
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_______________________________________
*Tap…!!!
Theo yang telah menyelesaikan proses penstabilan Meridian, melangkah keluar dari ruang kultivasi. Dan tepat ketika Theo baru mengambil satu langkah dari pintu ruang kultivasi, Madam Es, salah satu tetua Paviliun Harta yang juga merupakan petugas khusus penjaga stan Bisnis Level 5 di lantai 3, ternyata sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk ruang kultivasi. Wanita sepuh ini tampak telah menunggu dan seolah tahu bahwa Theo akan keluar dari ruangan.
"Ohhh… Salam Madam Es!" Ucap Theo. Menyapa sang wanita tua.
Mendengar sapaan serta salam tangan dari Theo, Madam Es tak segera memberi balasan apapun. Hanya diam menatap kearah pemuda di hadapannya tersebut.
Sampai kemudian, raut wajah Madam Es yang pada awalnya terlihat begitu tenang, seketika berubah menjadi tak menentu ketika sorot matanya bertemu dengan tatapan mata Theo.
'Sorot mata dan juga aura tubuh macam apa! Sungguh penuh dominasi!' Gumam Madam Es dalam hati. Secara tak sadar mulai mengambil sedikit langkah mundur.
Ketajamam yang memancar seperti tanpa cela dari kedua mata Theo, yang kemudian dikombinasikan dengan semerbak aura yang masih tertinggal imbas kenaikan kualitas tubuh fisik, menyebabkan Madam Es seketika merasa begitu tertekan saat berhadapan dengan Theo.
Mendapat satu dorongan aneh dimana seolah menyuruh agar ia menundukkan kepala. Begitu rendah diri hingga tak layak menatap mata Theo secara langsung.
"Madam Es, kau baik-baik saja?" Tanya Theo pada akhirnya. Saat melihat Madam Es bersikap tak wajar.
"Ahhh… Itu… Tuan muda, apa yang…" Madam Es hendak menanyakan sesuatu, sampai kata-katanya tertahan di tenggorokan.
__ADS_1
"Mohon maaf, wanita tua ini hanya sedikit terkejut, lebih tepatnya kurang paham!" Ucap Madam Es, menelan pertanyaan yang sempat akan ia lontarkan sebelumnya. Tampak telah berhasil mendapatkan kembali sedikit ketenangan.
Madam Es yang begitu terkejut dengan perubahan drastis pancaran aura dari dalam tubuh Theo, dimana sungguh berbeda dari sebelum Theo memasuki ruang kultivasi beberapa hari yang lalu, tadinya sempat ingin menanyakan tentang hal apa yang sebenarnya dilakukan Theo di dalam ruang kultivasi. Hingga membuat ia mampu mendapat peningkatan aura yang begitu intens, hanya dalam beberapa hari saja.
Namun begitu, Madam Es yang merupakan salah satu tetua Paviliun Harta, dimana jelas memiliki pengalaman cukup mendalam di dunia Hunter maupun bisnis, segera mengurungkan niatnya untuk bertanya tepat ketika akal sehat serta ketenangannya berhasil ia dapatkan kembali. Merasa itu adalah hal yang cukup tabu saat ia terlalu ingin tahu urusan pribadi seseorang, terlebih lagi, orang itu adalah pelanggan khusus Paviliun Harta seperti Theo.
Disisi lain, Theo sendiri yang juga bisa membaca gelagat Madam Es, memutuskan hanya diam. Ia sebenarnya tahu bahwa wanita tua di hadapannya tersebut cukup tertarik dengan pancaran aura dari kenaikan tubuh fisiknya. Hanya saja, seperti Madam Es, Theo yang berpengalaman di dunia Bisnis, menolak untuk memberi penjelasan apapun. Karena memang itu bukan urusan wanita tua tersebut. Theo hanya membalas kata-kata Madam Es dengan senyum tipis sederhana.
"Tuan muda, apakah ada satu atau dua hal lain yang kau perlukan dari Paviliun Harta? Manajer secara khusus memberi intruksi agar aku menangani seluruh kebutuhanmu dilantai 3 setelah keluar dari ruang kultivasi!" Ucap Madam Es. Menekan semua rasa keingintahuan serta berusaha menahan agar tak kembali jatuh dalam kondisi tertekan oleh pancaran aura penuh dominasi Theo dengan langsung mengalihkan pembicaraan pada topik bisnis.
"Hmmm… Aku memang perlu beberapa hal sederhana sebelum meninggalkan tempat ini, kuharap bisa kalian sediakan dalam tempo waktu yang cukup singkat!" Balas Theo. Sepenuhnya telah mengabaikan reaksi Madam Es sebelumnya. Kini hanya fokus ke urusan bisnis.
"Tak perlu sungkan, langsung saja! Katakan kebutuhanmu? Sumberdaya macam apa yang ingin kau beli?" Tanggap Madam Es.
"Cukup sederhana, aku ingin membeli semua persediaan sumberdaya tanaman obat serta bahan-bahan dasar Alchemy lainnya di lantai 3 ini!" Ucap Theo. Menyampaikan apa yang ia inginkan.
Mendengar kata-kata Theo yang mengatakan ia ingin kembali mengosongkan gudang penyimpanan Paviliun Harta lantai 3 seperti di kunjungan terakhir, senyum di wajah Madam Es yang sejak beberapa saat lalu sempat hilang, kini mulai kembali mengembang.
Pada akhirnya, Theo melangkah keluar dari Paviliun Harta dengan terus mempertahankan senyum sederhana di wajahnya. Ia menukar seluruh persediaan bahan Alchemy lantai 3 Paviliun Harta, hanya dengan beberapa botol obat berisi Foundation Pill. Untuk sekali lagi secara tak langsung merampok bandar dagang terbesar Tartarus Land tersebut. Perampok yang mendapat pelayanan kelas VIP.
*****
(Beberapa jam kemudian)
Bersama Gugio, Gris, Pion pertama, dan Pion kedua, kelompok Theo yang masih memakai para Demonic Beast Tikus Tanah sebagai tunggangan, menyempatkan untuk mampir ke Desa Teria.
Gugio meminta sedikit waktu pada Theo agar ia bisa menyerahkan uang hasil penjualan sumberdaya Demonic Beast kelas tinggi dalam perjalanan sebelumnya, kepada pak tua Gaho selaku kepala desa. Sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan setelah semua urusan di desa Teria selesai.
__ADS_1
Dipimpin oleh Gugio yang memegang peta, kelompok Theo bergerak menuju Lembah Demonic Beast kelima. Lembah terakhir yang harus di selesaikan Theo dalam tantangan Kastil Raja Dewa Air.
****
(3 Minggu kemudian)
Perlu waktu hampir sebulan menunggang Demonic Beast Tikus Tanah, mengarungi daerah padang gersang tandus Tartarus Land, hingga akhirnya ketika sampai di salah satu sudut terjauh Benua Azure, dimana berlokasi dekat dengan daerah yang berbatasan laut, Gugio yang memimpin sebagai petunjuk arah, menghentikan pergerakan kelompok saat merasa lokasi tujuan, telah dekat.
"Tuan muda, kita telah sampai di perbatasan Lembah Demonic Beast kelima! Kau tinggal menuju daerah bibir pantai, lokasinya tak jauh dari sana!" Ucap Gugio, memberi petunjuk lokasi secara sederhana pada Theo.
"Terimakasih! Aku sudah bisa merasakan dari sini! Tinggal mengikuti aura Chi Kegelapan pekat yang ada di depan!" Ucap Theo. Seraya mulai mengambil posisi turun dari punggung Boss Tikus Tanah tunggangannya.
Tindakan Theo, segera diikuti oleh empat orang lain. Seluruh anggota kelompok, turun dari tunggangan masing-masing.
"Gugio, Gris, sebelum pergi, aku ingin menyampaikan terimakasih pada kalian berdua! Karena bagaimanapun juga, tanpa kalian, aku jelas akan cukup kesulitan dalam mencari Lembah-lembah Demonic Beast!" Ucap Theo. Menatap bergantian kearah Gugio dan Gris.
"Sampaikan salamku pada pak tua Gaho!" Lanjut Theo, seraya melempar masing-masing sebuah Spacial Ring untuk Gugio dan Gris.
"Tuan muda, kenapa kau mengatakan hal macam ini?" Ucap Gris, setelah menangkap Spacial Ring pemberian Theo. Raut wajah gadis muda itu berubah cemas begitu mendengar kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Theo. Dimana cukup jelas merupakan kalimat perpisahan.
Pertanyaan bernada cemas Gris, hanya disambut Theo dengan senyum tipis sederhana untuk sementara waktu. Sebelum tatapan Theo, berganti kearah Pion Pertama dan Pion kedua.
"Untuk kalian berdua, aku punya tugas khusus terakhir! Untuk kedepan, kalian harus mendedikasikan diri sebagai Hunter pelindung desa Teria! Lakukan tugas ini sempanjang kalian masih hidup dan bisa bernafas!" Ucap Theo.
Intruksi yang segera disambut oleh Pion Pertama dan Pion kedua, dengan menganggukkan kepala. Sama sekali tak memiliki keluhan apapun.
"Baiklah kurasa sudah cukup, jika takdir mengijinkan, aku berharap suatu saat kita bisa berjumpa lagi, meskipun memang kemungkinannya cukup kecil!" Ucap Theo. Menutup kalimat dengan melakukan gerakan mengayun tangan. Melempar lima bola aliran Mana Cahaya yang segera melesat cepat untuk menembus kepala para Tikus Tanah. Membunuh kelima Demonic Beast kelas tinggi tersebut dalam sekejap.
__ADS_1
"Mereka akan kembali menjadi liar saat menyadari hawa keberadaanku lenyap, jadi anggap tubuh-tubuh Tikus Tanah tersebut sebagai hadiah tambahan!"
"Pergi dari lokasi ini sekarang juga, tak perlu lagi menunggu!" Ucap Theo untuk terakhir kalinya. Sebelum sosoknya tiba-tiba lenyap.