
Adam tidak bisa menyembunyikan wajah sendunya manakala Fadil usai memeriksa kembali keadaannya.
Ternyata benar, dia memiliki gangguan seksual yang disebabkan cidera tulang belakang akibat kecelakaan yang hampir terjadi lebih dari delapan tahun silam.
Naia masih terus menggenggam tangan Adam, meski Adam terlihat begitu enggan membalasnya saat ini. Wajah Adam berubah murung dan lelaki itu langsung kehilangan semangat.
Fadil minta bicara berdua dengan Naia, meski Adam terlihat tidak setuju namun Naia berusaha menenangkan.
"Ini agak sulit, ... " Fadil men-jeda ucapannya, sungguh, berat hati untuk menyampaikan kabar ini pada kekasih Adam. Tapi itu harus, sekarang semua hanya tergantung nasib baik Adam. Jika mereka benar-benar jodoh maka Naia harus memiliki hati seluas samudera. "Ini hanya hasil sementara, kurasa akan sulit untuk kalian ... " Fadil tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Naia mengangguk.
"Mungkin kami bisa mencobanya kembali setelah halal, barang kali dengan hanya berdua dengan perlakuan yang lebih intim akan membangunkan keinginan Mas Adam." Mata Fadil terbelalak, karena ucapan Naia.
Seperti dugaan Fadil. Naia gadis yang benar-benar di kirim Tuhan untuk Adam. Buktinya meskipun terancam tidak bisa memiliki penerus jika dia menikah dengan Adam, gadis itu tetap berprasangka baik. Bukankah ini luar biasa?
☘️☘️☘️☘️☘️
Adam tercekat. Ia memalingkan wajah dari Naia, tidak ingin wanita itu tahu betapa kacau kondisinya saat ini.
Melihat itu Naia memindahkan kedua tangannya, melingkari belakang leher Adam. Dengan berani dia menggeser tubuh mendekat seraya menarik lembut lelaki itu.
Merasakan tarikan Naia, Adam menoleh. Sejenak dia tersentak keget saat tiba-tiba bibir Naia mendarat di pipinya. Begitu lembut, seolah berusaha menyalurkan keterangan dalam diri Adam.
Adam mengerang dengan dada sesak. Ia pejamkan kedua matanya lalu membiarkan Naia memeluk lehernya.
Adam sangat senang Naia bermanja padanya. Tetapi setelah kejadian tadi, Adam semakin merasa tidak pantas menjadi pendamping hidup Naia.
☘️☘️☘️☘️
Baru enam jam, Naia meninggalkan Adam di kampung Pandean. Saat ini Pak Beni menyusul kerumahnya yang di beli Wahid dengan kepanikan luar biasa.
"Mas Adam over dosis mba Nai, dan sedang dibawa ke klinik." keterangan Pak Beni membuat tubuh Naia membeku.
Bukankah mereka sudah sepakat akan menikah setelah empat puluh hari Pak Subhan? Itu berarti kurang dari satu pekan. Lalu mengapa Adam justru melakukan percobaan bunuh diri?
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Naia hanya mampu meremas kedua tangannya, dia datang ke klinik hanya bersama Pak Beni. Sementara Tanti tetap di rumah untuk menjaga Bu Sari. Untuk Wahid sendiri sudah hampir lima hari tidak pernah datang.
Sampai di depan ruangan, Fadil menjelaskan tentang apa yang terjadi.
"Adam meminum vitamin dan obat secara berlebihan, ku pikir ini karena pembahasan kita tadi." Fadil tak kalah paniknya dengan Naia.
"Masuklah, Nai. Keadaannya sudah lebih baik."
Naia mendorong pintu ruang rawat dengan hati kacau. Naia tidak sanggup membendung air mata saat menatap tubuh Adam yang terbaring di atas ranjang. Wajah lelaki itu seputih kapas seperti darah terkuras dari tubuhnya.
Naia menghampirinya, mengenggam tangan Adam yang terkulai lemas.
"Mas Adam, tolong bertahan." pinta Naia disela Isak tangis.
Naia takut Adam memilih pergi di saat mereka baru akan bersatu. memilih membelah diri seperti amoeba, menjadi masing-masing yang kembali asing? Apapun pilihan Adam, Naia akan mendukung, asalkan Adam dalam kondisi baik.
Naia hanya berpikir jika Adam seperti ini karena tekanan yang diberikan keluarganya.
Tidur Adam terasa terganggu dengan genggaman tangan seseorang. Dengan gerakan kecil dia mencoba mengangkat wajahnya. Benar saja, ternyata tangan tersebut adalah milik Fadil.
Adam melihat Fadil terpejam dengan napas terarur. Pasti sahabatnya itu masih tidur.
"Ayo, makan dulu." ajak Fadil pada Adam.
Kini Fadil makan bersama dengan Adam dan Pak Beni. Sementara Naia terpaksa meninggalkan Adam karena harus pulang untuk Bu Sari.
"Pacar kamu pendiam, ya Dam. Aku sampai bingung harus mulai mengakrabkan diri." Sembari makan Fadil berbicara.
"Baru ketemu. Adaptasi itu kan perlu waktu, Dil."
Fadil menganggukkan kepalanya. Dia tau, tetapi sepanjang yang dia lihat, karakter Naia itu memang orang yang tenang dan anggun. Tidak menggebu-gebu seperti istrinya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Adam terseyum cerah. Ternyata penantian panjangnya berbuah manis. Hari ini Adam akan benar-benar menjadikan Naia miliknya.
__ADS_1
Semalaman, Adam tidak bisa tidur karena tidak sabar menunggu hari ini.Tetapi setelah tiba hari H, Adam justru dilanda rasa cemas.
Hari ini Adam di dampingi oleh Pak Beni dan Fadil, sebagai saksinya, dari pihak Naia ada Trianto sebagai wali nya.
Sudah dua belas hari Wahid tak terlihat batang hidungnya, bahkan di peringatan tiadanya sang Bapak yang ke empat puluh hari, dia tidak datang. Wahid bagai di telan bumi. Bahkan Trianto, Duwi dan pasangannya, sama-sama tidak tahu keberadaan si sulung.
Naia juga masih merahasiakan siapa Adam sebenarnya di tengah keluarganya selain pada Bu Sari. Wanita tua itu menangis sesegukan karena terharu. Bungsunya akan dipersunting pria kata raya. Bu Sari sendiri tidak pernah menilai seseorang dari fisiknya, baginya asal Naia bisa bahagia, sebagai orang tua dia hanya mampu mendukung.
Kini acara akad, akan segera dilaksanakan. Perut Adam tidak berhenti mules, karena terlalu gugup. Bahkan bolak-balik Adam merapikan letak dasinya, meski sebenarnya sedari tadi dasi itu sudah terpasang paripurna.
Sepuluh menit sebelum akad, berbagai mahar tiba-tiba datang memenuhi meja. Muka tegang Trianto, Duwi, Imron dan Puput berubah raut kaget saat melihat deretan kotak di atas meja yang akan diberikan Adam pada Naia sebagai mas kawin.
Mereka semua jelas tahu, satu dari berbagai kotak di hadapan mereka ada yang nilainya miliyaran rupiah.
Adam memberikan 1 unit rumah mewah yang terletak di kawasan elit di Jogja.
Bibir Trianto kaku, Adam membuka jati dirinya di waktu yang tepat. Penilaian dari pria miskin cacat fisik langsung berganti pikiran yang positif.
Kini Adam menjabat tangan Trianto yang juga menjabat tangannya dengan mantap. Helaan napas lega berhembus dari hidung Trianto, sedetik kemudian bibir itu mengembangkan senyum. Terharu dengan pria di hadapannya.
Kini suara lantangnya di jawab tak kalah lantang oleh Adam.
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah ... !!"
"Barakallahu laka wabaraka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir."
Lantunan doa itu mengiringi dua insan yang telah berubah status.
Air mata Naia mengalir. Akhirnya dia telah menjadi istri Adam secara sah.
Puput masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Wanita itu sampai tidak mampu menyimak dengan baik kelangsungan acara, karena Syok dan tidak menyangka
__ADS_1
Naia duduk di samping Adam, Adam langsung berpaling saat Naia duduk disampingnya.
Wajah putih nan mulus itu langsung bersemu merah ketika sadar, kini wanita cantik dan baik itu telah berhasil di ikatnya.