Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Tekad Adam.


__ADS_3

"Aku akan menjamin hidup kalian, membahagiakan mu semampuku, aku akan berusaha lebih giat untuk melatih otot perutku agar lebih lemas, dan dapat menunduk lebih lama, aku akan melakukan apa saja yang bisa memudahkan mu mengurusku Nai." tutur Adam mengenggam tangan Naia dengan lembut.


"Terimakasih, Mas Adam. Naia akan berusaha mengenal Mas Adam, agar Naia juga bisa membuat Mas Adam nyaman bersama Naia.


Naia benar-benar Ajaib. Di saat orang lain memilih menjauh karena keadaannya, gadis itu justru ingin mendekat untuk menganalisa.


Mungkin suatu hari nanti, orang luar bisa memandang negatif pada Naia, jika mengetahui siapa Adam sebenarnya. Gadis biasa berusia dua puluh tahunan. Sangat mudah untuk menuduh Naia materialis. Mau menikah dengan pria cacat sepertinya. Namun, Bagi Adam, Naia adalah gadis yang tulus, perempuan bersahaja yang memiliki hati luas. Adam yakin, menikahi Naia adalah keputusan terbaik baginya.


Bu Sari menatap wajah Wahid, Bu Sari ini suka pikun, jika sedang kumat wanita itu lupa siapa yang ada di hadapannya, tidak jarang Naia juga tidak ia kenali, begitu juga dengan Tanti.


Selama ini, hanya Naia, Pak Subhan dan Tanti yang tahu jika Bu Sari punya sakit pikun, jadi hal ini membuat ketiga anaknya yang lain terkejut. Tentu saja, mereka pikir, enak jadi Naia?


Terlebih Wahid yang langsung di tanyai namanya dan di tanya ada keperluan apa datang.


Kini wajah-wajah mereka menatap pada Naia yang berjalan dari dapur.


Melihat ibunya yang tampak ling lung, membuat Naia sadar mengapa dia jedi pusat perhatian tiba-tiba.


"Hanya beberapa menit saja Ibu lupa, nanti pasti ingat lagi." Naia memberikan informasi pada kakak-kakaknya, tanpa di minta.


Kini semua orang di ruangan itu kecuali Tanti dan Bu Sari menyadari, hidup Naia tidaklah mudah, banyak tanggung jawab yang gadis itu tanggung seorang diri selama ini.


Duwi melihat ke arah Imron yang terus menatap Naia. Kini Duwi sadar mengapa suaminya begitu marah padanya, itu karena Imron tidak ingin dia merasa asing seperti sekarang ini. Bahkan apa yang terjadi pada orang tuanya dia tidak tahu.


Duwi tau suaminya sangat menyayanginya, rela mengalah selama ini, barang kali, Imron punya firasat jika Bapaknya akan pergi lebih dulu, atau karena sebenarnya laki-laki itu mulai capek menghadapi sifatnya yang sering kekanak-kanakan. Sungguh Duwi sangat menyesal.


Imron terus menatap Naia, sampai pada saat Naia mengenggam tangan Adam kembali, pria itu baru membuang pandangan.


Gerak gerik Imron terus di perhatikan Duwi sampai membuat Duwi ikut melihat ke arah Naia.

__ADS_1


Ah, Duwi sendiri ikut kagum dengan adiknya itu, apalagi Imron.


☘️☘️☘️☘️☘️


"Bagaimana menurut, Mbok dan Pak Beni?" Akhirnya Adam memberikan kesempatan Naia untuk mengobrol pribadi dengan para kakaknya, Adam langsung pamit bersama Pak Beni dan Mbok Nirmala ke kampung Pandean.


"Dia calon yang cocok untuk Mas Adam." jawab Mbok Nirmala yang juga terpana melihat kebaikan hati dan bakti Naia yang tidak dibuat-buat.


Adam terseyum cerah mendengar pendapat Mbok Nirmala, setidaknya tidak hanya dari pandangan lelaki Naia baik, dari sudut pandang wanita Naia juga baik. Perfek!


☘️☘️☘️☘️


Malam itu. Wahid benar-benar memboyong Naia, Tanti dan Bu Sari ke rumah barunya.


Trianto, Puput, Ikut bermalam, sementara Duwi dan Imron memilih pulang.


Waktu sudah jam dua belas malam saat Wahid terbangun dari tidurnya. Dan masih menemukan samping tempat tidurnya kosong. Wahid keluar mencari keberadaan istrinya. Ternyata Tanti masih berada di ruang tamu.


"Aku baru mengurus proposal penelitian di kampus." Jawab Tanti lembut.


"Oh, kamu kuliah lagi?" tanya Wahid.


"Ya, masih proses mengerjakan disertasi. Mas Wahid butuh sesuatu?"


Wahid mengeleng. Kemudian duduk menopang dagu di sebrang Tanti.


Wahid berada di posisi yang tidak mudah. Ia harus bertindak di antara rasa cinta dan kemanusiaan. Terkadang dua hal itu sulit untuk dibedakan. Ia tahu hatinya pun terombang-ambing tak tentu arah. Tapi Wahid telah membawanya pada sebuah kepastian. Agar ia tetap berada di jalan yang benar dan selalu mengingatkannya bahwa ia juga tengah menjadi calon Ayah, darah daging yang harus dia cintai lebih dari apa pun. Untuk itu dia tidak bisa melaporkan Ines ke kantor polisi, tetapi dengan itu pula Wahid merasa berdosa pada Mendiang Pak Subhan.


"Ini sudah larut, tidak baik tidur terlalu malam." Wahid memberi nasehat.

__ADS_1


Tanti mengangguk sambil tersenyum manis, "Ini sudah mau selesai." jawab Tanti yang mulai merapikan barang-barangnya.


☘️☘️☘️☘️


Adam kembali menemui Naia pagi harinya, ini sudah hari kedelapan Pak Subhan tidak ada.


Sebenarnya, Sepuluh hari berturut-turut Naia merasa tercekik perasaan bersalah pada Adam. Kehadirannya di sini seperti tidak di harapkan. Hanya Tanti yang terlihat memperlakukannya layaknya tamu. yang lainnya terkesan acuh, lebih-lebih Trianto dan Duwi, mereka jelas merentangkan bendera permusuhan di matanya.


"Mas nyaman?" Naia menoleh. Pipi putih bersih di ujung netra menggoda agar Naia mengusapnya.


Hari ini Adam tampak lebih fresh, dengan baju Koko putih dan celana kain biru dongker. "Selagi ada, Kamu."


Adam terseyum lembut.


"Naia, aku akan tetap mengutarakan niatku di depan seluruh keluargamu."


"Nai rasa, waktunya belum tepat."


"Tentang Kakakmu? Kamu takut aku tersinggung? Calon Ayah anak-anakmu ini, tak selemah itu. Ck."


Naia tersipu. Naia merasa beruntung dicintai oleh Adam. Begitu sebaliknya.


Adam pernah berpikir tidak akan pernah lagi percaya dengan adanya cinta. Masa lalunya terlalu hitam, biar dia sendiri yang menikmati rasa kelam tanpa membagi pada orang lain. Bertemu, tertarik, jatuh cinta lalu menikah, itu sangat mustahil bagi Adam. Soal membangun rumah tangga waktunya bukan cuma setahun dua tahun tapi selamanya, harusnya Adam lebih memikirkan dengan matang. Akan tetapi bersama Naia, ke khawatiran itu menguap, di gantikan dengan perasaan menggebu untuk mengikat Naia segera dengan akad. Menghalalkan wanita itu untuk di gapai pahalanya.


Allah maha membolak-balikkan hati dan sepertinya saat ini Allah sudah membalik hati hambanya yang bernama Adam untuk kembali mempercayai sebuah cinta dan ketulusan. Mungkin tak semudah dulu menjalin hubungan. Tetapi Adam mau mencobanya dengan percaya diri.


"Akan ku bahagiakan kamu dengan caraku." batin Adam menatap wajah cantik dan polos di hadapannya.


####

__ADS_1


Seperti yang sudah-sudah, author update nya sering tengah malam, karena tunggu momen yang pas. Lagi musim hujan pembaca, istirahat yang cukup dan jaga kesehatan, semoga kalian semua sehat selalu dan banyak rejeki.


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2