
Oma Agni menatap ke arah Jean dengan tajam. "Apa maksudmu, Jean? Kenapa kau berkata seperti itu?" Dia merasa tidak suka dengan apa yang cucu sulungnya itu katakan.
"Oma bisa menanyakan siapa Megan yang sesungguhnya pada Rolize," jawab Jean.
"Megan yang sesungguhnya? Apa kau berpikir dia itu bukan manusia?"
"A-apa?" Jean menatap oma Agni dengan heran dan tidak mengerti.
"Selagi dia masih manusia, tutup mulutmu dan jangan banyak bicara. Lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan, dan berhenti mengganggu adik iparmu!" ucap oma Agni dengan penuh penekanan membuat Jean menghela napas kasar.
"Oma pasti akan sangat terkejut saat mengetahui apa pekerjaan Megan, dia benar-benar tidak pantas bersama dengan Rolize." Jean beranjak dari kursinya dan segera naik ke lantai 2, sementara oma Agni hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Pada saat yang sama, Rolize dan juga Megan sudah berada di dalam kamar. Terlihat Megan berdiri di samping ranjang, sementara yang mulia raja duduk di atas ranjang tersebut.
"Kau tunggu apa lagi?"
Megan terlonjak kaget saat mendengar suara Rolize. "Me-memangnya Anda mau apa, Sayang?" Dia melihat laki-laki itu dengan takut-takut.
"Ck." Rolize berdecak kesal dengan apa yang Megan lakukan membuat wanita itu merasa sebal.
"Sebenarnya mau dia apa sih? Selalu saja membuat aku bingung." Ingin sekali Megan mencakar wajah Rolize saat ini juga.
"Kan tadi kau bilang ingin melayaniku, kenapa malah pura-pura bod*oh?" ucap Rolize dengan ketus membuat Megan ber-oh ria.
Megan mengangguk-anggukkan kepalanya karena baru paham dengan apa yang laki-laki itu inginkan. Dia lalu segera naik ke atas ranjang dan mendekati Rolize.
"Apa Anda mau melakukannya sekarang juga?" tanya Megan dengan tatapan genitnya membuatnya Rolize menatapnya tidak berkedip.
"Tentu saja. Aku sudah tidak-"
Cup.
__ADS_1
Rolize tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Megan mencium bibirnya. Dia membulatkan matanya menatap ke arah wanita itu. "Se-sebentar." Dia menahan Megan yang akan naik ke atas tubuhnya.
"Kenapa? Apa Anda mau langsung saja?"
Rolize semakin menjauhkan tubuhnya dari tubuh Megan, sementara Megan sendiri merasa bingung harus melayani laki-laki itu dengan gaya apa.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Rolize dengan tajam. Dadanya bergemuruh hebat karena saat ini tubuhnya dan tubuh Megan sangat dekat dan hampir menempel dengan sempurna.
"Loh, bukannya Anda sendiri yang minta dilayani? Saya kan, ingin melayani Anda dengan sepenuh hati," jawab Megan. Tentu saja dia akan melayani Rolize dengan senang hati karena itulah yang sejak dulu diimpikan.
"Aku kan minta dilayani pijitan, kenapa kau malah menciumku?"
"Apa?" Megan terlonjak kaget dan melompat turun dari ranjang.
"Apa? Pijitan katanya?" Dia benar-benar sangat syok sampai tidak bisa berkata apa-apa. Memangnya sejak kapan melayani itu dalam bentuk pijatan?
"Kenapa? Apa kau ingin melayaniku dalam hal yang lain?" tanya Rolize sambil memicingkan matanya membuat Megan menghela napas panjang.
"Lagian kenapa gak langsung dibilang minta pijat aja sih, kenapa malah bilang minta dilayani?"
"Terus, kau tunggu apa lagi?" ucap Rolize dengan kesal. Dia lalu berbalik dan segera menelungkupkan tubuhnya di ranjang tersebut.
Megan mengepalkan tangannya dengan geram. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti apa yang laki-laki itu inginkan. Dengan perlahan, dia kembali naik ke atas ranjang dan segera memijat tubuh Rolize.
Rolize tersenyum dengan apa yang terjadi saat ini. Sebenarnya pelayanan yang dia maksud sama dengan apa yang Megan inginkan, tetapi karena merasa sangat malu dan juga gugup. Dia terpaksa membuat alasan lain yang masuk akal untuk mengelabui wanita itu.
"Lagian kenapa dia gak ada malu-malunya sih? Tiba-tiba main cium aja, benar-benar membuat jantungku serasa ingin meledak." Dia semakin membenamkan wajahnya dibantal agar Megan tidak melihat senyuman yang ada diwajahnya.
Megan terus memijat tubuh Rolize dari atas sampai bawah, membuat laki-laki itu benar-benar keenakan.
"Apa kau tidak dikasi makan? Kenapa pijatanmu lembek sekali," keluh Rolize membuat Megan mengeraskan pijatan tangannya.
__ADS_1
"Apa kau mau meremukkan tulang-tulangku, hah?" pekik Rolize sambil menghampaskan tangan Megan membuat wanita itu benar-benar naik darah.
"Mati saja kau, Rolize," gumam Megan yang masih dapat didengar oleh Rolize.
"Apa kau bilang?" tanya Rolize yang saat ini sudah duduk dengan mengadap ke arah Megan.
"Hah? Sa-saya bilang, saya akan memijat Anda dengan lebih baik dan juga benar," ucap Megan dengan senyum lebar penuh kedustaan.
Rolize hanya memandangnya dengan tidak percaya, kemudian dia membuka kaos yang masih melekat ditubuhnya membuat Megan langsung melotot.
"Akan lebih enak kalau pijatnya tidak pakai baju kayak gini," seru Rolize sambil kembali bersiap untuk telungkup di atas ranjang.
Glek.
Megan menelan salivenya dengan kasar saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. "Bukan hanya pijatnya saja yang enak, tapi juga tindihannya pasti sangat nikmat." Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotor yang memang selalu ada di dalam kepalanya.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang berada di salah satu klub malam terbesar di kota itu. Sudah beberapa botol minuman yang kandas dia minum, tetapi dia masih tidak beranjak dari sana.
"Hentikan, Eve. Apa kau mau mati karna minuman ini?" bentak temannya Eve yang memang sedang menemaninya ke klub itu.
"Aku tidak akan mati hanya karen minuman ini, Roli. Tapi aku akan mati jika tidak kembali bersamamu," ucap Eve yang sudah mabuk berat.
Wanita itu hanya bisa menghela napas kasar saja. "Dulu kau sendiri 'kan, yang memutuskan hubungan dengannya. Kenapa sekarang kau malah ingin kembali lagi?" Dia merasa bingung.
Eve langsung tertawa saat mendengar ucapan temannya itu. "Aku ingin kembali padanya karena dia laki-laki paling baik, dan juga paling kaya. Sh*it, aku menyesal karna terbujuk rayuan Revan dulu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.