
Setelah siap dengan penampilan paripurnanya, Megan melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah. Namun, saat dia berada di ambang pintu. Terdengar suara panggilan dari oma Erina membuat dia menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah belakang.
"Ya, Oma?"
Oma Erina berjalan mendekati Megan yang saat ini sedang menatapnya. "Apa kau mau pergi ke suatu tempat, Megan?"
Megan menganggukkan kepalanya. "Iya, Oma. Aku akan pergi ke perusahaan tuan Rolize."
Oma Erina mengernyitkan keningnya dengan bingung saat mendengar kalau Megan akan pergi ke perusahaan, dia bahkan jauh lebih bingung saat mendengar panggilan wanita itu pada Rolize.
"Kau mau ke perusahaannya tuan Rolize?"
Megan kembali mengangguk. "Benar, Oma. Aku disuruh ke perusahaan oleh tuan Rolize."
Oma Erina menghela napas kasar. Bagaimana mungkin wanita itu masih memanggil Rolize dengan sebutan tuan? Apa ada, istri lain yang memanggil suaminya dengan sebutan seperti itu?
"Tuan Rolize mengajak untuk makan siang bersama, Oma. Dan dia menyuruhku untuk datang ke perusahaan." Jelas Megan tanpa ditanya. Dia berpikir mungkin oma Erina tidak suka jika dia berkunjung ke perusahaan.
Oma Erina memandang Megan sejenak, lalu menghela napas frustasi. "Memangnya tuan Rolize itu siapa?"
Megan memandang oma Erina dengan bingung. "Tuan Rolize itu kan, cucu Oma. Kenapa Oma bertanya lagi?" Dia merasa terheran-heran.
"Kalau itu Oma juga tau. Maksudnya, tuan Rolize itu siapamu?"
Megan diam sejenak untuk mencerna ucapan Oma Erina. "Dia kan ... suamiku, Oma. Kenapa Oma terus bertanya siapa Tuan Rolize?" Dia benar-benar merasa bingung dan juga heran.
"Tadikan kau sudah menjawab kalau Rolize itu adalah suamimu, tapi kenapa kau masih memanggilnya dengan sebutan tuan?" ucapnya dengan gemas. Bisa-bisanya Megan tidak paham dengan apa yang dia ucapkan.
"Maksud Oma, aku tidak boleh memanggil tuan Rolize dengan sebutan tuan?"
"Tentu saja. Memangnya ada, istri yang memanggil suaminya seperti itu?"
Megan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Oma. Tapi kan, tuan Rolize itu beda dengan suami-suami yang lain. Dia benar-benar seorang tuan." Dia mana berani jika harus memanggil Rolize tanpa embel-embel tuan.
__ADS_1
"Pokoknya oma tidak mau tau. Kau harus memanggil Rolize dengan sebutan layaknya suami istri, dan tidak dengan panggilan tuan," ucap Oma Erina.
Megan merasa kaget dan juga bingung dengan apa yang Oma Erina inginkan. "Kenapa oma tiba-tiba seperti ini, sih? Bukannya selama ini oma tidak peduli dengan panggilanku pada Rolize, dan kenapa pulak dia sekarang mempermasalahkannya?"
"Kenapa diam? Apa kau tidak suka, dengan ucapan Oma?"
Megan tersentak kaget lalu mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik. "Ti-tidak, Oma. Aku tidak masalah dengan apa yang Oma katakan."
"Baguslah. Mulai saat ini dan seterusnya, kau tidak boleh lagi memanggil Rolize dengan sebutan tuan," ucap oma Erina dengan penuh penekanan.
"Baiklah, Oma. Lalu, aku harus memanggil dia apa?"
Oma Erina langsung menyeringai saat mendengar pertanyaan Megan, membuat hati wanita itu menjadi tidak nyaman. "Mulai saat ini dan selamanya, kau harus memanggil Rolize dengan sebutan Sayang."
"Apa?" Megan terlonjak kaget saat mendengar panggilan yang diucapkan oleh oma Erina. Sebenarnya dia tidak masalah jika harus memanggil Rolize dengan sebutan yang lain, tetapi tidak dengan sebutan Sayang juga kali.
"Mulai sekarang, kau harus memanggilnya Sayang. Dan terus seperti itu sampai selama-lamanya."
Megan langsung menelan salivenya dengan kasar. "Ta-tapi bagaimana dengan tuan Rolize, Oma?" Bisa-bisa mulutnya dirobek oleh laki-laki itu karena memanggil dengan sebutan Sayang.
Megan terdiam beberapa saat untuk memikirkan apa yang akan Rolize lakukan padanya. "Laki-laki itu pasti akan berteriak dan memarahiku jika aku memanggilnya Sayang. Tapi, aku juga tidak bisa menolak kemauan oma." Dia menjadi bingung sendiri.
"Megan?" Oma Erina kembali bertanya dengan mode paksaan membuat Megan terpaksa mengangguk.
"Ba-baiklah, Oma."
Setelah pemaksaan nama panggilan itu selesai, Megan kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar rumah dan bersiap memanggil taksi.
"Nona Megan!"
Megan kembali menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan seseorang, dia berdecak kesal karena ada saja halangan dan rintangan yang harus dilalui hanya untuk bertemu dengan Rolize.
"Ada apa, Pak?" tanya Megan saat seorang lelaki paruh baya berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Tuan muda baru saja memerintahkan saya untuk mengantar Nona,"
"Oh ya?"
Laki-laki paruh baya itu mengangguk. "Benar, Nona. Mari, saya akan mengantar Nona ke perusahaan."
Tanpa mengucapkan apapun juga, Megan segera berjalan mengikuti langkah lelaki paruh baya itu. Mereka masuk ke dalam salah satu mobil yang ada di tempat itu, lalu segera beranjak pergi menuju perusahaan.
Rolize yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Megan memilih keluar dari ruangan dan menunggu wanita itu di lobi, membuat beberapa karyawan yang ingin melewati wanita itu menjadi gugup dan tidak berani.
"Kenapa Tuan tidak menunggu di ruangan saja?" tanya Daris yang tetap setia berada di manapun tuannya berpijak.
"Tidak, aku ingin menunggunya di sini saja. Aku ingin tau bagaimana reaksinya saat datang ke perusahaanku."
Daris hanya bisa menghela napas kasar. Dia merasa kalau tuan mudanya semakin hari semakin aneh saja, terutama jika berhubungan dengan Megan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu sampai juga di perusahaan. "Itu dia!" Rolize terus melihat ke arah Megan yang baru saja masuk ke dalam perusahaan.
Megan berdecak kagum saat melihat perusahaan Rolize, apalagi dia baru pertama kali datang ke tempat itu. "Waah, semuanya sangat indah dan juga mewah. Ternyata suamiku bukan hanya kaya saja, tetapi sangat kaya raya."
Megan terus melangkahkan kakinya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh tempat, dan lagi-lagi decak kagum keluar dari mulutnya membuat Rolize terkekeh.
Rolize yang sedang duduk beranjak berdiri dengan senyum lebar diwajahnya. "Megan!"
Megan yang sedang berjalan ke arah resepsionis menghentikan langkahnya, dan dia langsung berbalik karena sangat mengenal suara seseorang yang memanggilnya. "Sayang!"
"Apa? Sayang?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.