Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
219 - Sumur Misterius


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.


Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v


_______________________________________


*Tapp…!!!


*Tapp…!!!


Theo bersama dengan Sinbad, mendarat pada salah satu puncak gunung berapi Pulau Api Getaran.


Dilokasi yang sama, juga telah ada Razak, Tuan Leluhur, dan juga Dante yang memang dari awal berada di tempat tersebut. Razak berlatih dalam bimbingan Tuan Leluhur, sementara Dante mengamati proses latihan, entah kenapa menjadi begitu tertarik dengan sosok Razak.


"Boss!" Ucap Razak, begitu melihat sosok Theo.


Theo hanya membalas sapaan Razak dengan anggukan singkat, sebelum fokus untuk melihat kearah kawah gunung berapi.


"Seperti yang kau lihat, peristiwa yang cukup unik bukan?" Tanya Sinbad.


"Ini bukan hanya unik, tapi misterius! Jelas sekali ada aliran Mana yang terasa mencuat keluar, tapi kita tak bisa melihat aliran Mana macam apa itu! Sepenuhnya tak kasat mata!" Tanggap Theo.


Pada area kawah dimana kini sedang di tatap oleh kelima orang yang berada di puncak gunung berapi, sebuah lubang misterius layaknya sumur dengan tepian batu-batu kuno, terlihat muncul pada bagian paling tengah kawah. Menyeruak diantara lahar panas.


Sumur tersebut berukuran tak terlalu besar, hanya akan cukup untuk dimasuki dua sampai tiga orang secara bersamaan. Namun seperti yang di katakan oleh Theo, terdapat aliran Mana Misterius tak kasat mata yang terus memancar keluar.


"Apakah sumur itu sebelumnya tak pernah muncul di lokasi ini?" Tanya Theo.


"Entahlah! Tapi sejak pertama Kelompok Perompak Naga Lautku menjadikan Pulau Api Getaran sebagai markas beberapa tahun belakangan, ini adalah yang pertama sumur tersebut muncul!" Tanggap Sinbad.


"Hmmmm… Dari goresan prasasti samar yang ada di sisi-sisi dinding sumur, bisa kukatakan bahwa sumur tersebut jelas tak berasal dari jaman ini! Itu adalah pola prasasti kuno yang telah lama hilang!" Ucap Theo.


'Ernesto!' Gumam Theo kemudian. Bertanya pada Ernesto.


'Yah, itu adalah prasasti yang sejaman denganku! Aku pernah beberapa kali melihatnya digunakan oleh kelompok yang secara turun-temurun, mewarisi kekuatan salah satu Ancient Thing!' Ucap Ernesto.


Jawaban yang segera disambut kerutan kening oleh Theo.


'Kekuatan Ancient Thing? Jenis yang mana?' Tanya Theo.


'Jenis yang jelas tak akan pernah kulupakan, karena penggunaannya merupakan satu dari beberapa pengontrak Ancient Thing yang mempelopori rencana sergapan untuk membunuhku di saat terakhir!' Tanggap Ernesto.

__ADS_1


'Itu adalah formasi segel dari kelompok pengguna Space Fruit! Ancient Thing jenis kelima!'


'Dan yang memancar keluar dari dalam sumur tersebut, jelas adalah aliran Mana Ruang!' Tutup Ernesto.


'Aliran Mana Ruang ya? Pantas tak bisa terlihat oleh mata!' Gumam Theo. Kini menjadi sedikit paham. Karena bagaimanapun juga, selain pemakan Space Fruit, jelas tak ada yang bisa melihat aliran Mana Ruang. Sama halnya dengan Theo sebagai pemakan Gravity Fruit, hanya ia yang bisa melihat aliran Mana Gravitasi.


'Sepertinya yang tersembunyi di dalam sumur ini, adalah sebuah item yang menyimpan aliran Mana Ruang yang cukup padat!' Gumam Theo. Melanjutkan pemikirannya.


Mengharapkan Space Fruit, jelas adalah hal tak mungkin, karena dalam pertempuran besar Hutan Pinus Beku, ia melihat dengan mata kepala sendiri, ada sosok misterius dari kelompok Endless Heavens Sect yang dapat mengendalikan Mana Ruang. Space Fruit, harusnya telah menjadi milik sosok tersebut.


'Kau jelas sudah dapat menduga apa yang ada di dalam sana! Dan dengan aliran tak kasat mata Mana Ruang yang bahkan bisa terasa sampai sedemikian rupa oleh yang bukan pemakan Space Fruit, item tersebut pasti berjumlah cukup banyak! Atau cukup besar!' Tanggap Ernesto.


"Semua hanya akan jelas jika kita memeriksa langsung!" Ucap Theo.


Ucapan yang tak lagi menggunakan transmisi suara, menyebabkan setiap orang kini bisa mendengar.


"Hmmmm, jadi kita akan masuk kedalam sana?" Tanya Razak.


"Ohhh, kita bisa membagi dalam dua kelompok! Aku akan mengambil sumur satunya!" Tanggap Sinbad. Dengan raut wajah cemerlang. Jelas sekali sudah tak sabar dengan petualangan.


"Sumur satunya?" Tanya Theo.


"Ohh, aku belum sempat bilang, pada kawah gunung berapi yang lain, sumur seperti ini juga muncul!" Jawab Sinbad, seraya melihat kearah puncak gunung berapi satunya.


Mendengar kata-kata Sinbad, Theo segera memasang wajah tertarik. Sepertinya panen besar sedang menanti.


"Sebaiknya jangan sembrono! Kita belum mempunyai informasi apapun tentang dua sumur itu!" Ucap Tuan Leluhur.


"Hmmmm… Aku sepakat!" Tanggap Dante. Setuju dengan peringatan Tuan Leluhur.


"Setidaknya, kita perlu melakukan investigasi awal! Mencari informasi sebanyak mungkin sebelum masuk kedalam sana! Bagaimanapun juga, tak ada yang tahu hal apa menanti di dalam!" Lanjut Dante. Dengan nada serius.


"Kau ini, selalu saja terlalu serius!" Sahut Sinbad cepat.


"Hal-hal tak penting macam itu justru membuat semuanya jadi membosankan! Unsur kejut justru akan berkurang!" Lanjut Sinbad.


Kalimat yang segera mendapat balasan sorot mata tajam dari Dante.


"Sin…!" Dengus Dante. Namun, belum sempat Dante menyelesaikan kalimatnya, Theo tiba-tiba memotong.


"Sinbad tak sepenuhnya salah! Kita tak boleh menunda terlalu banyak waktu! Karena bagaimanapun juga, sama halnya dengan kemunculan tiba-tiba sumur ini, itu juga bisa kembali lenyap kapan saja!" Ucap Theo.


"Yah, itu juga yang menjadi salah satu pertimbanganku!" Tanggap Sinbad.

__ADS_1


"Tapi, yang di sampaikan oleh Tuan Leluhur dan juga Dante cukup mendasar!" Lanjut Theo.


"Masuk tanpa perhitungan dan tanpa persiapan, terlalu ceroboh!"


"Jadi, aku punya jalan tengah!" Tutup Theo. Seraya kemudian mengaktifkan tatto segel Guardian Beast pada punggung tangan kanannya.


*Woooshhhh…!!!


"Tuuuu….!!"


Joy Kecil, melompat keluar untuk kemudian mendarat pada posisi favorit, pundak kanan Theo.


"Wahhh… Silver Turtle! Apa perlu kupanggil keluar Neve juga? Agar kalian bisa bermain bersama?" Ucap Sinbad. Memasang wajah bersemangat.


"Tuuu…!!!"


Mendengar Sinbad menyebut nama Neve, Joy Kecil segera mendengus. Tampak tak senang. Jelas ia masih menyimpan sisa-sisa aura rivalitas antara dirinya dengan Neve dalam jalannya pertempuran Laut Ungu.


"Hahhahaha…!" Raut wajah tak senang Joy Kecil, justru disambut oleh Sinbad dengan tertawa lantang.


Sementara Theo, tampak mengabaikan godaan Sinbad pada Joy Kecil. Mulai berjalan agak menjauh dari kawah, sebelum mengambil posisi duduk bersila.


Memejamkan mata, Theo mulai mengalihkan kesadarannya pada ranah jiwa. Melayang mendekat pada segel kontrak Joy Kecil dalam ranah jiwanya, untuk kemudian hanyut menyebrang dan mulai memasuki ranah jiwa Joy Kecil.


Dalam ranah jiwa Joy Kecil, Theo yang bertemu dengan kesadaran sang Silver Turtle, melanjutkan untuk melayang memasuki ruang aneh yang sebelumnya sempat diciptakan oleh tubuh Bunga Udumbara Serbuk Besi. Joy Kecil, menemani Theo dalam semua prosesnya.


*Wuuungg….!!!


Kesadaran Theo melakukan proses kultivasi untuk sementara waktu. Hanyut dalam kultivasi mendalam. Sampai kemudian, ratusan benang aneh yang tercipta dari serbuk besi di dalam ruang, mulai menjalar untuk menempel pada kepala Theo.


Theo, membuka mata begitu benang-benang tersebut, selesai menempel sepenuhnya. Membuka mata hanya untuk kembali mendapatkan visi pada dunia luar. Hanya saja, itu bukan visi dari kedua bola matanya sendiri, melainkan Joy Kecil. Kesadaran Theo, berpindah pada tubuh sang Silver Turtle.


"Luar biasa! Bagaimana bisa?" Gumam Sinbad, saat mulai merasakan pancaran aura Theo, kini terasa dari dalam tubuh Joy Kecil.


'Aku akan memeriksa kedalam! Sekedar memastikan kondisi awal!' Ucap Theo, menggunakan transmisi suara agar kata-katanya, terdengar di dalam benak setiap orang.


Mendengar suara Theo, Sinbad menjadi semakin tertarik. Dugaannya ternyata benar. Theo bisa mengalihkan kesadaran pada Guardian Beast nya.


"Oe…! Kau harus bermurah hati membagi teknik ini! Aku juga ingin mempraktekkannya dengan Neve!" Ucap Sinbad.


'Hmmmm… Kita bahas itu nanti!' Tanggap Theo.


'Razak, Tuan Leluhur! Jaga tubuhku!' Lanjut Theo, kali ini hanya mentransmisikan suara pada Razak dan Tuan Leluhur.

__ADS_1


*Woooshhhh….!!!


Memakai tubuh Joy Kecil, Theo melayang cepat untuk kemudian memasuki sumur begitu melihat anggukan singkat dari Tuan Leluhur dan Razak.


__ADS_2