
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Satu lokasi tertentu diluar Lembah Demonic Beast)
"Kau juga merasakannya?" Tanya Pion kedua, kepada Pion pertama. Sembari memasang raut wajah ngeri.
"Bagaimana bisa terlewat? Aura yang bahkan tak bisa kita ukur dan bayangkan kedalamannya! Sungguh mengerikan!" Jawab Pion pertama. Dengan nada bergetar. Jelas merasa sangat takut. Sebelum kemudian, mulai mengalihkan pandangan kearah Gugio.
Gugio dan Gris sendiri, sedari tadi hanya mengandalkan tatapan mata serta pendengaran fisik mereka untuk mengamati lingkungan. Keduanya hanya tahu bahwa lolongan-lolongan liar ratusan Demonic Beast yang sebelumnya terdengar di dalam Lembah, secara tiba-tiba tak lagi terdengar.
Lembah Demonic Beast yang beberapa saat lalu riuh dalam gejolak, dengan aneh menjadi sunyi seketika.
"Pak tua, apa benar tempat di depan adalah Lembah Demonic Beast yang legendaris? Bagaimana kau bisa memiliki peta lokasinya? Bahkan berbagai kelompok besar, kesulitan untuk melacak tempat ini!" Tanya Pion pertama. Melirik tajam Spacial Ring yang terpasang pada jari telunjuk tangan kanan Gugio.
"Hmmmm… Maaf, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu!" Tanggap Gugio singkat. Sembari melakukan gerakan menarik tangan pada punggung, jelas tak nyaman dengan tatapan Pion pertama pada Spacial Ring yang ia kenakan.
Mendengar Gugio yang hanya seorang Hunter kelas rendah menolak untuk menjawab pertanyaannya, Pion pertama seketika memasang raut wajah tak senang. Ia terlihat akan maju, sebelum ranah jiwanya dengan aneh berdenyut. Sosok Theo yang memasang seringai lebar dengan balutan darah segar pada wajah, tiba-tiba muncul dalam benak Pion pertama.
"Ti-tidak… Maaf!" Gumam Pion pertama. Seketika mengurungkan niatnya. Secara tak sadar justru melangkah mundur.
Disisi lain, Gugio yang melihat sikap aneh Pion pertama, segera memasang wajah waspada, menarik Gris untuk mendekat kearahnya.
"Ini buruk!"
Pion pertama masih bersikap ganjil serta memasang wajah pucat, sampai tiba-tiba, Pion kedua yang sedari tadi fokus menyebarkan aura untuk mengamati Lembah Demonic Beast, bergumam cemas.
"Kita pergi! Demonic Beast kelas puncak yang tadi sempat meledakkan auranya, sedang bergerak keluar Lembah!" Ucap Pion kedua. Menyampaikan hasil pengamatannya.
"Lalu, bagaimana dengan Tuan muda Theo? Apa ia baik-baik saja?" Tanya Gris spontan.
"Gadis kecil! Urus itu nanti! Sekarang bukan waktu yang tepat!" Jawab Pion kedua. Seraya tanpa menunda, bergerak pergi.
"Hmmm…"
__ADS_1
Pion pertama masih memasang raut wajah pucat saat ia bergumam lirih. Tanpa mengatakan apapun, mengikuti Pion kedua.
"Gris! Kita pergi! Tak perlu khawatir dengan Tuan muda Theo! Bukankah sudah jelas yang ia sampaikan sebelum pergi, asal dua orang itu masih hidup, berarti ia juga dalam situasi yang sama!" Ucap Gugio. Menarik Gris pergi meninggalkan tempat.
*****
(Lokasi Theo)
Tulang belulang yang telah sepenuhnya tanpa daging, terlihat berserakan di dalam celah perbukitan kecil.
Sosok Theo yang berada pada salah satu sudut celah, saat ini sedang dalam kondisi berkultivasi. Memasang raut wajah tenang nan damai, Theo memejamkan mata.
*Wuuungg…!!!
*Wunggggg…!!!
*Wuuungg…!!!
*Wuuungg…!!!
Dalam posisi bermeditasi, empat pancaran aura dengan empat warna yang berbeda, silih berganti menyeruak keluar dari dalam tubuh Theo.
Memanfaatkan kondisi Anata yang menenangkan, Theo mengalirkan intisari Mana Kegelapan dari daging-daging Demonic Beast kelas tinggi yang beberapa saat lalu telah ia makan.
Intisari Mana yang secara bertahap namun pasti dan konsisten, terus memperbaiki kualitas Meridian dalam tubuh Theo. Membuat Meridiannya semakin bertambah kuat.
Sampai akhirnya, ketika sudah berada pada titik tertentu, Theo yang merasa bahwa efek dari Intisari Mana Kegelapan telah mencapai batas dan tak lagi bisa digunakan untuk menaikkan kualitas Meridian, akhirnya mulai kembali membuka mata.
"Tak kusangka, ternyata Meridianku telah rusak sedemikian parah, hingga jatuh setingkat General tahap awal meski aku berada di kelas King tahap Surga!" Gumam Theo.
Dengan semua daging Demonic Beast yang telah ia konsumsi, Theo nyatanya baru bisa menaikkan kualitas Meridiannya pada kelas General tahap Bumi.
Namun, berkat mengkonsumsi daging-daging Demonic Beast dan menyerap intisari Mana Kegelapan, Theo kini bisa membaca dengan jelas sesuatu yang dalam beberapa waktu belakangan sangat kabur di matanya. Yakni perkembangan kualitas dari Meridiannya, dimana ternyata sangat tertinggal jauh dari perkembangan Element Seed tipe Netral.
"Setidaknya, dengan ini aku menjadi paham target yang harus kugapai agar bisa naik ke kelas Emperor!" Gumam Theo.
"Aku harus memanfaatkan waktu di Tartarus Land ini dengan baik! Terus memperkuat garis-garis Meridian, karena di dunia ini, semua kebutuhan tersedia dalam jumlah cukup melimpah!"
"Sementara untuk meningkatkan kualitas Ranah Jiwa lebih lanjut, bisa dipikirkan nanti!" Lanjut Theo, berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Theo pantas berfikir demikian, bagaimanapun juga, dengan semua Demonic Beast yang ada di Tartarus Land, tentu kebutuhan Theo akan daging kelas tinggi Demonic Beast bergaris darah Ancient, dapat terpenuhi dengan mudah. Karena bahkan di dalam dunia kecil Istana Emas, Demonic Beast bergaris darah Ancient, hanya bisa dihitung dengan jari.
"Lembah Demonic Beast, benar-benar cocok dengan kebutuhanku! Terlebih, ada lima untuk ditaklukkan! Kurasa semua yang di sampaikan Sinbad ada benarnya, Kung-Peng akan memberi tantangan yang sesuai dengan kebutuhan setiap peserta!" Lanjut Theo. Sebelum membuat gerakan mengayun tangan. Kali ini mengeluarkan satu simpanan daging Demonic terakhir yang ia miliki. Daging paling spesial dan berharga.
"Baiklah! Saatnya memakan daging Chimera ini!" Ucap Theo. Melakukan proses pembakaran pada daging Chimera.
*****
(Beberapa jam kemudian)
Theo yang sempat kesulitan manahan lonjakan luar biasa dari intisari Mana Kegelapan dalam daging Chimera, akhirnya selesai dalam proses penstabilan. Kembali membuka mata dari kondisi meditasi saat merasakan garis-garis Meridiannya, telah mencapai sekelas General tahap Langit awal.
"Hmmmm… Bahkan dengan daging sekelas Chimera, itu hanya naik satu tingkat!" Gumam Theo. Terlihat merenung untuk beberapa waktu.
"Sudahlah, memang tak ada jalan mudah untuk mencapai puncak tertinggi!"
Theo berbicara dengan dirinya sendiri, sebelum kembali jatuh pada meditasi mendalam. Empat aura Anata, sekali lagi menyelimuti tubuh Theo saat ia melakukan proses pemulihan untuk terakhir kalinya.
****
(Daerah perbatasan Lembah Demonic Beast)
*Tappp…!!!
Theo yang telah menyelesaikan proses pemulihan, sekali lagi mendarat pada lokasi perbatasan Lembah Demonic Beast. Menatap tajam wilayah dihadapannya, dimana 3 aura mengerikan, sedang bergejolak dengan sangat hebat.
"Hmmmm… Sepertinya Banteng Hitam sialan itu tak menyerah untuk terus mencariku! Hahahhaha…!" Ucap Theo, saat merasakan aura familiar dari Demonic Beast Banteng Hitam, berada di lokasi luar Lembah.
"Cukup bagus untuk menghemat waktu! Dia dulu!"
Bersama kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Theo, ia bergerak cepat kearah dimana aura Banteng Hitam berada. Memutuskan untuk melawan Banteng tersebut sekali lagi sebelum 2 Demonic Beast Boss Lembah lainnya.
Theo kembali menjadi bersemangat. Adrenalin dalam tubuhnya mulai bergejolak. Satu hal yang jarang ia dapatkan. Hanya proses menaklukan gerbang dosa yang setara, sementara bahkan ketika berhadapan dengan sosok sekelas Sinbad, itu belum cukup untuk membuat adrenalinnya memuncak sedemikian rupa.
Satu proses yang bagus untuk semakin meningkatkan kualitas Meridian serta Ranah Jiwanya. Menjadi lebih dekat dalam usaha menggapai kelas Emperor.
----
Note :
__ADS_1
Aria sedang mengasah pisau di pojok ruangan.