Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Ending


__ADS_3

Hujan turun dengan derasnya, saat Wahid baru memasuki pekarangan rumah.


Dari dalam mobilnya Wahid melihat siulet istrinya yang tengah sibuk memindahkan tanaman hiasnya di samping rumah. Entah karena hujan yang terlampau deras sehingga menyamarkan suara mobilnya, atau Tanti yang tidak menghiraukan kepulangannya, tetapi Wahid tidak perduli.


Setelah proses panjang akhirnya dia bisa melewati sidang pertama perceraiannya.


Meski cintanya kepada Ines tetaplah ada, tetapi perpisahan memang pilihan terbaik.


Wahid menghela napas panjang. Ada kelegaan yang ia rasakan, beban pikirannya sedikit terangkat, dadanya terasa longgar. Semangat untuk pulang menggebu, ada wanita yang selalu menyambutnya dengan senyum ramah. Tanti benar-benar membuat dunia Wahid yang harusnya hancur lebur perlahan membaik.


Wanita yang telah menolong adik beserta kedua orang tuanya kini juga yang telah menolongnya dengan murah hati.


Tersadar dari lamunannya, Wahid memilih turun dari mobilnya dengan berlari kecil. Membiarkan tetesan air hujan membasahi bagian tubuhnya.


Sepertinya Tanti memang benar-benar tidak menyadari kepulangan Wahid. Terbukti wanita itu masih acuh dengan sekitar, bahkan kini Tanti sudah melepas blazer dengan acuh menyisakan baju tanpa lengan.


Kulit Tanti memang tidak semulus Ines, cenderung lebih gelap. Tetapi begitu memikat untuk di kecup ketika sedang basah seperti sekarang. Perlahan Wahid mendekati istrinya, Tanti yang tidak menyadari kehadirannya sontak menegang kaku.


"Ini aku!" bisik Wahid. Membuat kekakuan tubuh istrinya perlahan melemas.


"Mas,"


"Hmmmmm" Wahid hanya bergumam, tidak perduli istrinya yang tampak tidak nyaman.


"Dingin," ujarnya sambil menempelkan dagu di pundak Tanti yang tengah ia peluk erat.


Tidak ada jawaban. Tetapi setelahnya, tangan Tanti ikut melingkar di pinggang Wahid, membuat senyum Wahid terbit dengan begitu lebar.


"Apa Naia udah bisa di hubungi?"


"Belum, tadi aku minta nomor Adam sama Mbok Nirmala."


"Dapat?"


"Iya, mas saja yang hubungi, aku nggak enak."


Wahid terseyum. Tanti memang pemalu, meski kadang kala dia bisa kayak macan betina jika sedang marah, tetapi wanita yang sudah mulai mengantikan tempat Ines di hati Wahid ini sangat menghargainya sebagai seorang kepala rumah tangga.


Sudah ada satu mingguan, Tanti merengek ingin memeluk Naia. Hal yang sangat wajar dialami oleh wanita hamil muda. Menyidam, menginginkan sesuatu yang diluar nalar. Contoh saja makan mangga muda di tengah malam dan sebagainya, tetapi Tanti tidak menginginkan makanan, tetapi merengek ingin memeluk Naia.


Mungin, calon anaknya Wahid tau, seberapa besar Ayahnya telah menyia-nyiakan calon tantenya, mengabaikan bahkan tidak perduli pada Naia yang seharusnya masih ia lindungi.


Bulir bening menetes dari mata Tanti. Buru-buru Wahid mengecupnya dengan sayang.


"Besok kita ke Kalimantan, Mas juga sudah sangat rindu dengan Ibu." tutur Wahid, menangkup kedua pipi Tanti.


Sejak dulu, Wahid sangat mendambakan hadirnya seorang anak di tengah-tengah rumah tangganya.


Kehamilan Ines membuat Wahid begitu posesif, Menjadikan Ines number one diatas segalanya. Bahkan sangking takutnya tidak bisa memenuhi acara nyidam istrinya, Wahid membiarkan Adik dan kedua orang tuanya di usir dari kontrakan.


Tapi bukankah semuanya memang telah menjadi jalan takdirnya? Seandainya dulu Naia dan kedua orang tuanya tidak di bantu oleh Tanti, mungkin sekarang Tanti bisa jadi bukan istrinya.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Ada, apa, Nduk?" Bu Sari tampak sangat khawatir ketika Naia berlari memeluknya.


"Ibu, Naia diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua." Naia meraih tangan Bu Sari dan menempelkan di atas perutnya yang rata. Tidak perlu waktu lama tangisan itu segera menular, kini Bu Sari juga tengah sesegukan menahan haru.


*****


Hari sudah kembali pagi dan Naia masih meringkuk dalam pelukan lembut suaminya yang tampan saat tiba-tiba perutnya kembali di remas rasa mual. Naia tidak tahan hingga langsung berjingkat bangun untuk segera bergegas ke toilet untuk muntah. Adam juga ikut terbangun dan mengapai kursi rodanya.


Adam menyusul Naia dengan perasaan cemas dan khawatir.


"Sayang." Adam memijit leher Naia pelan.


Setelah rasa mulanya reda, Naia memberikan alat tes kehamilan yang sudah ia pakai. Seketika mata Adam berkaca-kaca.


"Ya, Allah ..." Adam masih belum bisa menghentikan ketakjubannya. Dia sampai gelisah dengan keriangannya sendiri, hingga dia salah tingkah padahal Naia yang sedang hamil.


Naia memang tidak pernah tahu seberharga apa kehamilannya untuk suaminya. Adam yang mengalami gangguan pada alat vit*lnya tentu mendengar kehamilan sang istri adalah keajaiban, mendapatkan istri setulus Naia, mencintainya dan kali ini sedang mengandung anaknya.


Tuhan memberi Adam takdir indah setelah selama ini merasa hidupnya hanya hitam putih. Naia bak pelangi' yang membuat hidup Adam penuh warna.


Meski Adam tidak akan pernah bisa berjalan kembali, tetapi setelah teratur tetapi kakinya berangsur-angsur kehilangan rasa nyerinya, bahkan Adam bisa menunduk sangat lama tanpa merasa pening.


******


Ternyata usia kehamilan Naia sudah memasuki minggu ke enam, masih sangat riskan apa lagi dengan riwayat keguguran sebelumnya jadi harus ekstra dijaga. Dokter sudah menyarankan Naia untuk istirahat total dulu paling tidak sampai usia kandungannya melewati trimester pertama. Untuk sesuatu yang seperti keberuntungan Adam tentu akan menjaga Naia dengan luar biasa.


Naia adalah istri sekaligus perawat Adam tanpa di gaji. Wanita yang bisa melakukan banyak hal untuk nya, belajar menyetir mobil, sampai Menganti ban dan sebagainya rela Naia pelajari demi memudahkan Adam. Naia juga selalu menyiapkan keperluan Adam saat pergi dan kurang yakin suaminya akan menemukan toilet yang bisa di akses kursi roda. Naia sendiri yang Memasang kateter dan urine bag untuk Adam dengan telaten. Naia benar-benar sosok yang mampu mengerti Adam luar dalam. Cinta Adam untuk Naia juga tak terukur, karena bagi Adam Naia adalah Ibu peri, yang mampu memahaminya setiap saat.


Naia benar-benar luar biasa bahagia ketika Adam kembali merampas bibirnya, menariknya erat dalam dekapan dan menenggelamkannya dalam bingkai lengannya yang kokoh dan keras. Adam terlalu asing dengan kebahagiaan sebesar ini. Rasanya sudah seperti mimpi yang sempurna.


******


Empat pasang mata tengah mengamati pergerakan penguna kursi roda yang tengah gesit bergerak kesana kemari.


Pada akhirnya waktu yang di tunggu Naia dan Adam tiba.


Naia sudah dibawa ke ruang bersalin, sementara Bu Sari panik tak terkendali, sehingga Dokter tidak mengizinkannya ikut mendampingi persalinan Naia.


Wahid, Tanti, Denada dan Fadil melihat bagaimana cara Adam membagi waktunya untuk dua orang sekaligus tanpa kesusahan.


Menghibur Ibu sekaligus berjaga-jaga sewaktu-waktu dokter memintanya mendampingi Naia.


Adam bisa semua hal. Fadil sudah menceritakan tentang Adam pada Wahid. Hidup bersama Adam Ibunya jadi lebih sehat, adiknya juga terlihat sangat terawat layaknya nyonya muda pada umumnya.


Wahid terus saja memantau pergerakan Adam. Orang macam apa yang sedang ia perhatikan ini? Sungguh menjungkir balikkan anggapan tentang pengguna kursi roda.


Tanpa Wahid ketahui, Adam sudah berusaha mati-matian demi layak bersanding di samping Naia, meskipun tanpa mampu berdiri dengan kedua kakinya.


Kini Wahid hanya harus percaya bahwa tak ada pria manapun yang lebih layak untuk Naia yang baik kecuali Adam. Pria yang sudah mengalami banyak kesulitan hidup membuatnya menjadi kuat dan bertanggung jawab.

__ADS_1


"Mas, keponakan mas Wahid sudah lahir." sangking terpesonanya Wahid dengan Adam, sampai-sampai dia tak sadar sudah melamun begitu lama.


"Laki-laki." Senyum Adam merekah, sampai matanya menyipit.


"Alhamdulillah ..." seru Wahid begitu mendapatkan kesadarannya.


Tanti juga sudah masuk HPL wanita itu ingin melahirkan di Kalimantan, di tempat adik iparnya. Apapun Wahid turuti asal sanggup. Hasil USG bayi mereka adalah perempuan membuat Wahid tidak sabar ingin menanti kelahiran putri pertamanya.


Hampir setiap sebulan sekali Wahid rajin mengunjungi Bu Sari, setelah kunjungan pertamanya tujuh bulan yang lalu, dan hubungan Wahid dengan Naia kembali normal layaknya adik kakak, Naia juga tidak segan bermanja padanya seperti dulu kala mereka masih menjadi seorang anak desa.


Duwi tinggal di Gorontalo ikut bersama Imron setelah mereka rujuk kembali.


Trianto masih menjalani perawatan di RSJ, sementara Puput tidak diketahui keberadaannya.


Bu Sari bersyukur tiga dari empat anaknya masih diberi kebahagiaan, beliau juga berharap agar Trianto segera sembuh.


☘️☘️☘️☘️☘️


Lima tahun kemudian.


Seorang anak kecil berlari kearah pria berkursi roda yang tengah menjemputnya.


"Devan, hati-hati." Adam menyambut putranya dengan pelukan hangat.


"I love you Papa."


"I love you too." jawab Adam sambil mencium pipi gembul Devan.


"Apa kita langsung pulang Papa?"


"Kita mampir ke supermarket untuk beli susu hamil Bunda dan susu untuk nenek agar tulangnya sehat." jelas Adam.


"Kapan dedek bayi lahir?"


"Masih tiga bulan lagi insyaallah, Nak. Devan mau adek cewe atau cowok?" tanya Adam menoel pipi anaknya.


"Mau yang pake jiblat kayak Bunda."


Adam terkekeh geli mendengar anaknya yang tidak bisa berkata benar jika menyebut jilbab. Devan masih cadel.


Dulu Adam kira dengan kondisinya, Devan akan malu mengakuinya sebagai ayahnya. Tetapi ternyata pikiran Adam salah. Pendamping hidupnya sudah berhasil mendidik anak-anak nya dengan segala kerendahan hati juga membiasakan anak-anaknya untuk menghargai perasaan orang lain.


Devan di acara wisudanya dengan bangga mengakui Adam adalah motifasi nyata dalam hidupnya, Ayah yang tangguh yang pernah ia miliki. Devan tidak pernah membantah Adam terlebih pada Naia. Devan hanya galak pada Nisvy adiknya yang cantik jelita.


Di usia Adam yang hampir kepala 5 tidak mengurangi ketampanannya, harta yang melimpah telah di wariskan pada kedua buah hatinya.


Adam dan Naia sudah dua kali naik haji, pertama dengan Bu Sari, dan kedua dengan kedua anaknya.


Kini tiada apapun yang kurang dalam kehidupan Naia dan Adam. Semua sudah sangat sempurna.


End

__ADS_1


__ADS_2