
Malam itu akhirnya Tanti pulang. Naia dan Bu Sari sudah masak beberapa menu untuk menyambut kedatangan Tanti.
Tanti tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Mata wanita itu langsung berkaca-kaca melihat sambutan dari keluarga Naia, Tanti yang sudah tidak memiliki keluarga, ia bisa kembali merasakan kehangatan keluarga setelah kehadiran Naia dan kedua orang tuanya. Sementara sosok Tanti untuk Nai dan kedua orang tuanya juga sangat berperan penting, tanpa bantuan Tanti mungkin kini mereka sudah menjadi gelandangan.
"Terimakasih, Nai, Pak, Bu." Ucap Tanti dengan binar kebahagiaan.
"Ayo kita makan. Ibu dan Nai sudah siapin masakan istimewa." Bu Sari memeluk Tanti seperti memeluk Naia.
Diam-diam Naia ikut menitihkan air mata haru,. Sepertinya kehadiran Tanti sedikit mengobati kerinduan Ibunya pada sosok Duwi.
Ah andai saja Mas dan Mbanya Nai tidak lupa pulang. Barangkali mereka akan dilimpahi kebahagiaan.
"Kenapa Nduk? Masakan Ibu nggak enak ya?" tanya Bu Sari melihat Tanti yang hanya menyendok nasi sedikit.
"Eh, enggak gitu Bu, tadi Tanti habis makan Bubur ayam di halte, tadinya mau langsung pulang tetapi pas Tanti sampai halte mau keluar cari ojek malah hujan, jadinya tadi berteduh sambil makan. Hehehe."
Mendengar jawaban Tanti Ibu Sari ikut tersenyum.
"Memang tadi sampai jam berapa Mba?" Naia ikut bertanya.
"Harusnya sebelum magrib sudah sampai, tapi malah keasikan ngobrol sama Ibu-ibu kenal di bis."
Naia membulatkan bibirnya.
"Nai," Panggil Tanti setelah selesai makan."
"Ya, mba?"
"Ibu, Bapak sudah tidur mba." Naia yang melihat Tanti celingukan menjelaskan lebih dulu.
"Oh, Alhamdulillah. Mba mau ngobrol sama kamu."
Naia duduk santun dan tersenyum manis sambil menatap Tanti yang duduk di hadapannya.
"Nai, tadi aku lewat tempat kerjamu, kenapa ya kok kelihatan kosong?"
Nai menghela napasnya, kemudian kembali menatap Tanti.
"Tokonya pindah ke kota Mba."
__ADS_1
"Loh, iya?"
Nai mengangguk. "Nai tidak bisa ikut pindah karena ..."
"Ya, Nai. Mba ngerti kok. Kamu jangan khawatir nanti mba bantu cari pekerjaan yang ringan untuk kamu."
Naia mengangguk sekali lagi, dan tak sungkan mengucapkan terimakasih.
Setelah beberapa menit mereka mengobrol, ponsel Tanti berdering.
"Ya, halo ..."
Tanti larut dalam obrolan, sementara Nai pergi untuk membuatkan Tanti teh.
"Wah, kamu kok repot-repot, nanti kalau mau ngeteh mba bisa buat sendiri Nai."
"Nggak apa mba, sekalian Nai mau buat. Mba sepertinya banyak pekerjaan?"
"Bukan soal kerjaan Nai, ini telpon dari Ibu-ibu yang tadi ketemu di bis."
"Kenapa mba?"
"Andai dekat Nai mau mba." Gunam Naia.
"Kerjanya dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore, gajinya empat juta belum termasuk bonus, di tambah ada paviliun dan juga uang makan."
"Empat juta?" mata Naia terbelalak. Mengapa jadi asisten rumah tangga gajinya bisa tiga kali lipat dari gaji jadi karyawan di mini market.
"Jauh Nai, Mba masih bisa nampung kalian biar kamu nggak kerja, aku udah anggap kalian seperti keluargaku sendiri."
Selepas pembicaraan dengan Tanti, Naia memikirkan jumlah gaji yang bisa di dapat ketika jadi asisten rumah tangga di Palangkaraya, memang jauh, tetapi sepadan dengan upah yang dia terima. Mengingat Naia memang benar-benar sangat membutuhkan uang.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Apa masih pusing, Mas?" tanya Beni.
Adam mengangguk. Ia juga heran, beberapa hari ini ia tidak bisa terlalu banyak beraktivitas di kursi roda dan lebih sering menghabiskan waktu di pembaringan, Adam merasa lemas, tidak tahan duduk terlalu lama
"Apa kita tidak kerumah sakit saja, Mas?" tanya Beni
__ADS_1
"Tidak, terimakasih."
Dengan tangannya yang lemah, Adam memindahkan tubuhnya ke kursi roda elektrik dan segera meluncur ke kamarnya. Adam mendesah. Tubuhnya sekarang terasa sangat lemah
Hanya bergerak beberapa meter saja sudah ngos-ngosan.
Saat malam menyelimuti. Adam berbaring di tempat tidurnya menghadap langit di luar sana yang sedang di sinari bulan purnama. Di waktu yang bersamaan Naia juga tengah duduk di teras menatap bulan yang sedang membulat sempurna.
"Ya Allah, berikan jalan agar aku bisa membahagiakan kedua orang tua ku." Gunam Naia menangis di bawah cahaya bulan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi itu Naia masih di dapur untuk membuat sarapan, Tanti sudah siap dengan setelah kerja, sedangkan Pak Subhan dan Bu Sari sudah sibuk mengisi polibag dengan tanah yang akan di tanami berbagai sayuran nantinya.
Usai sarapan, Naia akhirnya menyampaikan kabar bahwa dirinya kini sudah tidak bekerja pada kedua orang tuanya. Nelangsa sebenarnya, tetapi Naia tidak putus asa, dan akan terus berusaha mencari pekerjaan mulai hari ini.
Seorang pria sedang berkutat dengan jajaran map-map di rak kerja, Adam sedang mencari dokumen lawas yang dia simpan di ruangan ini, saat matanya menjelajahi seluruh ruangan, dia melihat beberapa tumpuk bantal di bungkus plastik.
Bantal-bantal yang dulu begitu berarti untuknya. Dulu untuk bangkit dari pembaringan saja dia harus berupaya berkali-kali. Kelumpuhan yang setinggi dada membuat otot perut, pinggang, dan punggung tidak berfungsi, hingga tubuhnya tidak memiliki daya topang sama sekali.
Ucapan penghibur itu justru terdengar cibiran di telinganya.
Kerap kali teman atau rekan selalu menghiburnya dengan kata 'Cuma lumpuh.' Padahal yang dibilang 'Cuma' itu telah merenggut seluruh hidupnya.
Dulu hari-hari lelaki itu dihabiskan untuk meratap. Tetapi ternyata keadaannya semakin parah dan semakin tidak terkontrol, dia jadi sering mengompol, kelumpuhannya seolah menyebar, ada masalah pada kantung kemihnya, otot dan otak tak sejalan. Ketika diminta berkemih, tidak mau keluar. Saat tidak diminta malah ngompol.
Adam semakin kehilangan harapan untuk hidup. Dia merasa seperti bayi, ngompol dan ngompol, sampai pada akhirnya Nirmala memakaikan diaper. Saat menyaksikan benda itu di pasang pada tubuhnya, Adam hampir menangis.
Nirmala adalah orang yang paling dekat dengan Adam. Setelah kejadian itu Nirmala melarikan Adam kerumah sakit dengan paksa.
Dokter mengatakan bahwa Adam mengalami neurogenic bladder. Karenanya mendorong air seni keluar tanpa diminta. Ada tiga pilihan kala itu. Minum obat, memakai kateter atau mengenakan diaper.
Kala itu Adam hampir saja bunuh diri karena terlalu frustasi, sejak dia memilih memasang kateter ia harus ekstra hati-hati saat bergerak. Salah gerak bisa mengakibatkan kebocoran. Dan benar itu berulang kali terjadi. Dia merasa tak berguna dan betul-betul menyusahkan. Lelaki dewasa yang terus mengompol. Alat kebanggaannya benar-benar telah gagal menjalankan fungsi. Ia merasa percuma hidup karena harus menanggung malu seperti itu.
Tetapi saat kater itu baru melukai sedikit pergelangan tangannya. Adam mengingat perkataan Ibunya.
"Akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada sesuatu yang indah setelah kesusahan melanda."
Kater itu terjatuh bersama dengan tubuh Adam yang melemas, dan berakhir Adam kembali mendapatkan perawatan di rumah sakit.
__ADS_1