Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Meratap


__ADS_3

"Sabar, Naia ... Sabar!" Adam mendekap semakin erat. Beberapa saat pelukan itu mengendur, dan Adam sadar gadisnya pingsan karena terlalu syok.


Dalam kurun waktu kurang dari dua jam. Adam merutuk diri nya yang cacat. Adam merasa tidak berguna. Bahkan ketika Naia jatuh tak sadarkan diri seperti ini, dia hanya mampu membiarkan Pak Beni yang mengendong kekasihnya.


Kaki sialan !!! desis Adam merutuk.


Langkah kaki terdengar mendekat dengan terburu-buru.


"Bagaimana keadaan Bapak, Ibu dan Naia?"


Adam tak menanggapi ucapan Wahid, karena bersamaan dengan kedatangan Wahid, dokter sudah mendorong tubuh Pak Subhan keluar dari ruang UGD.


Tidak beda jauh dengan Naia, Wahid kaget bukan main. Sampai-sampai tercenung tak mampu berkata-kata.


Adam memilih menyingkir. Meminta Pak Beni membawanya ke hotel atau penginapan untuk menenangkan diri.


Fadil langsung menghubungi Adam balik saat menemukan bekas pangilan masuk dari sahabatnya.


"Adam ... " Fadil kaget saat Adam menjawab panggilan teleponnya tetapi sama sekali tidak berbicara."You, oke?"


"Fadil ... Aku ... "


"Hai, kamu menangis? Dimana Pak Beni?" Karena merasa bicara dengan Adam tidak memungkinkan, akhirnya Fadil mencari Beni. Setidaknya pria itu berpikir jika Beni bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Adam sehingga sahabatnya itu menangis.


Akhirnya Pak Beni yang bicara dengan Fadil. Entah apa yang mereka bicarakan. Akan tetapi kesimpulannya Fadil akan pergi ke Jogja menyusul sahabatnya.


Di rumah sakit. Naia masih tak sadarkan diri. Wahid terus menggecupi kening adiknya. Membujuk supaya adik nya lekas sadar.


Dengan derai tangis yang di tahan. Wahid mencari tahu kebenaran tentang kejadian sebelum Pak Subhan dilarikan kerumah sakit. Tetangga memberi tahu jika sebelumnya mereka kedatangan tamu dan Ibu Sari membeberkan jika tamu itu adalah Istri pertama Wahid beserta kedua orang tuanya dan orang-orang yang dibawa mereka untuk merusak rumah Tanti.


Mendengar demikian, Wahid segera menghubungi Ines.


Ternyata kediaman Wahid begitu di sepelekan. Kini karena kebodohannya Wahid kehilangan sang Bapak. Sosok pria yang begitu berjasa, Bapak yang tidak pernah menyusahkan nya.

__ADS_1


Tanti. Wanita itu menenangkan Ibu Sari yang terus menangis. Tak menghiraukan rumahnya yang hancur lebur di rusak oleh orang suruhan madu nya.


"Istighfar, Buk," Tanti merangkul wanita yang kehilangan pasangan hidupnya, padahal baru kemarin mereka bersenang hati karena kondisi Pak Subhan terus membaik. Tapi kini pria itu sudah meninggalkan mereka selama-lamanya lebih dulu.


Wahid benar-benar emosi, mengetahui kekejian mertua dan sang istri.Tanpa basa-basi dia meminta Ines dan kedua orang tuanya datang ke rumah sakit, jika tidak, Wahid mengancam akan melaporkan mereka ke kantor polisi.


Trianto bersama Puput tiba lebih dulu dan di susul Duwi dan Imron.


"Ada apa sebenarnya Mas?" Imron mendekati Wahid yang baru saja menutup telponnya.


"Ines dan keluarganya datang kerumah dan menyakiti Bapak, mereka merusak rumah dan juga melukai Naia, dokter bilang, Bapak terserang jantung hingga nyawanya tidak bisa di selamatkan."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Imron membasahi bibirnya dengan lidah, kemudian menoleh ke arah istrinya. Di tatap oleh Imron Duwi menunduk sambil menitihkan air mata.


Duwi tidak bisa menahan Isak tangisnya, dia merasa sangat menyesal. Masih segar di ingatannya ketika Pak Subhan meminta suaminya untuk membawa pulang dia yang mengunjungi ke rumah sakit beberapa hari yang lalu, dan kini Bapaknya benar-benar membencinya hingga akhir hayat.


"Bapak ... " Naia tersadar dari pingsannya. Lantas buru-buru keluar dari ruangan tempatnya berbaring. Di luar ruangan keluarganya sudah berkumpul untuk menunggu jenazah Pak Subhan.


Melihat ketiga kakaknya melihat ke arahnya dengan air mata mengalir, justru membuat amarah Naia naik.


Jika saja mereka tidak pernah datang seperti empat tahun yang lalu, barangkali Pak Subhan kini masih sehat dan masih bisa hidup bersama Naia.


"Naia ... " Wahid menghampiri adiknya yang tengah kecewa, Wahid membawa Naia duduk di salah satu bangku kosong kemudian Wahid meraih tangan Naia dan menelungkup di pangkuan. "Mas minta maaf, Nai, untuk kesalahan Mas dan keluarga Ines. Untuk kekejaman kami."


Banyak sekali kejutan dalam satu hari ini, tidak heran jika Naia sangat terpukul.


Naia menghapus air mata lalu menatap Wahid dengan tajam. " Ini nggak adil untuk kami, Aku, Ibu, dan Bapak." Isak Naia. Air mata kembali mengalir deras. Naia masih tidak terima dan enggan menatap ketiga saudaranya.


Kedatangan Ines dan kedua orang tuanya tidak di hiraukan oleh Naia. Gadis itu lebih memilih mengurus jenazah Bapaknya untuk segera di bawa pulang.


"Pakai ambulance saja, saya yang akan membayar biayanya." entah dari mana datangnya Mbok Nirmala akan tetapi Nai bersyukur karena wanita itu mau membantunya.


Lagi-lagi uang Imron di tolak oleh Naia. Lebih baik tidak menerima sama sekali dari pada menimbulkan masalah.

__ADS_1


Imron tidak tersinggung. Dia justru mengagumi kepribadian Adik iparnya, Naia masih sangat muda tapi begitu bertanggung jawab.


☘️☘️☘️☘️☘️


Meninggalkan rumah sakit. Adam langsung memilih mengurung diri di kamar hotel. Perasaannya begitu kecewa, kecewa dengan keadaan tubuhnya sendiri.


Napas pria itu masih tersengal karena sisa tangis. Ia tidak mengatakan apa-apa. Pak Beni dan Fadil tidak tau apa yang tengah dipikirkan Adam. Fadil langsung terbang ke Jogja dengan jet pribadi teman se profesinya.


"Coba dipilah dulu. Kita pisahkan urusan kondisimu dan juga masalah yang membuatmu drop seperti ini."


Tak ada balasan.


"Ayo pikir dengan tenang, Adam. Aku datang untuk membantumu."


"Mengapa aku jadi begini, Fadil?" belum pernah Adam memperlihatkan kelemahannya seperti saat ini, tetapi untuk hari ini dia benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya. Adam meratap.


Fadil kehilangan kata-kata, hati kecilnya menyayangkan mengapa baru sekarang Adam mau melakukan pengobatan serius. Ia merasa iba pada kaki layu sahabatnya.


"Aku pikir lebih baik melepaskan, aku terlalu lemah untuk gadis se kuat Naia." tiba-tiba Adam berbicara.


"Tunggu dulu! Dam, tidak baik memutuskan sesuatu dalam keadaan marah, kamu bisa menyesal nanti." Nasehat Fadil.


"Dia terluka, aku tidak mampu membantunya. Dia pingsan aku tidak bisa mengendongnya, dia kehilangan Bapaknya dan aku tidak bisa menghiburnya, aku ...


"Dan kamu justru meninggalkannya?" ucapan Adam di potong oleh Fadil. "Jika benar demikian, kamu tidak hanya tidak berguna tapi juga tidak punya hati."


"Apa maksudmu, Fadil?" gertak Adam.


"Apa gadis itu yang membuatmu meratap seperti ini? Kamu mencintainya, tapi membiarkannya sedih seorang diri? Benarkah kamu Adam sahabatku dulu?"


"Aku tidak pantas untuknya." Adam menatap sepasang kakinya yang layu.


"Kalau begitu aku akan ikut mendoakan agar dia mendapatkan pria yang pantas dan tidak pengecut."

__ADS_1


Mata Adam terbelalak.


__ADS_2