Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Rumah sakit.


__ADS_3

Tanti duduk seorang diri di depan ruang UGD. Luka Wahid perlu mendapatkan jahitan. Sementara Tanti tipe orang yang melankolis, tidak berani melihat darah atau luka seperti itu. Cengeng. Barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan karakter Tanti.


Wanita keibuan itu jadi merasa bersalah karena Wahid terluka, meskipun sebenarnya bukan sepenuhnya itu salahnya.


Sepanjang Wahid diperiksa, Tanti tak berhenti mengintip di balik korden pembatas, tidak berani melihat tetapi juga ingin tahu.


Saat dokter mengatakan bahwa lukanya dalam dan harus mendapatkan jahitan, saat itu Tanti memilih menunggu di luar.


"Pasien mencari Anda." seorang suster muncul di balik pintu.


Tanti buru-buru bangkit dari duduknya dan segera masuk kedalam ruang UGD.


Di tempat tidur pasien Wahid sedang melihat kehadiran Tanti. Wanita itu juga tengah menatapnya. Pakaiannya terdapat banyak noda darah, bahkan sampai ke hijabnya.


Wahid memang langsung di ijinkan pulang. Hanya di haruskan kontrol tiga hari berikutnya, memantau perkembangan jaringan kulitnya yang terluka dan mendapat jahitan.


Tanti bernapas lega melihat luka Wahid yang sudah tertutup perban.


Dokter juga langsung menjelaskan cara merawat luka dan mengganti perbannya.


"Pastikan perbannya jangan sampai basah ya Ibu." tutur dokter. "Ini salep lukanya di oles tipis-tipis, pastikan cuci tangan terlebih dahulu, basuh luka Bapak dengan kasa dan air steril, setelahnya di lap kering mengungkan kasa, kemudian baru di oles salep, nah, untuk yang seperti jaring ini di gunting sesuai ukuran luka, selain mengandung obat dia juga berfungsi mencegah kasa nya lengket secara langsung ke lukanya, kemudian baru di kasih kasa dan di tutup dengan perekat seperti ini." Dokter menerangkan begitu komplit step by step merawat luka Wahid.


Tanti memperhatikan segala detailnya dan menyimak dengan khusyuk.


Tanti segera mengucapkan terima kasih pada dokter, dan setelahnya dia bergegas menebus obat ke apotik.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Adam duduk bersama kedua orang tua Naia. Pak Subhan mengajak Adam ngobrol banyak hal, termasuk cerita masa kecil Naia.


"Bapak menyerahkan seluruh keputusan pada Naia, Nak Adam..." Perkataan Pak Subhan tidak selesai, saat suara gaduh dari luar terdengar.


Ternyata keluarga Ines yang datang. Besan Pak Subhan mengamuk. Ines mengadu pada orang tuanya soal Wahid yang menikah lagi. Kini Pak Subhan dan Bu Sari jadi sasaran kemarahan keluarga Ines.


Naia buru-buru berlari untuk melerai mereka untuk tidak terus mendesak Bapak dan Ibunya, tetapi apalah daya Naia. Ines tidak hanya membawa kedua orang tuanya tetapi juga orang-orang bayaran untuk merusak kediaman Tanti.


Naia memohon agar mereka tak menyakiti orang tuanya, tetapi Ines malah mendorong tubuh ringkih Pak Subhan.

__ADS_1


"Mbak Ines!!" Naia berlari sekuat mungkin untuk menjangkau tubuh Bapaknya. Bersyukur Pak Subhan tidak sampai tersungkur.


Naia mengeram marah


Prangkkkkhh!!!


Adam tak berkedip menatap berbagai kejadian itu. Di satu sisi ia turut merasakan beban yang Naia tanggung. Namun, di sisi lain dia belum ada hak untuk ikut campur.


Cukup lama Adam termenung di depan kekacauan yang terjadi.


Mendengar pekikan Naia, dan suara benda jatuh. Adam terjingkat sangking kagetnya.


Bukankah menyedihkan bila seorang lelaki merasa tidak mampu melindungi gadisnya karena kelumpuhannya. Itu yang tengah di alami Adam. Melihat Naia di dorong oleh dua orang paruh baya itu membuatnya syok dan tidak percaya.


Semua kacau dari waktu kurang dari sepuluh menit. Naia tersungkur di bawah meja, gadis yang tengah melindungi kedua orang tuanya itu menanggung kemarahan enam orang sekaligus.


Adam mengeram. Dia bergegas mengayuh kursi rodanya untuk membantu Naia, dia mengunci rodanya dan membungkuk untuk membantu gadisnya.


Di tengah perjuangannya yang tidak mudah gemuruh tawa terdengar.


Mereka memperolok Adam, menghina fisiknya secara terang-terangan.


"Naia ... " Adam meraih telapak tangannya.


"Tolong Ba-bapak da dan I-Ibu Mas .." Naia terengah-engah dengan kalimat yang putus-putus.


"Ya, Allah ..." Adam mengeram penuh emosi melihat kening Naia yang berdarah.


Naia merasa pening karena terlalu kuat menghantam meja kaca, bahkan bagian kaca itu sampai retak karena benturan kepalanya.


Adam terus berusaha membantu Naia, sampai badannya condong kedepan. Di saat seperti ini dia merasa tidak berguna. Adam merasa ini hal tergelap dalam hidupnya, seolah membiarkan orang sekarat di hadapannya tanpa bisa berbuat apa pun.


Adam terus berusaha membantu Naia. Saat itulah ia menyadari kepalanya terasa ringan dan jantungnya berderap kencang. Ia sudah terlalu menguras tenaga. Lalu, rasa terbakar yang menyengat itu datang lagi.


Adam mengeluh dalam hati. Ah, mengapa sekarang? Tangan itu sudah berhasil mengenggam tangan Naia, tetapi malah Adam yang ikut tersungkur.


Tubuh ini benar-benar tidak berguna !!! Dalam hati Adam menangis. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.

__ADS_1


Adam jatuh di samping tubuh Naia. Menahan nyeri dengan wajah berkerut dan desisan keluar dari mulut. Kedua tangannya menekan paha, seolah menekan sumber masalahnya.


Adam menggertukkan gigi. Mata orang-orang itu tampak sekali mencemooh, dia sangat kesal. Tapi tidak mampu berbuat apa-apa.


Bersyukur karena setelahnya Pak Beni datang.


Beni bergegas membantu Adam. Setelah beberapa menit juga Naia mulai ikut merangkak membantu Adam.


Setelah Adam benar-benar duduk di kursi roda Naia beringsut mendekati Pak Subhan.


"Pak," Naia menggoncang pelan lengan Bapaknya yang sudah menutup mata dengan rapat. "Bapak!" Naia sekali lagi memanggil tetapi tidak mendapatkan respon sama sekali.


Malam itu, seperti putaran waktu yang berbalik. Wahid pulang dari rumah sakit, Pak Subhan masuk rumah sakit.


Keadaan Adam sudah stabil tetapi Pak Subhan dinyatakan meninggal dunia.


Naia langsung menegakkan tubuh mendengar berita itu. Matanya membulat sejenak, kemudian napasnya tersengal.


"Tidak ... Tidak ... Itu tidak mungkin ..."


"Naia ... "


Naia mematung. Pasti kaget sekali. Sesudah itu dia terduduk dengan tubuh gemetar.


Tidak dapat Adam lukiskan wajah hancur gadis itu. Air mata bercucuran. Untuk beberapa saat hanya rintihan yang keluar dari bibirnya.


Adam tidak tahan. Sedetik kemudian dia melompat ke lantai untuk memeluk Naia yang sudah pucat pasi.


Di atas dada Adam Naia menangis kencang. Isakan nya sangat menyeskkan. Bahkan Adam tidak mampu mencegah matanya yang ikut banjir air mata.


"Sabar, Naia ... Sabar!" Adam mendekap semakin erat. Beberapa saat pelukan itu mengendur, dan Adam sadar gadisnya pingsan karena terlalu syok.


Dalam kurun waktu kurang dari dua jam. Adam merutuk diri nya yang cacat. Adam merasa tidak berguna. Bahkan ketika Naia jatuh tak sadarkan diri seperti ini, dia hanya mampu membiarkan Pak Beni yang mengendong kekasihnya.


Kaki sialan !!! desis Adam merutuk.


Langkah kaki terdengar mendekat dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Bapak, Ibu dan Naia?"


__ADS_2