
Dalam beberapa hal, anak laki-laki memiliki hak yang lebih besar dari anak perempuan. Dalam hal waris misalnya.
Sebaliknya, anak laki-laki juga dibebani dan tanggung jawab yang lebih besar pula dari anak perempuan.
Jika anak perempuan setelah menikah maka ketaatan dan bakti tertingginya ada pada suaminya, maka bagi anak laki-laki posisi itu tetap ada pada orang tuanya, terutama ibunya.
Artinya, bakti pada orang tua tidak lantas berkurang atau menjadi teralihkan sepenuhnya pada istrinya saat anak laki-laki sudah menikah.
Tapi kedua Kaka Naia tidak demikian. Wahid dan Trianto justru seperti melupakan kedua orang tuanya setelah berumah tangga. Melimpahkan tanggung jawabnya pada si bungsu Naia yang seharusnya masih mereka bimbing dan di dampingi.
Wahid yang kembali kerumah Tanti untuk membujuk Naia benar-benar terduduk di ruang tamu saat Tanti mengatakan Ibunya sedang menemani Pak Subhan di rumah sakit, sementara Naia sudah pergi merantau untuk mencari biaya pengobatan Bapaknya.
Entahlah, meski tidak tampak di permukaan, tetapi hati Wahid benar-benar pedih mendengar pernyataan Tanti.
Dia tak layak disebut anak ataupun Kaka, dia sudah melupakan keluarganya yang seharusnya di rangkul dan di lindungi.
Wahid semakin terdiam saat mengetahui hampir satu Minggu Bapaknya di rawat, sementara Naia sudah meninggalkan pulau Jawa selama empat harian.
Adik kecilnya tengah mengais rejeki untuk pengobatan dan kehidupan kedua orang tuanya, tidak sedikitpun mengeluh padanya ataupun saudaranya yang lain.
Wahid sadar. Dia terlalu jauh menyakiti hati kedua orang tuanya dan adik nya yang paling kecil. Saat ini bahkan Naia sudah memblokir Nomornya.
Dihadapan Tanti Wahid sudah tidak memiliki muka. Tanti yang orang lain bahkan rela menjual beberapa perhiasannya demi membantu kedua orang tuanya, sementara Wahid dia yang jauh lebih berhak melakukan apapun demi orang tuanya, malah tidak tahu apa-apa.
"Untuk sementara jangan temui Pak Subhan dulu, Mas. Beliau benar-benar di anjurkan untuk istirahat."
Wahid hanya mengangguk. Setelah tidak berhasil menemui Naia dan justru mendapat kabar mengejutkan itu, Wahid pergi dengan perasaan campur aduk.
Bayangan kasih sayang kedua orang tuanya memutar di memori, nasehat Pak Subhan, tawa Bu Sari dan Naia hadir di pelupuk mata.
__ADS_1
Rasanya baru kemarin Naia masih bergelayut manja di lengannya dengan seragam putih biru, kini adik nya sudah pergi jauh untuk mengais rezeki.
Oh, tak pelak air mata Wahid merembes di kedua sudut matanya.
"Pak, Bu, Nai ... Maafkan aku ..." Wahid menenggelamkan wajahnya di kedua tangan yang bertumpu pada setir mobil. Alih-alih langsung pulang. Wahid malah betah menangis di dalam mobil.
Naia ... Bungsu yang sangat manis, dulu Wahid sangat menyayangi Naia, Naia juga adik yang baik, patuh juga tidak rewel. berbeda dengan Duwi yang banyak maunya. Naia tidak, mungkin karena jarak mereka yang terpaut jauh, sehingga Wahid begitu menyayangi Naia. Namun semenjak bekerja dan jarang bertemu kedekatan mereka merenggang. Sebenarnya bukan hanya dengan Naia. Dengan Duwi dan Trianto pun juga renggang. Mereka kembali dekat, saat tak sengaja bertemu karena Ines dan Duwi ternyata teman arisan, begitu juga Puput istri Trianto. Dari sana kedekatan mereka kembali terjalin.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tiba-tiba Adam kembali tidak percaya diri mengingat ucapan Kaka Naia lewat telepon hari itu. Hidup seperti apa yang dia jalani, hanya Adam yang tau rasanya, mungkin benar dia mampu beradaptasi dengan baik. Tapi apa Naia bisa beradaptasi dengan kondisinya? Adam sadar, hidup bersamanya banyak yang harus di korbankan seorang yang akan menjadi pasangan nya, mungkin Naia akan tidak bisa pergi ke suatu tempat. Atau segalanya akan jadi lambat dan rumit karena dia harus dibantu untuk melakukan ini dan itu. Seorang yang menjadi istrinya harus menjadi perawatnya seumur hidup. Apa Naia siap?
Adam tercenung. Hatinya meragu. Berharap dia hanya jatuh cinta sesaat, terpesona dengan wajah lugu dan kebaikan Naia. Akan tetapi dia tidak tahu harus bagaimana setelahnya.
Hati Adam semakin teriris. Seberat itu hidupnya. Kerusakan sarafnya berat. Dulu nggak bisa gerak sama sekali dari pinggang ke bawah, bukan hanya lumpuh, tetapi dia juga sudah kehilangan kontrol pada tubuh nya bagian dada kebawah dan itu artinya butuh keberanian besar untuk mencari pasangan. Butuh seseorang yang tepat yang bisa menerima segala kekurangannya.
Di sisi lain, semua pilihan itu membawa konsekuensi. Maju. Belum tentu Naia mau! Mundur. Dia akan menelan pahitnya menahan hati.
["Assalamualaikum, Mas Adam, jika boleh tahu Mas Adam tinggal di Kalimantan mana?"]
Adam meraih ponselnya dengan cekatan.
Oh, betapa sopan sekali gadis itu.
Lihatlah, tangannya saja begitu cepat meraih benda pipih itu begitu matanya menangkap nama Naia. Tangan nya saja tau harus bagaimana.
Ah, Naia apa kamu juha merasakan apa yang aku rasakan.
Bayangan perjumpaan di dekat alun-alun Jogja kembali terbayang. Pikiran itu menggerakkan jari Adam untuk menjawab pesan Naia. Setidaknya mereka bisa berteman, untuk mengusir sepi Adam.
__ADS_1
["Palangkaraya, Kalimantan Tengah."] tulis Adam.
Lama layar ponsel Adam gelap, belum ada tanda-tanda pesannya di balas oleh Naia. Membuat Adam kembali menekuni layar laptopnya.
"Permisi, Tuan. Saya izin beli paket internet boleh?"
Adam mengerutkan keningnya saat mendengar suara wanita dari luar pintu kamarnya.
"Sandi WiFi nya 'CACAT TOTAL' huruf besar semua." teriak Adam dari dalam kamar. Adam masih bisa mendengar wanita itu mengucapkan terima kasih, sebelum langkahnya terdengar menjauh.
Adam sedang duduk sendirian, karena Pak Beni ke kamar mandi.
Lagian mau kemana wanita itu beli paket? Apa Mbok Nirmala tidak mengatakan jika rumah Adam jauh dari keramaian justru terletak di pinggir kota tapi juga tepi hutan, harus melewati hutan sekitar dua ratus meter baru ketemu perkotaan.
Ting!
["Nai sekarang juga bekerja di Palangkaraya."] balas Naia yang membuat Adam melotot tak percaya. Sampai berulang kali membaca balasan dari Naia. Apa tidak salah?
["Palangkaraya dimana nya?"]
["Kurang tau, Mas. Karena Naia baru bekerja empat hari ini "]
Oh, Adam terpaku memilih kata yang tepat supaya bisa memancing Naia untuk ketemuan.
["Tanya sama teman mu, dimana kamu tinggal. Siapa tau kapan-kapan aku bisa berkunjung."]
Didalam kamarnya Naia mengigit bibir ingin membalas pesan Adam. Kata berkunjung sepertinya sangat mustahil. Karena Naia bekerja di dalam rumah, bukan diluar ruangan, ataupun pekerjaan yang ada liburnya. Bagaimana cara Naia menjelaskan jika dia bekerja sebagai seorang pembantu.
["Naia bekerja sebagai asisten rumah tangga, Mas Adam."]
__ADS_1
Adam langsung merasakan hatinya jatuh dan patah. Apa mereka benar-benar tidak di takdirkan untuk bertemu lagi?