
Duwi sampai rumah di kaget kan dengan kemarahan sang suami.
Siapa sangka, jika apa yang dilakukan oleh Naia di kantor Wahid dan Ines Viral di dunia Maya, terutama di kalangan anak Jogja.
Kemarahan Naia juga di dengar oleh Imron selaku suami Duwi.
"Selama ini, aku diam karena merasa tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga kalian. Tapi ini sudah benar-benar keterlaluan, Wi. Apa gunanya penantian panjang kita selama ini untuk mendapatkan keturunan jika anak ku nanti terlahir dari Ibu yang tidak punya hati seperti mu." marah Imron meletakkan ponsel pintarnya yang sedang terputar video viral Naia.
"Maksudmu apa sih mas?" Duwi langsung ikut naik pitam.
"Apa kamu ikut-ikutan menulis surat itu untuk kedua orang tua mu?" tanya Imron galak."Bagaimana perasaan mu ketika suatu hari nanti anak kita melakukan hal yang tercela seperti itu? Bagaimana perasaan mu ketika jerih payah dan pengorbanan kita dinilai darah daging sendiri dengan secuil uang?" tanya Imron terus menekan istrinya.
"Mas, tapi Naia tidak menyebut namaku lo itu." Duwi mengelak.
"Aku capek, Wi. Aku benar-benar malu kepada orang tua mu, sebagai suami aku tidak bisa merubah mu menjadi lebih baik."
"Tapi selama ini mas nggak pernah marah ?"
"Karena aku pikir kamu akan segera sadar akan kesalahan mu, Wi. Lihatlah perjuangan kita untuk mendapatkan seorang keturunan, banyak hal yang sudah kita lakukan untuk menghadirkan sosok anak di tengah-tengah kita! Berapa banyak uang kita habiskan. Pernahkah kamu merenung? bisa jadi Allah tidak memberi kita keturunan karena Allah tau kita belum benar-benar siap menjadi orang tua, atau mungkin kita belum layak bahkan tidak pantas menjadi orang tua."
Imron berjalan keluar meninggalkan Duwi yang masih syok dengan kemarahan suaminya, dia sampai hanya berdiri mematung tidak bisa bergerak. Setelahnya tanpa ia sadari air mata sudah berjatuhan di pipinya. Ini untuk pertama kalinya Imron marah dan lagi kemarahan Imron ini sangat serius bahkan sampai mengatainya wanita tak punya hati. Padahal selama ini suaminya itu tak pernah marah walau dia terus melarang ketika Imron ingin memberi uang untuk orang tuanya, paling-paling Imron hanya diam.
Sama halnya dengan Duwi, Wahid juga tengah bertengkar dengan Ines, wanita itu terus menyalahkan Wahid karena seisi kantor mencibirnya sebagai menantu yang tidak baik.
"Berhentilah ngomel Yang, aku lagi pusing nih, Pak Pras malah ngebet ingin aku membawa Naia ke kantor."
"Apa, Mas, Pak Pras minta mas bawa Naia ke kantor?"
Wahid mengangguk, kali ini dia duduk sambil meremas rambutnya.
"Setelah apa yang kita lakukan, jelas Naia tidak akan mau memenuhi permintaan ku, aduuhhh mana Pak Pras terus menghubungi ku."
__ADS_1
"Apa Pak Pras naksir Naia? Apa Naia mau di jadikan istri mudanya mas? Waaahhh kita bisa dapat keuntungan kalau gitu, mas bisa naik jabatan."
Wahid melirik istrinya, kepalanya semakin berdenyut mendengar ocehan Ines.
Meskipun dia bukan Kaka yang baik, tetapi Wahid juga tidak rela jika adiknya dinikahi oleh lelaki beristri. Wahid dulu adalah sosok kakak yang posesif terhadap adik-adiknya, hanya saja setelah bekerja kantoran dan jarang bertemu Naia, sifatnya itu perlahan memudar dan bahkan hilang setelah dia menemukan pendamping hidup. Tetapi bukan berarti Wahid tidak menyayangi Naia. Di dalam hati kecil Wahid, dia tetap menyayangi adik bungsunya, bahkan sangat menyesali ketika tangannya sendiri yang melukai fisik dan perasaan si bungsu, berkali-kali, sejak hidup enak Wahid semakin jadi pribadi yang kasar.
"Diam. Jangan pernah bicara apapun soal pasangan Naia, kita tidak ada hak mengatur hidupnya."
Ines mendelik di bentak oleh Wahid, wanita hamil muda itu tidak menyangka akan dibentak Wahid karena Naia.
Sebenarnya Wahid sedang merasa terhina oleh hinaan orang-orang yang membanjiri kolom komentar video kemarahan Naia. Banyak yang mengatainya anak durhaka, bahkan mendoakan hal-hal buruk untuk masa depannya, termasuk salah satu orang yang berkomentar pedas sampai membuatnya merasa di hantui. Yaitu komentar yang menyumpahinya merasakan apa yang tengah dirasakan kedua orang tuanya.
["Allah tidak tidur, anak-anak durhaka akan di durhakai juga oleh darah dagingnya, tinggal tunggu saja, azab Allah itu nyata. Apa yang dia tanam itu yang akan dia tuai"]
Wahid diam termangu memikirkan hatinya yang terasa remuk, belum lagi permintaan atasannya, semakin membuat pikirannya bertambah berkecamuk.
☘️☘️☘️☘️
Semenjak bertemu dengan Naia, diam-diam Adam berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi.
Seperti saat ini Adam sengaja mengendarai mobil tanpa tujuan berharap bisa berjumpa lagi dengan Naia, tetapi sudah hampir sore, takdir belum mempertemukan mereka. Atau bahkan mereka memang tidak akan pernah bertemu kembali.
Naia melihat pakaian yang di beli Tanti untuknya.
Rencananya mulai besok Naia sudah akan bekerja di kantin sekolah tempat Tanti mengajar, sengaja Tanti mencarikan kerjaan Naia yang mudah karena Tanti merasa sayang dengan Naia, dia sudah menganggap Naia seperti adiknya sendiri.
"Nai, ini aku lagi cari motor bekas buat kamu, biar nanti kamu bisa kemana-mana enak, nggak harus tunggu angkot." Tanti menyodorkan ponselnya yang sedang melihat-lihat jual beli motor area Jogja.
Diperhatikan seperti itu membuat Naia tidak bisa bicara. Tanti terlalu baik, sehingga Naia tidak bosan mengucapkan terima kasih untuk wanita tiga puluh tiga tahun itu.
"Ojok nangis terus," Tanti mengusap rambut Naia.
__ADS_1
"Terharu mba, mba baik banget."
"Halah, Nai-nai bikin mba besar kepala, aku seneng bisa anggap kamu adik ku."
Keduanya pun tersenyum dan saling berpelukan.
Hari ini adalah hari terakhir Adam di Jogja, detik-detik harapannya bisa berjumpa dengan Naia
"Apa perlu kita cari tahu alamat rumahnya saja, Mas?" Beni yang mulai kasihan pada Atasannya bertanya.
"Tidak usah, Pak. Kalau jodoh pasti bertemu." ingin sekali Adam jawab begitu tapi tidak berani.
"Sepertinya mba Naia itu memang wanita yang baik, serasi sama mas Adam." komentar Beni.
Adam cuma bisa tersenyum saja. Dalam hati ia nelangsa. Beni tidak tahu bahwa ia tidak bisa menjalin hubungan sekalipun ia mau.
Sore itu Adam mulai menjalankan mobilnya untuk kembali kerumah Nirmala, di tengah jalan Adam melihat penjual jagung rebus yang di dorong dengan gerobak.
Ia menepikan mobilnya, dan meminta Pak Beni membeli jagung rebus dan juga kacang rebus.
Saat melihat keramaian, saat itu matanya menangkap sosok yang sangat dia harapkan beberapa hari ini.
Naia berjalan dengan seorang wanita membawa beberapa kantong plastik. Senyuman terlihat sangat manis. Adam yang melihat dari jauh memandangnya dengan hati berdebar, sesaat mereka saling menatap, meski sebenarnya hanya Adam yang bisa melihat dari kaca mobil. Waktu seakan berhenti.
Ini pertama kalinya Adam merasa bersemangat dalam delapan tahun terakhir.
Diam-diam Adam menikmati derap jantung yang berpacu.
Ada keinginan kuat untuk menemui Naia, mungkin sebagai salam perpisahan.
Perlahan Adam menurunkan kaca mobilnya, dan dia pun memanggil nama Naia dengan sangat fasih.
__ADS_1
"Naia ..."