
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
(Keesokan paginya)
Seluruh anggota kelompok yang mengikuti Theo dalam perjalanan menuju Lembah Demonic Beast, masih berada di dalam kemah masing-masing. Pion pertama dan Pion kedua, beristirahat pada kemah yang sama. Fokus untuk memulihkan luka-luka pada tubuhnya. Sementara Gugio dan Gris, baru selesai melakukan pemilahan tubuh 6 Demonic Beast Ayam Gurun Kematian menjelang pagi. Sehingga jelas masih kelelahan.
Theo sendiri, berada di tengah kemah. Menghadap api unggun. Ia menghabiskan malam dengan percobaan teknik pengolahan daging Demonic Beast.
*Woooshhhh…!!!
"Ckkk…!!"
Percobaan Theo, tampak masih belum berada di jalur yang tepat. Untuk kesekian kalinya, ia menghanguskan daging Demonic Beast di tangannya.
"Stock sudah hampir habis lagi!" Gumam Theo. Saat melihat simpanan Daging Demonic Beast yang ada di dalam gelang ruang-waktu, hanya tersisa 3 potongan saja.
*Woooshhhh…!!!
Selesai memeriksa sisa daging Demonic Beast, Theo menyempatkan untuk melenyapkan daging hangus dalam kobaran Mana Api. Sebelum kemudian, kembali mengeluarkan potongan daging lain.
"Hmmmm… Seharusnya intensitas kobaran api sudah cukup seimbang! Namun, yang menjadi masalah adalah intisari Chi yang selalu saja menolak untuk di padatkan pada satu titik! Lebih memilih untuk menyebarkan diri hingga lenyap!" Gumam Theo. Mengevaluasi percobaan-percobaan sebelumnnya.
Theo masih tampak merenung untuk sesaat. Berusaha menemukan kesalahan dari percobaan yang telah ia lakukan ratusan kali. Sampai tiba-tiba…
'Bocah! Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?'
Suara Ernesto, terdengar.
'Ingin menambah skill atau sekalian ingin berganti profesi sebagai Chef Knight?' Tanya Ernesto dari dalam sarung tangan kilat. Tak bisa lagi menahan rasa heran setelah dalam beberapa hari terakhir, terus melihat Theo hanya sibuk dengan percobaan mengolah daging Demonic Beast.
Mendengar kata-kata Ernesto, raut wajah tenang Theo yang sedang merenung, segera berubah kesal.
'Pak tua dari jaman purba! Lagi-lagi kau memilih waktu yang sangat tepat untuk muncul!' Tanggap Theo.
'Benar-benar mengganggu saja!' Tambah Theo.
__ADS_1
'Oe, jangan abaikan aku lagi kali ini! Kau tak tahu bagaimana rasanya terjebak dalam sebuah item sendirian! Setidaknya, bersikap ramah sedikit! Apa salahnya hanya menanggapi obrolan!' Ucap Ernesto.
'Ohhh… Begitu? Tapi sayangnya, kau salah memilih orang jika ingin melontarkan kalimat manipulatif!' Balas Theo. Memasang raut wajah tak peduli.
'Jelas sekali tak ada yang memintamu untuk menjadi roh item! Kau dengan kehendak sendiri, memilih untuk bersemayam di dalam Sarung Tangan Kilat! Menjadi benalu, menunggu kesempatan untuk dapat mencuri suplai energi kehidupan dari dalam tubuhku!'
'Semua yang kau lakukan, hanyalah untuk keuntunganmu sendiri! Tak lebih dari itu! Jadi, berhenti mencoba mengatakan kalimat-kalimat manipulatif di hadapanku! Menggiring opini seolah kau adalah korban yang tak berdaya!' Tutup Theo. Membalas kata-kata Ernesto sebelumnnya, dengan kalimat yang sangat tajam.
'Seperti biasa! Mulut yang tajam dan keji!' Tanggap Ernesto. Dengan nada kesal.
'Kau selalu mengatakan bahwa aku adalah benalu! Padahal jelas kau juga mendapat keuntungan dengan kemampuan khusus listrik merah dalam perangkat kilat ciptaanku!' Lanjut Ernesto.
'Salah!' Balas Theo cepat.
'Perangkat kilat adalah benda mati yang bertahan melewati jaman! Sementara kau! Hanyalah roh gentayangan dari jaman purba yang seharusnya tidak berada di jaman ini!'
'Sebagai seorang penempa, kau seharusnya malu memanfaatkan karyamu untuk hal-hal seperti ini! Jika jadi kau, aku akan cukup merasa bangga karya ciptaanku, berakhir di tangan seorang Knight yang kompeten!'
'Bukannya berterima kasih, kau justru memilih untuk menjadi benalu bagi orang yang telah meneruskan warisanmu! Sungguh memalukan!' Tutup Theo.
'Wahhh… Ini pertama kalinya!' Gumam Ernesto. Nada kesal yang sedari tadi mengikuti setiap kalimat yang ia ucapkan, justru menghilang saat Theo secara terang-terangan menghinanya.
'Kau bahkan secara terang-terangan mengeluarkan sisi emosional! Hal yang sama sekali tak pernah kau tunjukkan padaku sebelumnnya!'
'Apakah proses pengolahan Daging Demonic Beast itu benar-benar membuatmu sedemikian frustasi?' Tanya Ernesto. Kali ini dengan intonasi nada mengejek.
Kata-kata balasan Ernesto, kali ini tak mendapat tanggapan apapun dari Theo.
'Hei…! Sudah terlanjur! Kenapa tidak sekalian kita mengobrol lebih jauh?' Desak Ernesto.
'Katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?' Balas Theo.
'Hahhaaha… Kau memang manusia kejam!' Ucap Ernesto. Ketika mendengar Theo langsung memotong semak belukar.
'Sebagai roh item yang tak memiliki banyak kegiatan, aku tak punya pilihan selain menjadikan kau sebagai satu-satunya sumber hiburan! Mengamati apapun itu yang sedang kau lakukan!'
'Dan sejujurnya, percobaan teknik pengolahan daging Demonic Beast yang beberapa hari ini kau lakukan, cukup menarik minatku!'
'Apa usahamu ini ada hubungannya dengan mengatasi efek buruk dari memakai teknik Rage buatan Absolute?' Tanya Ernesto.
'Yah…! Itu benar!' Jawab Theo. Memutuskan untuk mendengar lebih lanjut apa yang hendak di sampaikan oleh Ernesto dengan menanggapi pertanyaan yang ia lontarkan.
__ADS_1
'Langkah tambahan yang di berikan oleh Lord Satan, meski memang membuat aku tak lagi menerima efek buruk dalam hal jatuhnya tingkat kultivasi setelah memakai teknik Rage buatan Absolute, tapi itu memiliki efek lain yang tak kalah buruk!'
'Kualitas Meridian serta Ranah jiwaku akan di lemahkan! Menyebabkan kesulitan untuk naik ke tingkat kultivasi selanjutnya yang pada dasarnya sudah cukup berat karena aku memiliki Element Seed khusus, menjadi lebih berat dan sulit beberapa kali lipat lagi!' Tutup Theo.
'Ahhh… Jadi benar seperti itu! Kau sedang mencoba untuk menutup kerugian dengan memakan daging Demonic Beast? Menaikkan lagi kualitas Meridian serta Ranah Jiwa seperti sedia kala?' Tanggap Ernesto.
'Apakah masih perlu ditanyakan lagi? Kau jelas bukan orang bodoh!' Balas Theo. Merasa Ernesto terlalu banyak basa-basi.
'Bocah! Kau sebaiknya sedikit mengatur cara bicaramu kepadaku! Karena sepertinya, aku punya beberapa metode yang patut di coba untuk bisa menyelesaikan masalah mengolah daging Demonic Beast yang sedang kau hadapi!' Ucap Ernesto.
'Hmmmm… Hantu mesum tua! Tak ada yang perlu di ubah dari cara bicaraku padamu! Jika kau punya ide, cukup katakan saja! Karena aku tahu dengan sangat jelas, bahwa kau juga perlu aku bisa bertambah kuat! Menghasilkan energi kehidupan lebih pekat yang nantinya bisa kau curi! Setiap waktu!' Tanggap Theo.
'Semakin cepat aku bertambah kuat, maka semakin cepat pula kau menggapai mimpimu!' Tutup Theo. Dengan intonasi nada dingin.
'Hahahhahha…!!! Kau tahu, ini seperti sebuah perlombaan! Aku juga tahu dari awal bahwa kau benar-benar serius saat mengatakan bahwa suatu saat, akan menjadikanku sebagai roh dari Boneka Bernyawa ketika sudah cukup kuat!' balas Ernesto.
'Jadi kita akan lihat, siapa yang lebih cepat! Kau cukup kuat untuk menjadikanku salah satu barang tambahan di balik lengan bajumu, atau aku yang berhasil memperoleh kehidupan kedua!' Ucap Ernesto.
'Katakan metode yang kau punya!' Tanggap Theo. Tampak tak terlalu terganggu dengan kalimat bernada licik yang untuk pertama kalinya, keluar dari mulut Ernesto.
'Penempaan!' Jawab Ernesto.
Jawaban yang disambut oleh Theo dengan mulai mengerutkan kening.
'Kau bisa mencoba mengolah daging Demonic Beast, dengan metode yang sama dengan teknik penempaaan!' Lanjut Ernesto.
'Seperti mengolah logam, jangan mendesak aliran Mana yang tersimpan di dalamnya! Salurkan jenis yang sama untuk mengontrol sebelum akhirnya mulai melakukan proses pembakaran!'
'Layak di coba!' Gumam Theo. Seraya mulai menyalurkan aliran Mana Kegelapan dalam tubuhnya untuk menyentuh intisari Chi Kegelapan di dalam daging Demonic Beast.
'Tambahan ide lainnya! Untuk proses pembakaran…'
Ernesto hendak menyampaikan sesuatu, sampai Theo dengan cepat memotong.
'Simpan saja kata-katamu! Dari sini, aku sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya!' Ucap Theo.
*Woooshhhh…!!!
Derak Mana Api, mulai menyala di tangan Theo. Namun kali ini bukan Mana Api normal, melainkan Api Surgawi yang berwarna keemasan.
Menggunakan Api Surgawi, Theo yang telah berhasil mengumpulkan intisari sisa-sisa Chi Kegelapan di satu titik, memulai proses pembakaran daging Demonic Beast.
__ADS_1