
Naia dan Adam beriringan masuk kedalam paviliun yang di tempati Naia. Naia terus memperhatikan Adam yang bergerak gesit dan cepat. Kursi roda yang digunakan ternyata berbeda seperti yang pernah Naia lihat di rumah sakit. Bentuknya lebih ringkas dan sangat pas di gunakan oleh Adam.
Naia tidak tahu, jika Adam sedari tadi juga terus memperhatikannya diam-diam.
Adam selalu melihat reaksi Naia. Reaksinya tidak seperti orang lain yang tampak aneh atau menatapnya dengan tatapan kasihan, Naia tidak begitu. Yang ada Naia justru terlihat ramah dan memperlakukan dirinya seperti orang normal.
Meskipun baru kenal, jalan berdua bahkan baru dua kali ini. Tapi Adam bingung, kenapa dia bisa membahas hubungan sampai seperti tadi, sama Naia? Lebih bingung lagi Adam juga tidak mau jika Naia menolaknya.
Ada keinginan dan keraguan yang hadir bersamaan. Mau diberi nama apa pun, tetap saja ada hubungan diantara mereka. Kini Naia adalah pekerjanya. Berpatokan dengan itu saja hati Adam sudah sangat berbunga.
Perasaan yang tumbuh itu juga sama sekali bukan perasaan layaknya seorang teman. Naia memiliki tempat spesial di hari Adam.
"Maaf Mas Adam, Naia tinggal sebentar buatkan kopi."
Lamunan Adam buyar saat Naia izin ke belakang.
Adam mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Naia termasuk gadis yang rapi, paviliun yang di tempati nya sangat bersih, meskipun tidak ada barang-barang yang tampak mencolok. Adam melihat di karpet hijau sudut ruangan ada seperangkat alat sholat dan meja untuk mengaji. Ah, Naia. Benar-benar gadis Sholehah.
"Ini mas Adam, kopinya." Naia meletakkan secangkir kopi di hadapan Adam.
"Ini beneran, bukan rasa yang pernah ada, kan, Nai?" tanya Adam.
Naia mengangguk dan tersenyum. Ah, lagi-lagi senyum mempesona itu! Jantung Adam langsung riuh.
Kesenangan itu tidak berlangsung lama. Telepon Naia berdering. Tanti menghubungi.
Naia terdiam dengan mulut yang terasa kering. Cobaan apa lagi yang ada di depan mata?
"Naia," panggil lembut Adam, Adam seolah mengerti keadaan Naia.
"Naia?" panggil Adam sekali lagi.
__ADS_1
Untuk beberapa detik, Adam tidak tahu ingin berucap apa. Kelihatannya Naia juga begitu. Mungkin karena Adam melihat Naia menangis tiba-tiba, reflek dia simpati.
"Aku ...." Kalimat Naia terputus dan matanya terlihat gelisah.
"Aku mau jadi pendengar yang baik. Aku justru senang ada seseorang yang mempercayai orang cacat seperti ku."
Kata-kata itu rupanya menyentuh hati Naia. Kegelisahan itu mulai memudar.
Adam menggenggam tangan Naia, meraih ponsel itu untuk di aktifkan pengeras suaranya.
"Pulang Naia. Mas janji akan cukupi kebutuhan kalian!" ternyata itu suara Wahid.
"Bapak sakit. Kamu bahkan tidak memberitahuku, kamu tiba-tiba ke Kalimantan sendirian, kamu pikir Mas mu ini nggak khawatir?"
"Aku, terikat kontrak Mas. Aku tidak mau istri mu akan mengungkit apa yang pernah dia berikan kepada Ibu dan Bapak, maka jangan perdulikan kami seperti biasanya."
Terdengar Wahid menghela napas. "Kamu bicara dengan Bapak saja."
"Nduk ..."
Mendengar suara Bapaknya Naia menunduk, menahan air mata yang tiba-tiba berlomba minta turun.
Naia menangis.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu, Naia. Aku tidak tahu apa kamu siap melangkah bersama ku, atau justru melarikan diri suatu saat nanti." Adam bergumam dalam hati.
Masa jagung baru disemai sudah ingin dituai? Yang terjadi benih itu akan tercabut dan mati. Adam merasa dadanya berdenyut. Akankah Naia kembali ke Jogja?
Adam mengepalkan tangannya. Ini bukan soal kelumpuhan. Pakai kursi roda atau nggak, dia harus tetap punya harga diri sebagai laki-laki. Kalau Naia harus pulang, setelah ini dia yang harus mengejar, memastikan Naia layak atau tidak di perjuangan.
Adam perang batin sendiri, sementara Naia sibuk menahan isakan tangisnya.
__ADS_1
Menit demi menit berlalu. Detik suara jam dinding menyertai Detak jantung Adam yang gelisah. Masalahnya Adam sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa, jadi walaupun pakai pengeras suara Adam tetap tidak tahu artinya.
Adam menoleh pada Naia yang usai bertelepon-nan. Adam mengulurkan tangannya dan disambut oleh Naia. Hangat dan lembut. Adam menatap dalam-dalam manik Naia yang masih berair. Adam berdebar. Bukan hanya karena bisa mengenggam tangan Naia, tetapi juga akibat sikap Naia yang aneh setelah bertelepon-nan. Naia seperti memendam kesedihan.
Adam meresapi hatinya, dia ingin tahu sejauh apa dia bisa menjaga dan membahagiakan Naia, mengingat kondisinya. Adam melihat kakinya yang layu. Membuatnya kembali merasa tidak percaya diri.
"Nggak mau berbagi beban?" Tanya Adam akhirnya.
Pertahanan air mata Naia jebol sudah. Ia sesegukan tak tertolong. Adam mengelus tangan nya dan mengenggam semakin erat.
Naia mulai bercerita. Mengalirkan daya untuk menyalakan binar cemerlang di mata Adam. Biarpun dia duduk di kursi roda, Adam tak kesulitan melakukan apapun, dia punya uang untuk mempermudah urusannya. Adam bukan pria lemah. Hati cengeng Adam menguat dengan sendirinya. Bukan dengan sendirinya, tetapi dorongan kuat untuk melindungi wanita yang di sukai nya, begitu membawa keajaiban.
Adam merasa mampu melindungi Naia, bisa menjadi kayak lelaki lain yang normal di luar sana. hanya caranya saja yang berbeda. Jika perihal menjaga dan menghidupi keluarga kelak. Dia jelas sanggup.
Oh, Naia.. Hanya dengan bersamamu saja hati pria lemah menjadi tangguh.
Adam bertekad. Lebih baik mencoba dan gagal daripada mundur sebelum segalanya dimulai. Lagian Adam sudah terlalu nyaman dengan Naia. Bahkan belum apa-apa saja dia sudah berpikir ingin mengklaim Naia sebagai miliknya.
Arus hidup itu kerap menyimpan kejutan, dan bagi Adam sendiri kejutan terbesarnya adalah kehadiran Naia yang secara tiba-tiba memompa semangatnya untuk melanjutkan segalanya.
Karena semangat yang menggebu itu membuat Adam tanpa sadar menarik tangan Naia terlalu kuat, membuat Naia terseret kearahnya, tanpa dikomando Adam melingkarkan lengannya di pinggang Naia membawa kepala Naia di atas bahunya.
Adam sudah sering menyaksikan seorang wanita menangis sesenggukan, tetapi dia merasa biasa saja, malah sering kali membuat Adam risih dengan itu. Tetapi melihat Naia menangis, Adam malah ingin ikut menangis. Mungkin Adam pikir air mata Naia berbeda, atau justru wanita yang menangis itulah yang istimewa.
"Kamu bisa kembali ke Jogja, Naia. Aku yang akan mengurus kontrak kerja mu pada Pak Beni." ucap Adam pada Naia yang masih bersandar pada pundaknya. "Sudahlah, itu bukan masalah besar."
Adam terseyum sambil terus mengelus tangan Naia dengan lembut. Diam-diam Naia menikmati kegiatan itu.
"Kalimantan - Jogja jauh mas Adam! kalau soal kontrak sama Pak Beni Nai bisa izin sebentar, masalahnya untuk pulang Naia tidak punya uang, Naia tidak mau pakai uang Mas Wahid. Mau pinjam sama Mas Adam, Mas juga lagi bokek!"
Tawa Adam pecah. Ia terbahak-bahak sampai tubuh bagian atasnya terguncang di atas kursi roda. Dia lupa jika dia sedang berperan sebagai sopir, sekarang rasanya senjatanya menjebak dirinya sendiri.
__ADS_1