
Hari ini Afrizal tidak ke kantor begitu pun juga Reyna . semua pekerjaan di kantor Reno lah yang akan mengurus nya dan di toko Sifa lah yang akan mengambil alih.
persiapan pernikahan hari ini sudah terselesaikan tinggal menunggu penghulu. hanya di hadiri orang orang terdekat saja bahkan orang tua Afrizal dan Reyna tidak mengetahui pernikahan ini.
mereka berharap di saat yang tepat akan memberi tahu pada orang tua mereka.
"Ella apa kau baik baik saja? "
"tenang lah" ucap Reyna sambil memegang pundak Bella yang duduk di meja rias .
seketika air mata menetes begitu saja dipipi Bella. Ia merasa harus bahagia atau bersedih, memang benar dia mencintai Afrizal tapi tidak dengan cara seperti ini.
itu salah !
ia akan menjadi benalu dalam pernikahan Afrizal dan Reyna.
melihat keadaan Bella seperti itu Reyna menggenggam kedua tangan Bella dan memberikannya kekuatan untuk tetap tersenyum.
"Ella ... apa kamu menyesalinya" Reyna mengambil tisu dan mengelap air mata Bella.
"Bella hanya menggeleng kan kepala nya. tandanya ia tidak menyesal sama sekali".
" maafkan aku Ella , sudah lah , saat nya kamu harus bahagia"
Reyna mencoba memberikan senyum termanis buat sahabatnya itu.
"aku tidak apa apa Ella "
Bella hanya terdiam saja tanpa mengeluarkan satu kata pun.
suara dari balik pintu memanggil keduanya untuk segera turun kebawah.
"Nyo nya Reyna pak penghulu dan beberapa orang sudah datang " seru Bi Imah.
"ayo Bella... sini biar aku yang menggandengmu saja,,,
__ADS_1
kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu"
mereka beranjak dari tempat duduk lalu menuju kebawah.
Bella sangat cantik dengan memakai gaun berwarna putih yang elegan dan juga sederhana. apalagi dengan hijab yang ia gunakan. dihiasi mahkota kecil dengan mutiara yang warnanya senada dengan baju yang ia kenakan, sungguh wanita yang sempurna. Afrizal pasti akan bahagia bersama Bella.
Reyna turun dengan menggandeng tangan Bella. beberapa padang mata tertuju pada Bella terutama Afrizal.
"dia begitu memperhatikan penampilan Bella sampai tidak berkedip sama sekali. tatapan yang digambarkan dengan penuh kekaguman akan kecantikan Bella".
yah begitu lah yang ada dipikran Reyna saat ini.
Reyna menuntun Bella duduk di samping Afrizal . tatapan Afrizal kemudian berbalik kearah Reyna. tatapan yang begitu penuh arti sepertinya ia pasrah dan ikhlas dengan pernikahan ini. Reyna pun hanya menganggukkan kepala meyakinkan Afrizal bahwa dia baik baik saja.
ijab kabul sudah di ucap kan para saksi sudah mulai bersahut sahut an dengan sebutan " sah, sah, sah" itu terdengar jelas di telinga Reyna.
setetes air matanya jatuh begitu saja melewati pipinya, pandangannya menjadi samar samar dan mulai gelap kemudian dia memegang dadanya yang mulai Teresa sakit.
ia berusaha mencoba bangkit dari tempat duduk namun...!
Bella terburu buru masuk ke kamar nya dan mengganti gaunya,kemudian menuju kamar Reyna.
Reyna masih saja terbaring dan belum sadarkan diri.
Bi imah Berusaha mengoleskan minyak kayu putih kehidung Reyna agar dia bisa cepat sadar.
tak lama kemudian Reyna mencoba membuka matanya perlahan. ditatapnya Bella ,Afrizal dan Bi imah seperti sedang menunggu nya.
"ada apa nii" guman Reyna dengan Nada lemas nya dan mencoba bangun tapi ditahan oleh Afrizal.
"jangan bangun dulu ina... istrahatlah " Afrizal memberikan minum agar Reyna bisa lebih tenang.
"maafkan aku Ella " ucap Reyna Lirih.
Mendengar itu Bella langsung duduk di Sisi ranjang dan memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"kamu kenapa inaa... kok tiba tiba pingsan sih" tanya Bella.
"gak apa apa kok Ella mungkin aku cuma kelelahan saja,,atau mungkin kurang tidur saja, kalian pergilah biar Bi Imah yang menjagaku disini"
Bella dan Afrizal keluar dari kamar Reyna. mereka tau jika menolak apa yang Reyna katakan bisa membuat dia marah.
melihat kepergian keduanya Reyna meneteskan air mata entah air mata bahagia atau sebaliknya.
hanya dia yang bisa mengartikan perasaanya saat ini.
Bi imah mengusap pipi Reyna lembut dan menghapus air matanya. ia merasa memahami perasaan Reyna saat ini. meskipun Reyna terlihat sangat cuek tapi Bi imah tau Reyna punya Sisi baik dan perhatian.
ia juga sudah menganggap Reyna seperti anak sendiri.
tangisan Reyna semakin menjadi jadi saat mendapatkan perlakuan lembut dari Bi imah. ia bangun dan memeluk erat Bi imah.
dari luar ia kelihatan tegar namun siapa sangka Reyna yang cuek egois kasar juga sama seperti wanita pada umumnya yang mempunyai perasaan .
.
.
.
.
.
.
.
.
lanjut ☺☺☺
__ADS_1