
"Mas, coba angkat dulu! Barangkali penting." Berkali-kali Ponsel Trianto berdering. Namun, sang empu begitu enggan mengangkatnya. Mereka baru saja sampai di rumah dan sedang mengurai lelah dengan bersandar di sofa.
"Ck, mungkin dari Mba Duwi yang mau curhat masalah rumah tangganya dengan Mas Imron, biar aja ah, males! Capek ngeluh Mulu."
"Tumben, Mas Imron betah marahan sama Mba Duwi?" Puput bergumam, yang di balas Trianto dengan mengangkat bahu.
Setelah melepas penat. Mereka bergegas makan malam, karena terlalu sibuk mereka sampai lupa makan.
Usai makan Trianto masuk kedalam kamar dan menyalakan televisi. Saat asik mencari acara yang pas, berita siaran langsung membuatnya terpaku. Dilayar televisi bagian bawah tertulis dengan huruf kapital, siaran langsung kebakaran di Bojong gede sebuah gudang toko elektronik online dilahap si jago merah. Keadaan gudang yang terkunci, menyulitkan warga sekitar untuk memadamkan sumber api, sehingga dalam waktu singkat gudang tersebut ludes terbakar.
Rasanya tulang dan otot Trianto berubah menjadi jeli ketika membaca nama dan letak alamat gudang tersebut.
Trianto bergegas meraih ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dari karyawan membuatnya semakin tak bertenaga. Gudang itu adalah aset terbesarnya, bahkan seluruh hartanya hampir habis untuk memperbanyak stok barang disana. Dan kini semuanya dikabarkan terbakar habis.
Tak jauh beda dari Trianto, Puput juga tak kalah syok, terlebih dari sejumlah saksi mata mengatakan, bahwa api muncul dari arah belakang. Kini ingatannya tertuju pada apa yang dilakukannya beberapa jam yang lalu, setelah mereka mendata barang. Puput yang merasa lapar ingin memasak mie instan dengan pan listrik, dan kenyataannya setelah menekan tombol on, tidak lama kemudian dia dipanggil oleh Trianto untuk dimintai uang penyelesaian. Tapi setelah urusannya selesai, dia dan Trianto malah pulang.
Ingatan itu merenggut kesadaran Puput, tidak lama berselang wanita itu lemas tak sadarkan diri.
☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas, aku rasa selama ini kamu tidak berlaku adil kepadaku selaku istri pertama." Ines menatap Wahid yang baru saja tiba setelah beberapa jam dia menghubungi bahwa dia sudah di perbolehkan pulang.
Wahid mengangkat alisnya, kedua matanya menatap tajam Ines. Wahid tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ines melanjutkan ucapannya dengan suara yang mulai bergetar. "Mas tidak pernah perduli denganku. Mas bahkan selalu menghabiskan malam bersama dengan wanita kampungan itu. Apa mas tidak memikirkan perasaanku? Hatiku sakit mas! Kau jahat!" ucap Ines dengan nada yang mulai meninggi.
"Sakit Hati? Bukannya ini pilihanmu sendiri. Aku sudah memperingatkan mu dari awal. Kau sudah tau apa konsekuensinya. Dan sekarang kau mengatakan aku jahat, tidak adil dan kau sakit hati?" Wahid bersendekap, tatapan matanya mengimitasi Ines yang kini sudah mulai berkaca-kaca. "Kau bilang sakit hati. Coba, apakah pernah kau memikirkan perasaanku?" Wahid menghela napas dengan kasar.
"Kau merasa tersakiti ketika ku abaikan. Apakah kau pernah memikirkan rasa sakit ku ketika aku harus mengabaikan perasaanku demi memenuhi semua keinginanmu dan mereka orang tuamu? Aku juga punya rasa sepertimu."
Wahid mengurungkan niatnya untuk duduk. Kesal, dia sangat kesal dengan Ines yang terlalu mendengarkan kedua orang tuanya, sementara dia adalah suami wanita itu.
__ADS_1
"Aku tau, kau bersama wanita kampung itu karena ingin terlihat baik-baik saja jauh dariku, menyerah lah mas, maka aku akan kembali tinggal denganmu."
Senyum sinis Wahid sungingkan.
"Aku bahagia hidup dengannya." balas Wahid tak pelak membuat Ines mendelik tajam.
*****
Sudah hampir pukul sebelas malam, mobil yang dikendarai Wahid kini telah memasuki halaman rumahnya bersama Tanti.
Ternyata Tanti juga baru pulang dari acara sekolah, sebelumnya Tanti sudah bicara pada Wahid jika dua hari kedepan akan diadakan kegiatan sekolah, untuk itu sore hingga malam hari guru-guru di sibukkan dengan persiapan menyambut acara itu, berdiskusi dan juga mulai berbenah ruangan.
"Besok pagi saya berangkat sendiri saja, " ucap Tanti ketika baru turun dari mobil.
"Ya Bu Tanti, besok kita berangkat pagi-pagi sekali soalnya harus kerumah produksi seragamnya." timpal teman satu profesinya menyahuti. Setelah mendapat kesempatan akhirnya mobil yang mengantarkan Tanti mulai meninggalkan halaman rumah.
Tanti melanjutkan langkahnya kemudian menghampiri Wahid yang baru turun dari mobil. Tanti mengulurkan tangannya untuk menyalami Wahid.
"Eh, aku pikir mas Wahid tidak pulang malam ini." ucap Tanti.
"Mengapa tidak boleh pulang?" tanya Wahid.
"Bukan begitu, Mas. Tapi kata mas tadi pagi habis jam kantor langsung ke rumah sakit jemput mba Ines, ku pikir ... "
"Makanya, jangan banyak mikir, Ayo!" Wahid menggandeng tangan Tanti untuk berjalan bersama. Wahid terus menggenggam tangan Tanti sampai masuk ke dalam rumah. Senyumnya terus mengembang. Berbeda dengan Tanti yang berjalan dengan pasrah menggekorinya.
Saat sampai di depan pintu masuk kamar, Wahid mengeluarkan setangkai bunga mawar dari saku dalam jas nya.
"Selamat empat bulan pernikahan sayang," ucap Wahid disertai dengan kecupan singkat di bibir Tanti.
Tanti membelalakkan matanya. Ia terkejut dengan tindakan Wahid. Saat Wahid melepas pelukannya, Tanti segera meraih bunga itu dan langsung masuk kedalam kamar untuk menyembunyikan wajahnya yang kini tengah bersemu merah.
__ADS_1
Wahid terseyum geli melihat tingkah istrinya, Janda eh, tapi polos kebangetan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Naia terbangun dengan perut yang terasa keram. Dia menoleh kearah sampingnya dan melihat Adam yang masih terlelap. Lalu matanya mengarah pada jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari.
Naia mencoba bangkit dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi. Langkahnya terasa berat karena menahan rasa tidak nyaman pada perutnya.
Naia coba mengelus perutnya yang mulas. "Apa aku salah makan ya? Tapi semalam aku cuma makan bakso sama Ibu dan Mas Adam." lirih Naia masih mencoba melangkah masuk kedalam kamar mandi. Namun, karena ceroboh Naia jatuh terduduk. Naia meringis sakit karena benturan yang cukup kuat di bagian bokong dan tangannya. Tangannya ter kilir dan itu membuat Naia semakin kesakitan.
Tidak lama setelah itu, Naia merasakan sengatan cukup kuat di perutnya, rasanya panas, seperti diaduk-aduk tak karuan, membuatnya tidak mampu sekedar berdiri. Karena menahan sakit dari tangan dan perut secara bersamaan suaranya seolah hilang.
Dengan wajah yang mulai dipenuhi peluh Naia mencoba menyeret tubuhnya dengan bantuan satu tangannya. Naia merasa sangat tidak berdaya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis sembari meremas perutnya yang sakit.
"Mas, sakit. Tolong ... " Cicit Naia diiringi oleh tangisnya.
Seketika Adam terbangun. Alangkah terkejutnya Adam saat melihat Naia sudah tergeletak di depan kamar mandi.
"Naia ... " Mulutnya bergetar karena rasa takut, ia ingin berteriak memanggil Pak Beni, tetapi sadar jam segini mereka pasti di paviliun.
Adam bergegas membawa tubuhnya duduk di kursi roda. Menghampiri tubuh istrinya yang terduduk di lantai. Matanya jatuh pada bagian kaki Naia yang terdapat cairan merah seperti darah.
"Nai, kamu kenapa sayang?" cicit Adam dengan wajah pucat pasi.
Naia melihat Adam yang mendekat, ingin meraih tangan itu tetapi matanya perlahan mem buram. Rasa sakitnya perlahan membesar hingga Naia tidak kuat lagi menahannya.
"Naia ..... " Adam berteriak kencang ingin meraih tubuh Naia, namun Naia sudah terlanjur tergolek tak berdaya.
#####
Apa masih ada yang menunggu cerita Naia??
__ADS_1