
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Ruang medis)
"Oe…!! Kau baik-baik saja?" Tanya Sasi, dengan ekspresi wajah datar kepada Zota.
"Aku masih bisa bertahan!" Jawab Zota. Sembari menggertakkan gigi, menggunakan tangan kanan logam miliknya, Zota membuat satu gerakan melindungi area wajah. Terus menatap tajam kearah dimana Theo berada. Masih di bungkus oleh derak liar api merah.
"Yah, apapun yang kau katakan, itu sudah cukup terlambat jika ingin keluar dari sini! Jadi, bertahan sebaik yang kau bisa! Kita hanya bisa menunggu keajaiban api ini entah bagaimana mereda dengan sendirinya!" Ucap Sasi.
"Semua akan percuma jika Tuan bisa bertahan tapi kau justru mati!" Tutup Sasi.
Saat ini, Sasi sedang mengeksekusi teknik bertahan terbaik miliknya. Membentuk suatu bola besi padat yang digunakan untuk menghadang aliran api liar yang telah sepenuhnya membakar seluruh ruang medis.
'Hmmmm… Aku sendiri tak tahu sampai kapan teknikku ini bisa bertahan!' Gumam Sasi dalam hati.
'Sebenarnya, api macam apa itu? Bahkan di realm yang lebih tinggi, tak ada jenis Mana api dengan intensitas dan daya rusak begitu parah seperti yang satu ini!'
'Nyala api yang bahkan lebih ganas dari milik Ras Elemental beratribut api!' Lanjut Sasi.
'Gaia Land.… Benar-benar menyimpan banyak misteri. Sama misteriusnya dengan aliran Mana tingkat dewa penciptaan yang secara kerkala menyamarkan keberadaan tanah ini dari pantauan realm-realm yang lebih tinggi!'
Sasi menutup gumamannya, dengan pandangan bergetar dan mulai menekan area dada ketika setitik darah, mengalir keluar dari salah satu sudut mulutnya.
"Hmmmmm….!!!"
Terjangan api ganas pada teknik pertahanan yang tanpa henti, telah mulai melukai ranah jiwa sang Goblin.
***
(Kedalaman Ranah Jiwa Theo)
Pada salah satu sudut terdalam ranah jiwa Theo, saat ini terlihat sesosok makhluk berbentuk seperti seekor burung, tepatnya adalah gagak yang seluruh tubuhnya di selimuti oleh api merah, sedang dengan liar mematuk sesuatu.
Yang di patuk oleh paruh tajam membara sang makhluk sendiri, adalah sebuah tanaman rimbun dimana memiliki beberapa cabang. Setiap cabang, mempunyai enam warna yang berbeda. Warna-warna tersebut adalah, biru, coklat, merah, hijau, putih, dan hitam.
Tanaman tersebut, tak lain adalah bentuk fisik manifestasi dari Element Seed tipe netral yang ada di pusat bagian terdalam ranah jiwa Theo.
Dan pada bagian batang tubuh Element Seed, terlihat penuh dengan puluhan ukiran formasi segel. Salah satu dari puluhan formasi segel yang terukir di permukaan kulit batang tubuh Element Seed tersebut, merupakan yang menjadi target patukan liar makhluk misterius.
Ukiran-ukiran formasi segel, merupakan segel yang akan terukir ketika Theo selesai melakukan prosesi Kontrak Tuan-hamba dengan setiap orang. Memiliki nama pada masing-masing ukiranya. Dan yang sedang di patuk oleh sang makhluk, adalah ukiran formasi segel Tuan-Hamba dengan nama Jasia.
Makhluk ini sepertinya sedang berusaha membatalkan kontrak Tuan-Hamba Jasia, dengan mencoba menghancurkan segel yang menjadi pengikat kontrak.
"Kiieeekkkkkk…..!!!!"
__ADS_1
Sang makhluk berteriak liar sembari menghembuskan aliran Mana api pekat pada ukiran formasi segel saat usahanya tak juga membuahkan hasil.
"Kiieeekkkkkk….!!!"
Makhluk tersebut, kembali akan melakukan sebuah serangan api ganas, sampai kemudian secara tiba-tiba….
*Wuuungg….!!!
Sebuah dengunan terdengar keras dari satu sudut lain ranah jiwa.
"Kau bisa diam tidak? Benar-benar mengganggu waktu tidurku!" Dengus sebuah suara. Berasal dari arah dengungan yang tadi menyebar.
Bersamaan dengan suara tersebut, sosok Belphegor yang memiliki tubuh seorang bocah kecil setengah kumbang, terbang melayang mendekat. Dalam posisi tidur tengkurap. Masih menutup mata.
"Kiieeekkkkkk….!!!"
Melihat kedatangan Belphegor, makhluk misterius kembali berteriak liar. Menatap dengan tatapan mengancam.
*Woooshhhh…..!!!
Namun, yang menyambutnya adalah sebuah terjangan Mana Besi pekat saat Belphegor mulai sedikit membuka matanya.
"Bukankah kubilang untuk tak berisik!" Ucap Belphegor, memasang ekspresi wajah kesal.
*Woooshhhh….!!!
Tepat ketika Belphegor menyelesaikan kalimatnya, sebuah aura berbeda menyebar dari sudut lain ranah jiwa.
"Ohhhh… Makhluk apa itu? Belp! Kenapa kau tak bilang jika kita kedatangan pengunjung?" Ucap Baal. Melompat dari suatu arah sembari memasang ekspresi wajah ceria. Benar-benar cocok dengan wujudnya yang merupakan bocah setengah kera berbulu emas.
"Menyingkir! Dia milikku! Aku menginginkan apinya!"
Baal baru saja menutup mulut, sampai tiba-tiba, tanpa riak kehadiran apapun, Mammon muncul mengambil posisi di tengah antara Belphegor dan Baal berada.
Enam ekor panjang Mammon bergerak lembut secara acak keberbagai arah, sementara enam matanya, menatap kearah makhluk misterius. Meski mengatakan bahwa ia menginginkan api dari makhluk yang ada di hadapannya, ekspresi wajah Mammon tampak sangat datar. Sebuah ekspresi yang seperti tak sedang menginginkan apapun.
Aura dari enam atribut Mana, kini juga mulai merembes keluar dari dalam tubuh Mammon.
"Kiieeekkkkkk….!!!"
*Wooossshhhh….!!!!
Merasa terganggu dengan kehadiran tiba-tiba dari tiga bocah di hadapannya, makhluk misterius berteriak marah sebelum tanpa ampun melempar derak api ganas kearah ketiga bocah.
*Wuuungg….!!!!
*Bzzzzzttt…..!!!!!
Namun, belum sempat derak api menyentuh ketiga bocah, hawa keberadaan lain menyeruak dari suatu arah, dilanjutkan dengan derak listrik berwarna ungu terang, menyambar api merah yang ganas. Seketika memukul balik dan menyebarkan aliran api kesegala arah.
"Sungguh bodoh! Kumpulan bocah laki-laki bodoh!" Bentak suara gadis kecil.
*Tap….!!!
Setelah bentakan tersebut, sosok Asmodeus, sang loli dengan tubuh setengah ular yang terlihat sangat menawan, muncul di hadapan tiga bocah dosa lainnya. Menatap marah kepada Belphegor.
__ADS_1
"Bukankah ini adalah giliran waktumu untuk berjaga? Kenapa malah membiarkan makhluk asing itu masuk?" Bentak Asmodeus.
Satu bentakan yang di balas dengan ekspresi wajah malas oleh Belphegor.
"Hmmmm…. Bukankah aku sudah mengatakan untuk tak memasukkanku dalam bagian jaga, itu hanya mengganggu waktu tidurku!" Jawab Belphegor. Dengan nada tak peduli.
"Bodoh! Kerjamu hanya tidur, tidur, tidur terus!" Bentak Asmodeus.
"Diam! Mau bagaimana lagi? Aku adalah manifestasi dari kemalasan!" Jawab Belphegor.
"Lagipula, kenapa juga kau marah? Itu tak cocok? Kau bukan Ammon!" Lanjut Belphegor.
"Bagaimana tidak? Hanya tugas sederhana, menjaga untuk beberapa jam! Bergantian dengan yang lain! Lagipula, jika sampai Element Seed yang ada di sana kehilangan energi kehidupan, maka Master akan mati! Jika Master mati, maka kita juga akan mati! Bodoh!" Bentak Asmodeus.
"Kalian juga bodoh! Kenapa hanya diam saja?" Tambah Asmodeus, kini melihat bergantian kearah Baal dan Mammon.
"Kiiieeeekkkkkk……!!!!"
*Kraaakkkk…..!!!!
*Kraaakkkk….!!!
Tak lama setelah Asmodeus selesai membentak, makhluk misterius kembali berteriak liar. Kali ini dibarengi dengan intensitas Mana Api yang terfokus padat pada bagian dadanya.
"Ohhhhh….!!!"
Melihat hal tersebut, Baal dan Mammon secara refleks bergumam. Baal tentu saja ingin mencicipi rasa api intens di hadapannya, sementara Mammon, semakin menginginkan api tersebut untuk menjadi miliknya.
*Kraaaaaaakkkkk….!!!!
Derakan kembali terdengar ketika intensitas Mana Api yang terbentuk, mulai berubah menjadi sebuah bola api raksasa.
*Woooshhhh….!!!
Kemudian, dengan kepakan kedua sayap, makhluk misterius melempar bola api.
*Wunggg….!!!
*Booooommmmm….!!!
Namun, untuk kedua kalinya, sesuatu berhasil menahan serangan sang makhluk misterius, kali ini berbentuk kubah pelindung raksasa yang memiliki intensitas Mana Besi kuno pekat.
"Tuuuuuu…..!!!"
Satu suara menggemaskan, terdengar dari suatu arah.
*Wuuungg….!!!!
Bersamaan dengan suara tersebut, aliran Mana Gravitasi kuat yang menambah bobot dari lingkungan sekitar, juga mulai menyebar, menekan sepenuhnya makhluk misterius yang kini jatuh dari terbangnya.
Joy Kecil melayang mendekat, sementara diatas cangkangnya, seorang gadis kecil sedang duduk sembari memainkan kedua kaki layaknya sedang duduk diatas kursi taman.
---
Andai tiap hari like dan komen stabil seperti chapter sebelumnya, tanpa harus curhat. :)
__ADS_1