Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Terkejut


__ADS_3

Sudah satu Minggu berlalu sejak Naia dan Adam tinggal satu atap namun belum pernah bertemu.


Hari ini Pak Beni tidak bisa datang karena sedang terkena diare, bahkan semalam sempat dilarikan ke UGD oleh keluarganya.


Naia mendengar berita itu. Jika orang kepercayaan bosnya tidak bisa datang hari ini, Naia benar-benar tidak pernah bertemu Beni ataupun Adam, karena sejak pulang dari Banjarmasin Adam kembali mengurung diri seperti yang sudah-sudah.


Sebenarnya, bukan hal baru, Adam sering seperti itu, kala dia merasa sedih, dia akan bersembunyi dari dunia. Bahasa kerennya mengasingkan diri. Jalannya kedepan memang berat. Sudah seperti cerita novel yang peran utamanya dihadapkan pada pilihan yang sulit, hanya ada dua kemungkinan, selamat atau tamat. Seolah ia tidak memiliki waktu bersama orang yang dicintainya.


Selama ini tugas Beni mengurus Adam hanya sebentar, membantu mandi dan menyiapkan keperluan Adam setelah itu kembali pulang.


Beni tidak terlalu lama mengurus Adam saat Adam tidak pergi ke kantor, orang-orang kepercayaan Adam yang mengurus semua pekerjaan kantor jika Adam sedang seperti ini.


Adam bangun dari pembaringan, dia sudah tau jika Beni sedang sakit, untuk itu dia mengirim Tony untuk memberikan uang untuk Beni. Adam memang se dermawan itu.


Adam juga meminta Tony untuk langsung pulang setelah ke rumah Beni, dan berpesan tidak perlu datang lagi, Adam merasa bisa mengurus dirinya.


Naia sudah menyiapkan sarapan untuk Adam, melihat pintu kamar bosnya sedikit terbuka Naia ragu untuk menghampiri.


Hari ini jadwal pegawai laundry untuk mengantar pakaian bersih dan menjemput pakaian Adam yang kotor.


Naia tahu jika sebentar lagi petugas laundry akan datang dia mengetuk pintu kamar Adam yang sedikit terbuka untuk mengantarkan makanan dan berniat mengambil pakaian kotor.


Naia tidak jadi masuk setelah mendengar bosnya sedang mandi, Naia keluar kembali dan urung mengantarkan makanan untuk Adam, sangat tidak sopan jika dia nyelonong tanpa izin bukan?


Adam segera berpakaian setelah mandi, keluar kamar untuk melihat meja makan, Adam melihat nampan yang sudah berisi makanan terseyum tipis. Ternyata asisten rumah tangganya sangat sopan, bahkan tidak berani masuk ke kamarnya tanpa izin.


Adam celingukan mencari keberadaan orang yang bekerja dengannya, tetapi tidak menemukan, mungkin asisten rumah tangganya sedang ke paviliun.


Naia memang pergi ke paviliun untuk mandi, karena dia sudah selesai membereskan rumah dan masak sarapan untuk Adam.


Sementara Naia mandi, Adam menikmati sarapan paginya di meja makan. Usai makan Adam kembali ke kamar untuk beristirahat. Sejak semalam kaki Adam terasa nyeri, tidak bisa di ajak tidur, berdenyut, tegang dan gemetaran.


Adam sedang mengunakan kursi roda elektrik nya, memudahkan Adam untuk segera meluncur kembali kekamar.


Naia yang sudah selesai mandi kembali ke rumah utama dan melihat makanan di nampan sudah habis, Naia langsung membereskan meja, saat mencuci piring, bel berbunyi.

__ADS_1


Ternyata petugas laundry yang mengantarkan pakaian Adam. Buru-buru Naia mengangkat pakaian bersih itu dan akan segera menukarnya dengan pakaian kotor.


Kali ini ketukan pintunya mendapat jawaban.


Adam sedang berbaring miring memunggungi Naia, dia baru saja mendapatkan posisi nyaman. Untuk itu dia tidak berpaling untuk melihat seseorang yang tengah memperhatikannya diam-diam.


Naia menemukan bos-nya yang sedang berbaring. Tempat tidurnya sangat besar untuk di tiduri sendirian. Bisa Naia bayangkan bisa senyaman apa tidur disana.


Setelah mendapat izin berupa gunaman dari pria yang sedang berbaring terbungkus bad cover , Naia langsung memasukkan pakaian kotor Adam kedalam kantong untuk diberikan pada petugas laundry.


Setelah memberikan pakaian kotor bosnya, Naia mengucapkan terima kasih dan berlalu masuk kembali ke kamar Adam.


Adam masih berbaring miring seperti tadi saat Naia keluar, Naia pikir Bosnya sudah kembali terlelap.


Aneh. Padahal hari masih pagi tapi bosnya malah kembali tidur setelah makan, benar-benar pola hidup yang tidak sehat.


"Tolong susun kan di tempat pakaian, saya sedang kurang sehat." pinta Adam yang bisa Naia dengar.


Naia baru akan mengangkat keranjang pakaian yang sudah di laundry saat tiba-tiba Pak Beni datang.


"Mba Naia?"


"Pak Beni?"


Kedua orang itu masih sama-sama tak menduga jika bisa bertemu di rumah ini.


Naia berpikir ini adalah rumah Pak Beni. Hanya dengan berpikir demikian hati Naia tiba-tiba di aliri rasa sejuk. Itu berarti ada kemungkinan dirinya bisa bertemu dengan Adam.


Sementara Adam yang mendengar suara Beni langsung membalikkan badannya, dia tidak menyangka Beni nekat bekerja.


"Naia .... ?" Ternyata tanpa sengaja mata mereka bertemu.


Langit Palangkaraya di bulan Januari lebih cepat menjadi gelap, sedang musim penghujan. Udaranya sangat dingin, sedingin dua hati yang sama-sama terkejut dengan suratan takdir.


Perjalanan hidup bisa berubah dalam sekejap. Seperti angin yang bertiup ke Utara, bisa beralih ke selatan dalam hitungan detik. Itulah yang terjadi pada suasana hati Adam, yang langsung menghilangkan mendung yang beberapa hari ini membuat hari nya suram, biarpun langit sedang gelap gulita, hati Adam sedang terang benderang seperti musim panas.

__ADS_1


Adam mendapat kejutan tak terduga, perjumpaan dengan Naia. Telah sepekan berkomunikasi. Ia sangat menikmati saat-saat itu. Meski hanya bertukar pesan, nyatanya mampu menentramkan hati Adam.


"Mas Adam?" suara yang Adam rindukan itu terdengar merdu.


Sesuatu menggelitik rasa ingin tahu Naia sehingga ia memberanikan diri bertanya lagi. "Ini kamar Mas Adam?"


Adam terseyum tipis. Lalu berusaha mendudukkan tubuhnya, Beni ingin segera membantu tetapi urung setelah mendapat kode rahasia dari Adam.


"Ternyata selama ini kita hidup dalam satu atap." kekeh Adam renyah, Adam menatap Beni dan Naia.


"Ini kamar Pak Beni, tadi aku sedang membereskan tapi malah ketiduran. Aku di izinkan tidur di kamar Bapak jika Bapak sedang tidak ada."


Alasan Adam tentunya terdengar aneh. Tetapi Naia tidak mempermasalahkan, hatinya senang karena ternyata mereka kerja di tempat yang sama.


Beni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung karena harus bermain drama dadakan.


"Pak Beni, dimana saya harus meletakkan pakaian Anda?"


"Taruh situ saja, nanti aku yang akan menyusunnya." Bukan Beni yang jawab tetapi Adam.


Entah kemana rasa hopeless yang beberapa hari mendera hati Adam. Saat ini harapan itu kembali memenuhi hatinya. Senyum manis Naia seolah obat mujarab, ramuan manjur dan seperti sihir yang membuat Adam mendapatkan kepercayaan diri.


Bersambung....


#######


Sejujurnya kemarin author hampir saja mogok menulis, karena beberapa alasan. Tetapi dukungan dari beberapa dari kalian membuat author kembali bersemangat.


Terimakasih yang sudah mendukung author dengan memberi like, komentar dan juga vote.


Sehat selalu pembaca...


Semoga kian selalu sehat dan murah rejeki


Happy reading..

__ADS_1


__ADS_2