
"Jangan pikiran apapun, hanya kamu yang terpenting untuk ku ..." Adam menangkup wajah Naia yang pucat dan kali ini benih air mata mulai merembes dari masing-masing sudut matanya.
"Mas, Adam ... Maafkan Naia.." Naia justru meminta maaf, dan juga mulai menangis begitu sadar dia sudah kehilangan bayinya. Anak yang bahkan belum sempat Naia sadari kehadirannya.
Air mata Naia sudah tidak terbendung lagi, tubuhnya bergetar tapi Adam terus berusaha menenangkannya, kondisi Naia masih sangat lemah, dan tangan kirinya sempat terkilir.
"Maafkan aku ..." Naia terus memohon dengan air matanya yang berderai-derai.
Adam mengecup bibir Naia yang bergetar dan dingin.
"Tidak sayang, ini bukan salahmu. Jangan menangis, Nai. Mas mohon ... " Adam juga tak kalah sedihnya, bahkan rasa bersalah telah me rong-rong hatinya.
Ada kelegaan dan rasa haru yang luar biasa ketika Pak Beni, Denada dan Fadil melihat Adam dan Naia yang mampu saling menguatkan. Adam beruntung memiliki Naia, begitu juga sebaliknya.
Tiga hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Naia di izinkan pulang.
Adam tak pernah meninggalkan Naia kemanapun. Bahkan urusan Kantor Adam serahkan pada orang kepercayaannya.
"Mas ... " Adam menghentikan tangannya yang hendak meraih vitamin untuk Naia.
"Ya, sayang?" buru-buru Adam mendekati istrinya yang duduk di bibir ranjang.
"Nai dengar, Mas Adam mau ke Singapura? mau ngapain?"
"Denada, yang kasih tahu?"
Naia mengangguk.
Adam meraih tangan Naia.
"Mas ingin lebih baik dari ini, Nai. Setidaknya biarpun mas tidak bisa berjalan seumur hidup, tapi mas mampu melakukan banyak hal." Kenyataannya, kejadian yang merenggut nyawa calon anaknya, membuat Adam menyadari jika dia perlu berobat dengan benar.
Kondisi Bu Sari sudah membaik, namun karena sering pikun , beliau butuh terus di dampingi. Adam juga sudah mempekerjakan suster untuk Bu Sari, supaya Isterinya tidak terlalu kecapekan.
Naia dan Adam juga sepakat untuk tidak memberi tahu Ibu Sari tentang kehamilan Naia yang telah gugur. Biarlah kesedihan mereka sendiri yang tanggung. Naia khawatir kesehatan ibunya kembali menurun jika mengetahui calon cucu pertamanya tiada.
Adam pergi ke kantor hanya untuk mengambil berkas-berkas penting. Di temani Pak Beni.
Adam sudah hampir keluar dari lobi begitu suara wanita berhasil menghentikan kursi rodanya yang meluncur.
__ADS_1
Buru-buru Ineke ingin meraih tangan Adam, tapi dengan cepat Adam menepis tangan Ineke.
Ineke tertawa kecil melihat sikap Adam padanya. Dulu, Adam selalu tersenyum manis untuknya. Menuruti segala maunya dan selalu ada disampingnya. Kini, laki-laki itu tampak seperti orang berbeda. Tidak ada lagi senyum manis di bibirnya, melainkan wajah kaku yang bahkan tersenyum saja sulit.
Baru akan bersuara, ponsel Adam berbunyi.
Assalamualaikum. Ya, sayang?"
"......................
"Baiklah, sebentar mas akan pulang. Tunggu mas dirumah ya ..."
Ineke berusaha tetap yakin jika Adam akan kembali padanya. Meski kenyataannya saat ini Adam sudah ada pengganti dirinya, perempuan yang lelaki itu sebut sebagai istri.
"Adam, aku ingin bicara sama kamu."
"Maaf, aku sedang terburu-buru." tolak Adam.
"Buru-buru untuk temui istri setting-an mu itu."
"Ineke!!" bentak Adam lantang.
Ineke terperanjat, karena teriakan Adam yang cukup nyaring. Bahkan kini para karyawan mulai kasak-kusuk.
Kenyataannya. Hancur sudah seluruh perasaan memuja yang dipersembahkan Adam untuk wanita itu selama ini.Segala cinta dan sayang yang begitu menggebu. Kesetiaan yang coba Adam pertahankan melebur bersama penghianatan yang dilakukan Ineke. Tak ada lagi yang tersisa. Hanya luka yang menganga di hati dan akan di ingat oleh jiwa. Bahkan hingga kini.
Agaknya, lebih baik di tenggelamkan ke dasar samudera, dari pada menginginkan sesuatu yang pernah di buang sebelumnya. Mana mungkin bunga yang sudah di injak akan mekar dan segar lagi. Kalaupun masih terasa harum, tak akan sama layaknya sedia kala.
Rasa penyesalan itu amat besar di dalam diri Ineke, mengalir di setiap tetesan darah, masuk kedalam sel-sel syaraf dan perlahan merusak kendali hati yang bernama 'perasaan'.
Adam tak menghiraukan wanita yang masih diam terduduk di atas lantai. Bukan tugasnya untuk menghapus air mata wanita itu, setelah dia berhasil menguras habis air mata Adam sebelumnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Hari ini Adam akan terbang ke Singapura. Tentunya Naia tidak bisa ikut, karena dia tidak pernah tega meninggalkan Ibunya hanya dengan di temani pengasuh.
Hari masih gelap. Naia yang baru kembali dari kamar mandi, ikut memperhatikan suaminya yang masih terlelap. Ini adalah kali pertama Naia akan berpisah jauh dari Adam. Belum apa-apa rasanya sudah merindu. Kelopak mata Adam terpejam rapat dengan napas teratur. Adam benar-benar tampan, berkharisma dan berkedudukan kombinasi yang tidak bisa di tolak, dan Adam memang sangat sempurna. Kecacatan kaki, bagi Naia bukan hal besar. Adam sudah menjadi suami paling sempurna dimatanya.
Perlahan Naia merangkak naik ke atas tubuh Adam dan mulai menciumnya, menyentuhnya dimana-mana dan membuat kelopak mata Adam terbuka.
__ADS_1
"Naia ..." Naia kembali menciumi seluruh wajah suaminya hingga membuat Adam terkekeh. Adam juga langsung memeluk wanitanya yang sedang bermanja.
Melingkarkan lengannya ke pinggang Naia yang telungkup di atas tubuhnya untuk dipeluk erat.
"Jika ini mimpi, Mas nggak mau bangun." bisik Adam pada telinga Naia.
Naia terseyum tipis merasakan sesuatu di sana berdenyut.
"Nai berat ya mas?"
"Tidak, hanya mereka sedang sensitif beberapa hari ini, itu mengapa mas ingin ke Singapura." tutur Adam.
Adam memang kerap merasakan kedutan di kedua pahanya jika ada beban yang menimpanya. Hal yang dulu sama sekali tidak pernah dirasakan. Itulah sebabnya Adam ingin berobat sungguh-sungguh, siapa tau masih ada keajaiban untuk kedua kalinya. Ya, itu harapan Adam. Pengharapan yang di inginkan Adam untuk Naia, ini adalah upaya Adam untuk menjadi sempurna demi seseorang yang begitu dicintainya.
"Apa sangat sakit?"
"Aku rela sakit berkali-kali, karena aku memiliki seorang tabib yang cantik dan lembut seperti mu"
Naia melingkarkan lengan untuk memeluk leher Adam, dan secepat kilat mendaratkan bibirnya di bibir Adam.
Adam agak terkejut dengan ciuman Naia, tapi setelahnya, ia langsung menggulung tubuh Naia untuk di tindih.
"Kamu mau?" tanyanya dengan suara yang sudah berbeda.
"Ya, aku mau."
Betapa luar biasanya seorang Naia. Setiap saat hanya ingin membuat suaminya terseyum, tidak rewel, sangat mandiri, dan begitu perduli dengan Adam.
"Aku akan sangat merindukanmu."
Untuk pertama kalinya, Adam berhasil membuat Naia terkulai di bawah kukungannya. Semangat untuk sembuh berkobar di tekad Adam sejak hari dimana dia menyaksikan dirinya tidak mampu melakukan apapun dan bertindak cepat untuk melarikan istrinya ke rumah sakit, sehingga ada nyawa yang tidak bisa ia selamatkan.
Naia masih enggan melepaskan Adam, sehingga membuat Adam tergelak kecil.
######
Ternyata masih ditungguin.
love reader..
__ADS_1
Makasih semangatnya.
Happy reading ❤️❤️❤️