Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Video call


__ADS_3

"Naia ..."


Suara Adam menembus kalbu.


"Iya."


"Aku kangen sama kamu."


Naia melipat bibirnya kedalam. Hati Naia senang tetapi juga malu.


Telepon masih tersambung tetapi keduanya malah saling diam, detik berganti menjadi menit, tapi baik Naia dan Adam tidak ada yang membuka suara.


Karena tidak tahu apa yang harus dikatakan jadi Naia hanya diam menunggu sampai Adam bicara.


Sementara Adam, sepertinya juga sudah menyimpan begitu banyak stok kesabaran, hingga menunggu Naia lama tidak bicara tidak menjadi soal.


Karena sama-sama betah dalam keheningan maka Naia pilih kembali memejamkan matanya membayangkan wajah Adam yang rupawan.


Naia segera mengerjap dan menggeleng agar cepat sadar betapa konyol apa yang sedang di pikirkan. Naia segera menjauhkan ponsel dari telinga untuk memastikan pangilan masih terhubung.


"Aku sabar menunggu kok Nai, Kamu tenang saja!"


Naia panik mendengar suara Adam. Bagaimana Adam bisa tahu jika dia sedang memeriksa panggilan.


"Mas Adam Maaf." cicit Naia.


"Aku maafkan." jawab Adam.


"Eh,"


Adam tidak mau mengacaukan hidupnya dengan menumbuhkan keinginan yang tidak masuk akal. Tetapi Adam tidak bisa mencegah kemana hatinya melabuhkan cinta sekali lagi. Ya kenyataannya Adam sudah pernah merasakan cinta sebelumnya.


Adam berharap Naia adalah penyembuh luka, obat sakit, dan sepi hatinya.


Sementara Naia bukan tidak suka dengan Adam, tetapi Naia masih ingin menjadi orang yang berguna, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya. Harta Naia cuma mereka, karena itu Naia ingin menjadi orang yang berhasil untuk kedua orang tuanya dulu, bukan malah memikirkan seorang pria.


"Nai, kamu tidak nyaman ngobrol denganku?"


Bulu kuduk Naia berdiri mendengar pertanyaan Adam. Naia bukan tidak nyaman ngobrol dengan Adam, tapi Naia tidak nyaman dengan kalimat rindu yang Adam ucapkan. Naia pikir barang kali bibir Adam berbisa sehingga mendengar ucapannya saja dada Naia berdenyut.


"Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ..."


"Eh, jangan...!!" Naia buru-buru berteriak.


Sedetik kemudian, Adam mengalihkan panggilan menjadi video.


Mata Naia terbelalak, Naia benar-benar tidak siap, tidak hanya baru bangun tidur tapi Naia masih belum menggunakan hijabnya.


Buru-buru Naia turun dari tempat tidurnya dan meraih hijab di sandaran kursi untuk segera dikenakan. Naia seperti anak yang takut di tinggalkan ibunya pergi ke mall.

__ADS_1


Tetapi ternyata saat Naia meraih ponselnya, benda itu sudah menggelap.


Naia menelan ludah. Takut Adam tersinggung Naia memilih mengirim pesan.


["Maaf Mas, Naia tadi pake hijab dulu."] Naia segera mengirimkan pesan dengan cepat.


["Ya tidak apa-apa, aku sudah waktunya menemui dokter."] terang Adam.


["Mas Adam sakit?"] Naia bertanya.


["Hanya ada beberapa hal yang harus ku konsultasikan pada dokter. Nanti aku telpon lagi"] tulis Adam.


☘️☘️☘️☘️


Wahid sedang duduk di samping Pak Subhan dengan Bu Sari, Wahid mengatakan Naia sudah datang dan acara pernikahannya dengan Tanti berjalan lancar.


"Ibu senang Hid, kamu menikah dengan Nak Tanti, dia wanita lembut dan sayang sama kami, tapi bagaimana perasaan wanita dijadikan yang kedua? dan bagaimana kamu bisa adil dengan kedua istri mu nanti?"


"Pak, Bu, Maafkan Wahid." Wahid menggenggam tangan tangan kedua orang tuanya.


"Harusnya kamu minta maaf kepada Tanti dan Ines. Bagaimana kamu menjelaskan ini semua pada istri mu?"


Biarpun tak sekalipun istri Wahid menghormatinya, seorang Ibu tetap tidak rela jika putrinya di madu. Bu Sari juga memiliki anak perempuan,tentu beliau takut jika hal itu terjadi pada Duwi atau Naia.


☘️☘️☘️☘️☘️


Duwi duduk dengan gelisah menunggu kepulangan Imron. Dari tadi telponnya tidak dijawab oleh lelaki itu, pesan yang ia kirim juga sama sekali tidak di baca.


Melihat Imron masuk kedalam rumah. Duwi buru-buru menghampirinya. Duwi hendak meraih tas lelaki itu tapi Imron segera menjauhkan dari jangkauan Duwi.


"Aku bawakan tasnya Mas." Duwi tampak memohon.


"Biasanya aku juga mampu membawanya sendiri." jawab Imron dingin, dan melangkah meninggalkan Duwi yang masih berdiri di depan pintu.


Duwi mengejar Imron. "Mas aku sudah masak menu spesial, mas mau...


"Aku sudah makan di luar." potong Imron meletakkan tasnya dan bergegas menuju ruang laundry untuk melepas baju kotornya.


Duwi masih membuntuti, tapi Imron sama sekali tidak menghiraukan.


Imron masuk kedalam kamar mandi, beberapa menit pria itu keluar dengan wajah yang lebih segar. Kulit kuning langsat itu masih sedikit basah, dan dadanya yang bidang di tumbuhi bulu halus tidak terbungkus apapun.


Imron tidak hanya terlahir dari keluarga berada, tetapi dia juga diberkati dengan wajah yang rupawan, khas lelaki jawa. Lelaki yang biasanya lemah lembut itu kini begitu dingin dan tak tersentuh.


Duwi rindu dengan dada bidang yang seolah memangil-manggil itu, tapi Imron sama sekali tidak membiarkan Duwi bisa menyentuh dan memeluknya lagi. Setiap malam Imron lebih memilih tidur di ruang kerjanya, membiarkan Duwi tidur dikamar mereka sendirian.


Duwi tidak habis pikir. Mengapa hanya persoalan uang Imron bisa semarah itu padanya, tidak hanya sehari dua hari, tapi hampir dua pekan Imron mendiamkannya.


☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Naia baru melepas rindu dengan Pak Subhan dan Bu Sari saat ponselnya tiba-tiba menampilkan panggilan video dari Adam.


Wahid sedang keluar, jadi di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga.


"Assalamualaikum ... " suara Adam terdengar merdu.


"Kamu sedang sibuk?" tanya Adam.


Naia terseyum kemudian menggeleng, isyarat dia tidak sedang sibuk. "Mas Adam sudah pulang dari rumah sakit?" Naia balik bertanya. Hatinya berdebar melihat wajah tampan Adam yang terpampang memenuhi layar ponselnya.


"Sudah pulang, tapi besok datang kerumah sakit lagi" Adam terseyum.


"Memang nya belum selesai konsultasinya?"


Adam menggeleng. "Lumayan lama, aku harus menjalani beberapa progam untuk mengatasi masalah akibat kelumpuhan."


"Oh, gitu? Nai ikut senang."


Sejenak hening.


"Kamu sedang di rumah sakit?" mata Adam sangat jeli melihat sekitar Naia dari layar ponselnya.


"Iya, sedang temani Ibu, menjaga Bapak."


"Oh, Bapak masih di rawat?"


"Iya, tapi jika semuanya normal, insyaallah kata dokter besok boleh rawat jalan."


"Semoga cepat sembuh." doa Adam.


"Aamiin."


"Naia.."


"Ya?"


"Ah, aku nggak tau mau ngomong apa lagi, kalau gitu selamat malam."


Naia terseyum sebelum akhirnya menjawab ucapan selamat malam pada Adam.


"Itu laki-laki kursi roda yang di bicarakan Trianto?" Wahid membuat Naia terkesiap.


Wahid memandang adiknya dengan iba. "Apa nggak ada orang lain yang fisiknya sempurna, Nai?"


Naia langsung mendelik mendengar ucapan Wahid.


"Jangan begitu, mengapa mas menganggap orang berkursi roda seperti musibah. Dia juga lelaki seperti lelaki lain."


Suasana hati Naia tengah buruk malam itu. Kedatangan Wahid dan ucapannya membuatnya sedih.

__ADS_1


Apa salah berhubungan dengan orang yang duduk di kursi roda?


__ADS_2