
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Beberapa hari kemudian, Laut Jingga)
Pada salah satu pulau di wilayah Laut Jingga, Pulau Lotus Merah, dimana merupakan tempat Gaia Son Paviliun membangun bisnis, mendirikan kota kecil. Saat ini terlihat Kelompok Bandit Serigala yang bergerak di wilayah Laut Jingga, sedang mendirikan kemah sederhana pada salah satu sudut pesisir pantai.
Tak jauh dari lokasi kemah sendiri, tepatnya pada sebuah area padang rumput luas, Shadex yang masih dalam kondisi tubuh penuh balutan perban, tampak seperti sedang berlatih.
*Woooshhhh…!!!
*Slaaaassshhh…!!!
*Slaaaassshhh…!!!
Telah dalam mode Soul Knightnya, tubuh Shadex yang di selimuti aliran Mana Besi berbentuk belalang sembah, terus memancarkan aura kuat yang mendominasi. Melancarkan serangan-serangan berbentuk pisau-pisau tipis aliran Mana Besi, pada rerumputan disekitar lokasi.
"Groooooaaaahhh…!!!"
Meski terlihat sedang melancarkan serangan yang tak beraturan, nyatanya lemparan pisau Mana Besi Shadex, menyasar pada bagian-bagian tubuh seekor Spirit Beast berbentuk Lipan raksasa yang membangun sarang tepat di bagian bawah padang rumput.
Puluhan pisau Mana Besi yang menghujam beberapa bagian tubuhnya, menyebabkan sang Spirit Beast segera keluar dari dalam sarang persembunyian. Berteriak marah kearah Shadex.
*Sraaaakkk…!!!
*Sraaaakkkk…!!!
*Sraaaakkkk…!!!
Dalam gerakan membelah hamparan rerumputan tinggi, tubuh panjang sang Spirit Beast bergerak cepat menerjang.
Menggunakan puluhan kaki kecil sebagai alat mobilisasi, juga dua capit tajam pada kedua sisi mulut yang digunakan untuk membuka jalan memotong rerumputan, gerakan makhluk itu terlihat sangat mengerikan saat dengan cepat menunju ketempat dimana Shadex sedang berdiri menunggu.
"Hmmmm… Bagaimana bisa? Bagaimana bisa pisau-pisauku kalah tajam dari pedang milikmu!" Bentak Shadex. Entah Kenapa tampak menjadi emosional saat melihat dua capit milik sang Spirit Beast.
"Hooaaarrrrggg…!!!! Mati…!!!" Shadex melanjutkan bentakannya, kini diiringi dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh.
*Woooshhhh…!!!
Bersamaan dengan bentakan kedua Shadex, aliran Mana Besi yang membungkus seluruh tubuh pria gahar ini, segera bergejolak hebat. Menyebabkan perban putih yang membekap bagian dadanya, kini mulai berubah warna menjadi merah.
Bekas luka tebasan berbentuk memanjang yang berada dibalik perban, dimana baru sedikit tertutup, kembali terbuka. Membuat darah segar merembes dari luka tersebut.
Namun begitu, dibawah kendali penuh rasa marah, Shadex seperti tak peduli.
__ADS_1
*Slaaaassshhh…!!!
*Slaaaassshhh…!!!
*Slaaaassshhh…!!!
Dengan gerakan penuh amarah, Shadex melempar puluhan pisau Mana Besi kearah sang Spirit Beast.
*Jleepp…!!!
*Jleepp…!!!
*Jleep…!!!
Suara khas dari daging segar yang tertusuk benda tajam, terdengar secara berurutan begitu puluhan pisau Shadex, mendarat dalam waktu serempak. Bersamaan menembus kepala sang Spirit Beast.
"Groooooaaaahhh…!!!"
Spirit Beast berbentuk Lipan raksasa, menggeliat liar untuk beberapa saat, jelas sedang sangat kesakitan, sebelum tubuh besar nan panjang miliknya, jatuh dengan suara berdebam keras membentur tanah bersama geliatan terakhir.
"Hmmmm… Dante…!!! Suatu saat, akan ku kembalikan semua penghinaan ini ribuan kali lipat!" Gumam Shadex. Dengan sorot mata penuh kebencian. Menatap Spirit Beast Lipan raksasa, seolah itu adalah Dante. Wakil Kapten Perompak Naga Laut yang beberapa hari lalu mengalahkannya dalam pertarungan satu lawan satu.
*Tapp…!!!
*Tapp…!!!
*Tapp…!!!
Tak berapa lama setelah pertarungan antara Shadex dan Lipan raksasa selesai, dari arah belakang, trio gadis kembar pengikut Shadex, mendarat dengan suara ringan.
"Yahhh… Yaaahhh…! Marah-marah tak akan menyelesaikan masalah!" Sahut Xika.
"Hmmmm… Mau bagaimana lagi? Kepribadian Boss yang satu ini memang sangat menyebalkan!" Tanggap Xafi.
"Benar sekali! Aku rindu dengan kepribadian ramahnya!" Jawab Xika.
"Dari pada yang itu, kepribadian pendiam akan terlihat lebih keren! Mirip dengan Boss Besar!" Sahut Xoya.
Kedatangan ketiga gadis kembar, segera disambut Shadex dengan tatapan tajam.
"Bisa kalian pergi saja? Untuk saat ini, aku sedang tak ingin ada orang lain berada di sekitar!" Dengus Shadex. Tepat ketika Xoya menyelesaikan tanggapan dari kalimat yang disampaikan saudarinya.
Mendengar kata-kata Shadex, Xoya yang masih memasang ekspresi wajah riang. Tampak akan kembali menanggapi. Namun, belum sempat ia melontarkan kalimat apapun, hawa membunuh mulai bocor dari dalam tubuh Shadex.
"Jika masih tetap berada disini, maka itu kalian, yang selanjutnya akan kupakai sebagai pelampiasan!" Gumam Shadex.
"Merobek mulut beberapa gadis kecil sepertinya adalah ide yang cukup bagus untuk sedikit meredam amarah!" Lanjut Shadex. Dengan ekspresi wajah menyeramkan, menatap kearah trio Xoya, Xika, dan Xafi.
"Menyeramkan sekali! Padahal kami kemari hanya untuk menyampaikan kabar!" Dengus Xoya. Memasang wajah cemberut. Sebelum dengan cepat pergi meninggalkan tempat.
"Itu benar! Kepribadian yang ini memang menyebalkan!" Dengus Xafi. Seperti saudarinya, memasang wajah cemberut. Ikut melompat untuk meninggalkan tempat.
"Hahh…!!! Jika Boss Besar yang baru saja sampai di kemah tak menyuruh untuk mencari, kami juga tak akan mau berada di sekitar! Apa gunanya melihatmu yang hanya marah-marah seharian!" Sahut Xika. Ikut melompat pergi.
__ADS_1
"MENYABALKAN…!!!"
Bentak Xika, Xoya, dan Xafi secara serempak untuk terakhir kali. Sembari menoleh kearah Shadex.
Namun, begitu ketiganya kembali menoleh untuk memberi makian terkahir, raut wajah ketiga gadis kembar ini segera berubah buruk saat melihat satu peristiwa tak terduga.
"Boss…!!! Hati-hati…!!!" Teriak Xoya.
"Berbahaya…!!!!" Xafi ikut berteriak cemas.
"Lihat belakang…!!!" Tambah Xika. Dengan ekspresi wajah buruk.
"Sialan! Aku menjadi tak waspada!" Gumam Shadex, begitu mendengar teriakan peringat dari ketiga gadis kembar. Tanpa menoleh, ia bisa menduga apa yang terjadi.
*Slaaaassshhh…!!!!
Spirit Beast Lipan raksasa yang sebelumnya dipikir Shadex telah mati, ternyata masih hidup. Memanfaatkan kelengahan dari Shadex, makhluk tersebut yang sebenarnya telah sekarat, melancarkan satu serangan menyelinap terakhir dengan cara melepas capit tajam miliknya, menembakkan capit tersebut kearah punggung Shadex.
Momen serangan menyelinap yang dilancarkan oleh sang Spirit Beast, terjadi dalam waktu yang sangat mendadak. Menyebabkan Shadex tak sempat melakukan reaksi apapun. Hanya dengan refleks menambah aliran Mana Besi di punggung untuk membentuk pertahanan sederhana.
*Woooshhhh…!!!
Namun, tepat di detik terkahir ketika capit akan mendarat di punggung Shadex, seseorang melompat dengan terjangan cepat. Sekelebat bayangan yang melakukan gerakan menyabet pedang, menangkis lemparan capit.
*Traaaang…!!!
*Tap…!!!
Sosok yang baru saja menangkis serangan Lipan, melanjutkan aksi dengan melompat kearah tubuh raksasa Spirit Beast Lipan.
*Slaaaassshhh…!!!
Menutup semua aksinya dengan teknik pedang cantik yang berhasil menebas tubuh Lipan raksasa hingga terbelah menjadi dua. Dari kepala sampai ujung ekor.
"Boss Besar! Sungguh waktu yang sempurna!" Teriak Xika, Xoya, dan Xafi serentak.
Sementara Shadex, hanya menatap dengan pandangan dingin.
"Aku tak butuh bantuanmu!" Dengus Shadex.
Mendengar jawaban dingin Shadex, sosok berambut putih yang datang secara tiba-tiba dan menebas Lipan raksasa, hanya membalas dengan satu senyum sederhana.
"Hmmmm… Jika kau ingin melampiaskan amarah, aku tahu tempat yang cukup bagus! Tempat yang tak hanya bisa digunakan untuk melampiaskan amarah! Tapi juga akan menambah kekuatanmu!" Ucap sosok tersebut. Yang tentu saja tak lain adalah Theo.
"Katakan!" Jawab Shadex singkat.
"Ohhh…! Seperti biasa, tatapan yang sangat bagus!" Sahut Theo.
"Tapi, aku hanya akan mengatakan dimana tempat itu, setelah luka-lukamu telah sepenuhnya pulih!"
"Dengan luka seperti itu, kau hanya akan mengantar nyawa jika masuk sekarang!" Lanjut Theo.
"Hmmmm… Itu terlalu lama! Dengan kau telah berada disini, itu berarti Kelompok kita akan segera kembali melakukan pergerakan!" Ucap Shadex. Merasa menunggu untuk lukanya pulih terlebih dahulu, itu hanya akan memakan terlalu banyak waktu.
__ADS_1
Kalimat jawaban dari Shadex sendiri, disambut oleh Theo dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Kau benar! Dengan aku telah berada disini, kita memang akan segera kembali bergerak, tapi bukan hanya itu saja, dengan keberadaanku, lukamu juga bisa di pulihkan dalam waktu yang lebih cepat!" Tutup Theo.