Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
233 - Logam Mulia Ruang Angkasa


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Woooshhhh…!!!


Neve, mengepakkan sayapnya untuk kemudian bergerak menuju lokasi kawah gunung berapi dimana kelompok Theo berada.


"KWAAAKKK….!!!"


Segera berteriak dengan memasang raut wajah tak senang. Melirik tajam kearah Joy Kecil saat menyadari keberadaannya. Sedang duduk santai di pundak kanan Theo.


"Tuuuuuuu….!!!"


Mendapat sapaan tak bersahabat dari Neve, Joy Kecil hanya membalas dengan dengusan lirih. Tampak malas menanggapi.


Satu sikap yang jelas menyebabkan Neve menjadi kesal.


"Kwaaakkk…!!"


Neve kembali berteriak.


"Hahahah…! Sudah! Jangan nakal!" Ucap Sinbad, sembari melompat turun dari punggung sang White Condor.


*Bammm…!!!


Bertepatan dengan Dante juga melakukan lompatan untuk mendarat tepat disamping Kaptennya tersebut, Sinbad, meletakkan bongkahan besar Logam Mulia Ruang Angkasa yang sedari tadi ia angkat.


"Tuuuuu….!!!"


Joy Kecil, tiba-tiba bersuara saat melihat bongkahan Logam Mulia Ruang Angkasa yang di dapat Sinbad.


"Kwaaakkk….!!"


Suara Joy Kecil, disambut oleh Neve dengan kembali berteriak dengan nada tak senang.


"Tuuuu….!!!" Balas Joy Kecil sekali lagi. Dengan intonasi nada dan juga raut wajah meremehkan.


"Joy Kecil! Itu tak sopan! Berhenti untuk mencoba terus memprovokasi Neve!" Ucap Theo.


"Tuuuu….!!"


"Hmmmm… Ini bukan kompetisi!" Balas Theo. Saat mendengar jawaban balik Joy Kecil.

__ADS_1


"Kwaaakkk…!!!" Sahut Neve. Ikut memasang wajah meremehkan. Sebelum mengalihkan pandangan pada Masternya, Sinbad.


"Hahhahaha…! Apa perlu ditanyakan lagi? Itu sudah jelas bahwa aku yang membawa hasil paling banyak! Lihatlah bongkahan besar yang kudapat ini!" Ucap Sinbad. Seraya menggosok bongkahan Logam Mulia Ruang Angkasa dihadapannya. Melirik dengan senyum menantang kearah Joy Kecil.


Tindakan Sinbad, segera diikuti oleh Neve. Sang White Condor, memberi lirikan penuh maksud pada Joy Kecil. Memasang raut wajah meremehkan.


"TUUUUU….!!!"


Mendapat lirikan dari pasangan Sinbad-Neve, Joy Kecil yang sedari tadi bersikap santai, cenderung malas duduk di pundak Theo. Segera memasang raut wajah tak terima. Melayang untuk menatap balik Sinbad dan Neve.


"Tuuuu….!!!"


Sebelum akhirnya berbalik untuk mengalihkan pandangan pada Theo. Seolah menyuruh Theo melakukan sesuatu.


Theo sendiri, segera mengerutkan kening. Kini melihat bergantian pada Joy Kecil, Sinbad, dan juga Neve.


"Tidak! Sudah kukatakan! Ini bukan kompetisi! Lagipula, kenapa juga aku harus mengikuti bersikap seperti kalian bertiga!" Dengus Theo. Menolak permintaan Joy Kecil.


"Oe, Sinbad! Kenapa kau juga malah ikut-ikutan bersikap kekanakan!" Lanjut Theo, kini dengan kesal mengalihkan tatapan pada Sinbad.


Sementara disisi lain, saat Theo-Joy Kecil, serta Sinbad-Neve tampak seperti sedang melakukan sebuah obrolan, orang-orang lain yang kebetulan ada di sekitar, Tuan Leluhur, Razak, dan juga Dante, hanya bisa memandang aneh sembari memasang raut wajah canggung. Menatap bergantian pada siapapun yang sedang berbicara.


Bagaimanapun juga, obrolan para Guardian Beast, hanya bisa dimengerti oleh para Master yang telah menjalin kontrak. Oleh sebab itu, untuk saat ini yang bisa memahami suara-suara aneh -Tuuuu- dan -Kwaaaak-, dari Joy Kecil dan Neve, itu hanyalah Sinbad serta Theo. Sementara Tuan Leluhur, Razak, dan Dante, cuma bisa mendengar suara berisik bernada aneh keluar dari mulut Joy Kecil dan Neve. Seperti sedang berdebat.


"Ohhhh… Aku adalah orang yang akan selamanya hidup untuk tantangan serta petualangan! Jadi sebuah kompetisi, jelas merupakan hal yang terjalin erat di dalamnya!" Ucap Sinbad, menanggapi kata-kata kesal Theo.


"Oleh sebab itu, kenapa kau tak ikut memeriahkan suasana saja? Cukup ikuti permintaan Joy Kecil! Tunjukkan serta keluarkan Logam Mulia Ruang Angkasa yang kau dapat!"


"Kita lihat, siapa diantara kau dan aku yang berhasil mendapatkan hasil paling bagus dalam perjalanan ini!" Tutup Sinbad.


"Tidak…!! Itu kekanakan! Aku tak akan turut serta dalam hal-hal macam itu!" Balas Theo. Segera menolak.


"Kwaaakkk….!!!"


Tepat ketika Theo menutup kalimatnya, Neve berteriak sembari memasang raut wajah meremehkan.


"Terserah kau mau bilang apa!" Balas Theo. Memahami kata-kata Neve.


"TUUUUU…..!!!"


Hanya saja, saat Theo tampak tak berminat untuk menanggapi, hal berbeda ditunjukkan oleh Joy Kecil. Ia segera membentak keras kepada Theo. Memasang raut wajah kesal dan marah.


"Hahhaah… Joy Kecil! Terima saja bahwa Mastermu memang membosankan! Atau ia hanya tau bahwa hasil panenku lebih banyak! Sehingga menolak untuk menerima kompetisi!" Ucap Sinbad.


"Kwaaakkk….!!"


Neve, dengan tanggap segera menambahi. Memperpanas suasana hati Joy Kecil.

__ADS_1


"TUUUUU….!!"


Mendengar kata-kata ejekan Sinbad dan Neve, Joy Kecil tentu saja tak terima. Membentak keras sembari memasang raut wajah kesal kearah Theo.


"Sin…!!! Sudah, berhenti main-main! Kau memang bersikap kekanakan! Hal-hal macam ini, benar-benar tak penting dan membuang waktu!" Ucap Dante. Tiba-tiba masuk dalam obrolan. Sekarang mengerti garis besar percakapan yang sedari tadi terjadi.


"Kau jelas melihat Boss Besar Bandit Serigala tak membawa apapun! Jadi apa yang kau harapkan dari kompetisi?" Tambah Dante. Berusaha segera menyelesaikan topik tak penting yang saat ini sedang berlangsung.


Hanya saja, kalimat terakhir yang di ucapkan Dante, justru membuat kuping Razak yang mendengarnya menjadi panas. Sang bocah malah merasa bahwa kalimat yang disampaikan Dante untuk menyelesaikan situasi tak penting, adalah sebuah kalimat menyepelekan kepada Boss Besar-nya, Theo.


"Hmmmmm…. Tak membawa apapun? Apa maksud kata-katamu itu!" Ucap Razak. Sembari mengerutkan kening, menatap tajam kearah Dante.


Sikap yang segera disambut oleh Dante dengan kerutan kening yang sama. Kini menyadari bahwa ia salah dalam menyusun kalimat.


Sementara Theo yang melihat Razak ikut terbawa arus suasana, mulai pening kepalanya. Memijit kening.


"Yang kutangkap dari percakapan antara Boss dan Sinbad, itu adalah para Guardian Beast menginginkan adanya sebuah kompetisi! Melihat siapa yang mendapat panen lebih banyak!" Lanjut Razak.


"Jika memang benar begitu, maka pemenangnya sudah cukup jelas! Logam Mulia Ruang Angkasa yang saat ini di dapat oleh Sinbad, itu bahkan tak ada setengah dari yang berhasil di simpan Boss Besar dalam item ruang miliknya!"


"Ditambah dengan para pasukan mayat hidup yang berhasil kubawa keluar, maka pemenang kompetisi tak perlu di perdebatkan lagi! Itu adalah Boss Besar!" Tutup Razak. Dengan raut wajah teguh. Melirik kearah Dante.


"Hei…! Sudah cukup! Ini benar-benar membuang waktu!" Sergah Tuan Leluhur. Dimana dari tadi hanya diam mendengarkan perbedatan yang terjadi. Dari raut wajahnya, tampak jelas ia sedang merasa pening yang sama dengan Theo.


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Tuan Leluhur dengan cepat mengalihkan pandangan kearah Theo.


"Bukankah kau hanya perlu mengeluarkan apa yang kau dapat di dalam sana? Segera selesaikan topik tak penting ini! Keluarkan saja!" Dengus Tuan Leluhur. Merasa sikap enggan Theo sedari tadi justru malah membuat situasi menjadi semakin tak berujung.


"Hahhh…! Ini sungguh konyol!" Dengus Theo balik.


"Ada alasan lain kenapa aku menolak menuruti keinginan dari kumpulan makhluk kekanakan ini!" Tambah Theo. Seraya kemudian, membuat gerakan tangan mengayun singkat.


*Woooshhhh….!!!


Bersama gerakan mengayun Theo, bongkahan-bongkahan Logam Mulia Ruang Angkasa yang berukuran hampir sama dengan didapat Sinbad, terlempar keluar dari dalam gelang ruang-waktu.


Setiap orang, kecuali Razak dan Joy Kecil, saat ini segera memasang raut wajah tertegun.


Bagaimana tidak, bongkahan-bongkahan yang dikeluarkan oleh Theo, itu berjumlah sangat banyak. Memenuhi seluruh pijakan dari kawah gunung berapi.


"Itu hanya setengah! Tanah pijakan dari kawah ini, tak akan cukup untuk menampung seluruh hasil panen yang kudapat jika dikeluarkan semua!" Ucap Theo.


Kalimat yang segera disambut oleh Sinbad, Neve, Dante, dan juga Tuan Leluhur, menoleh cepat kearah Theo.


Sementara Razak dan Joy Kecil, saat ini secara alami memancarkan raut wajah penuh kebanggaan begitu melihat ekspresi tertegun setiap orang.


"TUUUUUUU….!!!"

__ADS_1


Joy Kecil, berteriak dengan nada penuh kemenangan kearah Neve.


__ADS_2