
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Sikap Menginginkan Segala Bentuk Tubuh!"
*Wuuungg…!!!
Dengunan keras, terdengar dari arah atas. Bersama dengan itu pula, kemilau dari bermacam warna, bersinar terang.
Formasi raksasa yang berderak dengan enam atribut Mana menggeliat liar, aktif begitu Theo mengeksekusi Teknik Pertama Dosa Keserakahan.
Sebenarnya, saat pertama kali Theo memainkan kedua tangan, memberi intruksi pada para bocah dosa, semua serangan yang ia lancarkan, ternyata hanya pengalih perhatian.
Serangan utama, ada pada Teknik Pertama Dosa Keserakahan Mammon. Sikap Menginginkan Segala Bentuk Tubuh, sebuah teknik dengan daya hancur paling dahsyat yang dimiliki Theo saat ini.
Namun, karena teknik tersebut harus di eksekusi dengan persiapan matang, memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat garis-garis formasi serta proses menghimpun energi enam jenis atribut Mana dalam aktifasinya, mau tak mau Theo mempertaruhkan semua. Mengeluarkan apapun yang ia punya untuk sekedar mengalihkan Sinbad dan wujud Vermilion Bird yang menemaninya.
*BOOOOMMMM…!!!
Jilatan pertama meledak keras. Mendarat tepat pada tubuh Sinbad yang baru saja mendongakkan kepala untuk melihat keatas.
"Goooaaahhh…!!!"
Kapten Kelompok Perompak Naga Laut tersebut, seketika memuntahkan seteguk darah segar. Hujaman dahsyat campuran enam atribut Mana berintensitas tinggi dari ledakan pertama, benar-benar telah berhasil mengguncang ranah jiwa-nya.
Tak hanya itu saja, ledakan pertama dari Sikap Menginginkan Segala Bentuk Tubuh Mammon, bahkan menyebabkan lingkungan sekitar menjadi kacau. Air laut lenyap, sementara beberapa sudut Wall Of Thousand Plant milik Fairley, terkoyak hancur.
*BOOOOMMMM…!!!
Pandangan mata Sinbad bahkan masih bergetar, belum sempat mendapat sedikitpun kecerahan. Sampai tiba-tiba, ledakan kedua menghujam tubuhnya.
"Goooaaahhh…!!!"
Sinbad memuntahkan lebih banyak darah segar. Tangan kirinya reflek menekan dada, sementara genggaman pada Blazing Sword ditangan kanan, mulai melemah. Hujaman ledakan kedua, kini tak hanya menggoncang ranah jiwa, melainkan memberi luka.
*BOOOOMMMM…!!!
Ledakan ketiga menyambar. Sinbad jatuh berlutut. Bersimbah darah pada mulutnya. Blazing Sword, lepas dari genggaman tangan.
*BOOOOMMMM…!!!
*BOOOOMMMM…!!!
*BOOOOMMMM…!!!
Tiga ledakan lagi menyusul diwaktu yang berurutan. Menghujam keras tubuh Sinbad yang sudah tampak tak berdaya.
Efek daya hancur dari rentetan ledakan terakhir, menyebar keseluruh ruang Wall Of Thousand Plant. Mengoyak segala arah, sebelum ikut juga mengenai tubuh Fairley dan Iris.
__ADS_1
Tuan dan Nona muda Elaenor Tribe tersebut terpental jauh. Menerima luka berat pada tubuh masing-masing.
Bersama terhempasnya tubuh Fairley yang tak sadarkan diri, teknik Wall Of Thousand Plant hancur berantakan.
"KWAAAKKK…!!!"
Dan, yang menyambut pertama ketika kubah Wall Of Thousand Plant runtuh, itu adalah teriakan tajam Neve. Ekspresi wajah sang White Condor menjadi sangat marah ketika melihat keadaan Masternya. Dimana sekarang tampak terkapar dengan tubuh berlumuran darah. Kembali ke wujud manusia normal.
Neve yang masih dalam mode Tranformasi, terlihat mengalihkan pandangan kearah Theo yang berdiri tak jauh dari lokasi Sinbad. Menatap dengan tatapan mata penuh amarah dan kebencian.
"KWAAAKKK…!!!"
*Kraaakkk…!!!
Sang White Condor mulai mengepakkan sayap, menyebar aliran Mana Es yang membekukan sekitar, bersiap menerjang untuk menuntut balas.
Sampai tiba-tiba…
"GROOOOOAAAAHHH…!!!"
*Wuuungg…!!!
Joy Kecil yang menangkap maksud Neve, berteriak liar sembari memadatkan Mana Besi. Memancarkan aura penuh dominasi. Rasa posesif untuk menjaga Masternya, membuat Joy Kecil tampak menggila. Segera melompat untuk memberi benturan keras kepada tubuh Neve.
*BOOOOMMMM…!!!!
Tempurung Joy Kecil menghujam sisi kanan tubuh Neve. Diakhiri ia menggigit sayap kanan sang White Condor.
"KWAAAKKK…!!!"
Neve, berteriak kesakitan. Berusaha melepaskan diri dengan mematuk kepala Joy Kecil.
"KWAAAKKK…!!!"
Pergulatan antar dua Guardian Beast, kembali berlanjut.
***
(Lokasi Theo)
*Taappp…!!!
Dibawah deru hujan lebat dari badai liar yang terjadi diatas medan pertempuran. Dimana juga di sertai gelegar halilintar yang seperti tanpa jeda, Theo berjalan perlahan mendekati posisi Sinbad.
Sinbad sendiri, yang sekarang dalam posisi terlentang. Hanya bisa memberi lirikan tajam balik kearah Theo.
Meskipun kedua orang ini telah benar-benar kehabisan sisa simpanan Mana, telah kembali ke wujud normal masing-masing. Namun jelas sekali, pemenang duel telah di tentukan.
*Tapp…
Theo sampai tepat dihadapan Sinbad. Menatap kearah awan hitam diatas langit untuk beberapa saat, sebelum kembali menundukkan wajah untuk melihat kearah pihak lawan.
Kapten Kelompok Perompak Naga Laut, Pemimpin Utama Aliansi 7 Lautan. Sinbad Sang Petualang, atau juga dikenal dengan julukan Sinbad Sang Penakluk. Kini terkapar tak berdaya di bawah kaki Theo. Boss Besar kelompok Bandit Serigala. Seorang penakluk lainnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau tawarkan! Karena jelas hanya itu satu-satunya alasan kenapa kau tak berniat langsung membunuhku!" Ucap Sinbad.
Satu pertanyaan, yang disambut oleh Theo dengan mulai memasang senyum tipis.
__ADS_1
"Sebelum membahas tentang itu, aku ingin memastikan, bahwa dengan hasil akhir dari duel kita, kau seharusnya juga sepakat, bahwa pemenang dari pertempuran dua kelompok, telah ditentukan!" Ucap Theo.
"Hahhahahah…!!!"
Kalimat Theo, disambut Sinbad dengan tawa lantang.
"Aku mungkin sepakat! Namun entah dengan Wakil Kaptenku! Karena jelas sekali pertarungan di lokasi lain, masih berlangsung!" Jawab Sinbad.
"Hmmmmm… Kuanggap kau sedang menunggu tawaranku!" Tanggap Theo.
Tanggapan Theo, mendapat jawaban sebuah tatapan mata tajam dari Sinbad.
Hening tiba-tiba tejadi saat Theo tak segera melanjutkan kalimatnya. Tampak kembali menatap kearah langit.
Sampai kemudian, setelah hening beberapa saat.
"Oe, Sinbad!"
"Sebenarnya, apa tujuan utamamu membentuk Aliansi 7 Lautan?" Tanya Theo. Tanpa menoleh. Masih melihat awan hitam mengerikan.
"Tentu saja penaklukan!" Jawab Sinbad.
"Wilayah Thousand Island? Kau cukup naif jika menganggap Aliansi 7 Lautan yang kau bentuk, akan cukup untuk menaklukkan Thousand Island!" Gumam Theo.
"Thousand Island hanya bisa sepenuhnya ditaklukkan ketika kau berhasil menghancurkan Eleanor Tribe! Sementara untuk bisa melakukan itu, apa rencanamu saat para Monster Tua mereka bergerak?" Tanya Theo.
"Hmmmm… Aku tak pernah bilang akan menaklukkan Thousand Island dalam periode waktu dekat! Seperti yang seharusnya kau juga tau, para monster tua tak akan bergerak sampai ada serangan langsung yang mengancam rumah mereka!" Jawab Sinbad.
"Ahhh… Jadi karena itu kau hanya menggerakkan kelompokmu di 7 wilayah laut saja!"
"Mengabaikan serta mengasingkan Wilayah Laut Putih tempat Eleanor Tribe berada!" Gumam Theo. Segera mengerti rencana jangka panjang Sinbad.
Melakukan monopoli wilayah laut, membangun kekuatan, untuk suatu saat menggempur Eleanor Tribe ketika merasa kelompoknya sudah cukup kuat.
"Baiklah, anggap suatu saat rencanamu ini berhasil! Setelah Thousand Island, lalu apa?" Tanya Theo.
Pertanyaan Theo, kali ini disambut Sinbad dengan kerutan kening. Sebelum mulai memasang senyum lebar.
"Wahhh… Pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan, justru terkesan mempresentasikan visimu sendiri!" Ucap Sinbad.
"Kau… Sempat mengatakan aku naif! Lalu, apa tujuan akhirmu? Jangan bilang, menaklukan seluruh Gaia Land? Hahahhahahha…!!!" Tanya Sinbad. Menutup pertanyaan dengan kembali tertawa lantang. Mulai merasa bahwa Theo adalah sosok paling naif yang pernah ia temui.
"Gaia Land?" Gumam Theo. Tampak tak terganggu dengan tawa Sinbad.
"Kau salah!"
"Gaia Land hanyalah permainan anak-anak! Sementara yang sedang kumainkan, jelas adalah sesuatu yang lebih besar lagi!" Ucap Theo. Mulai memasang seringai lebarnya yang khas.
Satu kalimat yang segera membuat tawa Sinbad terhenti. Menatap tajam kearah Theo.
"Sesuatu yang lebih besar dari Gaia Land?" Gumam Sinbad.
"Yahhh… Sesuatu yang lebih besar! Gaia Land hanyalah satu dari 10.000 realm kelas rendah! Satu dari ribuan debu tak penting alam semesta maha luas!" Ucap Theo.
---
Note :
__ADS_1
Absennya woe... Jempol kasih pinjem bentar! Sekalian chapter sebelum-sebelumnya. ^^