
Sulit bagi orang awam untuk menerima kondisi Adam yang mengunakan kursi roda. Termasuk ketiga kakak Naia tentunya. Hal yang lumrah karena siapapun menginginkan pasangan yang sempurna, setidaknya secara fisik. Mengunakan kursi roda sangat memprihatikan, Naia cantik tentu bisa mendapatkan lelaki yang lebih sempurna.
Trio menarik Naia ke dapur di ikuti oleh Duwi dan Puput.
"Nai, sudahkah kamu berpikir masak-masak soal ini?" tegas Trianto dengan suara yang tidak di kecilkan.
Naia tidak menjawab dan justru menatap ketiga orang itu dengan bingung.
"Nai, dengar nasehat Mas. Bukan Mas mengecilkan kemampuan lelaki itu, tapi kamu harus realistis. Kamu bisa mendapatkan yang lebih sempurna. Paham, kan?" tekan Trianto dengan menekan pundak Naia dengan telapak tangan.
Adam terseyum kecut mendengar ucapan Trianto dari tempatnya, membuatnya kesal. Pacar dan kursi roda, dia tau dia cacat, tapi haruskah dikomentari seperti itu?
"Kalau kamu tidak bisa cari sendiri, aku bisa carikan. Apa salahnya cari yang jauh lebih sempurna? Lebih baik menikah tanpa cinta asal mapan. Cinta itu akan tumbuh sendiri setelah kalian berumahtangga." cerocos Trianto yang di dukung oleh Duwi.
Naia tetap bungkam.
"Mas tidak bisa melepas mu begitu saja, setiap kali melihat kakinya yang layu, Mas ragu lelaki itu mampu membuatmu bahagia, sedang untuk diri sendiri saja dia sangat kerepotan."
Salah satu tekanan paling berat adalah, ketika kehendak kita di tentang terang-terangan. Seperti kaki yang tengah berlari maju, namun badan kembali ditarik mundur.
"Nai yang menjalani, Nai bisa terima Mas Adam, Nai tidak perlu pendapat orang lain, cukup lelaki yang menjadi calon suami Nai bisa menerima Bapak dan Ibu, itu syarat mutlaknya, sampeyan tidak perlu ikut campur, hidup, saya yang jalani, selama ini juga sampeyan tidak perduli, jadi bersikap sewajarnya saja!" Naia tersenyum tipis, namun efeknya seperti kater yang yang menyayat jantung Trianto.
"Pedihnya hidup akan mudah diterima dan disyukuri bila kita bisa menempatkan diri. Mas tidak perlu khawatir pada kami, khawatir lah dengan diri mas sendiri, sempurna, katanya punya segalanya, nyatanya tidak sekalipun Mas membelikan selembar kain untuk Bapak, sampai beliau tidak ada!" Naia menambahkan.
Harapan Adam untuk membuat Naia melihatnya sebagai orang yang di cintai terwujud, gadis itu benar-benar menganggap dirinya sebagaimana pria di luar sana, bukan seperti pandangan banyak orang kepada dirinya.
"Hatiku terlanjur melekat padamu , Nai. Atas izin ataupun tidak, kurasa ini sudah cukup untuk menguji ketulusan mu." batin Adam dengan semburat merah muda di pipinya. Ah, Adam jadi merona karena untuk pertama kalinya merasa di inginkan dengan sangat tulus, bukan karena ada apanya, tapi di terima dengan segala kekurangannya.
Akses untuk orang difabel di Indonesia masih tertinggal jauh dengan luar negeri, tetapi itu bukan hambatan untuk Adam bisa membuktikan bahwa dia mampu membuat gadis sederhana itu bahagia.
__ADS_1
Tanpa sadar, Adam sudah mengayuh kursi rodanya mendekati ke empat orang yang tengah berdiri membelakanginya.
Naia tersadar lebih dulu bahwa ada orang lain di sekitar mereka. Naia langsung menyunggingkan senyuman manis ketika mendapati Adam yang menatapnya.
Adam tidak sadar jika matanya melekat terus ke wajah Naia.
Naia yang sadar tengah di pandangi juga langsung terseyum.
Melihat senyum lembut Naia jantung Adam mendadak riuh, seperti beranak pinak.
"Menikah dengan lelaki ini, kamu tahu artinya?" masih sempat-sempatnya Trianto memandang Adam dengan remeh sebelum membuang pandangan kearah Naia.
Naia mengangguk, dan masih mempertahankan senyumnya untuk Adam. "Artinya kami akan jadi pusat perhatian, dan InsyaAllah Nai sudah siap mental."
Dengan kaki yang membeku di tempat, Naia menyaksikan momen indah ketika Adam meluncur mengayuh cepat dengan sepasang lengan kokoh mendekatinya. Saat berhadapan, Naia dapat melihat mata Adam yang terpancar syahdu dan penuh binar indah. Naia terpesona.
Masa-masa paling berat itu dapat Adam jalani dengan lebih ringan karena mendapat dukungan dari Naia, bagi Adam ke tiga saudara Naia bukan kendala utama.
Adam terseyum. Sepertinya cuma Naia yang mampu membuat Adam terseyum dalam segala situasi.
"Naia! Lepaskan tanganmu! Kamu kok jadi seperti ini?" seru Trianto mendelik, melihat Naia yang tak melepaskan tangan Adam.
"Tenang, Mas. Aku tahu batasan, kok."
Trianto berdecak dan memilih pergi yang di susul oleh Duwi dan Puput. Rupanya di ruang tengah Wahid sedang membujuk sang Ibu untuk tinggal di rumah yang sudah Wahid belikan, Wahid juga membujuk jika akan ada Tanti yang menemani ibunya dan Naia.
Adam mengamati Naia yang menatap kemana kakaknya pergi. Adam terus memandang pujaan hatinya. Ternyata sebuah cerita bisa berbeda bila di lihat dari sudut pandang yang lain
Adam jadi teringat peringatan Fadil tadi.
__ADS_1
Fadil. Sekarang Adam mengakui bahwa tidak ada yang perlu ditakuti untuk menjalin hubungan dengan Naia. Fadil benar, Waktu akan membuat Naia menerima dan merasakan perbedaan itu sebagai hal yang biasa.
"Bagaimana jika aku memboyong kalian ke Kalimantan saja?"
"Ha?" Naia terbengong, sebelum akhirnya menggeleng riuh.
"Tidak, Mas Adam. Naia masih harus tinggal di Jogja, Nai masih memiliki hutang pada Mbok Nirmala dan juga Mbak Tanti, sementara kalau di izinkan Pak Beni Nai mau mencari pekerjaan di sini dulu, setidaknya sampai empat puluh hari Bapak."
"Aku ingin membawamu menemui seseorang."
"Setelah menikah, Nai akan ikut Mas Adam kemanapun."
"Benarkah? Kamu tidak masalah hidup jauh dari keluarga?" keluarga yang di maksudkan Adam adalah Kakak-kakak Naia.
"Mas Adam juga keluarga Nai nantinya, ada Ibu dan Mas Adam, Nai sudah merasa cukup."
Demi apapun, perasaan Adam dipenuhi jutaan kupu-kupu yang begitu indah, mengepakkan sayap semangat tanpa bisa di cegah. Naia seperti penerang di hari Adam yang gelap bagaikan gua yang terdapat di dasar lembah. Gelap dan menakutkan, kini gua itu telah berlobang, membuat Dinar surya menembus mengusir kegelapan.
"Aku akan menjamin hidup kalian, membahagiakan mu semampuku, aku akan berusaha lebih giat untuk melatih otot perutku agar lebih lemas, dan dapat menunduk lebih lama, aku akan melakukan apa saja yang bisa memudahkan mu mengurusku Nai." tutur Adam mengenggam tangan Naia dengan lembut.
"Terimakasih, Mas Adam. Naia akan berusaha mengenal Mas Adam, agar Naia juga bisa membuat Mas Adam nyaman bersama Naia.
Naia benar-benar Ajaib. Di saat orang lain memilih menjauh karena keadaannya, gadis itu justru ingin mendekat untuk menganalisa.
######
Author Ucapkan permohonan maaf untuk reader..
Mungkin novel ini sedikit tidak lancar updatenya, sebab ada urusan yang membuat author sibuk sekali beberapa hari ini.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya, dan untuk Kalian yang selalu menunggu bab terbaru dari novel ini.
Happy reading ❤️❤️❤️