
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Urrgghhh…!!!"
Hella merintih sembari menekan area dada begitu pertama kali membuka mata.
Gadis ini tampak kebingungan melihat sekitar untuk beberapa saat, sebelum fokusnya berhenti untuk menatap sosok Theo yang sedang duduk bersila di hadapannya.
Perawatan pertama yang dilakukan oleh Theo, berhasil menyembuhkan beberapa luka fisik pada tubuh Hella yang sebelum di tarik kedalam Kastil Raja Dewa Air, memang sedang dalam situasi pertarungan sengit melawan Naga Ketiga Aliansi 7 Lautan.
"Aku tau kau ingin menanyakan banyak hal!" Ucap Theo. Saat melihat tatapan mata Hella.
"Namun simpan semua pertanyaan itu untuk nanti! Karena saat ini kita sedang tak punya banyak waktu! Jadi, sebisa mungkin, kau mulai saja perawatan pada luka parah di ranah jiwamu! Aku akan membantu dari luar!" Tambah Theo.
Mendengar kata-kata Theo, Hella segera menurut. Ia mulai menyalurkan aliran Mana Es miliknya untuk melakukan perawatan pada ranah jiwa. Sementara Theo, menyentuh kening dan perut Hella dengan jari telunjuk tangan kanan dan kiri. Menyalurkan aliran Mana Cahaya untuk mempercepat proses pemulihan.
Tak jauh di lokasi Hella sendiri, Iris yang tampak juga telah sadar, dari tadi hanya diam dalam posisi bersandar pada dinding. Tatapan mata gadis ini tak pernah lepas dari punggung Theo.
Perasaan Iris sedang bergejolak. Benar-benar campur aduk. Kebingungan harus bersikap seperti apa. Karena bagaimanapun juga, itu baru beberapa menit yang lalu, ia bersama kakaknya, Fairley, memimpin kelompok kuat dari Eleanor Tribe, untuk berusaha menghabisi sosok yang ada di hadapannya.
Meskipun memang dalam hati Iris jelas tak ada niatan untuk melaksanakan misi tersebut, ia hanya ikut karena ingin berjumpa dengan Theo, namun tetap saja. Ia berada dalam kelompok yang berniat membunuh Boss Besar Bandit Serigala tersebut.
Menjadikan dirinya sekarang merasa dalam posisi yang sama saja dengan kakaknya. Terlebih lagi, disaat terakhir, langkah yang ia lakukan adalah melindungi sang Kakak, menghadang Theo secara langsung.
Perasaan Iris menjadi semakin campur aduk ketika ia yang sempat kehilangan kesadaran, kembali siuman hanya untuk mendapati sosok Theo berada tepat di hadapannya. Itu adalah Theo yang merawat luka-luka di tubuh Iris.
"Hmmmm… Kau beruntung, jika jadi Boss, aku tak akan melakukan hal seperti itu pada musuh!" Ucap Razak. Seraya melirik kearah Iris.
Kata-kata Razak. Tak mendapat tanggapan apapun dari Iris. Gadis itu masih mempertahankan tatapan kearah punggung Theo.
Sementara di sudut lain ruangan, Dante dan Sinbad hanya mengamati apa yang dilakukan oleh Theo.
"Selain dari para anggota Endless Heavens Sect, ini pertama kali aku melihat ada Knight lain yang bisa melakukan kendali akan Mana Cahaya!" Gumam Dante.
"Hmmmm… Jika itu saja sudah membuatmu heran, bagaimana jika kukatakan bahwa ia bisa mengendalikan segala macam jenis atribut Mana!" Tanggap Sinbad. Sebelum tatapan matanya, mulai fokus kearah Razak.
"Omong kosong!" Ucap Dante cepat.
__ADS_1
"Aku serius!" Jawab Sinbad.
"Bagaimana bisa?" Tanya Dante, saat melihat tak ada raut bercanda di wajah Sinbad.
"Nahh, bagaimana bisa, itu juga pertanyaan tak terjawab di dalam kepalaku!" Tanggap Sinbad.
"Boss Besar Bandit Serigala, sepenuhnya bukan orang sembarangan! Sama halnya dengan bocah yang ada disana!" Lanjut Sinbad. Merujuk pada Razak.
"Bocah dengan kultivasi Emperor tahap awal! Bagaimana bisa? Berapa usianya?" Gumam Sinbad. Dengan ekspresi wajah cerah. Jelas sangat tertarik pada Razak.
"Hmmmm… Selain kultivasi, Gauntlet Besi yang dikenakan oleh bocah itu, memiliki roh item Bunga Udumbara!" Ucap Dante.
Satu kalimat yang segera membuat ekspresi wajah Sinbad semakin cerah. Kapten Perompak Naga Laut tersebut memasang senyum lebar antusiasnya yang khas, sebelum mulai berjalan mendekati Razak.
"Hei bocah! Berapa usiamu? Dan dari mana asalmu?" Tanya Sinbad.
"Boss?"
Pertanyaan Sinbad, justru di sambut oleh Razak dengan bertanya pada Theo.
"Terserah kau saja! Jika ingin menjawab, maka jawab, jika tidak ingin, cukup diam! Kau tak perlu meminta ijin padaku untuk semua hal!" Jawab Theo. Tanpa membuka mata.
"Baik…!" Jawab Razak. Justru menganggap kata-kata Theo sebagai intruksi.
Sinbad yang mendengar itu, tentu saja mulai tertawa lantang. Merasa Razak adalah bocah yang lucu.
"Tidak, tidak ada, lupakan!" Jawab Sinbad.
"Jadi, bagaimana? Kau mau menjawab pertanyaanku?"
"Hmmmm… Aku adalah Razak Khan! Keturunan terakhir Suku Osiris! 14 tahun?" Jawab Razak pada akhirnya.
"Wahhh…!!! Suku Osiris!"
Jawaban Razak, seketika membuat raut wajah Sinbad berubah terkejut. Tak hanya Sinbad, Dante yang juga mendengar, ikut memasang raut terkejut. Begitu pula dengan Iris. Gadis ini akhirnya memberi respon dengan melirik kearah Razak.
"Suku legendaris yang di cintai oleh Mana Besi! Tak kusangka, ada dari kalian yang berhasil lolos dari Endless Heavens Sect!" Ucap Sinbad.
"Terlebih lagi Khan? Kau adalah keturunan keluarga inti!" Lanjut Sinbad.
"Bocah, emmm… Maksudku Razak! Apa kau berniat menuntut balas pada Endless Heavens Sect?" Tanya Sinbad. Kini benar-benar tak bisa menyembunyikan raut wajah antusiasnya.
"Tentu saja!" Jawab Razak singkat.
"Bukan hanya aku, Boss Besar…"
"Razak…! Cukup!" Ucap Theo tiba-tiba. Memotong.
__ADS_1
Mendengar itu, Razak segera menutup mulut.
Sementara Sinbad, kini mulai melirik kearah Theo.
"Hahahhahah…! Dante! Kau dengar itu? Ini benar-benar akan menarik!"
"Sepertinya keputusan untuk membuat aliansi dengan mereka memang sudah sangat tepat!" Ucap Sinbad. Entah kenapa justru menjadi sangat antusias.
"Tepat apanya! Kau dan obsesimu! Benar-benar malapetaka!" Gumam Dante. Justru memasang wajah cemas.
"Baiklah Razak! Kau harus berjuang sebaik mungkin untuk bisa menyelesaikan tantangan Kastil Raja Dewa Air ini! Dengan takdir besar yang ada di pijakan kakimu, aku benar-benar penasaran, hadiah macam apa yang nantinya akan kau dapat!" Ucap Sinbad. Mengakhiri kalimatnya dengan untuk kesekian kalinya tertawa lantang. Sebelum mulai berjalan kearah lokasi Theo dan Hella.
"Apa?" Tanya Theo. Saat Sinbad sudah ada di sebelahnya.
"Hmmmm… Gadis ini punya atribut Es bukan?" Tanya Sinbad balik. Kemudian tanpa menunggu jawaban Theo, mulai mengangkat jari telunjuk tangan kanan.
"Neve…!" Gumam Sinbad.
Bersama gumaman tersebut, aliran Mana Es Kuno nan murni, semerbak menyebar keluar dari ujung jari telunjuk Sinbad.
"Ohhh…! Terimakasih!" Ucap Theo. Memahami apa yang akan dilakukan Sinbad.
Dengan bantuan Sinbad yang mengalirkan Mana Es murni milik Neve, proses pemulihan ranah jiwa Hella akhirnya berjalan lebih cepat.
Dan tepat ketika Hella telah dalam kondisi cukup baik, Razak menggantikan Theo, mulai menjelaskan semua detail yang terjadi kepada gadis itu.
***
(Satu jam batas waktu persiapan yang di berikan oleh suara misterius)
*Wuuungg…!!!
Dengunan keras kembali terdengar. Namun tak seperti sebelumnya, dengungan kali ini membawa satu letupan intens aliran Mana Air murni nan pekat muncul pada salah satu sudut kosong ruangan.
*Woooshhhh…!!!
Letupan Mana Air murni yang terasa sangat kuno, menyebar luas untuk beberapa saat, sampai akhirnya tertarik kembali pada lokasi semula. Sesosok bayangan makhluk yang tampak memancarkan aura penuh dominasi, kini menampakkan diri di hadapan setiap orang.
Makhluk yang baru muncul ini, memiliki tubuh percampuran antara ular dan ikan. Tubuhnya memanjang dengan sisik-sisik berwarna biru. Sementara bagian kepala merupakan bentuk ikan dengan dua taring panjang. Pada dua sisi tubuh, mengembang sepasang sayap yang mirip dengan sirip ikan. Namun memiliki ukuran yang sangat lebar. Dengan dua sayap mengagumkan miliknya, makhluk ini jelas tak hanya bisa berenang. Namun juga bisa terbang.
"Aku adalah Kung-Peng! Master dari Kastil Raja Dewa Air!" Ucap sosok tersebut. Memperkenalkan diri.
----
Note :
"Bahhh... Pembaca ghoib! absen!" Ucap Thomas.
__ADS_1