Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Si bungsu yang berharga


__ADS_3

Senyum lebar Pak Subhan dan Bu Sari perlahan menghilang manakala melihat Naia yang banjir air mata. Dengan di tuntun oleh istrinya Pak Subhan merangkul pundak bungsunya.


Melihat raut sendu di wajah Ibu dan Bapaknya seketika rasa benci menyapa hati Naia, kekecewaan mendalam pastilah beranak Pinak di dalam hati mereka ketika berkali-kali sang anak yang dirindukan seolah tak memperdulikan perasaan mereka. Terlupakan dan di sia-siakan. Miris.


"Duduk di sini, Nduk." Pak Subhan menuntun putrinya ke kursi.


Naia menghela napas panjang dan menatap Ibu juga Bapaknya secara bergantian, setelahnya menunduk.


"Nai, tidak apa-apa Pak" Naia tau pasti saat ini justru hati kedua orang tuanya yang luluh lantak, tetapi masih sempat mengkhawatirkan dirinya. Ibu mana yang tak kecewa? Ketika hanya sekedar mengangkat telepon saja anak-anaknya tidak mau.


Hati Bapak mana yang tidak hancur? Ketika nasehat dan petuahnya di lupakan dan tidak di jalankan Putra-putri nya. Semua sia-sia dan tak bermakna.


Orang tua mana yang tak ingin anaknya sukses dan mampu meraih cita-cita yang didambakan sejak kecil. Untuk mencapai mimpi, tentu tak sedikit peran orang tua di dalamnya. Dalam Islam, orang tua memiliki kedudukan tinggi. Oleh sebab itu, dikatakan kalau rida orang tua adalah Rida Allah Ta'ala.


Ketika kesuksesan yang diraih anak-anaknya justru membuat orang tua sedih karena lalai dan silau kehidupan baru. Orang tua mana yang tak kecewa? Padahal kesuksesan seorang anak tidak luput dari peran orang tua yang selalu memberikan doa sepanjang hari.


"Ayo kita masuk saja ya Pak, Bu." pinta Naia dengan lembut, tangan tua Bu Sari menghapus air mata putrinya, padahal saat ini sudut matanya pun basah.


Naia menatap Bapaknya yang dituntun oleh sang Ibu, air mata tak bisa di ajak kompromi, meskipun sudah ingin berhenti tetapi menatap kedua orang tuanya yang seperti itu air mata kembali berdesakan keluar.


Pak Subhan langsung diminta beristirahat oleh Bu Sari, Perlahan tubuh ringkih itu mulai berbaring di atas kasur.


Naia masih bergeming di depan pintu. Hening melingkupi seisi ruangan itu.


Naia memperhatikan wajah Ibunya yang pias sambil mengigit bibir. Ini bukan pertama kali anak-anaknya menolak datang atau menolak saat mereka ingin bercakap-cakap melepas rindu. Tapi tetap saja dia terus berharap.


Tiba-tiba Ibunya menatap Naia dengan tatapan sendu.


"Nduk," Panggil ibunya.

__ADS_1


Naia mengigit bibir. Naia mendekat dengan wajah sendu dan air mata mengalir di pipinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Kursi roda adalah bagian hidup seorang penyandang spinal cord injury. Itulah yang dihayati Adam saat ini. Sudah sejak menginjak usia dua puluh satu tahun hingga dua puluh sembilan tahun benda itu melekat di bagian bawah, seolah menyatu dengan tubuh. Ia bisa duduk dengan mantap tanpa takut terjatuh. Lambat laun benda yang ia duduki seperti pengganti kaki yang sesungguhnya, jika dulu setiap melihat benda itu hatinya merasa prihatin. Sekarang dia sudah mencintai kursi roda sebagai bagian dari tubuhnya.


Pagi berarti datangnya kesadaran dan ditinggalkannya alam mimpi untuk kembali kedua nyata. Rasa nyeri sudah biasa menyapa. Rasa kebas, kesemutan pada kaki yang tak bisa lagi digunakan itu seolah abadi. Anehnya, bila ia meraba bagian itu, ia tak merasakan apa-apa. Mungkin rasa itu tercipta untuk mengingatkan pemiliknya bahwa mereka masih berada di tempat semula.


Lumpuh bukan berarti laki-laki itu tidak bergerak sama sekali, Dia seorang pejuang tangguh. Tanggung jawabnya sangat besar. Ribuan orang bernaung mencari nafkah di perusahaan miliknya.


"Pagi, Mas," sapa Beni. Sopir sekaligus orang yang sementara mengantikan peran Nirmala. "Mandi sekarang?"


Adam mengangguk. Beni segera membantu Adam bangun dari tidurnya. Biasanya tidak seperti ini. Tapi dua hari berturut-turut Adam demam dan membuatnya sedikit lemas. Untuk itu dia meminta bantuan Beni.


Beni membantu Adam sampai dia berpakaian dan sarapan.


"Ditinggal saja."


Usai sarapan Adam sudah duduk di kursi roda elektrik miliknya, dihadapannya sudah ada laptop dan tidak lama setelah itu Adam mulai larut dalam pekerjaan.


Rasa kebas kembali menyapa membuatnya harus segera melemaskan punggung, sebelum nyeri pada kakinya semakin menggila.


Adam membaringkan tubuhnya, menikmati rasa sakit, wajah tampan itu membeku. Setiap kali dia seperti ini ingatan akan lubang menganga yang tak kunjung tertutup, masih saja terasa nyeri dan berdarah.


"Dia tidak memilihmu bukan berarti kamu tidak berharga. Dia hanya tidak sadar betapa berharganya kamu." Ucapan sang Ayah kembali menari di angannya.


Mata kehijauan itu meredup. Senyum pedih muncul di bibirnya yang mengering. Nyatanya dia memang benar-benar tak berharga.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Pak Subhan membelai kepala dan punggung sang putri dengan sayang sambil membiarkannya menghabiskan kesedihan.


Naia merenggangkan pelukan. Ia mengusap air mata dengan kedua punggung tangan. "Sampai kapan kita nangis terus seperti ini Pak, Bu? Perut Nai sudah bunyi, cacingnya pada demo."


Pak Subhan dan Bu Sari terkikik di sela air mata yang nyaris runtuh. Si bungsu adalah harta mereka, satu-satunya anak yang masih rela memeras keringat dan tenaga untuk menghidupi mereka yang sudah tak bisa lagi mengais rezeki.


"Ibu masak sepesial tadi, hari ini nak Tanti pulang kan?"


Naia semakin merapatkan pelukannya membenamkan wajahnya pada dada renta Bapaknya.


"Sayang Bapak dan Ibu. Lebih sayang lagi kalau Ibu mau ikut memeluk Nai."


Mereka benar-benar berpelukan, bahkan kini pipi Naia sudah di cubiti oleh kedua orang tuanya seperti gemas pada balita empat tahun.


Derai tawa itu begitu merdu mengalahkan merdunya suara musik di luar sana.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Di sebuah restoran mewah Keenam anak manusia sedang berbincang dengan tawa menggema.


Penampilan mereka serba glamor dan mewah. Barang-barang yang melekat pada tubuh mereka nilainya jutaan rupiah.


Mereka menghadap meja yang penuh dengan hidangan mewah, semuanya serba ada, manis, asin, asam, dan umami.


Mereka hidup berkecukupan, serba berlebihan tetapi lupa akan rasa kemanusiaan.


Wahid beserta istri, Duwi dan suami, Trianto dan juga Istrinya tengah menikmati hidangan yang bernilai jutaan rupiah, makanan di meja sangat berlebihan untuk mereka yang hanya berenam.


Sementara di rumah sederhana, ada tiga orang duduk lesehan di lantai menikmati makan siang dengan hidangan seadanya, tidak banyak tetapi di cukup-cikupkan, senyum mereka tulus, meski lauk mereka hanya sambal terasi, sayur daun singkong, dan telur rebus sebutir yang dibelah tiga. Canda tawa menghidupkan suasana meski segalanya tidak ada yang mewah.

__ADS_1


__ADS_2