
Allah maha membolak-balikkan hati dan sepertinya saat ini Allah sudah membalik hati hambanya yang bernama Adam untuk kembali mempercayai sebuah cinta dan ketulusan. Mungkin tak semudah dulu menjalin hubungan. Tetapi Adam mau mencobanya dengan percaya diri.
"Akan ku bahagiakan kamu dengan caraku." batin Adam menatap wajah cantik dan polos di hadapannya.
Roda hidup terus berputar. Kesakitan akan ada ujungnya dan bahagia akan tiba pada waktunya. Adam percaya akan hal itu. Karena kini dia menjadi salah seorang yang merasakannya.
Kini, dia seolah memiliki sebagian harapan yang sempat pupus ditengah jalan. Meski kini dia tak sempurna, tetapi harapan itu ada di depan matanya.
"Mas ..." ucapan Naia terpotong saat matanya bertemu dengan mata Adam. Ternyata laki-laki itu sedang menatapnya. Naia merasa pipinya panas. Dia salah tingkah sendiri mendapati Adam memperhatikan dirinya sejak tadi.
"Mas Adam yakin mau bicara lagi dengan mereka?"
Adam mengangguk dengan wajah yang masih setia menatap Naia.
Adam tau, Trianto sempat menawarkan Naia untuk kuliah. Tetapi Naia tegas menolaknya.
"Kamu nggak nyesal terima aku yang seperti ini?"
Naia menggeleng tegas.
"Menikah' kan membuat mimpi kamu berakhir. Apa kamu sudah siap kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi?" Tanya Adam.
Naia terseyum. "Nai masih bisa merajut mimpi yang lain. Kalaupun Naia nggak bisa meraih pendidikan tinggi, tapi Nai bisa memiliki rumah baru untuk berlindung." jelasnya.
Adam mengerutkan keningnya, seolah bingung.
"Setelah menikah, Mas Adam adalah rumah Nai, kan?"
Adam menyunggingkan senyumnya. Dia senang karena Naia mau menjadikannya sebagai rumah untuk pulang. Itu artinya, Naia benar-benar tulus menerima kondisinya.
Malam itu. Adam kembali melamar Naia pada ketiga Kakaknya. Meski terlihat sekali mereka tampak keberatan tapi mereka akhirnya menyetujui dengan syarat mereka menikah setelah empat puluh hari Pak Subhan di makamkan.
Hari ini, Naia buru-buru datang kerumah Mbok Nirmala ketika mendengar kabar jika Adam terjatuh dari kursi rodanya. Dengan mengendarai motor Tanti, Naia nekat pergi ke kampung Pandean.
☘️☘️☘️☘️☘️
Fadil kembali tersenyum. Tidak sia-sia dia menyemangati sahabatnya. Karena setelahnya dia melihat kebahagiaan Adam. Setelah mendengar tentang Naia. Fadil merasa Naia memang sangat cocok untuk menjadi istri sahabatnya. Gadis sederhana dan sopan. Lalu, Bonus wajahnya yang juga cantik alami.
__ADS_1
"Semangat boleh, tapi jangan kebablasan, Dam! Semua bisa dilakukan dengan bertahap, kalau terburu-buru seperti ini malah justru membahayakan. Untung hanya lecet tidak sampai cidera!" Fadil sedang mengobati kaki Adam yang terluka karena jatuh cukup kuat.
Sebenarnya Adam sedang belajar pelan-pelan di bantu Walker dan brace ( Walker: alat bantu berjalan, berupa kerangka logam dengan empat kaki. Brace: kerangka logam berengsel yang digunakan untuk peneguh kaki) mungkin karena merasa perkembangannya yang sangat lambat, dia ingin menanggalkan Bracenya, tapi yang ada Adam malah terjatuh berlutut dengan cukup kuat. Untung tidak sampai cidera seperti yang dikatakan Fadil.
"Aku ingin jadi lelaki lebih berguna." bantah Adam.
"Apa yang ingin kau tunjukkan pada Naia? Bukankah gadis incaran mu itu mau menerima kondisi ini?"
"Aku ingin lebih aktif."
Naia yang baru datang langsung di sambut oleh Mbok Nirmala kebetulan suami Mbok Nirmala sedang di antarkan Pak Beni untuk periksa bulanan ke rumah sakit.
"Bagaimana dengan Mas Adam, Bu?" tanya Naia tampak khawatir.
"Adam baik-baik saja, kamu masuk ke kamarnya saja, di sana ada Dokter Fadil." jelas Mbok Nirmala yang sudah bisa menjalankan perannya dengan baik. Memanggil majikannya tanpa embel-embel Mas.
Naia buru-buru berlari kearah kamar belakang dekat kamar mandi, di sana Adam beristirahat. Saat hendak mengetuk pintu ternyata pintu itu tidak tertutup rapat, sehingga Naia bisa mendengar percakapan Adam dan Fadil.
"Sampai kapan kamu membohongi calon istrimu, dengan pura-pura miskin seperti ini? Sudah saatnya Naia tau jika kamu adalah bos yang sebenarnya bukan malah Pak Beni."
"Aku masih menunggu waktu yang pas, untuk memberi tahu Naia yang sebenarnya." timpal Adam.
Adam mengangguk. Yang dikatakan Fadil benar.
Naia tanpa sadar kembali menarik tangannya yang hendak mengenggam handel pintu. Dia yang mulai merasa nyaman dengan Adam tiba-tiba meragu. Hati Naia mulai goyah dengan mendengar kebenaran. Semula dia begitu yakin jika akan hidup bahagia bersama Adam. Karena lelaki itu bersedia menyayangi Ibunya sepertinya. Namun Naia melupakan satu hal. Perkenalan singkat itu tentu masih menyimpan berjuta misteri. Orang yang sudah menjalin kasih bertahun-tahun tidak mungkin kalah dari orang yang baru di kenal, karena tidak ada kebahagiaan yang kekal. Baru dia berbahagia mendapatkan calon suami yang baik. Nyatanya di antara mereka ada kebohongan.
Kenyataan itu membuat Naia terseyum miris. Naia pikir Adam adalah masa depannya. Karena mereka akan memulai dari nol bersama. Namun, siapa sangka ternyata Adam adalah orang berpunya.
"Naia ... " rupanya Adam melihat kehadiran Naia.
Naia terseyum canggung kemudian hendak berbalik pergi, tetapi Adam segera mengejarnya dengan mengayuh cepat kursi rodanya.
"Nai ... " Adam terus memanggil, tapi Naia abai.
"Nai, please, dengerin penjelasan aku dulu!" seru Adam yang akhirnya membuat Naia berhenti.
"Tidak perlu mas, Nai sudah dengar semuanya." Naia akan kembali melangkah namun mendengar rintihan Adam membuat Naia menoleh.
__ADS_1
Sedetik kemudian Naia berlari menghampiri Adam yang terjerembab di lantai.
"Mas Adam ... !" pekik Naia buru-buru membantu Adam bangkit, tapi Adam menepis tangan Naia.
"Jangan hiraukan aku Nai,"
Naia meraih tangan Adam. Sementara Adam berusaha menepis tangan itu dengan sopan. " Maaf karena aku berbohong."
Setelah beberapa saat hanya ada keheningan.
Naia tiba-tiba menangis. Dia mengusap kasar air matanya yang seakan tidak mau berhenti mengalir.
Adam mematung. Kenapa mengetahui kebenarannya, Naia justru marah dan sedih seperti ini?
Adam menghela napasnya. Dengan wajah teduhnya, dia memegang bahu Naia dengan kedua tangannya.
"Katakan sesuatu, Nai!" pinta Adam sendu.
Naia masih sesegukan, sebelum cicitannya membuat Adam terperangah.
"Nai tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Mas Adam."
"Kenapa?" lidah Adam terasa Kelu.
Naia masih sesegukan tapi masih mampu mengungkapkan perasaan kecewanya. " Nai harus bagaimana Mas Adam? Nai tidak tahu harus bersikap seperti apa. Nai nggak bisa jalani hubungan ini, kita terlalu jamping," Naia menundukkan kepalanya. "Nai ini gadis desa yang pendidikannya hanya sampai jenjang SMA. Sedangkan Mas Adam sudah menempuh pendidikan tinggi dan juga seorang laki-laki yang kehidupannya sudah mapan." suara Naia semakin serak.
"Lalu? Kenapa jika saya punya pendidikan tinggi dan mapan? Bukankah itu suatu kebanggaan untuk seorang istri?"
"Tapi, Nai tidak cocok bersanding de ..."
"Nai, jangan suka merendah seperti itu. Saya tidak ijinkan kamu berpikir seperti itu. Karena semua orang itu istimewa dengan cara mereka masing-masing." potong Adam.
Naia masih menunduk.
"Angkat kepala kamu, Nai." pinta Adam yang di turuti Naia.
Adam kembali meraih tangan Naia yang tadi sempat di tolak, Adam menatap Naia lekat-lekat.
__ADS_1
"Tolong jangan tinggalkan aku, Nai ...!" Adam mengecup punggung tangan Naia lama, mencurahkan rasa kekhawatiran yang tidak biasa.