
Bugh!
Tas yang berada di tangan Naia terjatuh. Semua kepala menoleh kearahnya.
Wahid langsung berdiri, begitu juga Tanti. Satu yang dapat Naia tangkap dari ekspresi Tanti. Wanita itu tampak sedih, bahkan matanya tampak sembab.
"Nai .... "
Acara itu berlangsung singkat. Bahkan setelah kedatangan Naia, semua orang bubar tak tersisa.
Kini Naia duduk di depan Wahid dan Tanti.
"Ini ada apa sebenarnya, Mas, Mba?" tuntut Naia.
Tanti pindah dari samping Wahid dan ikut duduk bersama Naia. Begitu sampai di samping Naia, Tanti langsung memeluk Naia dengan tangis yang pecah.
Air mata Naia ikut jatuh. Melihat reaksi Tanti, Naia tau pernikahan ini bukan kehendaknya.
Wahid juga ikut menghampiri Adik bungsunya, sempat mengelus pipi Naia sebelum ikut merengkuh tubuh yang juga sedang dipeluk oleh Tanti.
"Ceritanya panjang Nai ... " Bisik Wahid pada adiknya.
Flash back on
"Mas ada Mama!" ucap Ines saat Wahid baru masuk kedalam rumah.
Wahid selama ini memang sangat menghormati kedua orang tua Ines lebih dari kedua orang tuanya sendiri, sangking hormatnya Wahid sampai tidak sadar jika di manfaatkan.
"Baru pulang, Wahid?"
"Iya, Ma." jawab Wahid menghampiri Nunun dan mencium tangannya takzim. "Mama sudah lama?" tanya Wahid.
"Mama sudah dari pagi. Mama mau tanya kok ATM Mama masih kosong, kamu lupa kirim uang bulanan Mama?" tanya Nunun pada Wahid sedikit ketus.
Wahid melirik Ines. Wanita itu membuang muka, apa Ines pikir ucapan Wahid waktu itu hanya bercanda.
"Ines belum bicara sama Mama?"
"Bicara apa? Ines nggak ada ngomong apa-apa." Nunun ikut menatap Ines.
"Ma, Bapak sedang sakit dan saat ini di rawat di rumah sakit, aku sudah pakai uang ku untuk membayar biaya pengobatan Bapak dan sedang mencari rumah untuk Bapak dan Ibu, aku sudah katakan itu pada Ines, dan meminta Ines bicara sama Mama, karena mulai bulan ini aku tidak bisa kasih uang bulanan lagi sama Mama, setidaknya sampai aku sudah membelikan rumah orang tuaku dan juga menguliahkan Adik ku, Ma."
Nunun emosi mendengar ucapan Wahid. Wanita itu marah dan mengungkit-ungkit apapun yang sudah dia lakukan untuk anaknya.
__ADS_1
"Aku setuju Ines menikah dengan kamu karena aku yakin kamu bisa menganti apa yang seharusnya Ines berikan ke Mama. Kamu tau? sekolah Ines, kuliahnya, bahkan selama ini berapa uang yang Mama berikan pada Ines, karena Ines menikah dengan mu, untuk itu kamu yang wajib menanggung biaya hidup kami yang sudah membesarkan Ines sampai menjadi seperti sekarang, kamu itu cuma laki-laki desa, anak ku dulu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih segalanya dari kamu, tapi karena Ines terlalu buta akan cinta untuk itu Mama izinkan dia nikah sama orang kampung kayak kamu dengan syarat, kamu harus menanggung biaya hidup kami orang tuanya."
Wahid kaget mendengar ucapan Nunun. Jadi selama ini pernikahan mereka atas dasar syarat. Syarat yang bahkan dia tidak mengetahuinya.
"Mas, kasih saja gih Mama uang, aku nggak mau jadi anak durhaka." rengek Ines.
"Lantas, bagaimana dengan bakti ku?" lirih Wahid pada orang yang saat ini menatapnya penuh penghinaan.
Wahid kecewa, empat tahun dia memberikan segala keperluan mereka, dan baru telat sebentar mereka sudah menghina asal usulnya.
"Mas," tangan Ines di tarik oleh Nunun.
"Sebelum kamu kirim uang bulanan untuk Mama, selama itu Mana akan bawa Ines pulang."
Nunun menarik tangan Ines, Ines terus memohon pada Wahid, tapi Wahid sudah terlanjur kecewa atas hinaan yang dilontarkan Ibu mertuanya, tidak hanya hinaan tetapi dia juga direndahkan.
Nunun benar-benar membawa Ines pergi. Kepala Wahid berdenyut denyut. Dia kecewa, sakit hati, juga merasa bodoh. Karena suntuk Wahid justru pergi ke klub. Niatnya hanya ingin menghilangkan pusing tetapi yang terjadi, dia malah mabuk.
Tanti melupakan baju gantinya untuk besok. Dia yang baru saja akan mengantikan Bu Sari jaga Pak Subhan, terpaksa kembali kerumahnya. Karena besok pagi ada rapat, jadi Tanti pikir besok pagi dia langsung berangkat ke sekolah setelah Bu Sari datang di pagi hari.
Tanti baru saja turun dari motornya, kemudian buru-buru masuk kedalam kamar. Tetapi tidak lama dia mendengar pintu rumahnya terbuka dengan kasar, Tanti yang kaget melihat kedepan. Saat di ambang pintu Tanti kaget melihat Wahid yang tergeletak di lantai.
Kejadian itu begitu cepat. Saat tiba-tiba Wahid merampas bibirnya dengan kasar. Tanti terus meronta, tapi yang ada Wahid semakin menggila. Tanti memang belum sempat di nodai oleh Wahid, tetapi kedua orang itu di pergoki salah satu tetangga sudah sama-sama polos.
Flash back off.
Naia membekap mulutnya. Tak kuasa menahan air mata yang terus berdesakan keluar.
Tanti juga masih meraung dengan memeluk Naia, dia sama hancurnya dengan Naia.
"Bagaimana dengan Bapak, Ibu dan Mba Ines?" tanya Naia pada Wahid.
"Ibu dan Bapak tahu. Soal Ines mas akan kasih tau pelan-pelan."
"Mba ines lagi hamil muda Mas."
"Ya," jawab Wahid meraup wajahnya.
Setelah ketiganya tenang. Mereka duduk bersama, menikmati beberapa makanan sisa hajatan singkat tadi.
Beberapa suap mereka makan , Tanti berdiri. Tidak lama wanita itu kembali dengan tiga gelas air putih di nampan.
Wahid tertegun saat Tanti meletakkan salah satu gelas itu di samping piringnya.
__ADS_1
Sebenarnya Tanti juga melakukan hal yang sama ke Naia, tetapi sangat berpengaruh pada perasaan Wahid.
Setelah makan. Wahid pamit keluar. Tanti membereskan rumah dan segera meminta Naia beristirahat.
"Kamu istirahat dulu, biar mba saja."
"Tapi mba ... "
"Naia ....!"
Naia meringis, di pelototi oleh Tanti, mau tidak mau dia masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya.
Tidak lama Naia jatuh terlelap karena lelah dari perjalanan juga lelah pikiran. Naia terbangun karena suara ponselnya.
"Assalamualaikum," Naia membuka matanya mendengar suara berat di sebrang sana.
"Mas, Adam?" tanya Naia.
"Iya ini aku. Aku ganggu kamu, nggak?"
"E-enggak kok, Mas."
"Kok, salam ku tidak di jawab?"
Naia ling lung. Naia malah tidak bisa bicara.
Terdengar suara tawa renyah Adam.
"Kamu baru bangun tidur?" tanyanya. Setelah hampir satu menit tidak juga terdengar suara Naia.
"Iya, Mas Adam kok tau?" Naia menggigit bibirnya.
"Kamu nggak fokus." Jawab Adam.
Naia terseyum, ah, dia jadi malu sekali. Andai Adam bisa lihat wajah Naia yang kemerahan.
"Naia ..."
Suara Adam menembus kalbu.
"Iya."
"Aku kangen sama kamu."
__ADS_1