
Naia benar-benar pergi ke Kalimantan di dampingi oleh Nirmala. Dua hari setelah Pak Subhan di pindahkan ke ruang rawat, saat itu Naia meminta izin. Tidak ada yang bisa kedua orang tuanya lakukan selain mengizinkan. Karena mereka benar-benar butuh uang.
Gaji empat juta itu lebih dari dua kali gaji sebagai pegawai toko.
Saat Naia tiba di Palangkaraya ternyata Adam tidak berada di rumah, Adam ada perjalanan ke Banjarmasin selama tiga hari dan baru berangkat menjelang subuh tadi.
Sebenarnya Nirmala sudah pernah melihat foto Naia yang dikirimkan oleh Tanti, tapi ternyata aslinya gadis muda itu jauh lebih cantik dan kelihatannya sangat sopan. Nirmala benar-benar menyukainya.
"Tugas mu hanya membuat sarapan, mengurus rumah, dua hari sekali akan ada yang mengambil pakaian kotor, kau hanya perlu menyiapkannya. " Pesan Nirmala.
Mbok Nirmala benar-benar tidak bisa tinggal menemani Naia sampai Adam pulang. Bahkan Nirmala juga tak menyinggung perihal Adam pada Naia selain bosnya adalah pria yang teramat sibuk, dan membutuhkan orang untuk mengurus rumahnya.
Adam tidak pernah suka jika ada orang yang membantunya menyentuh tubuhnya selain Pak Beni dan Nirmala sendiri, jadi mencarikan pembantu lain hanya bertugas untuk mengurus rumah dan menyiapkan sarapan dan makan malamnya, Adam akan sangat jarang di rumah jika sudah mulai kembali bekerja. Selain Beni, Adam juga memiliki pengasuh lain namanya Tony, bekerja mengantikan Beni di malam hari untuk jaga-jaga jika Adam butuh di gendong atau ada keadaan darurat.
Sebagai orang yang paling dekat dengan Adam, Nirmala berharap kehadiran Naia bisa membantu Nirmala mengawasi lelaki yang sudah di anggap putranya. Hidup bersama Adam, Nirmala tidak di gaji dengan rutin. Tetapi Adam bisa memberinya se-sekali tapi melebihi gaji satu tahun.
Setelah mengajarkan tentang apa saja yang harus Naia kerjakan di rumah Adam, Esok harinya Nirmala sudah benar-benar meninggalkan Naia seorang diri di rumah besar dan luas yang anehnya tidak ada undakan sama sekali, dan lantainya mengkilat bisa untuk berkaca. Tidak ada foto keluarga, atau hiasan apapun di dinding. Naia jadi tidak tahu kira-kira seperti apa yang namanya Pak Bos, sudah tua atau masih muda, hingga tinggal seorang diri di rumah sebesar itu padahal kaya raya.
Nirmala hanya memanggil Mas Adam jika hanya berdua dengan Adam, sementara jika ada orang lain. Nirmala lebih suka memanggilnya Pak Bos.
Nirmala hanya mengatakan, jika Mas Bos akan datang sekitar satu hari lagi, dan itu masih lusa.
Naia mengikuti semua catatan yang di tinggalkan Mbok Nirmala sebagai jadwal kerjanya di rumah gedong ini.
Naia lega pekerjaan pertamanya hari ini berjalan lancar setelah mematikan Lampu-lampu besar, Naia langsung menghubungi Tanti untuk bicara pada Bapak dan Ibunya.
Naia senang, Besok Bapaknya sudah boleh pulang, dan tak hentinya Naia berterima kasih pada Tanti yang sudah merawat Kedua orang tuanya layaknya orang tuanya sendiri.
" Tidurlah, Nai. Aku akan jaga mereka seperti orang tuaku sendiri, jangan khawatir. "
Naia memeluk ponselnya di dada mendengar ucapan Tanti.
__ADS_1
Pagi itu Naia sudah mengepel lantai saat tiba-tiba telepon rumah berbunyi, Naia ingat pesan Nirmala jika telepon itu adalah alat komunikasi antara asisten rumah tangga dan Tuannya.
Dari suaranya, Naia menafsirkan usia bosnya sekitaran empat puluh sampai lima puluh tahunan.
Naia tidak tahu jika yang baru menelpon itu adalah Pak Beni. Jet leg mendera Adam, Penerbangan Banjarmasin - Palangkaraya telah membuat kepalanya nyeri serasa di bor, kulitnya putih semakin pucat. Kopi panas kesukaannya tidak bisa membuatnya lebih baik.
"Orang yang di bawa Mbok Nirmala sudah mulai bekerja sejak kemarin, Mas. Saya sudah mengabarkan kepulangan kita. "
"Apa dia bisa memasak?" tanya Adam sambil memijit pelipisnya.
"Tadi saya tanyakan, dan katanya, Mbok Nirmala sudah mengajarinya dan mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh dimasak."
Adam sedang tidak ingin menjadi pusat perhatian, akan lebih baik makan di rumah akan lebih sehat, dan tentunya sedikit bisa menghemat tenaga, karena Adam benar-benar lemas.
Naia menunggu hingga jam delapan malam, tetapi orang yang di tunggu Naia tak kunjung datang.
Naia melihat jam dan buru-buru masuk kedalam kamarnya untuk melaksanakan shalat, baru saja Naia mengangkat takbir, mobil Adam memasuki garasi rumah.
Adam langsung dibawa ke kamar oleh Pak Beni, pria itu langsung membantu Adam membersihkan diri sebelum makan malam dan beristirahat.
Saat Adam selesai mandi, Tony datang, Tony adalah orang yang bergantian menjaga Adam sebagai sopir sekaligus yang mengurus Adam. Beni tidak mencari keberadaan Naia, karena dari tempatnya mengambil makanan di meja makan, dia bisa melihat pintu paviliun terbuka menandakan wanita itu sudah pulang, karena memang jam kerjanya sampai selesai menyiapkan makan malam.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi itu Naia sudah siap untuk membuat sarapan, saat Tony menghampirinya.
Tony sudah bertemu dengan Naia saat pertama kali datang bersama Nirmala, jadi mereka sudah saling kenal. Usia Tony tidak beda jauh dengan Beni, hanya saja Tony tidak bekerja sejak lama dengan Adam seperti Beni dan Nirmala.
"Semalam Mas Bos memberi catatan untuk mu."
Tony menarik laci dekat dapur untuk mengambil catatan yang di tulis oleh Adam, dan segera diberikan kepada Naia.
__ADS_1
Ada beberapa baris tulisan tangan, dan Naia segera membacanya, isinya tentang beberapa catatan untuk sarapan Adam, Adam mau Naia menyiapkan nasi merah untuk sarapan dan bubur sesekali. Sedikit tambahan dari yang sudah diberikan oleh Nirmala.
Dari tulisan tangannya yang sangat rapi. Naia jadi penasaran kira-kira seperti apa bosnya itu, karena dari semalam dia belum pernah bertemu secara langsung.
"Nanti kalau sudah siap, letakkan di atas meja, aku akan membawakan ke kamar Bos."
Ternyata sampai siang Naia juga belum bisa melihat sosok Pak Bos, lelaki itu tidak pernah keluar kamar, yang membuat Naia heran kok ada orang yang begitu betah mengurung diri di dalam kamar?
Naia kembali ke paviliun saat sudah tiba waktunya shalat dhuhur, saat selesai memakai mukena, ponsel Naia berkedip menampilkan satu pesan masuk.
["Assalamualaikum, Nai ini Adam. Masih ingat aku?"]
Di dalam kamarnya Adam terseyum saat mendapat balasan dari pesanannya yang baru terkirim.
["Waalaikumsalam, Masih. Mas Adam yang bertemu di dekat alun-alun kan?"]
Naia ... segenap hati Adam ingin berjumpa kembali, sungguh!
Mendengar notifikasi pesan masuk. Naia. Langsung saja jantung Adam bereaksi. Selama ini sudah berulang kali Adam ingin mengirim pesan untuk Naia tetapi ragu. Adam galau dalam memulai hubungan. Tentunya karena dia yang kurang sempurna.
["Aku sudah kembali ke Kalimantan."]
Pesan Adam terkirim. Tetapi belum terbaca masih contreng dua abu-abu.
Satu menit, dua menit, tiga menit .... Adam semakin galau, hingga menit ke tujuh, balasan dari Naia masuk.
["Maaf, Mas. Naia tadi kebetulan mau shalat, jadi balasnya agak lama. Oh, Alhamdulillah. Mas Adam selamat sampai tujuan."]
Mendapat balasan Naia Adam ingin jingkrak-jingkrak karena senang. Ah, Adam jadi kayak ABG lagi. Wajah pucatnya semalam sirna digantikan wajah ramah dan senyum semangat.
Ah, Naia.
__ADS_1