Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 39. Larangan Demi Kebaikan.


__ADS_3

Daris menatap tajam ke arah seorang gadis yang sedang duduk bersama dengan temannya, terlihat ada 2 orang wanita dan 4 orang lelaki di sana.


Aura yang baru saja selesai bermain dengan temannya, di ajak ke klub malam oleh seorang lelaki yang merupakan pacar temannya tersebut. Awalnya dia menolak, tetapi karena bujukan mereka akhirnya dia berada juga di tempat itu.


"Minumlah, Aura. Tidak akan terjadi sesuatu denganmu." Seorang wanita bernama Bella memberikan segelas minuman pada Aura membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak pernah minum minuman seperti itu, Bel." Aura menggelengkan kepalanya untuk menolak pemberian dari temannya itu, terlihat dua lelaki yang ada di hadapannya tersenyum dengan apa yang dia lakukan.


"Makanya cobain biar pernah, Aura. Rasanya enak kok, kau pasti akan ketagihan," ucap salah satu lelaki yang ada di hadapannya, dan diiyakan oleh yang lainnya juga.


Aura menatap minuman itu dengan ragu. Jujur saja dia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini, apalagi meminum minuman beralkohol karena Rolize melarangnya.


"Tidak deh, aku takut." Aura benar-benar tidak berani menyentuh minuman itu membuat Bella langsung mengangkat gelasnya dan meminum wine itu sampai habis.


"Lihat, aku baik-baik saja dan rasanya sangat enak sekali." Lagi-lagi Bella menyuruh Aura untuk meminumnya dan terkesan memaksa. Dia lalu melirik ke arah laki-laki yang ada di hadapannya sambil tersenyum tipis.


Aura yang merasa ragu tapi juga penasaran segera memegang gelas itu, dia mengangkatnya dan bersiap untuk meminum apa yang ada di dalamnya.


"Apa yang mau Anda lakukan, Nona?"


Semua orang tersentak kaget saat melihat kedatangan seseorang, terutama Aura yang tangannya sedang dicekram oleh lelaki itu.


"Ka-kak Daris?" Aura membulatkan matanya saat melihat keberadaan Daris, apalagi saat ini laki-laki itu sedang memegang tangannya dengan erat.


"Siapa kau?" Salah satu lelaki yang ada di tempat itu bertanya dengan tajam membuat Daris melirik ke arahnya dengan sinis.


"Kau tidak punya hak untuk bertanya."


"Apa?" Laki-laki itu memekik dengan emosi, apalagi saat melihat wajah angkuh nan tajam Daris.


Bella yang tahu siapa Daris langsung menegang dengan gelisah. Bisa mamp*us kalau sampai Daris dan Rolize tahu jika dia yang membawa Aura ke tempat ini.


Aura yang takut terjadi keributan segera beranjak bangun, lalu menarik lengan Daris dan membawanya keluar dari tempat itu.

__ADS_1


"Apa yang Kakak lakukan di sini?"


Daris mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Aura. Seharusnya dia yang bertanya dengan gadis itu, tapi kenapa sekarang malah terbalik?


"Apa Kak Rolize juga ada di sini?" Mendadak Aura jadi takut. Biasanya di mana ada kakaknya, maka ada Daris juga. Sekarang Daris ada bersamanya, bisa jadi jika sang kakak juga ada di tempat ini juga.


"Kenapa? Apa Anda takut, Nona?" Daris bertanya dengan nada mengejek membuat Aura merasa malu.


"Ti-tidak, untuk apa aku takut." Aura mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku kan sudah dewasa, jadi bisa melakukan apapun yang aku mau."


Daris tersenyum dengan sinis. "Baik. Kalau gitu saya akan memanggil tuan sebentar."


Aura langsung gelagapan saat mendengar ucapan Daris, kakinya sudah bersiap untuk lari dari tempat itu jika benar kakaknya ada di sana.


Daris yang melihatnya memalingkan wajah. Entah kenapa gadis itu selalu saja mengusiknya, dan kenapa juga harus bertemu di tempat seperti ini?


"Se-sebentar." Aura langsung menarik lengan Daris yang sudah melangkahkan kakinya. "Ja-jangan bilang sama kak Rolize, aku mohon." Dia menatap Daris dengan mata berkaca-kaca, bahkan sudah hampir menangis.


Daris berbalik lalu menatap Aura dengan bersedekap dada. "Apa Anda tahu kenapa selama ini tuan muda tidak mengizinkan Anda ke tempat seperti ini?"


"Sudah banyak pekerjaan yang harus tuan muda selesaikan. Jika terjadi sesuatu dengan Anda, bukankah tuan muda akan merasa hancur?"


Aura semakin menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan. "Maaf, aku hanya merasa penasaran saja."


"Penasaran jika berakhir dengan penyesalan bagaimana, Nona?"


Daris bukannya sengaja menakut-nakuti Aura, tapi apa yang dia bilang adalah kenyataan.


Sangat berbahaya sekali bagi seorang wanita datang ke klub malam, apalagi bersama dengan teman yang tidak jelas sifatnya. Belum lagi jika sampai mabuk-mabukan, siapa saja bisa memanfaatkan keadaan dan pastinya akan merugikan diri sendiri.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Aura dengan lirih membuat Daris menghela napas kasar.


Sebagai anak bungsu di keluarga Rolize, jelas saja Aura di jaga dengan sangat ketat. Apalagi Rolize sangat menyayanginya, bahkan dia menyuruh Daris untuk memperhatikan pergaulan gadis itu.

__ADS_1


"Baguslah jika Anda sadar, Nona. Sekarang pulanglah."


Aura kembali mengangguk dan berjalan cepat ke arah di mana mobilnya berada. Dia segera masuk ke dalam mobil tersebut dan langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan terus di tatap oleh Daris.


"Dasar. Bikin repot saja, sih."


Daris juga beranjak masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi dari tempat itu. Hari ini dia merasa sangat lelah sekali, dan ingin segera mandi lalu pergi istirahat.


Beberapa saat kemudian, Aura sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Kau baru pulang, Aura?"


Aura yang masih menutup pintu terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia berbalik dan menatap sang kakak dengan tajam.


"Ka-kakak? kok ada di sini?"


Rolize mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan sang adik. "Apa maksudmu? Sejak tadi aku memang di sini."


"Bukannya tadi kakak sedang bersama dengan kak Daris?"


Rolize semakin tidak mengerti dengan apa yang Aura katakan. "Kau bertemu dengan Daris?"


Aura langsung mengangguk. Namun, sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya saat menyadari bahawa dia akan membuka kesalahannya sendiri.


"Kau bertemu dengan Daris di mana? Di klub malam?"


"Matilah aku."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2