Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Kemarahan Pak Subhan


__ADS_3

"Beni?" Nirmala terkejut melihat siapa yang turun dari mobil.


"Halo, Mbok, ada yang cari tuh." Nirmala langsung mendekati Beni. "Sama siapa kamu, Ben?" Nirmala mengintip kaca mobil di tempat penumpang tapi kosong.


"Mas Adam?" Kaget Nirmala saat melihat ke arah kursi kemudi.


"Mas Adam yang nyetir? Kamu tinggal duduk manis Ben?" tanya Nirmala galak pada rekan kerjanya yang sudah hidup bersama puluhan tahun.


"Mas Adam yang mau, Mbok. Kata mas Adam mau tes alat adaptasi mengemudinya. Sayang SIM nya kelamaan nganggur."


"Aku senang dengarnya, Ben!"


"Aku juga Mbok." Beni diam sejenak. "Mas Adam mau nemuin Mbok , supaya Mbok nggak terus khawatiran dengan keadaannya."


Nirmala meneteskan air mata, Sejak dulu sifat Adam memang seperti itu, sangat peka, tidak mau siapapun mencemaskan nya.


"Bantu Mas Adam turun, Ben. Mbok udah kangen banget."


Beni terkekeh dan segera membantu Adam menurunkan kursi rodanya.


Lepas kangen. Itu yang sedang terjadi kepada Adam dan Nirmala.


Sambil menikmati teh hangat buatan Nirmala, Adam mengedarkan pandangannya ke seisi ruang.


Suami Nirmala yang bernama Harun juga menyambut hangat kedatangan Adam. Seandainya rumah Adam masih di wilayah Jogja, Harum sama sekali tidak keberatan jika Istrinya terus bekerja mengurus lelaki itu, tetapi jarak yang jauh membuat Harun tidak bisa terus mengizinkan, sudah sangat lama Nirmala bekerja, sudah saatnya kini istrinya menikmati hasil jerih payahnya selama ini. Harun sendiri sudah cukup tua dan tidak bisa melakukan banyak aktivitas karena penyakit komplikasi yang di deritanya.


"Kenapa Bapak tidak mau tinggal di Kalimantan Pak."


"Nak Adam saja yang kunjungi kami disini, kami sudah tua, Nak." tutur Harun menanggapi pertanyaan Adam.


Mereka makan bersama, Adam yang sedari dulu sudah di asuh Nirmala sudah merindukan masakan tangan wanita itu, Nirmala tidak hanya seperti pengasuh untuk Adam, Nirmala sudah seperti orang tua pengganti untuk Adam, Karena sejak lahir pun Adam diasuh oleh Nirmala.


"Makan yang banyak, Biar mas Adam sedikit berisi." tegur Harun.


"Ya, Pak, terimakasih." Adam terseyum tulus.


Saat Naia sampai di rumah, dia melihat jajaran mobil di halaman rumah, rumah Tanti juga ramai sekali.


Buru-buru Naia masuk, dan melihat ketiga saudaranya sedang duduk diatas kursi bersama pasangannya masing-masing, sementara Ibu dan Bapaknya malah lesean dibawah.


"Assalamualaikum." Naia mencium tangan Bapak dan Ibunya dengan takzim.

__ADS_1


Naia melihat ketiga kakaknya mengulurkan tangan, tetapi Naia tidak menyentuhnya sama sekali.


"Jangan kurang ajar kamu Nai, tambah besar tambah hilang sopan santun mu." Ines istri Wahid nyolot.


"Pulang kerja kok nggak bawa apa-apa, gimana sih, sana gin cepat bikinkan kami minuman, udah haus dari tadi di anggurin." ketus Puput.


Naia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Pak, Bu, sudah makan?" tanya Nai pada kedua orang tuanya, tidak menanggapi keluhan mereka.


"Nai, Mbak mu ajakin ngomong itu loh." bentak Trianto, melihat istrinya tak di hiraukan oleh Naia.


"Kalian bawa apa ke sini?" tanya Naia galak.


"Yang sopan kamu, Nai." kali ini Wahid juga ikut-ikutan meninggikan suaranya.


"Aku? atau kalian yang tidak sopan? dimana tata Krama kalian sampai orang tua dibiarkan duduk di bawah? Bapak asam urat, tidak bisa duduk di tekuk seperti itu, sementara kalian yang sehat malah ongkang-ongkang kaki." Naia menarik napas lalu menghembuskan nya Mencoba mengontrol emosi, Naia masih ingin bicara sopan pada orang-orang tak berperasaan itu. Minta di layani ini itu, sementara mereka datang dengan tangan kosong, apa tidak bisa membelikan apa saja untuk menyenangkan hati orang tua dan mertua, katanya kaya, tapi kok kikir sekali?


Di balas bentakan seperti itu Wahid semakin naik pitam, tangannya sudah terangkat, tetapi tidak sempat mengenai Naia saat suara Pak Subhan Terdengar.


"Jangan lancang kamu, Wahid!" Bentak Pak Subhan Dengan mata mendelik.


Bu Sari memandang sulungnya sendu, hati seorang Ibu tetaplah lembut. Biarpun kelakuan anak-anaknya sangat mengesalkan tapi Bu Sari terap bersikap sangat lembut dan berbicara sangat hati-hati, takut menyinggung hati anak-anaknya.


Naia lagi-lagi menghela napas, datang ataupun tidak, ketiga kakanya tetap tidak bisa membahagiakan orang tuanya.


Bu Sari berkali-kali terdengar menghela napas dan mengusap matanya.


Hati Naia nelangsa. Untuk apa mereka ke sini jika hanya untuk menyakiti perasaan orang tua dan mertua.


"Mas, Mba, pulang kampung cuma mau nyakitin hati orang tua? Mending nggak usah pulang sekalian!"


"Mana sopan santun mu, Nai, terhadap kami Mas dan Mbakmu!" Bentak Dewi.


"Biarpun aku paling muda tapi aku berhak mengingatkan saudaraku jika berada di jalan yang salah, Mbak." Tegas Naia.


Dewi mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Rahangnya mengeras dengan gigi gemeretak.


"Assalamualaikum." Tanti memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab semuanya serentak.

__ADS_1


"Nai," Tanti terlihat penasaran.


Pak Subhan menjelaskan siapa tamu yang datang yang di tanggapi Tanti dengan senyum tipis.


Naia malu dengan Tanti, ketiga saudaranya tampak sukses, tampilan mewah, kendaraan roda empat, tapi orang tuanya hidup menumpang atas belas kasihan orang lain.


"Ini siapa Nai?" Wahid menunjuk Tanti dengan dagu.


"Orang yang menolong kami, memberi kami makan dan tempat tinggal." Naia menjawab apa adanya.


"Maaf saya kira selama ini, anak Bu Sari dan Pak Subhan hanya Naia saja, karena selama ini saya tidak pernah melihat mereka." ucap Tanti.


"Anak Bapak dan Ibu memang cuma Nai kok mba, mereka hanya numpang rahim Ibu."


"Kamu sudah sangat keterlaluan, Naia. Kami ini lebih tua darimu, bukan teman, sahabat atau pacarmu yang bisa seenaknya kau bentak-bentak! Yang sopan kamu!"


Plak!


Satu tamparan Wahid layangkan di pipi kanan Naia, membuat pipinya kemerahan dan menimbulkan rasa panas dan perih.


Naia terseyum miris menatap Wahid. Napas Wahid memburu naik turun seperti hewan yang siap menerkam buruannya.


Belum sampai lima detik, kini tangan tua Pak Subhan sudah melayang ke pipi Wahid dengan begitu keras.


Tanti juga langsung mendelik melihat perilaku kasar Wahid pada Naia.


"Silahkan, tinggalkan rumah saya!" Bentak Tanti pada mereka.


Pak Subhan menatap nyalang sulungnya. "Kau benar-benar lupa ajaran Bapak Wahid, kau benar-benar bukan anak dan saudara yang baik." Mata tua itu berkaca-kaca.


"Tiga kali mas pukul Nai seperti ini, mana mas Wahid yang dulu selalu melindungi Nai, mana mas Wahid yang dulu bahkan tidak rela seekor nyamuk mengigit kulit Nai? Mas Wahid tidak hanya berubah, tetapi mas juga melupakan hati nurani mas." Air mata Naia berjatuhan, sebelum berlari kedalam kamar.


Pak Subhan dan Bu Sari kaget bukan kepalang mendengar ucapan Naia. Ternyata Wahid sudah pernah menampar Naia.


Mata tua Pak Subhan menatap tajam ketiga anaknya dan berakhir pada Duwi yang diam menunduk.


"Benar yang dikatakan Naia, mulai saat ini Kalian bukan lagi anak dan menantuku, tak usah mengunjungi kami, ku anggap kalian semua sudah mati."


"Nak Tanti, tolong usir mereka Bapak dan Ibu mau istirahat.


Wajah Wahid, Dewi dan Trianto berubah pucat pasi mendengar ucapan Bapaknya. Selama ini tidak pernah mereka mendengar Bapaknya menaikkan nada suaranya, Bapaknya tidak pernah marah, kesabaran Bapaknya sangat luar biasa, tapi saat ini ....

__ADS_1


__ADS_2