Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)

Seven Deadly Child Vol 2 (Conqueror)
81 - Siapa Selanjutnya?


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Ohhh… Itulah salah satu poin penting dari penawaran yang hendak kuberikan!" Tanggap Theo.


"Dari pada harus saling memusnahkan satu sama lain, kenapa kita tidak menentukan pemenang pertempuran dengan pertarungan satu lawan satu?"


"Aku dan tiga orangku, menantang masing-masing dari Kapten Perompak untuk melakukan duel! Dan kelompok manapun yang berdiri paling akhir dari duel ini, dianggap sebagai pemenang! Yang kalah harus tunduk!" Ucap Theo. Menyampaikan tawarannya. Seraya menarik kembali Medan Gravitasi.


"Duel?" Gumam San Juan, begitu mendengar tawaran Theo. Kini bisa bernafas dengan baik saat tekanan Medang Gravitasi yang menyelimuti seluruh pulau, telah menghilang.


"Ya, duel! Ini adalah penawaran yang sangat menguntungkan bagi kalian!" Ucap Guan Zifei. Menggantikan Theo menjawab.


"Bagaimanapun juga, Kelompok Bandit Serigala yang datang kesini hanya empat orang! Sementara kalian berjumlah sebelas! Empat banding sebelas harusnya terdengar bagus bukan? Dari pada satu banding sembilan!" Lanjut Guan Zifei, memakai perbandingan jumlah yang kini berbalik menguntungkan para Perompak, sebagai perumpamaan.


"Hmmmm… Apa yang membuatku percaya bahwa kalian benar-benar akan pergi jika kalah dalam duel?" Tanya San Juan.


"Tidak ada! Lagipula, kalian tak punya pilihan!" Jawab Theo cepat. Mengembalikan pada topik bahwa para Perompak sebenarnya sudah di takdirkan untuk kalah sejak awal jika benar-benar harus bertempur secara normal.


Jawaban Theo, segera disambut tatapan benci oleh San Juan dan para Kapten Perompak yang mendengarnya.


"Namun, jika kalian menginginkan jaminan, maka bisa kutawarkan reputasiku!" Tambah Theo, sebelum para Kapten Perompak memberi tanggapan.


"Hmmmm…! Reputasi?" Dengus San Juan.


"Ya…! Reputasi dari seorang yang telah membangun Kelompok Bandit Serigala! Kelompok yang dalam 2 tahun terkahir telah merubah seluruh konstalasi lama kelompok Knight di wilayah Gurun East Region!" Jawab Theo. Dengan tatapan mata penuh ketajamam yang begitu memikat. Sebuah ketajaman yang menyebabkan orang yang melihatnya, akan memiliki dorongan untuk menundukkan kepala.


"Lagipula, seperti yang kusampaikan diawal, kalian tak punya pilihan! Karena dilihat dari sudut pandang manapun, ini adalah tawaran besar yang jelas tak bisa kalian tolak!" Tutup Theo.


Bertepatan dengan Theo menyelesaikan kalimatnya, situasi seketika menjadi hening. Tak ada tanggapan apapun dari para Kapten Perompak. Seluruh dari mereka, hanya menatap kearah San Juan. Menyerahkan pada pria tersebut untuk mengambil keputusan.


Sampai kemudian, setelah beberapa waktu…


"Bagaimana duel akan dilakukan?" Tanya San Juan.

__ADS_1


Pertanyaan yang disambut oleh Theo dengan mulai memasang satu senyum tipis yang hampir tak terlihat.


"Sederhana! Pilih orangmu! Kemudian aku akan memilih orangku! Keduanya akan melakukan duel, dan pemenang duel akan melanjutkan untuk melawan orang kedua dari kelompok yang kalah!" Jawab Theo.


"Begitu seterusnya sampai ketika tak ada orang lain lagi yang tersisa dari salah satu kelompok, maka kelompok yang masih memiliki jumlah anggota, dianggap sebagai pemenang!" Lanjut Theo.


"Untuk aturan lain dalam duel, agar adil, aku menawarkan pada kelompok kalian menambahkan!" Tutup Theo.


"Hmmmm… Sebagai seorang lawan yang jelas-jelas memiliki keunggulan mutlak, tidakkah kau merasa bahwa dirimu itu cukup dermawan?" Tanya San Juan.


"Cepat putuskan saja aturan tambahan dari kalian!" Jawab Theo singkat.


Mendengar itu, dipimpin oleh San Juan, para Kapten Perompak melakukan diskusi ringan untuk beberapa waktu.


"Kami hanya menambahkan satu aturan! Yakni tak ada batasan apapun dalam duel? Baik itu penggunaan senjata, ataupun teknik tertentu!" Ucap San Juan. Sesaat setelah kelompoknya selesai berdiskusi.


Aturan tambahan yang segera disambut Theo dengan satu senyum lebar.


"Apa kau yakin?" Tanya Theo.


"Hmmmm…"


Mendengar pertanyaan Theo, terlebih melihat senyum lebar di wajahnya, San Juan entah kenapa merasa ada yang tak benar. Namun, itu sudah terlambat untuk menarik lagi aturan tambahan yang kelompoknya putuskan. Karena jika ia melakukan hal tersebut, itu sama saja dengan kelompoknya terkesan tak tahu malu serta tak punya harga diri.


"Baiklah kalau begitu! Siapa Kapten pertama yang akan mewakili kalian?" Tanya Theo.


Mendengar itu, San Juan segera memberi lirikan pada salah satu Kapten. Tampak jelas dalam diskusi yang mereka lakukan sebelumnnya, urutan petarung dalam duel juga telah ditentukan.


*Tap…!!!


Kapten yang dilirik San Juan, segera melakukan lompatan maju kedepan, sementara San Juan, melompat mundur untuk kembali dalam kelompoknya.


"Aku adalah Kapten Perompak Gurita Hitam! Siapa yang akan menjadi lawan pertamaku?" Ucap sang kapten Perompak. Pria berkelas King tahap Langit ini, menatap tajam kearah kelompok Theo dengan raut wajah bengis.


"Razak…!" Gumam Theo.


"Baik…!" Jawab Razak singkat. Tanpa bertanya lebih lanjut, segera melompat kedepan untuk menjadi petarung pertama Bandit Serigala.


"Hmmmm… Hanya seorang bocah berkelas King tahap Bumi!" Dengus Kapten Perompak Gurita Hitam. Ketika melihat Razak mendarat di hadapannya.


"Bisa kita mulai duelnya?" Tanya Razak.


"Aku sebenarnya berharap akan mendapat lawan sepadan! Mungkin pria muda berkelas King tahap Langit yang ada disana!" Ucap Kapten Perompak Gurita Hitam. Melirik kearah Zhou Kang.

__ADS_1


"Tak disangka kalian malah memilih orang terlemah untuk berhadapan denganku!"


"Bocah! Mulai saja kapanpun kau mau!" Bentak Kapten Perompak Gurita Hitam pada akhirnya.


*Taaappp…!!!


Bersamaan dengan kalimat terakhir yang di ucapkan Kapten Perompak Gurita Hitam, Razak tanpa mengatakan apapun, menerjang maju kedepan. Dalam hitungan detik, berubah kedalam mode Meridian Knightnya.


"Menempah Tubuh Surgawi!" Gumam Razak. Dalam langkah menerjangnya, melakukan satu himpunan Mana Besi pekat pada kepalan tinju tangan kanannya.


*Woooshhhh…!!!


Derak aliran Mana Besi pekat, segera terfokus pada tangan kanan Razak. Menyebabkan Kapten Perompak Gurita Hitam yang merasakan kepadatan Mana Besi tersebut, mulai membelalakkan mata lebar.


"Tinju Dewa Besi!"


*Boooommmm…!!!


Terperangkap lengah karena meremehkan lawannya, Kapten Perompak Gurita Hitam berakhir harus menerima pukulan Razak mendarat dengan sangat telak pada dadanya. Pria ini tak sempat bahkan untuk menghimpun pertahanan Mana apapun pada tubuhnya.


"Guaaah…!!!!"


Berakhir terpental dengan kencang menerobos pepohonan pulau kecil yang menjadi lokasi duel. Memuntahkan banyak darah segar, tubuh Kapten Perompak Gurita Hitam hanya berhenti ketika mendarat keras pada laut disisi lain pulau kecil.


Pria malang ini mati dalam kondisi mengenaskan. Area dada yang menjadi target pukulan Razak, kini penuh dengan lumuran darah. Berlubang tembus depan belakang.


"Apa itu tadi?" Gumam salah satu Kapten Perompak.


"Aliran Mana Besi yang begitu murni!" Tanggap Kapten lainnya.


"Bukan hanya itu! Bentuk Meridian Knight dan Teknik bocah ini tidaklah sederhana! Jangan remehkan dia jika tak ingin berakhir mati konyol seperti Kapten Perompak Gurita Hitam!" Ucap San Juan. Tak seperti para Kapten Perompak lain, pria ini menatap lekat kearah Razak.


"Boss…! Dia mati! Apakah itu menjadi masalah?" Tanya Razak. Ketika situasi sekitar mulai berkembang menjadi hening.


Para Kapten Perompak, masih memandang dengan tatapan tertegun kearah dimana tubuh kawannya tadi terpental.


"Ohhh… Satu mati tak masalah!" Jawab Theo.


"Itu akan menjadi pelajaran berharga bagi para Kapten yang tersisa, untuk tidak meremehkan lawan mereka!" Lanjut Theo. Sembari memasang satu senyum sederhana.


"Baiklah!" Tanggap Razak singkat. Sebelum menoleh kearah Kelompok Kapten Perompak Laut Hijau.


"Siapa selanjutnya?" Tanya Razak. Dengan tatapan mata khas miliknya yang teguh dan serius.

__ADS_1


__ADS_2