
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Setelah kejadian di depan pintu gerbang Desa Teria, tim perburuan yang berhasil membunuh seluruh Demonic Beast Lipan Merah dengan cukup mudah, akhirnya menutup hari dengan mulai mengolah sumberdaya yang mereka dapat.
Pengolahan sumberdaya, sengaja dilakukan tepat di tengah desa, agar setiap penduduk, bisa melihat prosesnya.
Proses pengolahan sumberdaya sendiri, berlangsung cukup meriah. Seluruh penduduk, tampak sangat bahagia. Bagaimana tidak, dengan sumberdaya berlimpah yang mereka dapat hari ini, itu akan benar-benar mencukupi kebutuhan desa untuk jangka waktu yang lumayan lama.
Setiap orang, baik itu dewasa, orang tua, bahkan anak-anak, tak mau ketinggalan untuk memberi kontribusi. Memilah-milah bagian tubuh dari Demonic Beast Kalajengking Haus Darah dan Lipan Merah. Menggolongkan dari yang paling berharga, sampai yang paling sederhana. Sumberdaya tersebut nantinya akan di jual ke kota terdekat.
Gugio sendiri, menyempatkan untuk memberi beberapa intruksi pada anggota tim perburuan agar mengawasi dengan baik proses pengolahan sumberdaya. Sebelum kemudian, sebagai bentuk ucapan terimakasih, Gugio mengundang Theo untuk menikmati jamuan makan.
***
(Kediaman Kepala Desa)
Mengitari sebuah meja sederhana, dimana sekarang sudah terdapat cukup banyak makanan dengan aroma harum yang menggugah selera makan, Gugio, Pak tua Gaho, Gris, serta Theo, sedang duduk bersila.
Situasi berkembang sedikit canggung karena tak ada yang mulai membuka percakapan terlebih dahulu. Keempat orang yang sedang berada di dalam ruangan, hanya diam menatap meja makan.
"Tuan muda, perkenalkan! Ini adalah pak tua Gaho, Kepala Desa kami!" Ucap Gugio, akhirnya menjadi yang pertama berbicara. Memulai obrolan dengan memperkenalkan status pak tua Gaho.
"Salam!"
Theo segera memberi salam tangan. Seraya memasang senyum sederhana begitu tahu bahwa pria tua di hadapannya, ternyata adalah sang Kepala Desa.
Sementara pak tua Gaho, hanya membalas salam Theo dengan anggukan kepala singkat. Terlihat jelas masih tak begitu menyukai pemuda di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Pak tua Gaho! Pemuda ini adalah tuan muda Theo! Seorang Hunter kelas tinggi yang membantu tim perburuan! Berkat dialah kami bisa membawa hasil bagus dalam perburuan kali ini!" Ucap Gugio, melanjutkan sesi perkenalan dengan mengenalkan Theo pada sang Kepala Desa.
"Hmmmm… Hunter kelas tinggi?" Gumam pak tua Gaho, seraya mulai memicingkan mata. Secara terang-terangan memandang pada Theo dengan raut wajah penuh kecurigaan.
"Anak muda! Katakan saja sejujurnya, apa yang kau inginkan dari kami?" Tanya pak tua Gaho.
Pertanyaan yang tentu saja disambut oleh Theo dengan mengerutkan kening.
Namun, sebelum Theo sempat untuk memberi tanggapan, Gugio yang saat ini memasang wajah tak enak hati begitu melihat ekspresi Theo, segera mendahului.
"Pak tua, apa maksud kata-katamu?" Tanya Gugio.
"Hmmmm… Apa yang perlu di pertanyakan? Bukankah maksud dari kata-kataku sudah cukup jelas?" Tanggap pak tua Gaho. Sama sekali tak menoleh pada Gugio, tatapan matanya, masih sepenuhnya terkunci kearah Theo.
"Kakek…!!!"
Sampai akhirnya, Gris yang dari tadi hanya diam, mulai ikut berbicara.
"Sebenernya apa yang salah dengan kepalamu? Saat aku meninggalkan rumah untuk menjadi bagian dari tim perburuan bulan ini, kau habis terbentur atau bagaimana?" Ucap Gris. Memasang raut wajah kesal.
"Dari tadi, kulihat kau selalu memasang sikap tak bersahabat pada Tuan muda Theo! Apa masalahmu?" Lanjut Gris.
"Menjaga keamanan apa?" Bentak Gris. Semakin kesal.
"Aku adalah cucumu! Jadi, paling paham jalan pikiranmu itu!"
"Jika pada masa muda kau adalah lelaki br3ngsek yang suka mempermainkan wanita, tak juga berarti semua pria muda sama sepertimu!"
"Selalu saja membuat malu dan kesal ketika ada lelaki yang berada di sekitarku! Tuan muda Theo, bukanlah orang sepertimu!" Dengus Gris.
"Asal kau tahu, jika tak ada Tuan muda Theo yang memberi uluran tangan, kau mungkin tak akan bisa melihatku lagi!"
"Terlebih, bukan hanya menyelamatkanku dari Kalajengking Haus Darah, ia bahkan begitu murah hati memberi uluran tangan tambahan dengan menambah jumlah sumberdaya berharga kita dari Lipan Merah!"
"Jadi, berhenti bersikap menyebalkan kepadanya!" Tutup Gris. Sengaja membulatkan wajah sebagai bentuk pernyataan pada sang kakek, bahwa ia sekarang sedang benar-benar marah.
"Hmmmm… Kau masih terlalu muda dan tak memiliki pengalaman! Jadi, aku hanya akan memaklumi!" Ucap pak tua Gaho. Tampak masih mempertahankan ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Namun, aku cukup kecewa padamu Gugio!" Lanjut pak tua Gaho.
"Sebagai sosok yang paling senior, kau justru ikut terbawa suasana! Tak menanggapi situasi dengan cermat!"
Kata-kata pak tua Gaho, segera disambut oleh Gugio dan Gris dengan raut wajah heran. Merasa sang Kepala Desa, memasang sikap terlalu serius. Tak seperti biasa mereka kenal.
Sementara disisi lain, Theo yang saat ini menjadi topik utama penyebab ketegangan suasana, justru mulai memasang senyum tipis. Tak melepaskan tatapan pada pak tua Gaho, tampak tertarik. Mendengar dengan baik setiap kalimat yang keluar dari mulut sang kepala desa.
"Masih belum paham juga?" Gumam pak tua Gaho.
"Anak muda! Aku memang harus berterima kasih karena kau telah memberi banyak bantuan pada desa Teria! Terutama kau juga telah menyelamatkan nyawa cucuku Gris!" Lanjut pak tua Gaho. Tatapan matanya, semakin tajam kearah Theo.
"Namun, seperti kataku di awal, langsung saja! Sampaikan tujanmu yang sebenarnya!"
"Seorang Hunter kelas tinggi, bermurah hati membantu sekelompok tim pemburu kelas rendah! Dilanjutkan dengan mengikuti mereka kembali pulang ke desa! Desa kecil anta-berantah yang tak penting!"
"Jelas kau memiliki maksud dan tujuan tertentu!" Tutup pak tua Gaho.
"Pak tua!"
"Kakek… Cukup…!!"
Mendengar sang kepala desa masih mempertahankan sikap kerasnya, Gugio dan Gris, menjadi semakin tak enak hati kepada Theo. Keduanya hendak menanggapi, sampai tiba-tiba, Theo mendahului.
"Tuan kepala desa!" Ucap Theo.
Kata-kata yang keluar dari mulut Theo setelah dari tadi hanya diam mengamati sembari memasang senyum tipis sederhana, segera membuat Gugio dan Gris diam. Ikut memperhatikan kearah Theo. Keduanya tampak khawatir dengan kemungkinan bahwa Theo akhirnya tersinggung.
'Kakek bodoh! Menyebalkan! Awas saja jika setelah ini Tuan muda Theo segera pergi!' Gumam Gris dalam hati. Benar-benar tak terfikir bahwa Theo memiliki niat lain seperti yang di curigakan pak tua Gaho.
Namun, kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Theo, segera membuatnya memasang wajah terkejut.
"Sejujurnya, aku memang memiliki maksud tertentu dalam kunjungan ke desa Teria ini!" Ucap Theo.
Bukan hanya Gris, Gugio juga kini memasang wajah terkejut. Sebelum pada detik berikutnya, ekspresi di wajahnya, berubah waspada.
"Sebuah peta! Desa kalian harusnya memiliki sebuah peta khusus yang dapat menuntun ke lokasi yang disebut dengan Lembah Demonic Beast!" Lanjut Theo.
__ADS_1
"Aku ingin meminjam peta itu untuk beberapa waktu!" Tutup Theo.