Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Akan pulang


__ADS_3

Pagi yang sudah hampir siang


Saat itulah Adam mengajak Naia menemui Beni.


Beni di buat gelagapan karena sandiwara yang harus ia mainkan tanpa persiapan. Meski kaku tetapi bersyukurlah Dia bisa bersikap seperti selayaknya bos yang baik.


"Saya minta maaf, Pak." Naia menunduk lesu. Naia sudah di izinkan pulang oleh Beni, dan juga segalanya akan di urus oleh lelaki itu.


Meski para kakanya sudah membuatnya sakit hati. Naia dengan lapang hati akan memaafkan mereka jika mereka semua benar-benar bertaubat dan ingin berubah. Memang itu keinginan terbesarnya, agar keluarganya kembali utuh seperti dulu, meskipun mereka kini sudah memiliki kehidupan masing-masing, tetapi Naia harap mereka punya waktu untuk kedua orang tuanya. Menjalin silahturahmi antar saudara dengan baik dan akur.


Keluar dari kamar Adam, yang kini sedang di tempati oleh Beni, Naia mengucapkan terima kasih pada Adam yang mau membantunya.


Seperti Adam yang tulus mengizinkan Naia pulang meski cintanya baru bersemi, setulus itu pula Naia mengucapkan terima kasih pada nya.


☘️☘️☘️☘️☘️


"Mas, Mama minta uang bulanannya di tambahin, kata Mama kebutuhan sekarang pada naik." Wahid yang baru masuk rumah langsung di sambut oleh permintaan istrinya.


"Mas, kamu kok diam saja?"tanya Ines, yang merasa di cuekin.


Wahid melonggarkan dasinya dan berjalan menuju kulkas untuk segera minum.


"Mama juga maunya mulai minggu depan uang bulanannya di kirim sebelum tanggal lima. Karena mas nggak ada, tadi aku iyakan saja, kasian juga Papa dan Mama kalau belanjanya telat." ujar Ines, ikut melangkah mengikuti Wahid.


"Aku juga butuh Tempat tidur baru mas, aku nggak nyaman tidur di tempat tidur kita yang lama, anak kamu maunya spring bed baru."


Gelas yang sudah kosong Wahid letakkan dengan keras, pria itu menatap sekilas istrinya yang sempat kaget.


"Mulai bulan depan, gantian Ibu dan Bapak yang menikmati jerih payahku, jika kamu mau kasih Papa dan Mama tidak masalah dengan gaji mu sendiri." Wahid meninggalkan Ines yang menganga.


" Mas, apa maksudmu, Mas? Mas Wahid tunggu!" Ines berjalan cepat mengikuti langkah Wahid.


Wahid tak menghiraukan panggilan Ines, dia memilih segera masuk kedalam kamar untuk membersikan diri.


"Jangan aneh-aneh deh Mas, sudah menjadi kewajiban kita untuk membahagiakan orang tua, masak mas lupa?" Ines yang berhasil menyusul langsung memperingatkan Wahid.


"Bagaimana dengan orang tuaku?" tanya Wahid. Wahid menatap netra istrinya dalam. "Selama ini kau selalu memintaku untuk memberi segalanya pada kedua orang tua mu, tetapi kamu begitu perhitungan dengan orang tuaku, tanpa Bapak dan Ibu aku tidak akan ada!" Wahid akhirnya marah.

__ADS_1


Ines gugup. " Mas, bukan begitu."


"Bapak sedang di rawat, aku akan membayar semua biaya pengobatan Bapak, mulai sekarang gantian orang tuamu yang mengalah dengan orang tuaku, karena sudah empat tahun aku selalu menyisihkan hak mereka."


"Apa maksudmu, Mas?" tanya Ines.


"Mulai bulan depan, aku tidak menanggung lagi biaya bulanan Papa, Mama. Kini giliran aku menjatah Ibu dan Bapakku sendiri."


Ines mendorong pundak Wahid. "Jangan keterlaluan kamu, Mas!"


"Kamu yang jangan keterlaluan. Mentang-mentang keluargaku miskin kamu tidak pernah mau menghormatinya. Sekarang terserah padamu, setuju, atau tidak setuju, mulai bulan depan aku memberikan jatah bulanan Mama pada Ibu." tegas Wahid.


Ines bersungut-sungut, dia tidak suka jika Wahid menghentikan uang bulanan pada Mamanya, Ines tidak rela uang Wahid di nikmati kedua orang tua Wahid yang kampungan itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Duwi diseret oleh Imron masuk kedalam ruang inap. Duwi sesegukan bersujud di kaki Pak Subhan.


Tanti membawa keluar Ibu Sari setelah mereka datang. Kini di dalam kamar rawat tinggal


mereka bertiga.


Inilah alasan Imron menyeret istrinya datang mengunjungi Bapaknya. Karena kesehatan Pak Subhan terus menurun sejak tahu Naia nekad pergi merantau. Bagaimana tidak nelangsa, ketiga anaknya sudah sukses semua, tetapi untuk tempat tinggal dan pengobatan, Pak Subhan harus mendapatkan bantuan dari orang lain.


"Pak,"


"Pergi, aku sudah kembalikan uang mu to? wis ndak usah hiraukan aku, ora Popo! ora Popo!" Duwi langsung menangis kejer, dia benar-benar tidak menyangka akan merasa seperti ini, sudah hampir dua minggu Imron tidak mau menyentuhnya, bicara juga jarang meski tetap pulang, sejak Imron mengetahui niatnya membeli jasa orang tuanya, sejak saat itu Imron seperti jijik padanya.


"Pak, Duwi nyuwun ngapunten, ( permohonan maaf, bahasa Jawa)


Pak Subhan melengos, bahkan tidak mau menyahuti ucapan Putrinya.


Saat ini Duwi takut jika Imron akan benar-benar meninggalkannya, pria itu berubah dingin dan acuh. Pagi tadi, tiba-tiba Imron memintanya bersiap, tidak menyangka Imron membawanya kesini. Duwi juga baru tahu jika Bapaknya di rawat di rumah sakit.


Duwi melirik suaminya yang hanya diam memperhatikannya, pria itu terus menatapnya dingin yang membuat Duwi gugup.


"Saya pulang dulu ya Pak? Nanti pulang kerja saya datang lagi." izin Imron sopan.

__ADS_1


"Bawa wanita ini nak Imron! Bapak tidak mau lihat wajahnya, Bapak mau istirahat."


Wajah Duwi pucat pasi mendengar ucapan Pak Subhan. Bapaknya menolak kehadirannya. Suaminya pun terlihat begitu.


☘️☘️☘️☘️☘️


"Aku antar kamu sampai Bandara." Adam mengenggam tangan Naia yang hangat.


"Mas Adam jaga diri baik-baik ya, terimakasih atas bantuannya."


"Kita belum sempat jadian sudah LDR" sungut Adam.


Naia terseyum.


"Nanti kalau jodoh pasti ketemu lagi."


Naia tidak tahu jika kalimat itu mengikat hati seseorang.


"Nai," panggil Adam, menghentikan kayuhan kursi rodanya.


Naia berbalik dan ikut berhenti melangkah.


"Apa yang membuatmu tidak risi melihatku dengan kursi roda seperti ini?" tanya Adam.


Adam sadar mereka berbeda. Kuat kah Naia? Sanggupkah menerima kondisi Adam seutuhnya?


Sebagian orang melihat penguna kursi roda bagaikan penghalang besar pengganjal mata yang menakutkan. Sementara bagi Naia kursi roda hanya sebagai alat bantu.


"Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Manusia di ciptakan dengan ujiannya masing-masing. Yang menciptakan penyakit dan ujian itu hanya Allah, jika aku memandang Mas Adam aneh, bukankah sama saja aku mencela Allah? Di dunia ini tidak ada yang sempurna, kesempurnaan yang paling besar adalah bersyukur atas pemberian Allah terhadap kita."


Adam bungkam. Tidak pernah Adam bayangkan jika jawaban Naia menjurus pada takdir Tuhan. Naia memang lain dari pada yang lain.


Hati Adam gemas ingin segera menjadikan Naia miliknya, tetapi sebelum itu dia harus memastikan ketulusan itu benar atau hanya sebatas ucapan belaka.


"Apa syarat aku meminang mu?" tanya Adam.


"Aku tidak tahu mas Adam, aku belum ingin menikah."

__ADS_1


Adam kecewa, tetapi tidak mungkin terlalu memaksakan kehendaknya. Butuh waktu, Naia masih butuh waktu.


__ADS_2