
Adam terdiam memandang sendu ponsel yang berada di atas meja. Laki-laki itu seakan baru saja dijatuhi bom setelah kembali bertemu dengan kekasih lamanya. Wanita yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja hanya untuk bersama laki-laki lain, setelah dia dinyatakan lumpuh.
"Apa yang salah dengan Mas, Nai? Kenapa kamu seperti enggan mas hubungi" Tanya Adam dengan pandangan lurus ke ponselnya.
Adam terseyum. Dia memang beruntung mendapatkan Naia. Wanita itu memang sangat jeli jika menyangkut keperluannya. Hingga sekarang dia sudah bergantung sepenuhnya pada Naia. Sayangnya dia harus meninggalkan Naia demi tuntutan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan. Seandainya saja pekerjaan ini tidak penting, Adam nggak akan bertahan di sini. Adam pasti akan pulang dan menanyakan apa yang membuat istrinya terkesan menjauh. Naia sedikit berbeda. Adam tidak tau kenapa, tapi Adam bisa merasakan, Naia sedang menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang membuatnya tiba-tiba berubah.
"Kamu bikin Mas khawatir tau nggak? Udah jarang angkat telpon, nggak balas chat pula. Udah mulai nakal, ya?" Adam memandang wajah manis Naia yang di gunakan sebagai wallpaper layar ponselnya.
Mau bagaimana lagi, mau bicara secara langsung. Istrinya enggan mengangkat panggilan teleponnya.
Wanita tidak akan bisa merubah sifat seorang laki-laki, tapi laki-laki akan merubah sifat nya sendiri demi wanita yang dicintai nya.
Pak Beni mengabarkan pada Adam jika orang yang akan di temui sudah datang. Akhirnya Adam kembali menyisihkan masalah pribadinya, dan menjadi pemimpin yang profesional seperti biasa. Meski cacat secara fisik, Adam tetap mampu membuat pesaing bisnis berpikir dua kali untuk berselisih dengannya. Adam memiliki kecerdasan yang luar biasa.
*****
Seorang pria tengah menatap kearahnya wanita, dengan sorot mata yang tak dapat dijelaskan artinya mengunakan kata-kata. Wahid kembali menatap Tanti dengan begitu teduh menenangkan. Seakan ada banyak rasa ingin dia ungkapkan, meskipun hanya sekedar lewat pandangan.
Pikiran melarikan bayangan pada memori lama. Ia melihat sosok Ines manja, kadang manipulatif. Lalu sekelebat gambar Tanti yang kuat, tampil apa adanya. Ia tidak bermaksud membandingkan keduanya. Namun, pikiran itu sulit ditampik begitu saja.
Wahid meraba perasaannya sendiri, cintanya pada Ines kian memudar seiring dengan berjalannya waktu. Tentu saja bukan karena kini telah ada pengganti, melainkan setelah dia menyadari jika Ines tidak pernah mencintainya dengan tulus. Kini yang tersisa hanya harapan, harapan jika calon anaknya baik-baik saja berada di rahim seorang Ibu yang sama sekali tidak perduli dengan kesehatan bayinya, Ines hanya perduli dengan dirinya sendiri. Entah bagaimana Perkembangan anak nya, karena ibunya tidak berhenti mengkonsumsi obat diet sepanjang kehamilannya. Wahid sudah memberi ketegasan, tetapi sepertinya tidak di anggap.
Senyum mengembang di wajah Wahid, kala mengingat roman percintaannya bersama Tanti. Pria itu seakan-akan ingin mengulang kembali, tetapi rikuh pada sang fajar.
Perempuan hitam manis itu menggeliat nyaman di dekat dadanya. Ia menikmati memandang wajah istrinya dari dekat.
Bukan sebuah dosa, karena memang sudah sepantasnya Wahid memberi nafkah batin untuk Isterinya, mereka sudah beberapa bulan menikah, dan ini kali pertama dia baru memberikan hak istrinya. Wahid tidak pernah menganggap bahwa pernikahan adalah sebuah candaan, Wahid sudah siap mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi.
__ADS_1
Sementara Tanti, wanita itu juga ikhlas di sentuh oleh Wahid, karena dia tau bahwa sudah menjadi tugasnya untuk melayani suaminya.
******
Istirahat makan siang sudah berjalan dari setengah jam yang lalu, namun Adam belum juga beranjak dari kursinya. Bukan karena pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, tapi ia tengah sibuk menatapi layar handphone nya sudah berhari-hari, tak ada pesan yang mengingatkannya untuk makan tepat waktu.
Menghela napas berkali-kali untuk mengenyahkan rasa kesal yang tiba-tiba menyusup ke hatinya, Adam akhirnya menghubungi sekertaris nya untuk membelikan makan siang.
Satu jam, berlalu hingga jam makan siang terlewatkan, tetapi tak mendapati satu pesan pun dari Naia.
Hal itu berdampak cukup besar pada konsentrasinya. Ia tak fokus dalam melakukan hal penting. Dan akhirnya, Adam menyerah. Hari ini juga Adam mengambil penerbangan ke Palangkaraya.
Adam sampai rumah hampir jam 11 malam. Namun, Naia tidak berada di kamar mereka. Adam mencari di kamar Ibu Sari, dan ternyata Naia memang tidur bersama sang Ibu.
Entah merasa diperhatikan atau ikatan batin Naia yang begitu kuat dengan Adam, mata Naia tiba-tiba terbuka. Adam memang sudah tidak berada di ambang pintu. Tapi penciuman Naia tidak bisa dibohongi.
Adam baru melepas kemejanya, saat Naia menyusul kedalam kamar mereka. Perlahan Naia mendekati Adam untuk meraih tangannya.
"Sayang?" kaget Adam, karena sedikit melamun dia tersentak saat Naia meraih tangannya.
Sudut bibir Adam tertarik saat melihat wajah yang di rindukan.
"Kamu lagi marah sama Mas? Kenapa Mas selalu dicueki seperti ini?" Adam tak melepaskan tangan Naia. "Katakan, Nai. Karena Mas nggak akan lepasin kamu sebelum kamu jujur dengan apa yang sedang kamu rasakan." tambahnya.
Naia tidak mengatakan apa-apa, membuat Adam semakin yakin ada yang tidak beres.
"Kamu menyesal menikah dengan pria cacat seperti, Mas?" Pertanyaan Adam selanjutnya langsung membuat Naia mengeleng tegas.
__ADS_1
"Lantas?" tuntut Adam.
Naia masih berlutut di depan Adam, saat Adam menarik dagunya untuk mendongak, membuat pandangan mereka bertemu.
"Kamu harus tau Nai, apapun yang mas lakukan kacau karena kamu sengaja nggak mau berkomunikasi, hanya ragaku yang disana, sementara hatiku berada disini. Bersamamu." Adam menyentuh ujung bibir Naia dengan jari jempolnya.
"Rinduku padamu, seperti menghilangkan kewarasan ku, apa hanya aku yang demikian?"
Sontak saja mendengar pertanyaan Adam, Naia langsung menghambur ke pelukan hangat lelakinya. Suami yang sebenarnya sangat di rindukan.
"Maafkan Naia, Mas. Naia egois." Isak Naia semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan nangis." Pinta Adam ketika menyadari bahu kirinya basah.
Naia mengeratkan pelukannya. Dia mengatur napasnya agar tidak menangis lagi. "Mas, Dia mendatangiku, mengatakan semuanya dan Nai, takut."
"Siapa?" Tanya Adam merenggangkan pelukan mereka.
"Dia ... Kekasih Mas Adam." terang Naia dengan linangan air mata. Naia sungguh tidak siap kehilangan Adam. Tidak akan pernah siap.
Bara itu tetap ada. Nyatanya, setelah mendengar kabar itu. Adam masih menyimpan rasa sakit hati pada mantan kekasihnya. Mendengar wanita itu nekad mendatanginya kembali dan selalu berusaha mendekat lagi, membuat dia merasa kesal. Terlebih, jika wanita itu berani mengusik istrinya.
"Saya pernah menaruh harapan sama wanita itu. Tapi, ternyata dia mematahkan hati saya, di saat kala itu saya sedang terpuruk karena kondisi paska kecelakaan. Jika kamu di posisi saya, apa kamu mau kembali pada masa lalu seperti itu?"
Ucapan Adam membuat air mata Naia berderai. Dadanya ikut sesak mendengar cerita Adam, saat terpuruk malah ditinggalkan.
"Dia ingin kembali, katanya dia menyesal. Tapi aku punya kamu. Dia saat ini hanya masa lalu yang ingin ku simpan, bukan untuk ku ulang kembali." jelas Adam dengan penuh kejujuran.
__ADS_1