
Tanti sedang siap-siap di kamar, saat ponsel nya tiba-tiba dipenuhi pesan foto dan video.
Tanti membukanya dan mengamati satu persatu foto tersebut. "Mereka serasi sekali " Gunam Tanti.
Tanti kembali mengamati potret Wahid bersama seorang perempuan yang dia tahu sebagai istri pertama Wahid, yaitu Ines. Ines sangat cantik, aura elegan sangat mendominasi. Sungguh berbeda dengan Tanti yang apa adanya. Ines adalah wanita karir yang memiliki gaya modis. Sementara Tanti hanya seorang guru desa yang selalu berpenampilan sederhana.
"Apa keputusan ku, untuk bertahan dengan hubungan ini sudah benar?" Gunam Tanti lagi. Entah mengapa kini Tanti di hantui rasa bersalah.
"Tapi yang seharusnya berhak memutuskan hubungan ini adalah Wahid, sementara aku hanya seorang wanita yang ia tolong. Sementara aku sekarang adalah istrinya. Aku punya tanggung jawab besar pada Mas Wahid." Lanjutnya.
Tanti menghembuskan napasnya dengan berat. Dia merasa dilema, bertahan bimbang, lanjut tertekan.
Pernah dengar istilah bahwa cinta layaknya api dan jarak layaknya angin?
Jika api itu kecil dan lemah, maka dengan mudah angin yang bertiup akan memadamkannya. Namun, jika api itu besar dan kuat, maka angin yang bertiup malah semakin kuat dan berkobar dengan adanya jarak yang terbentang.
Begitulah cinta.
Cinta yang lemah akan mudah hancur karena jarak. Namun cinta yang kuat akan semakin kuat dan berkobar dengan adanya jarak yang terbentang.
Harusnya jarak akan menciptakan kerinduan yang amat sangat bagi mereka yang sedang menjalin cinta dan sedang dipisahkan jarak. Namun, yang terjadi justru jarak semakin memupuk kebencian di hati Wahid dan Ines.
Dua belas hari menghilang, Wahid menyelesaikan urusan rumah tangga dengan Ines, dengan ketegasan Wahid meminta Ines kembali ke rumah mereka, tetapi Ines lebih mendengarkan ucapan ibunya.
Wahid juga sudah membahas persoalan obat diet, Ines juga mengakuinya, jika dia tidak mau gemuk meskipun tengah mengandung.
Geram, itu yang di rasakan Wahid. Rasa bersalah sama sekali tidak terlihat dari perempuan yang tengah mengandung darah dagingnya itu.
Satu-satunya syarat yang Ines dan kedua orang tuanya mau adalah, Wahid yang kembali memenuhi kebutuhan bulanan mertuanya. Bahkan tidak ada secuil pun penyesalan mereka atas kejadian yang menyebabkan Pak Subhan meninggal dunia.
☘️☘️☘️☘️
Tanti baru saja pulang dari hotel setelah menghadiri pernikahan Naia. Baru saja wanita itu duduk di sofa untuk meluruskan badan. Terdengar ketukan pintu.
"Eh,"
__ADS_1
Keduanya mengatakan itu bersamaan lalu saling memandang lama. Tanti yang lebih dulu memalingkan wajah karena mendadak debar jantungnya berubah aneh saat matanya beradu dengan mata Wahid.
Wahid sendiri menggosok tengkuknya dengan perasaan bingung. Dia tidak mengerti perasaan apa yang tadi melanda hatinya saat mereka berdua saling pandang.
"Maaf, mengganggu mu, aku pulang terlalu larut " Gunam Wahid kemudian.
Bibir Tanti menampilkan senyum tertahan. Tidak menyangka dimalam yang seharusnya Tanti seorang diri. Wahid malah pulang.
Ya, Wahid pulang, karena ini memang rumah lelaki itu.
Tanti segera membuatkan minum untuk Wahid, lelaki itu tampak kacau. Yang Tanti duga, keadaan Wahid seperti ini ada kaitannya dengan pernikahan mereka.
"Maaf," lirih Tanti, seraya duduk di samping Wahid.
Wahid segera berpaling menatap Tanti.
"Aku yang harusnya minta maaf, karena tidak memberi kabar berhari-hari."
******
"Aku membujuk Ines untuk pulang kerumah kami, tetapi dia tidak mau. Yang harus kamu tau, hubungan kami memang sudah bermasalah sebelum aku menikahimu."
Sementara Tanti hanya mengangguk pelan. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia cukup senang karena tahu bahwa bukan dia penyebab Suaminya dan madunya bertengkar.
☘️☘️☘️☘️☘️
Naia baru menapaki harinya yang baru. Hari ini dia akan berangkat ke kota dimana Adam tinggal selama ini. Dia akan memulai hidup barunya di Pulau Kalimantan. Dia berharap, jika hidup bersama Adam bisa membawa dia berada dalam sebuah keluarga aman, tentram dan harmonis.
Jangan mengira, Naia yang duduk di samping Adam. Lelaki itu malah duduk di samping Bu Sari untuk menenangkan Ibu mertuanya agar tidak grogi, karena ini kali pertama Bu Sari menaiki pesawat.
Melihat bagaimana cara Adam memperlakukan ibunya, diam-diam Naia terharu.
*****
Melihat rumahnya saja Bu Sari sudah bisa memastikan jika Adam sudah menjadi laki-laki yang mapan. Seorang Ibu pasti bahagia melihat masa depan putrinya akan terjamin. Meskipun hanya diam, sebenarnya Ibu Sari tahu jika bungsunya juga terlihat begitu tulus mencintai Adam. Bu Sari tau Putrinya bukan tipe cewek matre. Naia pasti menerima Adam bukan karena kekayaan lelaki itu.
__ADS_1
"Ibu istirahat aja dulu, ya." Adam mengantarkan Bu Sari ke kamar yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangganya yang di siapkan oleh Pak Beni.
Bu Sari mengenggam tangan Adam dan mengucapkan banyak terimakasih. Naia ikut menghampiri ibunya, bertanya apa perlu ke kamar mandi terlebih dahulu, tetapi Ibunya berkata ingin istirahat saja. Maklum ini perjalanan terjauh yang pernah wanita itu lewati.
Setelah mereka berdua keluar dari kamar yang diperuntukkan untuk Bu Sari. Adam melihat bibir Naia bergetar menahan tangis. Adam yang melihat menarik pergelangan tangan Naia. Membuat Naia menunduk menatap Adam. Adam mengecup mata Naia, reflek kelopak itu tertutup. Lalu, setelah itu dia membawa Naia ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, Mas Adam." Ini karena Naia sangat terharu, Allah menghadirkan Adam untuk nya, lelaki yang mau ikut repot mengurus ibunya.
"Kamu jangan terus berterima kasih. Kita bisa memulai rumah tangga kita di sini, bersama Ibu." Ucap Adam.
Naia membalas pelukan Adam. Dia merasa nyaman dalam dekapan ini. Dia merasa diinginkan.
Setelah saling melepas pelukan. Naia menjadi malu sendiri. Dia menghapus air mata lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Adam. Hal itu membuat Adam terkekeh geli.
Tidur lelap adalah salah satu yang jarang Adam dapatkan. Kebanyakan malamnya dia habiskan untuk meredam rasa sakit.
Namun, sepertinya hari ini menjadi pengecualian. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, tetapi Adam masih terlelap dalam tidurnya.
"Mas Adam, bangun dulu yuk. Udah mau subuh " Ucap Naia di samping Adam.
Gadis itu sudah tampak segar dengan rambut yang masih sedikit lembab.
Naia terus membujuk Adam, seperti seorang Ibu yang membangunkan anaknya yang hendak sekolah. Tangan Naia bergerak lembut mengelus mata Adam yang masih terpejam.
Adam mengeram kecil sebelum membuka matanya. Kini kepalanya malah di angkat untuk di letakkan di salah satu paha Naia yang di tekuk.
"Kamu sudah mandi?" Adam mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut pipi Naia yang lembab dan terasa dingin.
"Iya, tadi mandi setelah mandikan Ibu." Balas Naia sambil mencium tangan Adam.
"Aku juga mau dimandiin," Manja Adam, dia mengapai tangan Naia untuk di genggam.
Naia melihat tangannya yang digenggam oleh Adam. Semalam, tangan ini juga mendekapnya dengan erat. Tangan ini pula yang mengusap punggung dan helaian rambutnya saat dia berkata jika dirinya kesakitan.
Tiba-tiba wajah Naia bersemu karena mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Bahkan tidak hentinya Adam mengucapkan kalimat 'hebat' untuk Naia, karena dia adalah wanita luar biasa, Naia istimewa. Dan itu memang benar