
Angkat kepala kamu, Nai." pinta Adam yang di turuti Naia.
Adam kembali meraih tangan Naia yang tadi sempat di tolak, Adam menatap Naia lekat-lekat.
"Tolong jangan tinggalkan aku, Nai ...!" Adam mengecup punggung tangan Naia lama, mencurahkan rasa kekhawatiran yang tidak biasa.
Naia bergeming. Adam menelisik wajah kekasihnya. Sambil mend*sah, Adam merapikan kakinya. Adam merasa lelah. Baik tubuh, hati, dan pikiran.
Apa hanya dirinya yang merasakan semua ini sementara Naia tidak? Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Memohon atau berteriak seperti orang bodoh? Atau sekedar diam dan pura-pura baik-baik saja?
"Nai, jangan lakukan ini padaku. Rasanya sakit sekali," rintih Adam sambil menepuk dadanya yang terasa pedih dan sesak.
Mendadak mata Naia berkaca-kaca.
Tidak ada yang istimewa dalam kehidupan Adam setelah peristiwa kecelakaan itu. Sampai gadis muda yang sekarang tengah menangis memperhatikan dirinya hadir mengisi hatinya. Yah, walau mereka baru bertemu dan menjalin hubungan, tapi hari-hari Adam lebih berwarna tiap mengingat sosok Naia yang lugu.
CTAAARRRR!!!!
Adam tersentak kaget saat suara petir terdengar menggelegar di luar sana. Tak lama kemudian, diiringi hujan yang mengguyur deras. Belum cukup sampai disitu, mendadak lampu padam.
Seketika kegelapan menyelimuti, seperti perasaan Adam selama ini. Hanya ada gelap nan pekat yang menelan warna indah di hidupnya. Bagaimana dia bisa bertahan? Hanya ditemani kesendirian.
Hati Adam terasa teriris membayangkan posisinya. Memang benar dia cacat. Tapi dia juga memiliki perasaan. Dia juga ingin merasakan bahagia.
Setalah pasrah dan hampir menyerah. Adam merasakan lengan Naia memeluknya, gadis itu membantunya kembali duduk.
"Naia lebih suka tidak pernah tahu siapa Mas Adam yang sebenarnya. Nai lebih suka berpikir kita sama-sama orang tak punya dan kita akan saling melengkapi, setidaknya walaupun Mas Adam tidak bisa berjalan, Mas Adam adalah pria pertama yang membuat Naia merasa di inginkan."
Adam terpaku. Lidahnya kelu. Sesak di dadanya berubah menjadi rasa sakit yang menyebar. Naia memang gadis yang tulus, dan tidak memandang rendah keadaannya.
Ah, Adam jadi ingin mencium Naia. Tapi Adam sadar, kebohongannya, sudah melukai perasaan Naia. Dan dia belum mendapatkan maaf dari gadisnya.
☘️☘️☘️☘️
Wahid kembali kerumahnya bersama Ines saat ingin mengambil berkas perusahaan. Dia yang akan kembali lagi ke kantor mendapati seorang kurir di depan pintu rumahnya.
"Paket untuk Ibu Inessabella, Pak!"
__ADS_1
Adam menerima paket tersebut dengan kening berkerut.
"COD?" tanya Wahid.
"Tidak, Pak, sudah di bayar, tinggal di antar, sampaikan maaf kepada Ibu Inessabella karena paket obat dietnya sedikit terlambat." kurir itu tersenyum ramah.
"Obat diet?" Tanya Wahid.
"Ya, Pak, setiap dua Minggu sekali kami mengantarkan obat diet ini."
"Anda kurir?" wajah Wahid berubah garang.
"Bukan, saya Bimo adik dari pemilik apotik ********** tempat Ibu Inessabella berlangganan obat diet." jelas lelaki tersebut.
"Tapi istri saya sedang hamil muda." ucapan Wahid sangat lirih seperti bergumam pada diri sendiri.
Sang pria yang bisa mendengarkan ucapan Wahid terlihat kaget.
"Baru hamil ya Pak?" lelaki pengantar itu berpikir bahwa Ines baru tahu jika tengah mengandung. Karena dua Minggu yang lalu sudah kembali memesan obat dietnya.
"Sudah jalan tiga bulan." terang Wahid.
☘️☘️☘️☘️☘️
Layaknya manusia biasa, Wahid sering kali marah. Namun seumur hidup dia tidak pernah marah sebesar ini. Marah yang merasa membakar tubuhnya dari dalam dan rasanya dia harus menghancurkan barang-barang untuk melampiaskan amarahnya.
Wahid urung kembali ke kantor, dan malah berjalan mondar-mandir di ruang tengah rumahnya bersama Ines. Beberapa kali Wahid menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Namun semua itu percuma. Dadanya masih terasa panas dan mendidih.
Dari pria pengantar obat diet itu Wahid mendapatkan informasi jika selama ini, bahkan setelah mengetahui kehamilannya, Ines tetap mengkonsumsi obat diet.
Wahid juga sudah mencari buktinya sendiri dengan mengobrak-abrik laci kamar. Dan ternyata benar. Puluhan botol obat diet itu memenuhi laci meja rias Ines. Tempat dimana Wahid memang tidak pernah jamah selama ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Naia sudah membantu Adam duduk di kursi roda, Adam sendiri, tidak mau melepaskan tangannya dari jemari Naia.
"Allah begitu baik ya, Mas. Nai nggak nyangka Allah akan memberikan lebih dari setiap doa Naia selama ini."
__ADS_1
Ragu Adam bertanya. "Apa doanya?"
Naia menggenggam tangan Adam yang meremas jarinya. "Naia berdoa agar Nai mendapatkan kebahagiaan dalam bentuk apapun. Nai ingin ada seseorang yang menerima Naia dengan kedua orang tua Naia, tidak apa-apa pria itu miskin dan jelek. Tapi Allah memberikan kebahagiaan yang lebih, dalam bentuk Mas Adam."
Wajah khawatir Adam memudar. Kini Adam malah tersenyum. "Jadi, aku ini kebahagiaanmu!" Tanyanya.
"Ya," Naia membenamkan wajahnya di pangkuan Adam. Sementara Adam sedikit merona karena pujian tidak langsung itu.
"Mengingat kamu yang kaya raya membuatku takut, Mas Adam. Aku takut kalau nanti tiba-tiba aku harus kehilangan kamu. Aku nggak sanggup memikirkan hal itu. Aku sudah terlalu jauh jatuh dalam perasaan ini." batin Naia.
Lampu masih padam, tetapi hati Adam terasa terang benderang diterangi cahaya cinta yang di alirkan oleh Naia.
Adam mengelus kepala Naia, tertutup hijab instan yang menempel di pangkuannya.
Selalu seperti ini. Bersama Naia Adam merasa berharga. Adam tidak mengerti kenapa Naia itu selalu memiliki cara pandang yang lain dari orang-orang yang ditemui selama ini.
"Nai, tolong maafkan aku," pinta Adam. "Jangan marah," imbuhnya.
Bersamaan dengan anggukan kepala Naia, lampu menyala.
Adam dan Naia saling bertukar pandang, sebelum tangan mereka mengusap air mata satu sama lain.
Tangan Adam dan Naia bersamaan menghapus air mata kekasihnya. Adam mengusap air mata Naia, Naia sebaliknya mengusap air mata Adam.
"Kalian membuat ku iri." Suara Dokter Fadil menyadarkan Naia dan Adam. Naia sendiri buru-buru bangun dari tempatnya berjongkok.
Adam mendengus melirik Fadil. Sahabatnya merusak momen indah saja.
"Sabar, setelah ada nya akad, kalian halal menempel siang dan malam kayak kancing dan kemeja."
Fadil menghampiri mereka, dan kali ini bisa melihat sosok Naia dengan jelas.
Ternyata gadis yang bernama Naia benar-benar sesuai ekspektasinya. Gadis lugu, dengan senyum manis yang tak membuat jemu mata yang memandang. Setelah menyaksikan bagaimana kelembutan dan perhatian Naia pada Adam. Fadil yakin, Naia adalah calon istri yang tepat untuk Adam sahabatnya.
"Adam, boleh aku pinjam Naia untuk memberikan arahan dan saran bagaimana nanti kalian berlaku sebagai suami istri, maksudku dalam hal ranjang?"
Pertanyaan Fadil membuat wajah Adam merona merah sampai menjalar ke telinga.
__ADS_1
Sahabat kurang ajar!!!