Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Menolong


__ADS_3

Sudah tiga hari berturut-turut Naia berusaha kesana-kemari mencari lowongan pekerjaan, akan tetapi karena hanya tamatan SMA, Nai sulit untuk mendapatkannya. Hari ini niatnya Naia mau ke kelurahan setempat untuk mengambil surat izin usaha untuk mendaftarkan diri menerima bansos usaha mikro, dengan membawa lampiran surat pengantar dari RT setempat Naia ingin segera menuju kelurahan.


Tin


Tin


Bunyi klakson mobil membuat Nai menepi, jalanan dikampung ini memang sedikit sempit untuk ukuran kendaraan roda empat. Sudah sewajarnya pejalan kaki memberi jalan seperti ini.


"Mba, mau numpang tanya, kampung Pandean apa masih jauh ya dari sini.!" Seorang pria paruh baya turun dari kursi penumpang, sementara si pengendara anteng dengan kacamata bertengger di hidung.


"Kampung Pandean terletak di sebelah timur Dalem Suryoputran. Lumayan jauh dari sini Pak. Wilayah Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton. Satu jam dari sini." Naia menjelaskan.


"Kampungnya padat betul, jalannya tembus sana sini saya jadi bingung." ungkap pria paruh baya yang terlihat berkali-kali menghela napas.


"Tapi masih wilayah Jogja kan mba?" Tanyanya.


"Iya, Pak."


"Aduh gimana ya mba? Kami ngikutin GOogle Maps malah jadi muter-muter. Dari tadi saya lihat-lihat tidak ada yang bisa dimintai tolong, untuk membantu saya tunjukkan arah, kami dari luar kota mba, kebetulan sedang ingin ke kampung Pandean." jelas si Bapak yang masih terlihat bingung.


Naia tampak merenung. Dia bisa saja mengantarkan, tetapi kampung itu tidak bisa di tempuh dengan berjalan kaki, kalau Naia yang mengantar, bagaimana nanti dia pulangnya?


Naia tampak meremas tas plastik di tangannya.


"Bisa kah kami meminta tolong mba antarkan?Kami akan berikan imbalan untuk Mba nya nanti." Melihat Naia yang tampak ragu, si pria kembali menambahkan. "Kami bukan orang jahat kok mba, kalau mba khawatir mba bisa pegang kartu identitas saya."


Naia menatap si Bapak yang menatapnya penuh harap akhirnya tidak tega.


Akhirnya Naia setuju ikut naik kedalam mobil bersama dengan si Bapak.


"Mau duduk didepan atau dibelakang saja Mba?" tanya si Bapak.


"Di belakang saja Pak." jawab Naia sopan.


Perjalanan menuju kampung Raden cukup ramai lancar, sesekali Naia menjawab pertanyaan si Bapak dengan sopan.


"Siapa nama Mbanya?" Si Bapak bertanya, sementara lelaki yang mengemudikan mobil hanya melirik sekilas dari kaca tengah.


"Nama saya Naia, Pak."

__ADS_1


"Saya Beni dan ini....


"Saya sopir Pak Beni." Pak Beni belum selesai berucap, tetapi si pengemudi sudah menyerobot duluan.


Beni meringis, melihat Adam yang tidak ingin diperkenalkan dengan wanita, selalu saja begitu, bosnya seperti alergi terhadap lawan jenis setelah kemalangan yang menimpanya.


Sebagian waktu diperjalanan terasa sunyi, Naia juga tidak bicara jika tidak di tanya.


Keheningan itu terpecahkan dengan suara ponsel Naia.


"Boleh saya izin mengangkat telepon Pak?" Naia membuat pak Beni dan Adam kaget. Jaman sekarang masih ada ya gadis se sopan itu? Meskipun Jogja terkenal dengan kelembutan dan keramahan penduduknya, tetapi seusia Naia biasanya sudah terkontaminasi dengan pergaulan.


"Silahkan, Mba." ujar Beni.


"Assalamualaikum, Mba," Salam Nai pada Tanti.


"Waalaikumsalam, Nai, kamu dimana? Kata temen ku kamu belum ke kelurahan?"


Naia menggigit bibirnya."E...Nai lagi antarin orang ke kampung Pandean Mba." jawab Naia pelan-pelan.


"Ngantar pakai apa Nai? Bukannya kamu jalan kaki?"Suara Tanti cukup nyaring untuk bisa di dengar oleh kedua orang yang duduk di depan.


"Denger ya Nai, kalau memang sudah selesai urusannya kamu langsung pulang. Mba sudah dapat pekerjaan yang sepertinya cocok untuk kamu, nanti kita bicarakan di rumah sama Pak Subhan dan Bu Sari."


"Jadi Nai tidak usah urus ijin usaha Mba?"


"Ya Nai, nanti kita bicarakan di rumah."


Setelah menutup telponnya, Nai meminta mobil menepi sebentar.


"Tolong menepi dulu mobilnya bisa?" tanya Nai yang langsung di dengar oleh Adam.


"Pak saya turun dulu." Naia jalan buru-buru memasuki apotik. Tidak lama hanya sekitar lima menit Naia sudah kembali kedalam mobil.


"Maaf ya Pak, sekalian mumpung ada apotik besar saya bisa belikan jamu Bapak saya." Naia menunduk malu.


"Oh tidak apa-apa Mba, memangnya Bapaknya sakit apa?"


Nai larut berbincang dengan Beni. Obrolan ringan seputar kegiatan Naia, Beni sedikit tersentuh dengan cerita Naia. Sementara Adam hanya diam, entah pria itu mendengarkan atau tidak.

__ADS_1


Sampai di desa yang di tuju, Naia juga menanyakan tujuan Pak Beni datang ke kampung Pandean.


"Ibu Nirmala ya Pak, sebentar saya turun tanya dimana rumah beliau.


Naia tutun, gadis itu menghampiri gerombolan Ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur, terlihat wanita itu bertanya dan seperti sedang mendengarkan penjelasan mereka.


Diam-diam Adam mengamati Naia yang sedang berdiri di gerombolan orang, wanita muda yang sederhana, meski pakaiannya biasa tapi tampak rapi, tidak lusuh, mencerminkan orang yang berkepribadian rapi.


Naia kembali kedalam mobil, dan menjelaskan jalan mana yang harus di lewati untuk sampai ke tempat Nirmala.


"Saya rasa, cukup saya antar sampai sini saja Pak, saya harus segera pulang." tutur Naia.


Dari dasbor mobil Adam mengeluarkan beberapa lembar uang yang membuat Naia mengernyit.


Bukanya Masnya ini sopir?


"Ambil saja sebagai rasa terimakasih kami." Melihat Naia yang meliriknya, Beni langsung bicara.


Ragu tangan Naia menerima uang yang di ulurkan Adam, terapi setelah merapikannya, Naia mengembalikan uang itu, Naia hanya mengambil satu lembar saja.


"Ini saya sudah mengambil uang ongkos saya untuk pulang, Bapak dan Masnya hati-hati."


"Ambil semua." ujar Adam, setelah sekian lama pria itu kembali bersuara.


"Tidak usah, ini sudah cukup untuk ongkos pulang."


"Ini uang jasa."


"Tidak usah, senang bisa membantu kalian, seandainya saya bawa uang sendiri saya tidak menerima uang ongkos juga, sayangnya tadi saya hanya membawa uang dua puluh lima ribu saat keluar dari rumah."


Adam meminta Beni memaksa Naia, tetapi Naia tetap tidak mau, Naia menundukkan kepalanya sebagai salam perpisahan sebelum wanita itu berjalan menuju pangkalan ojek.


Wanita itu tersenyum pada mereka, entah membicarakan apa, tetapi melihat senyum itu, membuat wajah datar Adam melunak.


Naia menerima helm dan memakainya, saat naik di atas motor Naia masih sempat melambaikan tangannya pada mobil yang di kendarai oleh Adam dan Beni.


"Mbanya baik ya Mas." ucap Beni, menyadarkan Adam dari tatapannya pada pangkalan ojek yang sudah tidak ada Naia di sana.


Hanya gunaman kecil yang keluar dari bibir Adam, sampai akhirnya, dia kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah pengasuhnya.

__ADS_1


__ADS_2