
Pak Subhan sudah di makamkan. Naia masih menangis di pelukan Tanti. Perempuan yang sembilan tahun lebih tua dari Naia itu ikut tersedu sedan. Dia mendekap erat tubuh Naia dan mengelus pundaknya dengan penuh kasih.
"Naia, kuat, sayang, kamu wanita hebat, ikhlaskan Bapak, cobaan pasti berlalu."
Duwi dan Trianto dadanya terasa nyeri. Seperti terhimpit beban jutaan ton. Hati mereka luluh lantak, menyaksikan betapa terpukulnya sang adik. dan bagaimana Naia yang lebih memilih orang lain untuk bersandar ketimbang mereka yang sedarah.
Karena nyatanya Duwi ataupun Trianto memang belum tahu jika Tanti juga sudah menjadi ipar mereka.
"Semuanya hancur mba, Bapak meninggalkan aku dan Ibu, hu, hu, hu" Naia tersedu di dalam pelukan Tanti.
"Siapa yang bilang semuanya hancur, Nai? Kamu masih punya aku."
Ucapan seorang pria seketika membuat Naia tercenung, isakan tangisnya seketika mereda. Naia langsung beranjak dari posisinya dan mendekat ke arah Adam untuk mengadukan segala keluh kesah.
"Mas Adam ..." Adam benar-benar tidak menyangka jika kehadirannya begitu berarti untuk Naia, bahkan gadis itu langsung berlari padanya saat ia bersuara.
Tangis Naia pecah di pangkuan Adam.
Tidak hanya Wahid yang melihat, tetapi setiap mata dan perasaan bisa merasakan bagaimana Naia menumpahkan kesedihannya pada lelaki itu.
Adam bukan tidak tahu saat ini dia menjadi pusat perhatian. Tetapi ini bukan hal baru untuknya.
Semua soal fisiknya. Semua karena kondisinya yang berkursi roda.
"Mas Adam ... " Ratap Naia memilukan. Gadis yang memiliki senyum manis itu kini sedang menangis sesegukan. Suaranya parau, napas nya tersendat. Wajahnya memerah dan sembab.
Oh, Adam semakin gemas dan tidak tega.
Naia masih memeluk erat lutut Adam membuat Adam menunduk untuk membujuk Naia.
__ADS_1
Adam bersyukur Fadil membuatnya datang ke sini, melihat betapa Naia menghargai kehadirannya. Andai ia tidak datang dan justru pria lain yang dipeluk oleh Naia, Tentu Adam tidak akan rela.
Ah, Naia. Bersama Naia Adam merasa di inginkan dan di hargai.
Imron, Duwi, Trianto, Puput dan juga Wahid dapat melihat binar cinta di mata Adam saat membujuk Naia. Binar mata Adam tidak bisa menyembunyikan cintanya yang teramat besar.
Wahid menghembuskan napasnya panjang, kemudian menghampiri Adam.
"Adam, tolong bujuk Naia pulang." pinta Wahid. Wahid ingin sekali mengendong Naia di atas punggungnya membawa adiknya pulang, namun apa daya, Naia sedang teramat sangat kecewa pada nya.
Imron tak melepas pandangan dari interaksi Naia dan Adam. Imron sudah pernah bertemu Adam sebelumnya. Hanya dia tidak percaya jika Naia dan Adam memiliki hubungan yang serius. Di tengah kekalutan hatinya, Imron melihat Duwi yang hanya terduduk di atas gundukan tanah dengan wajah yang terus mengamati Naia dan Adam. Sama halnya seperti yang tengah semua orang lakukan.
"Ayo, kita temui Ibu." Imron meraih tangan Duwi yang membuat Duwi terkesiap.
Trianto melihat satu persatu orang meninggalkan makam, dia ingin bertahan lebih lama, setidaknya sampai puas menangis.
Trianto melepaskan tangisnya saat orang-orang sudah meninggalkan pemakaman. Trianto duduk memeluk papan nama yang tertancap di atas makam Pak Subhan.
Kini Salah satu orang berjasa itu sudah tidak ada lagi di dunia. Pria yang mendidiknya dengan kasih sayang dan budi pekerti yang baik sudah pergi untuk selama-lamanya. Kini semua tinggal penyesalan, rasa yang sudah tidak bisa di tebus sebab Pria hebat itu kini hanya tinggal nama.
Puput sendiri hanya mampu menatap nanar suaminya yang tengah menangis karena penyesalan. Amplop coklat berisi uang yang sudah di siapkan dari rumah, utuh tak terpakai. Jangankan memakainya, menerimanya saja Naia tidak mau. Naia benar-benar membuktikan ucapannya, tidak akan pernah menerima sepeserpun uang untuk kehidupan mereka. Puput terasa tertampar, adik ipar yang terus di sudut kan, di hina kan itu mampu mengurus pemakaman Bapaknya tanpa sepeserpun uang dari kakaknya. Bahkan sekedar menatap kehadiran mereka saja Naia enggan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Rumah Tanti sudah hancur berantakan karena ulah orang-orang suruhan keluarga Ines.
Naia di bantu para tetangga sudah besimpun.
Naia sudah dengan tegas melarang Ketiga kakaknya ikut campur. Dengan dua tas di tangan, Naia membawa Bu Sari pergi.
__ADS_1
"Nai ... " panggil Tanti. Naia menoleh dan tersenyum kecil melihat Kaka iparnya yang begitu baik.
"Naia pergi, Mba." pamit Naia.
"Nai, tolong, jangan egois, Ibu masih butuh penyemangat ..." Wahid buru-buru mencegah.
"Tapi penyemangat itu bukan kalian!" sanggah Naia memutar kepala.
Mereka semua bungkam.
"Naia, hari sudah mau gelap, kamu mau bawa Ibu kemana?" Wahid memelas.
"Pagi, siang, gelap, hujan pun itu urusanku, dulu kalian juga tidak perduli, bahkan meski aku memohon pinjaman uang untuk menyewa rumah, kalian tidak ada yang peduli. Sekarang apa bedanya? Bahkan dulu aku membawa dua nyawa, Bapak dan Ibu."
Ucapan Naia seperti tamparan keras untuk Wahid, Duwi dan Trianto. Tanti hanya bisa menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Setidaknya demi kakak iparmu." Wahid mengenggam tangan Tanti. Yang membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut, termasuk Tanti sendiri.
Duwi menatap tangan Tanti yang di genggam Wahid. "Mas, apa-apaan?" tanya Duwi.
Wahid menghela napas dan menatap adiknya, Duwi juga menatap Wahid meminta penjelasan.
"Aku dan Tanti sudah menikah, ceritanya panjang, tapi sekarang Tanti sudah sah menjadi istriku yang berarti Kaka ipar kalian, hormati Tanti seperti kalian menghormati Ines."
Wahid menarik tas jinjing yang Naia genggam. "Apapun yang sudah mas lakukan dan menyakiti hatimu, mas, mohon maaf Naia, tapi mas mohon jangan pergi, Mas akan memberikan apa yang kamu inginkan jika kamu mau tetap tinggal, mas sudah membeli rumah untuk kalian."
"Aku ingin mengurus Ibu dan bekerja, tidak meminta apapun dari siapapun!" tegas Naia.
"Mas akan merestui hubungan kalian, tanpa syarat, bagaimana?" tawar Wahid.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu dong mas!" Trianto memotong pembicaraan mereka.
Sulit bagi orang awam untuk menerima kondisi Adam yang mengunakan kursi roda. Termasuk ketiga kakak Naia tentunya. Hal yang lumrah karena siapapun menginginkan pasangan yang sempurna, setidaknya secara fisik. Mengunakan kursi roda sangat memprihatikan, Naia cantik tentu bisa mendapatkan lelaki yang lebih sempurna.