Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 10. Undangan Pesta.


__ADS_3

Mama Falesha dan kedua putrinya sangat terkejut mendengar ancaman dari oma Agni. "Apa ibu tidak keterlaluan?" Dia menatap sang mertua dengan tajam. "Memangnya kami mau melakukan apa sih, sampai ibu mengancam seperti ini?" Dengusnya sebal.


"Kalau kau tidak ingin melakukan apapun, kenapa kau keberatan?" tanya oma Agni membuat wanita paruh baya itu terdiam dan hanya bisa menatap sebal saja. "Pokoknya aku tidak mau ada keributan yang tidak penting di sini, apa kalian semua paham?"


Jean dan Aura memilih untuk menganggukkan kepala mereka dari pada membuat oma Agni marah, karena kalau sampai wanita tua itu kesal, maka habislah mereka.


Kemudian oma Agni mengajak mereka semua untuk makan siang bersama, di mana waktu makan memang sudah sedikit terlambat.


Semua orang makan dengan tenang, bahkan hanya ada suara garpu dan sendok saja yang terdengar di ruangan itu.


Megan menelan makanannya dengan susah payah akibat suasana yang terlalu tegang. Beberapa kali dia melirik ke arah Rolize, tetapi lelaki itu merasa tidak peduli dan malah khusyuk menikmati makanannya.


"Kenapa suasana jadi begini, sih? Ini sebenarnya lagi makan, atau proses eksekusi?" Megan benar-benar tidak bisa menikmati makanan yang ada di hadapannya, padahal saat ini dia merasa lapar.


Setelah selesai, Rolize segera membawa Megan ke kamar mereka yang terletak di lantai 2. Megan membulatkan matanya saat melihat betapa mewah dan cantiknya kamar Arion, persis seperti kamar orang kaya yang sering dia lihat di televisi.


"Wah, kamarnya bagus sekali." Megan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan itu.


Rolize mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil memperhatikan apa yang Megan lakukan, dia lalu mengambil bantal dan melempar ke arah wanita itu.


Buk.


"Astaga!" Megan terlonjak kaget saat sebuah bantal melayang ke arahnya, sontak dia melihat ke arah Rolize yang saat ini juga sedang melihatnya.


"Dasar kampungan," cibir Rolize membuat Megan menggertakkan giginya. "Duduk!" perintahnya kemudian sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di hadapannya.


Megan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan kasar, tentu saja dengan perasaan kesal dan juga marah.


"Mereka semua adalah keluargaku," ucap Rolize membuat Megan mengernyitkan kening dengan bingung.


"Aku juga tau kalau mereka adalah keluargamu. Lalu, apa masalahnya denganku?" Ingin sekali Megan berteriak di hadapan laki-laki itu.


"Kau hanya perlu mendengarkan apa yang oma katakan, dan abaikan yang lainnya," sambung Rolize kemudian.

__ADS_1


"Jadi, saya hanya harus mendengarkan ucapan oma saja?" tanya Megan yang dibalas dengan anggukan kepala Rolize.


"Saya harus mengabaikan yang lainnya?" tanyanya lagi membuat Rolize mulai kesal.


"Ya!" jawabnya penuh penekanan.


"Berarti, saya harus mengabaikan Anda juga dong?"


"Apa?" Rolize menatap Megan dengan tajam dan rahang mengeras.


"Saya hanya bercanda. Kan, tadi Tuan sendiri yang bilang agar saya mengabaikan yang lainnya, hehe," ucap Megan dengan tawa diwajahnya.


"Apa-apaan wanita ini?" Rolize berdecak kesal. Ingin sekali dia menutup mulut wanita itu agar tidak bisa bicara lagi.


Tidak berselang lama, tiba-tiba ponsel Rolize berdering membuat dia langsung beranjak ke arah balkon untuk mengangkat panggilan itu.


Megan yang melihatnya hanya mengendikkan bahu saja, kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa yang sedang diduduki. "Enak sekali ya, kalau jadi orang kaya. Kamarnya aja hampir sebesar apartemenku." Dia berdecak kagum dengan kemewahan rumah Rolize.


Megan mengalihkan pandangannya ke arah Rolize yang sedang berjalan ke arahnya. "Kita mau ke mana, Tuan?"


"Lakukan saja apa kataku tanpa banyak bertanya,"


"Cih, dasar. Nanyak kayak gitu aja gak boleh," gumam Megan dengan kesal, tentu saja tanpa bisa didengar oleh laki-laki itu.


****


Tepat pukul 8 malam, Rolize dan Megan keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian yang sangat serasi. Di mana Megan memakai gaun berwarna navy model sabrina yang panjang sampai ke ujung kaki, dengan belahan sampai lutut yang menampakkan kaki jenjangnya sementara Rolize juga memakai jas berwarna navy yang senada dengan wanita itu.


Semua orang menatap ke arah mereka tanpa berkedip, terutama oma Agni yang menyunggingkan senyum senang melihat pasangan pengantin baru itu.


"Apa kakak mau datang ke pesta itu?" tanya Aura yang saat ini juga sudah terlihat cantik dalam balitan gaun berwarna gold.


"Tentu saja. Bukankah dia sendiri yang mengundangku? Tentu aku harus datang," ucap Rolize dengan senyum sinis.

__ADS_1


Semua orang saling lirik saat mendengar apa yang Rolize katakan, sementara laki-laki itu merasa tidak peduli dan segera beranjak keluar dengan diikuti oleh Daris dan juga Megan.


"Sebenarnya kita mau ke mana, Tuan?" tanya Megan saat dalam perjalanan, karena sepertinya adik dan juga kakak iparnya terlihat rapi seperti mereka.


"Pesta."


Megan menganggukkan kepalanya saat mendengar jawaban Rolize. "Tapi, apa kita tidak membawa sesuatu sebagai hadiah?" Biasanya orang kaya akan memberikan hadiah berupa wine kepada siempunya pesta.


"Kedatanganku ke sana itu sudah lebih dari sebuah hadiah,"


"Apa, apa katanya? Kenapa dia pede sekali, sih?" Megan menggelengkan kepalanya saat melihat begitu pedenya Rolize, sementara Daris hanya diam sambil memperhatikan tuan dan nona mudanya melalui kaca spion.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Daris segera turun dari mobil untuk membukakan pintu bagi Rolize dan juga Megan. Terlihat tempat itu sudah dipenuhi oleh banyak orang, yang langsung memperhatikan kedatangan mereka.


Semua mata melihat ke arah Rolize dan juga Megan saat mereka melangkahkan kaki ke dalam pesta tersebut. Terlihat beberapa orang ingin mendekat, tetapi di cegah oleh Daris.


Dari kejauhan, seorang wanita bergaun merah terlihat senang saat melihat kedatangan Rolize. Dia segera meletakkan gelas yang ada ditangannya, dan beranjak untuk menghampiri laki-laki itu.


"Roli!"


Rolize yang sedang berdiri menghadap kolam renang langsung mengalihkan pandangan ke arah samping, dia tau benar siapa yang memanggilnya.


Begitu dekat, wanita itu langsung memeluk tubuh Rolize dengan erat membuat semua orang membulatkan mata mereka. Terutama Megan yang menatap kedua orang itu dengan tajam.


"Apa-apaan ini?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2