
Wahid berlari ke ruang tindakan saat mendengar kabar Ines dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan. Belum sempat masuk, ternyata tubuh Ines di dorong keluar.
"Dokter, bagaimana?"
"Anda keluarga pasien?"
"Iya, saya suaminya."
"Segera temui dokter Indra, kami harus melakukan tindakan untuk menyelamatkan ibu dan janinnya.
Kedatangan Wahid di pandang kesal oleh kedua orang tua Ines. Namun,Wahid tidak perduli. Wahid sendiri sudah malas menghormati kedua mertuanya, setelah mengetahui mereka ternyata tidak pernah merestui hubungannya dengan Ines.
"Istri Bapak mengalami pendarahan, dan setelah kami lakukan tes, detak jantung janin sudah tidak terdeteksi dan dari hasil USG janin itu sudah tidak utuh, jadi dengan sangat menyesal kami akan melakukan tindakan kuret."
Wahid masih mematung di tempatnya duduk. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.
"Kenapa Ines bisa keguguran? Apa ini ada hubungannya dengan pil diet yang dikonsumsi perempuan itu?" benak Wahid terus bertanya.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Saya pernah menaruh harapan sama wanita itu. Tapi, ternyata dia mematahkan hati saya, di saat kala itu saya sedang terpuruk karena kondisi paska kecelakaan. Jika kamu di posisi saya, apa kamu mau kembali pada masa lalu seperti itu?"
Ucapan Adam membuat air mata Naia berderai. Dadanya ikut sesak mendengar cerita Adam, saat terpuruk malah ditinggalkan.
"Dia ingin kembali, katanya dia menyesal. Tapi aku punya kamu. Dia saat ini hanya masa lalu yang ingin ku simpan, bukan untuk ku ulang kembali." jelas Adam dengan penuh kejujuran.
Adam memeluk tubuh Naia dengan kedua tangannya, rengkuhan yang sebenarnya teramat sangat Naia rindukan.
"Tega sekali kamu nggak balas chat Mas, Nai." keluh Adam. Lelaki itu cemberut.
"Habisnya, Naia takut mas Adam akan meninggalkan Naia, sebelum terlanjur sakit, Naia mencoba merelakan." jujur Naia.
"Aku bukan sebuah barang!" kesal Adam.
"Tapi wanita itu kekasih Mas Adam."
"Kamu, istriku!" ucap Adam penuh ketegasan.
Naia terseyum tipis. Sebenarnya Naia begitu merindukan Adam. Namun, dia tidak boleh egois dengan berharap Adam terus bersamanya. Suaminya itu memiliki pekerjaan, dia harus bisa mengerti dan belajar memahami.
Cup! Adam mengecup bibir Naia sekilas.
__ADS_1
"Rindu tau." Ucap Adam menatap Naia yang juga menatapnya dengan mata tak berkedip karena terkejut.
Sangat menggemaskan dimata Adam.
"Mas Adam genit." Ujar Naia.
Adam langsung melebarkan bola matanya. "Apa salahnya genit dengan istri sendiri?" keluh Adam.
"Naia malu, Mas." jujur Naia yang membuat Adam terkekeh. Adam membelai rambut Naia mungkin ini saat yang pas bagi Adam menceritakan tentang masa lalunya.
"Nai, mungkin akan lebih baik jika aku menceritakan tentang Ineke. Kamu berhak tau meskipun dengan menceritakan hal itu aku harus membuka luka lama, tapi itu memang harus kulakukan, agar tidak ada lagi yang tidak kamu tahu dari ku."
Setelah mandi Adam menghampiri Naia yang sibuk menyiapkan pakaiannya.
Bagaimana Adam bisa melirik masa lalu, jika Naia saja sudah memenuhi semua kebutuhan dan harapannya.
Naia membantu Adam berpakaian. Setelahnya Naia memandangi Adam dengan lekat. Jantungnya terasa berdebar lebih cepat. Saat tahu Adam akan segera memulai ceritanya.
"Dulu, Mas pernah memiliki seorang kekasih. Namanya Ineke. Bukan cuma kekasih, kami bahkan sudah bertunangan."
Raut wajah Naia berubah sendu. Adam menautkan jemari mereka. Adam masih menunggu reaksi Naia.
Adam terseyum. Dia menganggukkan kepalanya. Terus terang.
"Dia memang berharga. Dulu Mas berharap dia bisa berjalan dengan Mas untuk selamanya."
Naia terseyum, sambil menikmati rasa tak nyaman yang tiba-tiba menyusup.
Adam membelai pipi Naia dengan jempol tangannya.
"Tapi semua tinggal mimpi, Nai. Hari kehancuran itu benar-benar ku alami." Adam memejamkan matanya seperti menelan lagi rasa sakit itu kembali.
Adam ingin menangis ketika mengingat bagaimana hubungannya dulu dengan Ineke. Naia mengenggam tangannya lembut, Naia meminta Adam berhenti.
"Jangan di bahas, jika itu melukai Mas Adam."
Luka lama yang belum tertutup, kini ditaburi garam dan disiram cuka. Itu yang dipikirkan Naia saat tahu Adam harus menghadapi mantan tunangannya.
Adam mengeleng. Naia berhak tahu masa lalu nya, agar tak ada lagi salah faham.
Jujur Ineke adalah wanita istimewa di hati Adam. Sekeras apapun Ineke menyakiti, sampai berkali-kali pacaran dengan pria lain, rasa sayangnya tidak pernah hilang. Sayang yang terakhir perempuan itu meninggalkannya dan memutuskan ikatan mereka di saat Adam sendiri sedang tak bisa menghadapi kehancurannya sendiri. Ineke bukan orang lain bagi Adam. Ia bagian dari perjalanan hidupnya.
__ADS_1
Saat mengakhiri hubungan, Adam tidak bertemu dengan Ineke. Orang tuan Ineke datang ke Palangkaraya untuk mengembalikan cincin pertunangan sambil menyerahkan surat yang di tulis oleh Ineke. Bahkan dengan teganya Ineke memberi kabar jika dia sudah menerima pinangan pria lain.
Tidak hanya itu. Dua hari paska pemakaman kedua orang tuanya. Adam menerima surat undangan pernikahan Ineke. Miris!
Adam depresi berat karena tragedi itu sehingga mengasingkan diri. Bukankah itu sangat kejam? Bukannya mendukung Adam di saat-saat terberat, Ineke malah menikah dengan orang lain.
Demi Ineke. Adam mengabaikan pesan Ayahnya. Berulang kali Ayahnya mengatakan jika Ineke bukanlah wanita yang baik untuk Adam. Wanita bebas yang suka putus nyambung hubungan tidak baik dipertahankan.
Tetapi bagi Adam. Ineke toh kembali padanya, seperti yang sudah-sudah. Hati Ineke tetap miliknya sampai kapanpun. Namun, ternyata yang ditakutkan Ayahnya benar-benar terjadi. Adam di tinggalkan pas lagi hancur-hancuran. Untung dia tidak jadi mengakhiri hidupnya.
Setelah itu Adam menutup segala sosial medianya. Menghapus segalanya tentang Ineke, tidak hanya dari ponselnya, tapi dari hati dan pikirannya sebisa mungkin.
Naia masih menangis sesenggukan, mendengarkan Adam bercerita. Akhirnya Adam terseyum lebar. Berbicara dengan Naia selalu begitu, membuatnya merasa berharga.
"Jadi, bagaimana?" tanya Adam.
"Apanya?" tanya Naia polos
"Sudah puas dengar cerita Mas?"
Naia mengangguk."Naia minta maaf Mas Adam." ujar Naia.
"Sudah dimaafkan, tapi jangan di ulangi lagi ya, kalau ada masalah cerita jangan malah diam, Kamu bikin mas kepikiran, Nai." lagi-lagi Naia menganggukkan kepalanya.
"Mas mau makan malam atau langsung istirahat?" tanya Naia setelah melihat jam dinding yang hampir menunjukkan pukul satu dini hari.
"Tidur saja, Mas rindu di peluk sana istri." pipi Naia merona mendengar ucapan Adam.
"Tapi Naia lagi dapet." cicit Naia.
"Dapet?" beo Adam.
"Naia lagi tanggal merah."
Adam berkedip-kedip bingung. Dapet? Tanggal merah? maksud Naia apa?
"Mas Adam, Naia sedang .... " Naia menunjukkan sesuatu yang di simpan di dalam laci. Seketika tawa Adam pecah.
"Sayang, mas hanya minta peluk. Bukan minta masuk."
Naia terbelalak, menyadari kekonyolannya. Ayolah, sudah sangat larut dia malah mengajak Adam berdebat.
__ADS_1