Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Nyaman


__ADS_3

Naia dan Adam baru saja menyebutkan pesanan mereka saat tiba-tiba seorang lelaki ikut bergabung di meja yang sama.


Naia yang kenal dengan sosok lelaki tersebut diam kikuk tidak bisa menyembunyikan keheranannya.


"Nai," sapa lelaki itu yang tak lain adalah Imron.


Naia sedikit nervous mengapa di saat dia sedang bersama seseorang justru harus bertemu dengan para iparnya seperti ini. Naia hanya kurang suka dengan kesombongan mereka.


Antara Naia dan Imron benar-benar seperti orang asing, meskipun keduanya sudah menjadi saudara ipar. Suami Duwi ini sangat jarang bicara, Naia hanya pernah bertegur sapa kala mereka bertemu pertama kali sebagai calon ipar.


"Maaf ganggu." ujar Imron sedikit menatap Naia dan Adam.


Imron di kenal sebagai anak dari seorang konglomerat, dari kehidupan Duwi selama ini memang menggambarkan hal demikian. Tetapi jika dibandingkan Adam sang milyuner, kekayaan keluarga Imron hanya sebesar kuku mereka saja.


Imron beralih menatap Naia. "Nai, titip ini untuk Bapak dan Ibu." ucap Imron sambil menyodorkan sebuah amplop.


"Apa ini, Kak?" tanya Naia.


"Itu uang dari saya untuk Bapak dan Ibu." Imron segera menjelaskan."Itu untuk Bapak dan Ibu yang selama ini belum sempat saya kasihkan ke mereka, Mbak mu selalu melarangnya. Saya minta maaf sudah menjadi menantu yang kurang baik selama ini, tapi tolong kamu terima ini dan cari rumah sewa yang layak, jangan tinggal di rumah orang lain. Sungguh saya ikut merasa berdosa," Imron menghela napas." seharusnya kalian tanggung jawab kami, tetapi karena saya tidak bisa melawan Duwi jadinya seperti ini, saya selama ini diam karena merasa orang luar, tetapi melihat sikap Duwi yang keterlaluan kemarin, saya benar-benar ikut malu."


Sungguh membingungkan situasinya, tetapi Naia tetap tidak bisa menerima uang yang di berikan oleh Imron.


Mendapat penolakan dari Naia cahaya wajah Imron meredup, seperti kecewa. Tapi selayaknya memang harus seperti itu, bagi Naia yang seharusnya meminta maaf bukan Imron melainkan Kakanya sendiri, kalau di ingat-ingat memang selama ini lelaki yang menjadi ipar Naia ini tidak pernah ikut nimbrung obrolan WA maupun ikut melawan kedua orang tuanya, lelaki ini lebih banyak diam dan baru kali ini membuka suara yang cukup mengejutkan.


"Setidaknya untuk mencari tempat tinggal, Nai, saya merasa sangat berdosa sebagai menantu dan seorang ipar."


Karena kehadiran Imron akhirnya Adam malah jadi sosok pendengar, tetapi setiap Naia membuka suara, diam-diam Adam menikmati ocehan merdu dari bibir kecil yang mencang-mencong menggemaskan.


Mungkin Imron memang orang yang sangat sibuk, baru ngobrol sebentar saja ponselnya terus berbunyi, hingga pada akhirnya pria itu memilih mengalah dan meninggalkan Naia bersama Adam karena urusan pekerjaan.


"Sampaikan maaf saya pada Bapak dan Ibu, Nai," Pesannya.


"Ya, Kak!" jawab Naia.


"Terimakasih," Setelahnya Imron segera pergi entah kemana, bagaimana dia bisa menemukan keberadaan Naia? Naia tidak tau, mungkin kebetulan.


Beruntunglah pembeli sedang banyak jadi pesanan Naia dan Adam baru saja siap.

__ADS_1


"Maaf ya, jadi di diemin." ujar Naia sedikit tak enak.


"Nggak apa-apa, itu tadi siapa?" tanya Adam.


"Kaka ipar," jawab Naia.


Setelahnya mereka sibuk menikmati bakso.


Duduk di samping Naia, Adam merasa nyaman. Dari mana datangnya perasaan itu, Adam juga tak tahu. Rasanya dia ingin begini terus dalam waktu yang sangat lama.


Berbeda dengan Adam. Naia justru merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar. Naia menyaksikan kelincahan Adam di bawah pandangan aneh seisi warung. Saat tadi mencari tempat duduk pun, mereka menjadi pusat perhatian. Akan tetapi Adam menjalaninya dengan ketenangan yang mengagumkan. Sepertinya tidak mudah menjalani hidup dengan segala kendala itu. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, harus dilakukan dengan lebih rumit.


"Nai, kamu tinggal disekitar sini?" tanya Adam setelah bakso di mangkuk nya habis, dia usai minum dan meraih tisu.


"Iya, Sekitar tiga puluh menit kalau jalan kaki."


"Ah cukup jauh," komentar Adam.


"Kalau Mas sendiri asal nya dari kota mana?"


"Sebenarnya aku dari Kalimantan,"


"Iya, besok sudah pulang."


"Oh," tiba-tiba Naia menatap Adam.


"Kenapa, Naia?"


"Tidak, ..." Naia menunduk.


Adam dan Naia seolah saling bertukar perasaan, mereka terlihat sama-sama ingin bersuara tetapi tidak juga membuka suara.


"Hidupku ribet Nai!" ujar Adam tiba-tiba.


"Tapi, sampean bisa menjalaninya dengan baik."


Melihat Adam yang sedikit berpikir Naia membenahi ucapannya. Maksudnya, Mas bisa menjalani dengan baik."

__ADS_1


"Apa 'sampean' itu artinya kamu?" tanya Adam.


"Iya, bahasa Jawa halus tapi ada yang lebih halus lagi." jelas Naia.


"Aku jadi ingin belajar bahasa Jawa," tutur Adam terseyum.


"Nanti saya ajari."


Ada pijar harap di netra lelaki tampan itu.


Sebelum bibir Adam kembali tersenyum.


"Sebenarnya aku sendiri perlu waktu untuk menerima hidupku yang baru."


Naia terdiam, menangkap ketangguhan yang kuat.


"Aku dulu tidak seperti ini Naia, Karena keadaan ku yang tiba-tiba berubah membuat aku frustasi, tidak hanya diluar rumah, bahkan dirumah sendiri pun hambatan ku segunung, saat baru-baru lumpuh dulu. Aku kerap menangis sambil memukul-mukul kaki, bagaimana tidak? Sebelum lumpuh aku terbiasa kesana kesini sama sekali tidak ada halangan. Namun setelah lumpuh hidupku berubah drastis, kursi roda menjadi hambatan diriku, didalam rumah kursi roda menyangkut di banyak tempat. Bahkan banyak pintu kesempitan, kursi roda ku menubruk dimana-mana, untuk bergerak saja sulit di tambah hatiku yang dihancurkan oleh takdir kejam selanjutnya."


Tiba-tiba Adam terkekeh kecil. "Aku nggak nyangka akan ngomong sedalam ini sementara kita baru kenal. Kamu bikin aku nyaman, Nai." Adam terseyum."Kamu seperti bukan orang lain."


Naia hanya ikut tersenyum. "Jadi besok langsung balik ke Kalimantan?"


"Iya, nanti kalau kamu main ke Kalimantan , mampir."


Rasa nya Adam masih ingin mengobrol banyak hal dengan Naia, tetapi mau bagaimana dia tidak bisa menjanjikan apapun pada gadis itu. Luka lama terasa masih menganga, belum bisa benar-benar sembuh.


Sejenak Adam menatap kedua kakinya, seketika hatinya dihantui perasaan luka. Siapapun yang menjadi pasangan hidupnya nanti memang harus punya kekuatan lebih.


Semakin sore, warung bakso semakin ramai, akhirnya Naia dan Adam harus memberi tempat untuk pembeli lainnya. Saat ingin membayar Adam baru sadar jika dia tidak membawa dompet. Adam sangat malu saat Naia lah yang membayar makanannya, Adam sudah berniat mengganti uang Naia tapi wanita itu tidak mau.


Berat rasanya harus membiarkan Naia pergi menjauh dari tempatnya memandang, Adam masih ingin terus bersama wanita itu. Mengajaknya bercerita atau hanya sekedar memandangi wajahnya yang manis, atau apa pun. Ia ingin melakukan apa saja untuk melihat senyum di wajah ayu Naia. Namun, ia harus segera membiarkan wanita itu pulang.


Sampai ketika punggung Naia menghilang dari pandangan. Pak Beni mendekati Adam.


"Handak Bulik kah Mas?"


Adam memutar kursi rodanya kemudian terseyum pada Pak Beni dengan anggukan kecil. "Ulun handak Bulik."

__ADS_1


Pak Beni membantu Adam naik kedalam mobil, dalam hatinya terharu melihat Adam yang berani menunjukkan dirinya pada Naia, untuk pertama kalinya Adam terlihat sesantai itu, bahkan auranya tampak bercahaya.


Jika mereka berjodoh, satukan ya Allah.


__ADS_2