dia juga sanggup bertahan meski rindu seolah menelannya hidup-hidup.


"Nai, Kemungkinan Adam akan sampai di Indonesia pukul dua siang, ciee ... yang bakal lepas kangen!!" Denada menggoda dengan kedipan mata, yang membuat Naia tersipu malu.


"Ibu sudah kangen banget sama menantu gantengnya Ibu, Nai." Bu Sari juga ikut sumringah mendengar Adam akan pulang hari ini.


Sudah tiga bulan menantunya itu pergi, dan dia sudah sangat merindukan lelaki sabar yang kerap memanjakannya dengan segala kelembutan. Bu Sari merasakan ketulusan lelaki itu, pria yang sangat layak di cintai oleh Naia.


"Ibu aja rindu, apa lagi Naia, ya nggak Pak Ben?" Goda Denada sambil ikut melibatkan Pak Beni.


Mereka semua tengah berbahagia menanti kedatangan Adam.


Adam tiba di bandara pukul dua belas siang. Waktunya jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Sungguh rasanya sudah tidak sabar bertemu istri tercinta, harusnya Naia masih dalam perjalanan menuju bandara saat ini dan Adam tidak mau mengabarkan perihal dirinya yang sudah di bandara, agar Pak Beni tidak


perlu tergesa-gesa. Keselamatan istrinya adalah yang paling utama.


Saat Adam sedang bermain ponsel. Dia dikejutkan dengan kehadiran dua orang yang sangat dikenalnya di masa lalu.


"Adam ... "


"Adam, maafkan Tante dan Om, tolong Adam bantu kami membujuk Ineke, hanya kamu yang bisa membantu kami." wanita itu memohon, membuat orang-orang mulai memperhatikan mereka.


"Hanya kali ini saja " Lelaki paruh baya itu ikut mengiba.


Adam melihat jam tangannya, Adam menghembuskan napasnya, kemudian mengangguk setuju, untuk ikut bersama mereka menuju rumah sakit.


Naia yang turun dari mobil langsung jalan terburu-buru menuju pintu kedatangan. Senyum wanita itu mengembang sempurna kala melihat sosok yang dirindukan sudah tiba lebih awal.


Naia baru akan memanggil nama suaminya, saat tiba-tiba kursi roda Adam di dorong oleh orang yang tidak dikenalnya.


Naia ingin mendekati Adam, tapi ucapan Fadil berhasil menghentikan langkahnya.


"Kenapa Adam pergi bersama kedua orang tua Ineke?"


DEGH! Ineke?

__ADS_1


__ADS_2