Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Kejadian tak terduga


__ADS_3

Sebelumnya di dalam mobil.


Istri kamu galak banget kah?" tanya Tanti di perjalanan menuju restoran.


"Dia orang yang tidak suka di saingi. Kalau sudah berpendapat tidak mau di tentang. Kamu nggak usah khawatir. Biar dia marah sampai bagaimanapun, kamu harus tetap tenang, ketika emosi, orang kerap kali tidak berpikir jangka panjang."


Tanti menoleh ke arah Wahid. " Kalau sama kamu juga galak?"


"Sama saja, tidak perduli dengan siapapun. Dia sedikit emosian, dan sering mengamuk."


"Serem banget, posisiku salah, pasti dia akan ngamuk parah."


"Semua akan baik-baik saja." Wahid menenangkan.


"Aku dibantuin, ya? Kalau Istri pertama mu marah, kamu jangan ikutan marahin aku."


Wahid sedikit tersenyum. "Tenang aja."


Saat turun dari mobil, Adam tidak ikut. Meskipun terlihat sekali jika Wahid seperti tidak tega meninggalkan calon adik iparnya.


Ah, benarkah?


"Ayo!" Wahid melangkah lebih dulu kedalam restoran dan di buntuti oleh Tanti.


Saat keduanya bertemu. Wahid melihat Tanti mengamati Ines yang terlihat cantik dengan dandanan super mencolok, kulit Ines memang sangat mulus karena istri pertamanya adalah wanita yang hanya bekerja di ruang ber AC, Wahid melihat dengan jelas ada kemuraman di wajah wanita pendiam itu. Tanti pasti merasa kalah telak dari Ines. Wahid sedikit bersimpati. Sebenarnya Tanti tidak kalah cantik, mungkin karena mereka berbeda cara menjaga merias diri saja.


Ah, bodohnya Wahid. Mereka jelas beda. Tanti hidup di desa, segalanya yang ingin dia beli atau dapatkan akan diraihnya dengan jerih payah dan usaha dari wanita itu. Tanti hanya guru di desa, penghasilan tak seberapa. Sementara Ines? Dia memang anak orang cukup, di tambah menikah dengan Wahid yang notabene nya adalah sama-sama pekerja kantoran. Gaji mereka sama-sama sanggup menunjang kebutuhan hidup.


Wahid melihat Tanti meremas tangannya sendiri selama mereka duduk bertiga, wajah Tanti berubah muram, penuh kewaspadaan.


Wajah Ines masam, Ines terus memberi orasi Wahid agar kembali memberi jatah bulanan orang tuanya. Begitu perhatian dia dengan kehidupan orang tuanya, tapi sama sekali tidak perduli dengan kedua mertuanya. Mengapa Wahid baru sadar sekarang? Kemana dia empat tahun belakangan?


Ines syok mendengar jawaban Wahid. Biarlah. Kenyataannya kini Tanti memang sudah sah menjadi istri Wahid.


Ines semakin emosi mendengar kejujuran Wahid.


Kejadian ini benar-benar diluar ekspektasi Wahid. Ines benar-benar tidak tau tempat.


Wahid ingin menenangkan, merasa Ines memang belum bisa menerima semua luka. Tetapi yang terjadi wanita itu malah melempar Wahid dengan pecahan piring kaca.


Kadang menghadapi Ines seperti menghadapi anak kecil. Susah menjelaskannya. Tetapi kali ini tindakan Ines sudah sangat keterlaluan.


Mata Tanti terbelalak. Pecahan piring itu mengenai bawah mata Wahid hingga ke telinganya. Robekan di bagian tulang pipi sangat dalam. Sampai darah itu mengalir dengan derasnya.


"Mba, Mas Wahid terluka!"

__ADS_1


Ines melengos, seolah protes Tanti hanya angin lalu. Wahid membuang pandangan keluar untuk meredam emosi. Hingga beberapa saat tubuhnya merosot, karena matanya mulai buram.


Saat Tanti sedang sangat khawatir dengan keadaan Wahid. Ines malah terus menghujaninya dengan hinaan dan sumpah serapah.


"Dasar perempuan kampung tak tahu diri! Lepaskan tanganmu dari suamiku.' Ines terus membentak. Tangannya tak segan mendorong bahu Tanti.


"Mbak, tolong hentikan ini!" pinta Tanti dengan keras, tapi tak diindahkan oleh Ines. Tanti bukannya lemah, dia hanya menghormati Ines sebagai istri pertama Wahid. Jika tidak mengingat itu mungkin Tanti akan balas menyerang Ines.


"Mas, Wahid." Tanti menyangga tubuh Wahid, Ines berusaha melerai. Sepasang lengan Ines itu kalah kuat. Akan tetapi, tubuhnya cukup bertenaga untuk memberontak. Malangnya, Wahid sudah kehilangan kesadaran. Di satu titik Tanti kehilangan pegangan dan juga Ines semakin kuat menjambak rambutnya. Suara benturan di atas lantai mengisi ruang restoran.


Tanti menjerit melihat Wahid terpelanting. Ia segera berteriak minta tolong. Tanti merengkuh tubuh Wahid yang tidak tahu mengapa air matanya ikut bercucuran, seperti pipi Wahid yang bercucuran darah.


Tanti sempat menoleh kearah Ines saat orang-orang berhasil membawa tubuh Wahid yang tak sadarkan diri. Wanita itu terduduk melihat hasil perbuatannya. Ines memandang tajam ke arah Tanti.


"Ku minta, jangan jadi penghalang hubungan kami. Kamu cuma jadi masalah buat Mas Wahid. Jauhi mas Wahid, kamu hanya jadi beban."


Tanti tidak memperdulikan Ines lagi, begitu orang-orang yang membawa tubuh Wahid Ke luar restoran. Tanti buru-buru meninggalkan Nomor ponsel dan KTP-nya pada pelayan restoran untuk jaminan sementara, sebelum dia mengurus ganti rugi nantinya.


☘️☘️☘️


Adam kaget saat tiba-tiba Tanti mengabarkan jika Wahid sedang dilarikan ke rumah sakit.


"Kamu pulang saja, tolong jaga Bapak dan Ibu bersama Naia, biar Mas Wahid aku yang urus." pinta Tanti sebelum ikut naik ke mobil orang yang membantu mereka.


Jadi keadaan Wahid tidak diberitahukan pada Pak Subhan dan Bu Sari takut mempengaruhi kesehatan Pak Subhan lagi.


"Apapun itu, Mba Ines tidak akan pernah bisa menerima Mba Tanti. Tidak akan! "


Rupanya Tanti juga sudah menghubungi Naia.


Naia menurut saat Adam ajak duduk di sofa. Naia tampak pucat dengan wajah penuh ke khawatiran.


Adam mengelus tangan Naia. Untuk sesaat membiarkan pujaan hatinya tenang. Kalimat yang hendak di ucapkan Adam hanya menggantung di ujung lidah. Tidak mampu Adam ucapkan.


Adam tidak tahan lagi. Di tangkap kedua tangan Naia. Di genggam erat untuk membagi kehangatan. Akhirnya Adam memberanikan dirinya memeluk gadisnya. Tangis Naia malah menjadi setelah Adam peluk.


"Aku merasa tidak berguna Naia. Tidak bisa melakukan hal yang bisa membuatmu tenang." bisik Adam.


Naia mendesah. "Mas Adam bicara apa? Saat ini mas sudah melakukannya. Nai senang ada yang mendengarkan keluh kesah Nai."


Adam mencium tangan Naia.


"Kamu beneran siap mengurusku seumur hidupmu?"


Naia terdiam lama seraya menatap dan mengelus kaki Adam. Sejenak kemudian wajah Naia menegang dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Adam tidak bisa memaksa bila Naia belum siap menjadi istrinya seseorang seperti dirinya. Adam hanya berharap hubungan nya tidak di hambat. Ternyata mengurus pernikahan itu menguras energi mental yang cukup banyak. Semoga saja Naia kuat menjalani.


Melihat keraguan Naia, Adam paham. Menjadi istrinya harus siap menjadi perawatnya seumur hidup.


Naia menegakkan tubuh, namun tidak segera menjawab. Ia membutuhkan beberapa menit untuk menata emosi dan napas.


Adam kasihan pada Naia. Adam membutuhkan waktu delapan tahun untuk membiasakan diri dengan semua diskriminasi dan kerumitan hidup akibat kelumpuhan. Barangkali proses itu masih terus berjalan dan belum tuntas. Bagaimana dengan Naia yang baru beberapa minggu mengenal dunianya?


"Sebenarnya, Naia ingin memberi pengakuan."


Mendengar ucapan Naia tubuh Adam menegang. Mungkinkah kali ini Naia akan jujur jika dia benar-benar tidak siap menjadi istrinya Adam?


Adam menelan ludah dan menyamankan posisi duduknya. Meskipun sejak awal akan tetap seperti itu posisi duduk di kursi roda.


Adam hanya berusaha menguatkan hati dan mental mendengar pengakuan yang akan Naia sampaikan.


Tangan Adam berubah dingin, meski diluar sana matahari tampak terik.


"Sebenarnya, Naia sudah bersumpah dengan diri sendiri untuk menjaga Ibu dan Bapak. Meskipun Naia anak terakhir, Naia ingin merawat mereka. Naia tidak tenang menitipkan mereka pada saudara Naia yang lain termasuk Mas Wahid. Keraguan terbesar Naia bukan soal fisik Mas Adam, tetapi justru pada ketidak samaan antara pikiran Nai dengan pikiran Mas Adam."


"Maksudnya, apa kamu mau nikah sama aku Nai?"


"Jika Mas Adam mau menerima kedua orang tua Naia, Naia menerimanya." jawab Naia tegas.


"Sudah siap kamu merawat ku seumur hidup?"


"Aku menyayangi Mas Adam, merawat suami adalah kewajiban istri, itu bukan merupakan beban, tapi justru pahala."


"Naia, banyak sekali yang harus kamu alami karena punya pasangan seperti aku. Apa kamu siap?"


Adam sudah melupakan segala hal tentang harga diri sejak lama. Jadi bukan hal besar untuk nya menyamar menjadi pria sederhana. Asalkan Naia memberinya kepastian, dia bahagia.


"Nai siap, Mas Adam. Asalkan Mas Adam mau menerima kedua orang tua Nai yang sudah sepuh, menyayangi mereka, dan tidak menjadikan mereka seperti beban."


Adam langsung mengangguk setuju. Ah, jangankan cuma menerima kehadiran Kedua orang tua Naia. Memberi fasilitas terbaik saja Adam mampu.


Ah, Naia, Adam akan sangat memanjakan mu kelak setelah kalian resmi menikah.


"Hatimu terbuat dari apa sih, Nai? Sampai sebegitu baik pada semua orang di sekitar mu?"


Naia manyun. Bibirnya menjadi bulat dan terlihat sangat menggemaskan. Adam langsung lupa dengan kepenatan hari ini.


"Pak Beni dibajak kerumahnya Mbok Nirmala."


"Aku bukan tanya itu Lo!" Ucap Adam menuntut. "Aku beneran pingin tahu, terbuat dari apa hatimu?"

__ADS_1


Dari jutaan perbendaharaan kata mengapa Naia justru menjawab hal yang bisa meluluhkan hati Adam sampai cair, secair-cairnya. Meleleh bagai es krim yang tersiram cairan panas.


"Dari cinta yang mas Adam bawa untuk Naia."


__ADS_2