Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 9. Rumah Keluarga Rolize.


__ADS_3

Untuk beberapa saat Megan dan Rolize saling pandang dengan jarak yang sangat dekat, bahkan helaan napas mereka terasa menyapu wajah masing-masing.


"Kita sudah sampai, Tuan."


Tatap-tatapan itu langsung terputus saat mendengar suara Daris, sontak Rolize mendorong tubuh Megan agar menjauh dari tubuhnya sendiri.


"Cih, teganya dia langsung mendorongku,"  gumam Megan sambil berusaha untuk keluar dari mobil.


Kedatangan mereka langsung disambut olah beberapa perawat dan juga Dokter yang segera membaringkan tubuh Megan di atas banker. Mereka lalu segera membawa wanita itu ke dalam ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan.


Rolize menunggu di depan ruangan itu dengan khawatir, dia bahkan berjalan ke sana kemari seperti setrika panas saat ini.


"Duduklah, Tuan. Nona Megan pasti baik-baik saja," ucap Daris mencoba untuk menenangkan tuannya.


"Kenapa dia kesakitan seperti itu? Jangan-jangan karena makanan pedas tadi?" Ya, Rolize yakin kalau penyebab dari rasa sakit Megan adalah makanan pedas tadi. Dia lalu beralih melihat ke arah Daris yang juga sedang melihatnya.


"Apa kau tidak tau apapun soal ini?" tanyanya dengan tajam.


Daris menggelengkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Saya tidak tau kenapa Nona merasa sakit."


"Cih, ternyata kau sudah tidak hebat lagi ya." Rolize mendudukkan tubuhnya dengan kasar, sementara Daris hanya bisa mengela napas saja mendengar apa yang tuannya katakan. Memangnya dia manusia super apa, yang punya kehebatan luar biasa?


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dokter keluar dari ruangan itu membuat Rolize langsung beranjak mendekatinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rolize.


"Sekarang pasien sudah baik-baik saja, Tuan. Kami sudah memberikan obat agar perutnya tidak kembali sakit. Hanya saja, pasien tidak boleh lagi memakan makanan yang pedas. Karena sangat membahayakan lambungnya yang sudah mengalami infeksi."


Rolize sangat terkejut saat mendengar apa yang Dokter itu katakan, dia lalu menoleh ke arah Daris dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Untung wanita itu baik-baik saja. Kalau sampai terjadi hal yang membahayakan, awas kau."


Daris tercengang dengan apa yang Rolize katakan. Jelas-jelas laki-laki itu yang menyuruhnya untuk menyiapkan makanan pedas, tetapi malah dia yang disalahkan.


"Apa, kau tidak terima?" ketus Rolize membuat Daris menggeleng.


"Kenapa Tuan menyalahkan saya, kan Tuan sendiri yang-"


"Itu salahmu karna tidak tau apapun tentang dia, dasar." Rolize langsung berjalan masuk ke dalam ruangan itu meninggalkan Daris yang menatapnya dengan cengo, sementara seorang Dokter yang masih ada di tempat itu tampak sedang menahan tawanya.


Daris langsung melirik ke arah Dokter itu dengan sinis membuat wanita itu menjadi salah tingkah.


"Ma-maafkan saya, Tuan." Dia menundukkan kepalanya dengan takut.


"Apa Nona harus dirawat?"


Dokter cantik itu langsung mengangkat pandangannya saat mendengar pertanyaan laki-laki itu. "Tidak, Tuan. Nona hanya perlu menghabiskan satu botol infus saja, setelah itu sudah boleh pulang."


"Dasar. Untung tampan dan juga kaya, kalau tidak sudah aku pukul kepalanya itu." Dokter itu mendengus sebal, dia lalu memilih untuk segera pergi dari tempat itu sebelum naik darah.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rolize saat sudah berada di dalam ruangan Megan, dia berjalan sampai ke samping ranjang.


"Saya baik-baik saja, Tuan. Terima kasih karena sudah membawa saya ke rumah sakit,"


"Cih, kau sangat merepotkan." Rolize mendengus sebal. Sepertinya dia masih tidak sadar juga kalau dialah yang sudah membuat wanita itu terbaring di rumah sakit.


"Maaf." Megan memasang wajah bersalahnya karena sudah merepotkan laki-laki itu membuat Rolize membuang muka ke arah samping.


Akhirnya mereka semua berada di rumah sakit sampai infus yang terpasang ditangan Megan habis. Setelah itu, mereka baru kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


Sementara itu, di rumah Rolize terlihat 4 orang wanita beda generasi sudah menunggu kedatangan Rolize dan juga Megan. Sudah hampir 4 jam mereka menunggu, tetapi yang ditunggu tidak juga muncul di rumah itu.


"Sebenarnya mereka ke mana, sih? Kenapa dari tadi gak sampai-sampai?" ucap Jean dengan kesal. Sudah lama mereka menunggu, tapi adik dan juga adik iparnya tidak kunjung datang.


"Kenapa kau seperti sedang kebakaran jenggot?" seru Oma Agni membuat Jean langsung menutup mulutnya. "Coba hubungi kakakmu, Aura. Sedang ada di mana dia," perintahnya kemudian.


Aura langsung menganggukkan kepalanya dan bergegas menelepon Rolize. Namun, belum sempat panggilan itu tersambung. Tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang membuat Aura langsung memutuskan panggilan itu.


Semua orang langsung beranjak bangun saat melihat Rolize dan Megan masuk ke dalam rumah, sementara Oma Agni tersenyum cerah melihat cucu dan cucu menantunya sudah datang.


"Maaf karna kami terlambat, Oma." Rolize langsung berjalan ke arah oma Agni dan mengecup pipi kanan dan kiri wanita sepuh itu. Dia lalu melirik ke arah Megan seakan memberi kode untuk menyapa omanya.


"Se-selamat siang, Oma," sapa Megan dengan canggung. Entah kenapa aura yang wanita itu pancarkan sangatlah kuat.


"Duduklah." Oma Agni menepuk sofa yang ada di sampingnya untuk menyuruh Megan duduk di sana, membuat ketiga wanita yang ada di tempat itu melihat dengan tidak suka.


Megan segera duduk di tempat yang ditepuk oleh oma Agni dengan canggung, tubuhnya bahkan sangat tegang saat ini.


"Apa kau sudah mengenal keluarga suamimu?" tanya oma Agni sambil menunjuk ke arah mama Falesha dan yang lainnya.


Megan menganggukkan kepalanya. "Sudah, Oma."


"Baguslah." Oma Agni lalu beralih melihat ke arah mama Falesha dan juga kedua cucu perempuannya. "Dengar, kalian harus memperlakukan Megan dengan baik. Kalau sampai kalian berbuat macam-macam, kalian akan berurusan denganku."


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2