
"Tolong Mas, jangan giniin aku, aku harus apa supaya mas mau maafin aku?" Penampilan yang selama ini Duwi suguhkan, tak lagi semenarik dulu. Duwi merasa frustasi dengan kediaman Imron yang sudah berlarut-larut.
Awalnya Duwi mengira Imron akan sebentar saja merajuk, marah padanya. Tetapi ini hingga berbulan-bulan sifat Imron tetap dingin.
Pergi pagi hari, pulang selalu larut malam. Awalnya Duwi biarkan, lama-lama dia juga tidak tahan. Imron tidak menganggap keberadaannya.
"Aku lelah mas, kamu giniin, aku capek!" Duwi menarik lengan suaminya yang baru keluar dari ruang kerja.
"Jadi kamu mau apa?" tanya Imron menoleh. Tidak ada lagi netra lembut yang selalu menyertai di setiap lelaki itu memandangnya, tidak ada lagi anggukkan pasrah kala lelaki itu mengalah keputusannya di tentang seperti bertahun-tahun lalu.
"Biasanya kamu selalu ngertiin aku, kenapa sekarang kayak gini?" tanya Duwi dengan nada getir.
"Aku manusia biasa, Wi. Aku juga memiliki sifat jenuh dan lelah, jika kamu sudah terbiasa dengan hal itu, aku pun demikian. Aku lelah Wi, segala nasehat dan bimbinganku, kau acuhkan, aku ini kepala rumah tangga, tetapi kamu tidak pernah menghargai ku sedikitpun. Jujur aku juga lelah Wi, aku lelah dengan ini semua."
"Jadi, mau mu apa Mas, kita bercerai?" Emosi Duwi naik ke ubun-ubun. Lagi-lagi dia menuruti ego. Meneriaki Imron yang sepertinya sudah sangat hapal dengan sifatnya yang dominan.
"Ya, kurasa itu pilihan yang paling tepat."
Mata Duwi terbelalak. Tidak pernah dia sangka, jawaban Imron seperti itu. Wanita itu terlihat terkejut mendengar tanggapan Imron, sampai tidak bergerak dari tempatnya. Duwi berpikir bahwasanya dia benar-benar sudah kehilangan harapan.
Imron menatap wanita dihadapannya yang tampak akan segera menangis. Sebagai orang yang pernah dekat, Imron tentu merasakan perasaan sedih itu. Namun, Duwi memang tetap salah. Seharusnya perempuan itu menyadari kesalahannya dan belajar menghargainya sebagai seorang suami. Tetapi Duwi tetaplah Duwi. Perempuan yang selalu memudahkan sesuatu. Duwi lupa, jika hati terluka, akan susah obatnya. Itu yang bertahun-tahun dirasakan Imron. Karena terlalu Bucin membuatnya tidak memiliki harga diri di hadapan istrinya.
"Aku pernah menaruh harapan besar sama kamu. Tapi, ternyata kamu tidak bisa menjadi istri yang baik untuk ku. Yang membuat ku kecewa, kamu juga mengabaikan semua nasehat dan saran yang aku berikan, intinya aku di mata kamu tidak ada artinya. Sepertinya perpisahan adalah pilihan yang tepat untuk kita, terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku, Wi."
Bibir wanita itu bergetar. Dalam kehangatan yang memudar dan kedekatan yang terkikis, tak pernah sekalipun terbesit di pikirannya akan ada hari di mana perpisahan menjadi akhir hubungannya dengan suaminya.
__ADS_1
Masih terngiang bagaimana dulu setiap bulannya mereka menanti adanya dua garis yang membuat pernikahan mereka sempurna, lelaki yang biasanya terus mengalah kini telah berubah. Dulu lelaki itu yang selalu membuat hatinya berbunga, bagai sejuknya musim semi yang menenangkan jiwa. Ketulusan yang terpancar di mata lelaki itu, menebar bunga. Harum dengan sejuta pesona. Tapi kini, Imron tak lagi hangat dan lembut, Imron menjadi dingin dan sangat tertutup.
Berminggu-minggu terakhir, mereka hidup layaknya orang asing yang terpaksa berbagi tempat tidur. Dan akhirnya mereka disini. Membicarakan perceraian.
Semenjak hari itu, terbongkarnya niat buruk Duwi dan kedua saudaranya yang lain untuk membeli jasa orang tuanya. Imron sudah menjaga jarak, mereka sudah jarang bertegur sapa. Tak pernah Duwi melihat lelaki itu memandangnya seperti dulu.
Tatapan memuja dan kelembutan tak lagi ia temukan. Bahkan, sulit pula ia bisa menatap mata suaminya.
Selama beberapa saat, keheningan menyelimuti keduanya. Flashback pertemuan hingga penyatuan mereka dalam ikatan pernikahan, satu persatu membayang di benak keduanya.
Hingga satu pertanyaan sama, muncul di hati keduanya.
Kenapa mereka jadi seperti ini?
Roda hidup berputar. Di pulau Kalimantan Naia sedang berbahagia saat Ibunya kesehatannya mulai pulih.
Adam berniat membawa Naia dan Bu Sari haji bersama. Menunaikan rukun Islam yang ke lima.
Dijanjikan hal itu, Bu Sari sangat bahagia, sejak masih ada Pak Subhan, mereka memimpikan sesuatu hari bisa ber haji, namun, Allah belum memberi jalan.
Cinta adalah sebuah rasa yang tidak bisa dipaksakan. Baik itu dalam mencintai atau melupakan. Perasaan yang sudah tertanam lama akan sulit untuk musnah begitu saja. Meski kisah sudah tidak sejalan, namun rasa itu akan tetap tertinggal.
"Sepertinya biduk rumah tangga Ineke tidak berjalan lancar, Dam." Celetuk Fadil, saat dia menemani istrinya bertemu Naia.
"Hmmm.." Adam hanya bergumam. Fadil tidak tahu jika wanita itu sempat membuat hubungannya dengan sang istri merenggang.
__ADS_1
"Ku dengar dua memutuskan untuk membuka usaha di sini. Aneh nggak sih? Aku punya firasat buruk tentang kembalinya Ineke. Aku harap kamu baik-baik aja, Dam. Sekarang kamu sudah punya hidup yang baik bersama istri dan keluarga kamu. Kehadiran Ineke bisa saja membuat hubungan kalian sulit." jelas Fadil khawatir.
Adam menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin menukar hidup tenangnya selama ini hanya demi masa lalu. Dia sudah sangat nyaman bersama Naia, wanita yang kini dia cintai sepenuh hati.
"Aku nggak akan membiarkan masa lalu mengusik rumah tangga ku, Ineke sudah pernah kesini, Naia sudah ku ceritakan semuanya."
Penjelasan Adam tentu saja mengejutkan Fadil. Ineke adalah teman satu fasilitas, perempuan itu memang terkenal nekat, tetapi tidak pernah Fadil bayangkan, Ineke bakal senekat ini. Menemui Naia? Itu gila!
Naia sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan Denada. Setelah Denada dan Fadil pulang. Naia membawakan teh hangat Adam kedalam kamar mereka.
Naia yang melihat Bu Sari terus terseyum, ikut bahagia. Doa Naia terkabul, bisa membuat orang tuanya terseyum. Adam menjadi sumber kebahagiaan Naia yang kedua setelah kedua orang tuanya.
"Aku ingin kamu, apa aku bisa mendapatkan pil ku?"
"Ya, sebentar Nai ambilkan." Wajah Naia merona secara alami.
Adam terkekeh, Naia masih merasa malu dengan keintiman mereka, meskipun sudah beberapa kali mereka bersatu tanpa sekat. Namun, Naia tetaplah Naia. Gadis polos dan pemalu yang Adam temukan di jogjakarta.
" Kamu butuh energi ekstra malam ini. Pastikan kamu makan yang cukup, Mas mau kamu, Nai."bisik Adam mesra.
Naia hanya mengangguk, menyembunyikan gemuruh jantungnya yang berdegup sangat kencang.
Sebenarnya meskipun Adam selalu tersenyum, dia tidak sebahagia itu. Banyak hal yang membuatnya minder, salah satunya adalah cidera tulang belakangnya yang mengganggu banyak hal. Butuh perlakuan khusus supaya dia bisa memberikan hak Naia. Bukan memberikan, lebih tepatnya membiarkan Naia berusaha mengambil hak primitif itu.
Meskipun selama ini Naia tidak pernah mengeluh, Namun, Adam selalu berusaha memperbaiki fungsi seksualnya.
__ADS_1
Adam harus meminum pil yang di resepkan oleh Fadil, pil yang berfungsi untuk membangkitkan gairah Adam, tentu sudah di uji bahwa pil itu tidak memiliki efek samping. Pil itu sangat membantu Adam, supaya Naia tidak terlalu kepayahan membuatnya mampu.
Itu sebabnya Adam merasa lucu, saat Naia pernah menjauh darinya karena merasa takut dia akan di rebut wanita lain. Adam yakin wanita yang ingin dekat dengannya bukan karena cinta, tapi karena ada apanya.